
Ruang Interogasi Polsek Gajah Mungkur room 1
Gandari masuk ke dalam ruang interogasi bersama dengan Abi dan Travis sedangkan dua anak buah Kapten Rasyad memilih keluar dan berjaga di depan pintu.
Lukman menatap Gandari dengan wajah memucat. Mata hitam gadis itu tampak dipenuhi amarah dan dendam. Lukman hanya bisa terdiam pasrah.
Gandari pun duduk di kursi sebelah Kapten Rasyad dan menatap dingin ke arah Lukman. Mungkin kalau Gandari itu Supergirl, sudah gosong pria itu kena pancaran sinar laser.
"Kapten, apakah sudah memberitahukan siapa b@ngs@t ini sebenarnya?" Gandari menoleh ke arah Kapten Rasyad.
"Tentu saja mbak Gandari."
Gandari memajukan tubuhnya. "Anak haram, diangkat anak oleh eyangku agar kamu tidak dikucilkan, eh... malah bangkeeee!"
Lukman terdiam. Abi dan Travis hanya bersedekap di sudut ruangan menunggu aksi gadis itu selanjutnya.
"Sinikan tanganmu!" perintah Gandari. Lukman menggeleng. "KEMARIKAN TANGANMU!"
Sedikit gemetar, Lukman memberikan tangannya keatas meja dan tanpa basa basi, Gandari menghujamkan bolpoin yang ada di meja sekuat tenaga hingga menembus telapak tangan Lukman yang menjerit kesakitan.
"Baru juga bolpoin, belum pisau!" seringai Gandari yang wajahnya tampak menyeramkan. "So, apa yang sudah kamu dapat selama 12 tahun ini? Hidup mewah? Enak? Mendapatkan hampir 40M dari uang asuransi kedua orang tua ku..." Gandari semakin memainkan bolpoin itu di tangan Lukman yang mendesis kesakitan. "Banyak ya?"
Prak ! Bolpoin itu patah dan sisanya masih tertinggal di tangan Lukman.
"Anak haram itu memang ya! Mungkin tidak semua anak haram macam kamu tapi kamu itu perkecualian. Bibit jelek dari niatan jelek akan menghasilkan b@ngs@t macam kau!" Gandari berdiri dan berjalan di belakang Lukman yang masih kesakitan dengan darah mengalir.
"Eyangku benar. Beliau tidak memberikan aset-aset yang bernilai tinggi kepadamu karena tahu kamu tidak ada hak sama sekali."
Tanpa aba - aba, Gandari menghantamkan wajah Lukman ke atas meja besi ruang interogasi hingga terdengar hidung patah.
"Gan...dari... Stop..." bisik Lukman.
"Apa? Stop? Apa kamu menghentikan rencana jahatmu ke keluarga ku? Apa kamu berubah pikiran? Tidak, Lukman. Kamu tetap membunuh kedua orang tuaku, mengambil hartaku, memasukkan aku ke panti asuhan agar ahli waris tidak muncul dan kamu bisa menguasai semuanya. Dan sekarang kamu minta stop? Kamu waras?"
Sekali lagi Gandari menarik rambut Lukman hingga pria itu terdongak dan menghantam nya lagi ke atas meja. Darah segar mengalir dari hidung dan mulut Lukman.
"Ndari..."
Gandari menoleh ke arah Abi. "Apa mas?"
"Tampaknya dia pingsan." Abi mengedikkan dagunya.
Gandari berdecih. "Baru segitu saja sudah pingsan!"
__ADS_1
Kapten Rasyad memeriksa nadi Lukman. "Masih hidup kok!" Pria bertubuh tegap itu lalu membuka pintu Interogasi dan meminta sersan Kamil mengambil ember berisikan air es.
Travis lalu mengambil gambar Lukman yang sudah babak belur melalui iPad nya dan menyeringai. "Picasso kalah ini."
Abi dan Gandari menoleh ke arah pria tampan bermata biru itu. Kok jadi Picasso?
Sersan Kamil pun datang membawa sebuah ember berisikan air dengan banyak es batu. Gandari pun menyingkir dan langsung dipeluk oleh Abi. Tanpa perasaan sersan Kamil mengguyur Lukman dengan air es itu membuatnya terbangun kedinginan.
"Stop... jangan di...hajar lagi..." pintanya dengan wajah memelas.
"Tidak untuk saat ini tapi aku tidak menjamin Anggita akan selamat!" ucap Gandari dingin.
***
Ruang Interogasi Polsek Gajah Mungkur room 2
Anggita duduk sambil bersedekap dengan gayanya yang sombong membuat dua polwan yang berjaga disana merasa sebal melihatnya.
"Untung kita jaganya di balik kaca. Kalau di dalam, mungkin aku sendiri yang akan menghajarnya" ucap salah satu polwan itu.
"Memang kamu ada dendam apa sama wanita itu?" tanya rekannya.
"Ayahku kehilangan pekerjaan dari kantor arsitek Kristiawan gara-gara dia!" ucap polwan itu dengan nada penuh dendam.
