
Liburan di Jakarta, membuat Abi dan Reana menikmati kedekatan mereka dengan para sepupunya selain Arimbi dan Anarghya, juga si kembar Adrian dan Anandhita, anak Arya Ramadhan yang pulang dari studi di Swiss. Si kembar ikut sang mama yang memiliki pekerjaan disana sedangkan Arya bolak balik Jakarta - Bern.
Selain si kembar juga ada Falisha dan Astuti, sahabatnya yang tuna rungu dan Rina Kareem sahabat Arimbi yang berdarah Arab - Jogja. Bara dan Arum serta Ghani dan Alexandra sangat menyukai bagaimana anak, keponakan dan cucu mereka tetap akur dan guyub meskipun Abi dan Hoshi sering ribut.
Pandu dan Reana pun tidak pernah absen untuk saling berkomunikasi. Keduanya sudah memantapkan hati usai Reana lulus, Pandu akan datang ke Kaia dan Rhett untuk melamarnya.
***
Enam bulan kemudian...
Surabaya, Jawa Timur Indonesia
Pandu sedang menyelesaikan meeting rutin setiap bulan bersama dengan para bawahannya dan semuanya tampak puas karena usaha serta kerja keras mereka setahun ini mendapatkan hasil yang melebihi ekspektasi mereka.
Bagi Pandu itu adalah suatu kelegaan tersendiri karena dirinya mampu memberikan hasil yang sesuai ekspektasi Kaia. Tanggung jawab kepada calon mertuanya itu memang sangat berat. Dan bukan tidak mungkin dirinya bisa dicoret jadi calon menantu kalau tidak mampu.
Kini usai rapat, Pandu memberikan reward pada anak buahnya untuk boleh memesan makanan di restoran favorit masing-masing dan akan dibebankan ke kantor. Tentu saja semua heboh.
"Pesannya satu orang satu restoran dan tidak boleh lebih dari 250k per orang!" ucap Pandu.
"Nggak papa pak Pandu. Kapan lagi bisa makan enak dibayarin kantor" ucap anak buahnya.
Pandu pun tersenyum. "Selamat memesan dan makan. Oh jangan lupa sampai satpam ya pesannya" ucapnya sambil keluar ruang meeting.
Semua orang disana tampak bahagia boleh makan siang suka-suka.
"Yudhi, kamu bagian keuangan, didata ya." Pandu memerintahkan anak buahnya.
"Pak Pandu tidak ikutan pesan?" tanya Yudhi.
"Saya nanti saja. Kalian have fun lah!"
"Baik pak Pandu."
Pandu pun berjalan menuju ruang kerjanya dan tampak sekretarisnya, Rini melihatnya penuh dengan kelegaan.
"Ada apa mbak Rini?" tanya Pandu ke sekretarisnya yang berusia tiga puluhan.
"Maaf pak Pandu, ada bapak-bapak mengaku sebagai ayah anda. Ini kartu namanya." Rini memperlihatkan kartu nama bertuliskan 'Shailendra Juwono' disana.
__ADS_1
"Iya itu bapak saya. Mbak Rini makan siang dulu, saya akan menemui bapak saya."
"Pak Pandu tidak makan siang? Atau saya pesankan sekalian? Kan bapak dapat jatah juga kan?" cerocos Rini yang menganggap Pandu seperti adiknya sendiri. Setelah lama mencari sekretaris, akhirnya Pandu menjatuhkan pilihannya pada Rini yang dulunya bekerja sebagai administrasi. Rini bukanlah tipe perempuan yang ganjen dan dia sudah menikah dengan seorang polisi. Suami Rini sendiri sudah berkenalan dengan Pandu dan tahu kalau bossnya sudah punya tunangan.
"Saya gampang mbak Rini. Tapi sebelum pesan makan siang buat mbak Rini, tolong buatkan dua teh panas ya buat saya dan bapak."
"Siap pak Pandu."
Pandu pun masuk ke dalam ruangannya dan melihat tubuh ayahnya yang sedang melihat pemandangan kota Surabaya dari lantai tiga ruang kerjanya.
"Assalamualaikum pak" salam Pandu.
Shailendra pun membalikkan tubuhnya. "Wa'alaikum salam. Apa kabar nak?"
