My Cold Chef

My Cold Chef
Levi v Bryan


__ADS_3

Hamid Al Azzam meraung saat melihat putranya tergeletak tak bernyawa dan menatap penuh kebencian pada Arjuna yang sudah menghilangkan nyawa anak sulungnya.


"Kenapa? Kamu benci sama aku? Marah sama aku? Harusnya aku yang benci sama kamu! Aku yang marah sama kamu! Anakmu sudah membunuh pengawalku! Menculik anakku dan Thara!" ucap Arjuna penuh kebencian.


"Oh, Bhizad sudah kukirim ke neraka" sambung Aidan dengan wajah dinginnya yang membuat Hamid lemas. "Dosa dia terlalu banyak! Malaikat di neraka juga capek baca daftar hitamnya."


Kaia tersenyum smirk mendengar ucapan adik kandungnya.


"Apa sudah selesai?" sebuah suara terdengar dan Hamid menoleh. Mata tuanya terkejut ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu istana kecil itu.


"Hasyim Al Azzam" bisiknya.


"Sudah waktunya istana Al Azzam kembali kepada keturunan Al Azzam yang asli dan membuang semua maksiat di dalamnya" ucap Hasyim sambil berjalan ke dalam ruangan itu didampingi oleh Gozali dan Kai Al Jordan.


"Dan aku sudah tahu kelakuan bejatmu dan anakmu! Tega sekali putramu yang sudah menjadi mayat itu memperko*sa anakku sampai hamil?" terasa amarah di setiap kata yang diucapkan Hasyim. Sebelumnya memang Kai menceritakan pelan-pelan kejadian yang menimpa Thara kepada Hasyim dan Aisyah, membuat kedua orang tua itu merasa hancur.


Hamid melongo.


"Ja'far adalah baji*Ngan! Jadi jangan kaget jika aku habisi sekalian. Tadinya aku ingin menyiksanya pelan-pelan tapi aku malas ribet dan membuat tanganku berlumuran darah setiap saat menyiksanya. Jadi, kukirim saja ke neraka secepatnya biar aku juga tenang pulang membawa putraku kembali ke mamanya." Arjuna berjongkok di hadapan Hamid.


"Dan aku tahu kamu juga ingin mencicipi tubuh Thara" suara dingin Aidan terdengar di ruangan yang hening itu.


Kaia mendelik tidak percaya. "Astaghfirullah! Ai! Sini mbak kebiri dia punya bird sampai ke akar-akarnya! Terserah dia nggak bisa pipis! Mampus, mampus saja sekalian!"


Rhett memeluk istri bar-barnya. "Sssttt, kamu tuh!"


"Ide bagus mbak, kita habisi hingga ke akar-akarnya" seringai devil Aidan.


Duncan hanya bisa melongo melihat kedua anaknya sangat-sangat mirip sang mommy. Ampun deh mommy, gen mu keterlaluan merasuk ke Kaia dan Ai.


"Tuan Senna Al Jordan, bagaimana ini sekarang?" salah seorang perwira polisi kepada Senna.


"Korban bawa ke rumah sakit dan semua biaya akan saya tanggung. Soal Hamid bukan Al Azzam, saya serahkan kepada pemilik kuasa sebenarnya Hasyim Al Azzam" senyum Senna Al Jordan.


"Bagaimana tuan Al Azzam?" tanya perwira itu.


"Saya hanya minta berbicara berdua dengan Hamid di ruangan kepolisian." Hasyim menatap Kai Al Jordan. "Tolong saya dikirimkan pengacara terbaik."


"Biar anak buahnya Neil Blair mengurus semuanya" ucap Duncan. "Aku yang akan meminta anak itu kemari."


Setelahnya semua petugas kepolisian, ambulans dan forensik datang ke istana Al Azzam untuk membereskan semuanya. Para keluarga berkumpul di istana kecil disana dengan darah Ja'far dan dua pengawal yang dibunuh Arjuna masih berada di lantai.


"Istana sudah kosong, tuan Al Jordan. Semua sudah dibawa ke rumah sakit dan penjara" lapor perwira polisi yang ditugaskan untuk membereskan kekacauan yang dibuat keluarga Al Jordan.


"Baik, terima kasih kapten Ahmed." Senna dan Kai saling berjabat tangan dengan Kapten Ahmed.


"Jangan lupa kita maij golf Minggu depan." Kapten Ahmed pun berlalu.


"Of course."


Dirasa sudah tenang, semua pun berjalan keluar istana itu.