Keduanya pun menoleh dan melihat Gandari berdiri di sebelah kapten Rasyad.
"Kap?" tanya Polwan yang bernama Ririn, tampak dari nama di seragamnya.
"Rin, kamu punya dendam juga kan? Sama dengan mbak Gandari, bahkan dia lebih parah. Kedua orangtuanya dibunuh oleh j4l4ng itu!" ucap kapten Rasyad yang membuat polwan Ririn dan rekannya terkejut.
"Astaghfirullah Al Adzim, dia benar-benar j4l4ng!" ucap rekan Ririn.
"Kalau memang kamu mau menemani mbak Gandari, lepas baju seragam kamu!" ucap Kapten Rasyad.
"Apa saya akan mendapatkan sanksi kap?" tanya Ririn yang bimbang antara ingin menghajar tapi memikirkan pekerjaannya.
"Memang siapa yang lihat?" kerling kapten Rasyad. "Kamu kan hanya menemani mbak Gandari."
Ririn tersenyum lebar. "Yes Kap!" ucapnya sambil memberikan salut ke kapten Rasyad. Segera polwan Ririn mengambil duffle bagnya menuju kamar mandi untuk melepaskan seragamnya dan kembali hanya mengenakan kaus hitam dan celana jeans.
Gandari tersenyum melihat Ririn yang memiliki dendam yang sama dengan kadar berbeda tapi pada satu orang.
Kapten Rasyad pun masuk ke dalam ruang interogasi diikuti oleh Gandari dan polwan Ririn. Wajah Anggita yang semula masih mendongak sombong, tampak pucat melihat wajah Gandari. Gadis cilik itu sudah berubah menjadi wanita dewasa yang bar-bar.
__ADS_1
"Selamat siang bu Anggita. Apa kepalanya masih sakit?" tanya Kapten Rasyad yang duduk di hadapan Anggita.
"Saya mau menuntut balik pak Kapten! Dia sudah menganiaya saya!" Anggita menunjuk ke arah Gandari.
"Bagaimana kalau aku balik?" jawab Gandari dingin. "Kamu aku tuntut penipuan asuransi, memalsukan dokumen dan sertifikat serta pembunuhan berencana terhadap Gavin Pramudana dan Lahita Kristiawan. Siapa yang pantas dipercaya? Lagipula..." Gandari berjalan di belakang Anggita. "aku punya semua bukti - buktinya. Serta mantan suamimu dan Jerome sudah bernyanyi."
Ririn memperlihatkan iPad yang berisikan gambar Jerome, Joko dan Lukman yang babak belur. Anggita terkesiap melihat wajah mereka yang sudah tidak berbentuk.
"Jangan remehkan aku, Anggita. Tinggal kamu dan Iin yang masih mulus wajahnya tapi sebentar lagi, hidungmu yang hasil oplas itu akan tidak berbentuk lagi. Ohya, tidak hanya aku yang dendam kepadamu, perkenalkan ini nona Ririn yang ayahnya kalian pecat dari kantor arsitek eyangku." Gandari tersenyum ke arah Ririn yang membalas senyuman itu dengan seringai membuat Anggita merinding.
"Saya permisi dulu mbak Gandari. Ririn, jaga disini." Kapten Rasyad pun berdiri meninggalkan Gandari dan Ririn disana.
"Pak Kapten..." panggil Anggita pelan dan jujur dirinya sangat ketakutan.
"Saya hanya bilang 'Makan hasil perbuatan kalian'. Hukum disini belum seberapa dibandingkan dengan dipenjara nantinya" ucap Kapten Rasyad dingin dan keluar dari ruang interogasi.
Ririn tersenyum ke arah Anggita. "Mbak Gandari, ada ya manusia jahatnya seperti ini?"
"Buktinya ada tuh!" Gandari menarik rambut Anggita dan langsung menghantamkan wajahnya di meja besi, sama dengan yang dilakukan ke Lukman.
"Duh sayang, padahal hidung nya mahal ya mbak hasil oplas" kekeh Ririn. Anggita merasa matanya berkunang-kunang dan pusing luar biasa.
"Memang apa yang dilakukan j4l4ng ini hingga ayahmu dipecat?" tanya Gandari sambil membersihkan tangannya dengan hand sanitizer yang disediakan disana.
"Ayahku melaporkan kecurangan desain tapi malah dimaki-maki oleh wanita ini dan langsung dipecat hari itu juga!"
Gandari berdecak. "Memang dia j4l4ng ya? Silahkan mbak Ririn melampiaskan ke dia. Saya masih harus menyimpan tenaga untuk j4l4ng satu lagi."
Ririn pun tersenyum lebar dan tanpa basa - basi, langsung menghajar Anggita hingga pingsan.
"Jangan sampai dia mati mbak Ririn!" kekeh Gandari. Papa mama, maafkan anakmu yang jadi bar-bar dan psycho seperti ini tapi mereka memang keterlaluan!
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Karmanya masih berlanjut nanti.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1