Pandu menghampiri ayahnya dan mencium punggung tangannya yang dibalas pelukan ayahnya.
"Alhamdulillah baik. Bapak sama siapa kemari? Sama ibu dan dik Pram?"
"Tidak nak. Bapak sendirian. Kebetulan bapak diijinkan cuti oleh pak Duncan."
"Duduk pak." Pandu mempersilahkan ayahnya untuk duduk di sofa ruangannya. Tak lama Rini pun masuk membawakan teh dan beberapa brownies buatannya.
"Monggo pak." Rini meletakkan cangkir teh dan brownies.
"Terima kasih." Pandu dan Shailendra mengucapkan bersamaan.
"Saya permisi dulu." Rini pun mengundurkan diri dan keluar dari ruang kerja Pandu.
"Bagaimana pekerjaan kamu?" tanya Shailendra.
"Alhamdulillah kami mendapatkan provit banyak tahun ini, setidaknya melebihi target yang kita buat awal aku disini pak" jawab Pandu.
"Kabarnya kamu dan Bu Kaia membuang banyak orang-orang tidak kompeten?"
"Iya pak. Termasuk HRD disini karena ternyata seleksinya kebanyakan tidak sesuai standar Giandra Otomotif Co karena banyak nepotisme."
"Sebenarnya nepotisme tidak dilarang asalkan memiliki kinerja yang sesuai standar."
"Sayangnya, kebanyakan tidak. Awal aku disini hanya bisa bengong melihat yang masuk itu seperti wanita panggilan kelas atas gayanya" kekeh Pandu. "Horor deh pak."
__ADS_1
"Bagaimana kamu? Masih berpacaran dengan anak bu Kaia?"
Pandu mengangguk. "Alhamdulillah aku dan Reana masih bersama meskipun kami LDR."
Shailendra menatap putranya. "Putuskan Reana."
Pandu melongo. "Kenapa Pak? Reana salah apa?"
"Dia anaknya Bu Kaia, cucunya pak Duncan. Apa kamu tidak mikir Ndu. Mereka itu boss kamu dan boss bapak dan mereka tidak akan segan-segan memecat kita jika kita melakukan kesalahan! Apa jadinya kalau kamu menikah dengan Reana lalu ada kesalahan... Bapak tidak yakin kamu akan selamat !"
"Astaghfirullah! Pak, Bu Kaia dan Pak Rhett bukan keluarga seperti itu!"
"Bapak tidak setuju kalau kamu sama Reana! Ndu, kita ini orang biasa, mereka Sultan. Beda cerita! Beda kasta!"
"Ya Allah pak, memang benar mereka keluarga Sultan tapi mereka itu humble. Bukankah bapak juga tahu kan bagaimana pak Duncan, Bu Danisha selama ini. Bapak kan juga dibawah Bu Kristal dan Pak Kris. Mereka kan orang-orang yang humble."
"Iya bapak tahu tapi jika kamu sudah masuk disana, tidak boleh melakukan kesalahan fatal karena nyawa kamu taruhannya!"
"Astaghfirullah! Bapak! Mereka itu bukan mafia dan Reana bukanlah gadis yang seperti bapak bayangkan. Reana itu gadis biasa saja dan gadis terbaik bagi aku, pak."
"Ndu, bapak lebih suka kamu pacaran dengan orang biasa saja bukan orang kaya seperti Reana."
Rahang Pandu tampak mengeras. "Maaf pak, untuk kali ini aku tidak akan mematuhi bapak. Aku tetap akan bersama Reana, baik dengan atau tanpa restu bapak!"
Shailendra terkejut mendengar ucapan putra sulungnya. "Pandu!"
"Maaf bapak. Saya tidak bisa melepaskan Reana karena seperti Raden Pandu, saya sudah menemukan Dewi Kunti saya. Dan saya tidak ada keinginan mengganti atau menambah Dewi Madrim. Bagi saya, Reana adalah satu-satunya wanita yang akan saya nikahi dan hidup bersama hingga maut memisahkan kami."
Shailendra menatap wajah putranya dengan tatapan tidak percaya.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Maaf Rajendra aku buat end karena aku fokus dengan dua ongoing. Tapi tetap akan aku beri bonchapnya sampai ke Abi ( insyallah ) tapi jadinya panjang ... gak papa ya.
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️