My Cold Chef

My Cold Chef
Bonchap - Aidan dan Karl ke New York


__ADS_3

Surabaya, Jawa Timur , Indonesia


Pandu memukul samsak di tempat dia nge-gym karena dirinya merasa harus menyalurkan semua emosinya gara-gara ucapan ayahnya. Pandu tidak sanggup jika harus berpisah dengan Reana.


Ya Tuhan, Reana tidak salah disini tapi kenapa bapak tidak suka?


Pandu tidak habis pikir kenapa Shailendra begitu kerasnya menentang hubungannya dengan princessku. Reana adalah segalanya bagi Pandu bahkan dia benar-benar menjaga hatinya untuk gadis berambut pirang yang cerdas itu.


Pria itu memutuskan istirahat dan melepas sarung tinjunya lalu menuju kursi panjang tempat ponsel dan tempat minumnya. Dilihatnya jam tujuh malam di Surabaya berarti jam delapan New York.


Reana pasti sudah di kampus. Pandu pun menelpon kekasihnya dan tersenyum mendengar suara lembut yang selalu dirindukan.


"Hai" sapa Pandu dengan panggilan video yang membuat wajah Reana memerah.


"Astagaaa! Mas Pandu, pakai baju dulu kenapa?" tegur Reana.


"Kaosku basah karena keringat. Ini mau mandi tapi nunggu agak kering lah badanku. Kamu sudah sampai kampus?" Pandu melihat Reana di cafe biasanya.


"Hu um. Aku sedang membuat tugas disini. Dosenku tidak datang dan hanya memberikan tugas jadinya ya sudah aku disini" senyum gadis itu yang membuat jantung Pandu berdebar - debar.


"Princess, kamu tahu kan aku sangat mencintaimu."


Reana mengangguk. "Kenapa mas?"


"Usai kontrak aku di Surabaya, aku bertemu dengan Pak Rhett dan Bu Kaia ya."


Wajah Reana tampak malu-malu. "Serius mas Pandu?"


Pandu mengangguk. "Aku selalu serius dengan segala sesuatu yang aku lakukan."


"Bagaimana dengan pak Shailendra? Apakah sudah memberikan restu?"


Wajah Pandu pun tampak sendu. "Aku tidak perduli, princess. Aku anak laki-laki tidak perlu membawa orang tua buat melamar kan?"


"Mas Pandu! Tidak boleh begitu! Nanti mami malah bingung kenapa kamu datang melamar tanpa orang tuamu!" tegur Reana.


"Bapak masih tidak mau aku bersamamu tapi aku tetap akan bersama kamu selamanya. Yang menjalani kehidupan ini adalah aku dan kamu, bukan bapak!"


Reana tersenyum. "Kalau aku disana, aku akan mengelus pipi kamu supaya jangan emosi. Mas, pak Shailendra itu bapak kamu, jangan seperti itu. Berikan waktu agar bapak bisa melihat bahwa kita benar-benar serius."


"Aku mau kamu kemari buat elus pipi aku..." goda Pandu dengan wajah yang membuat Reana salah tingkah.


"Mas Pandu ..." bisik Reana.


"Akan aku coba membujuk bapak lagi. Apa kamu tahu bapak datang jauh-jauh dari New York ke Surabaya hanya untuk melarang aku berhubungan dengan kamu?"


Reana tampak terkejut. "Pak Shailendra di Surabaya?"


"Hu um. Makanya aku ke gym karena sebelumnya aku sempat bertengkar dengan bapak. Daripada aku bertambah jelek mulutku, mending aku kesini, ninju samsak!"


Reana tersenyum. "Sabar mas. Kalau sudah selesai, mandi dan pulang ya. Istirahat mas jangan sampai sakit."


"Rasanya ingin segera ke New York melamar kamu" senyum Pandu.


"Aku selesaikan kuliahku dulu, masih satu setengah tahun lagi."


"Bagaimana kalau kita menikah meskipun kamu masih kuliah? Tidak masalah kan princess?" Pandu menatap wajah cantik itu.

__ADS_1


"Yang penting mas yakinkan bapak mas dulu. Aku tidak mau mas datang ke rumah tanpa orang tua. Ada unggah ungguhnya."


Pandu tersenyum. Meskipun Reana casingnya bule, tapi pola pikirnya terdapat pola pikir Jawa yang kental. Tak heran karena omanya sangat mendidik dengan cara Jawa.


"Iya princess."


"Mas, sudah ya, aku buat tugas dulu. Temanku Julia sudah datang dan kami mau buat tugas bareng."