__ADS_1


"Nak Levi, boleh saya meminta sesuatu?" Hasyim berbicara kepada Levi melalui earpiece nya.


"Anything, Abah" jawab Levi.


"Tolong hancurkan sayap kamar Thara."


Levi menyeringai. "I thought you never ask!"


Elang menatap Duncan. "Perasaan ku tak enak D."


BOOOMMM!


Terdengar suara ledakan di sayap kiri tempat kamar Thara berada.


"Ya ampun! Anak itu pakai apa?" gumam Duncan.


Semua orang disana hanya bisa menghela nafas panjang. Bagian hancurkan kasih ke Levi, memang cocok.



"Harusnya Bryan tuh! Bukan kak Levi!" protes Bryan di earpiece.


"Kamu tuh pakai rudal negara lain, cumiiii ! Beda cerita!" hardik Marco.


"Yak, mana lagi yang harus aku hancurkan lagi?" kekeh Levi durjana.


Ngelunjak!


***


Ayah dua anak itu mengelus sayang rambut putra sulungnya. "Papa bangga denganmu Jendra. Anak papa paling berani, paling pintar dan paling tenang menghadapi segala sesuatu meskipun itu berbahaya." Tanpa terasa air mata Arjuna menitik. Bagaimana putranya yang baru lima tahun harus mengalami hal seperti itu.


Rajendra membuka matanya pelan-pelan. Mata coklat bening bocah tampan itu menatap wajah tampan ayahnya.


"Pa...pa" panggilnya pelan. Arjuna yang masih mengusap matanya.


"Pa..." Arjuna menoleh dan Rajendra tersenyum.


"Anak ganteng papa" ucap Arjuna sambil menciumi wajah Rajendra.


"Iiihhh! Papa!" protes Rajendra sambil mengusap pipinya. "Aduh, pipi kiri Jendra sakit."


"Kamu ingat nggak kejadian terakhir?"


"Aku cuma ingat... Papa! Tante Thara! Ada orang jahat!" seru Rajendra.


"Sudah dihabisi Oom Ai" cengir Arjuna.


"Terus yang bunuh Oom Johnny?"


"Sudah papa habisi."

__ADS_1


Rajendra tersenyum. "Terimakasih papa."


"Kamu sehat dulu, nanti papa ajak ketemu Oma Fatimah ya."


Rajendra menatap Arjuna bingung.


"Siapa itu Oma Fatimah?"


"Istrinya Opa Senna. Nanti sama Oma Fatimah, Jendra diajak ngobrol."


"Sama Tante Thara kan?" Mata coklat itu menatap penuh harap.


"Iya sama Tante Thara."


***


"Kalau kamu butuh psikolog, istriku itu psikolog lho Juna" ucap Senna Al Jordan. "Hanya saja Fatimah merasa gagal menghilangkan bar-barnya Sabine."


"Kalau wanita keturunan Al Jordan bar-bar itu wajar. Tahu sendiri kan Oom bagaimana Tante Miki, Josephine dan Marissa" cengir Arjuna.


"Iyaaa padahal yang laki biasa saja tuh!" ucap Senna dengan wajah lempeng.


Seriously? Wong Oom Senna kalau sudah ngamuk ya serem.


***


Aidan dan Kaia masih menunggu Thara untuk bangun setelah diberikan obat penenang setelah sebelumnya dia berteriak histeris dan hanya bisa ditenangkan oleh kedua kakak beradik itu.


Rhett sedang bersama Levi dan Karl di istana Al Azzam yang sudah berantakan terkena rocket launcher dari putra Eiji Reeves itu. Ruang Harem, kamar Ja'far, Bhizad dan Hamid pun luluh lantak, hanya tinggal ruang depan dan istana kecil yang tersisa.


Aisyah Al Azzam pun akhirnya datang setelah melihat istana milik suaminya tidak berbentuk lagi. Hatinya mencelos melihat wajah putrinya setelah 23 tahun tidak bertemu.


"Nak Aidan, bagaimana Thara?" tanya Aisyah.


"Masih syok dan trauma, Umi" ucap Aidan yang diikuti anggukan Kaia.


"Umi coba pegang tangan Thara. Saya yakin, kehangatan seorang ibu pasti akan tersalurkan" ucap Kaia sambil mempersilahkan Aisyah duduk di kursinya.


Aisyah pun memegang tangan putrinya. "Thara, ini Umi. Mama kandung kamu, sayang... Akhirnya Umi bisa memegang tanganmu, princess..."


Tangan Thara tampak membalas genggaman Aisyah.


"Umi..."


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2