"Iya sayang. Pulangnya hati-hati princess. Love you."


"Mas juga. Love you too." Reana memberikan kiss bye ke Pandu yang membuat pria itu tertawa dan merasa gemas dengan gadisnya.



"Love you princess" bisik Pandu setelah mematikan panggilannya.


Pandu pun membereskan bawaannya dan menyimpannya di locker. Setelahnya dia mengambil handuk untuk masuk ke dalam sauna. Pria itu tidak memperdulikan tatapan menggoda para wanita yang datang ke gym karena di pikirannya hanya ada Andreana Blair O'Grady.



***


New York, USA


Rajendra menatap tidak percaya melihat siapa yang datang ke restauran Giancarlo Bouloud.


Ngapain Oom ku kemari?


Memang hari ini Aidan Blair dan Karl Schumacher datang ke restauran dengan pakaian formal. Mata biru Aidan melirik ke arah Rajendra yang masih memasang wajah datar tapi matanya menyorot tatapan bertanya.


Ada apa tuh berdua kemari?


***


"Giancarlo!" sapa Aidan Blair yang membuat chef berkebangsaan Perancis itu mendongak terkejut melihat sahabatnya datang.


"Ai! Apa kabar? Halo Karl" sapa Giancarlo ramah.


Ketiganya saling berpelukan bergantian.


"Ayo, duduk. What's up boys?" tanya Giancarlo setelah mereka duduk di sofa.


"Bukan soal keponakan aku yang jelas" senyum Aidan.


"Rajendra? Dia calon chef masa depan, Ai. Gaya dan determinasi nya mengingatkan aku dengan Opamu, Ryu Reeves."


"Dimana kamu melihat Opa Ryu?" tanya Aidan bingung.


"Hei, Opa mu kan bersahabat baik dengan Opaku Daniel. Dan video keluarga kami ada Opamu, Ai."


"Oh, I see." Aidan tersenyum.


"So, ada apa anak Inggris dan anak Jerman kemari?"


"Hanya main saja, G. Kami ada acara di RR's Meal dan menyempatkan saja kemari sambil melihat si Jendra" cengir Aidan.


"Jendra itu anaknya humble ya?" komentar Giancarlo.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Karl.


"Apa kalian tahu, Jendra sering mengajak para pegawai yang tidak mampu menonton pertandingan NBA? Dan tahukah tiket yang dibelikan oleh Jendra adalah tiket VIP ? Padahal aku tahu tiket VIP itu tidak murah."


"Really?" tanya Karl.


"Ohya, Rajendra kemarin pada hari liburnya yang berbarengan dengan satpam restauran Dupree tampak asyik nonton New York Knicks di front row."


"Bagaimana kamu tahu G?" tanya Aidan.


"Karena aku juga ikut nonton hanya saja Rajendra dan Dupree tidak melihat aku dan putraku karena kami berbeda row" kekeh Giancarlo.


"Jendra memang fans NBA dan di rumah Oom nya penggemar sepak bola sedangkan sepupunya bukan penggemar NBA jadi dia cari teman" jawab Aidan.


"Tapi memang Rajendra begitu sih dari kecil. Dia selalu humble kepada siapa saja yang menurutnya kurang mampu." Karl menatap Giancarlo serius.


"So, ada apa petinggi RR's Meal kemari?" tanya Giancarlo pemasaran.


"Apakah kamu mendengar penyelundupan bahan makanan eksotis?" tanya Aidan.


"Kalau seperti daging kanguru, emu, telur burung unta atau buaya bukannya sudah legal ya? Karena kita tahu banyak peternaknya sekarang." Giancarlo menatap bingung.


"Bukan itu, G" jawab Aidan.


"Lalu daging apa?"


"Daging chinchilla."


Giancarlo melongo. "Binatang lucu itu? Anakku punya Ai!"


"Yup. Sekarang pihak kepolisian dan pengawas bahan makanan ketat memeriksa distributor daging itu dan aku hampir kecolongan saat salah satu chef kami tidak teliti. Untung Larry double check dan kami kena periksa." Aidan tersenyum kecut.


"That's so disgusting!" umpat Giancarlo.


"Meskipun kamu spesialis seafood tapi aku harap kamu hati-hati G karena daging chinchilla mirip dengan daging kelinci." Aidan menatap serius.


"Absolutely Ai."


***



Siapa kangen babang Ai?



Bokapnya Ayrton


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Maaf aku semalam ketiduran


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2