
New York
Berita cincin tunangan Abi gelinding menjadi trending topik di semua keluarga besar baik dari para opa-oma, oom-tante dan para sepupu baik laki-laki maupun perempuan.
"Kok bisa sih D?" tanya Ghani sambil tertawa saat para Opa melakukan panggilan zoom.
"Tanya saja sama bocahnya" sungut Duncan.
"Untung bisa diambil" kekeh Gozali.
"Wah sayang tidak bisa lihat langsung ya, D. Aku masih di Spanyol soalnya" ucap Javier sambil tertawa membayangkan wajahnya Abi.
"Bakalan aib seumur hidup Abi deh!" gelak Elang bersamaan dengan Joshua dan Masayuki.
"Tentu saja Hoshi dan Benji yang akan mengompori semua sepupunya jika besok lamaran jangan sampai gelinding macam Abi" gelak Mamoru.
"How do you know?" tanya Duncan.
"Ini Miki mengirimkan screen shot dari grup chat generasi kelima. Joey dan Luca yang kirim" kekeh Mamoru yang langsung mengirimkan ke grup chat para Opa.
📩 Hoshi Reeves : gue wanti-wanti ya hai para sepupu aku, jangan sampai kalian mengalami kejadian memalukan ala mas Abiyasa. Masa pasang cincin tunangan saja pakai acara gelinding? Gak banget kan?
📩 Benjiro Smith : Ini aku bagi link video detik-detik cincin itu lenyap di bawah lemari jati yang disukai Oma Ayame dan Tante Yanti
Link Video
📩 Abi O'Grady : Eh Benjol! Sempat ya elu rekam?
📩 Benjiro Smith : Ya mesti! Benji! ✌️✌️✌️
📩 Abi O'Grady : Hapus nggak Ben!
📩 Benjiro Smith : Nehi lah yaw!
Semua opa tertawa terbahak-bahak membaca chat para cucunya.
"Astagaaa! Eiji! Ini cucumu lebih durjana dari kamu!" kekeh Neil.
"Berarti dia memang cucu aku lah!" jawab Eiji santai.
***
Giandra Otomotif Co Building New York
Abi menatap layar ponselnya dengan wajah cemberut karena gara-gara dirinya gugup, jadi bahan Bullyan seluruh sepupunya yang pria. Untungnya sepupu perempuan hanya Freya yang usil lainnya tidak sedurjana yang laki-laki.
Abi tampak cemberut ketika asistennya mengatakan ada Gandari Pramudhita di lobby.
"Gandari?"
"Iya, Mr O'Grady. Miss Pramudhita ada di lobby."
"Suruh dia naik. Kamu jemput Stan."
"Yes sir."
***
__ADS_1
"Mas Abi? Are you okay?" tanya Gandari yang siang ini memakai setelan blazer bewarna putih dan membawakan beberapa paper bag berisikan makan siang.
"Nope."
Gandari mendekati meja kerja Abi. "Kenapa? Masih dibully?"
Yang khawatir mas Abi dibully
Yang manyun gara-gara sepupu durjana
"Kamu tidak tahu rasanya dibully di keluarga aku. Bully di sekolah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan ini!" Abi memberikan ponselnya yang sudah dibuka membiarkan Gandari membaca grup chat generasi kelima.
Gandari tertawa terbahak-bahak membaca bahasa mereka yang campur aduk antara Inggris Indonesia Jawa dan Jepang.
Abi pun semakin manyun. "Ketawain terus! Seneng kan kamu?"
Gandari semakin terbahak melihat calon suaminya tampak berbeda, tidak ada istilah kanebo kering yang ada pria berbadan besar sedang merajuk.
"Oh poor mas Abi." Gandari mendekati Abi lalu memegang wajah pria yang mirip dengan Duncan Blair itu. "Tandanya kamu itu bukan kanebo kering."
"Hah?" Abi menatap judes ke calon istrinya.
"Sepupu perempuan mu, Freya, bilang kamu kanebo kering tapi buat aku, kamu kanebo basah." Gandari mencium bibir Abi sekilas. "Jangan manyun - manyun. Hilang gantengnya."
"Gandari..."
"Yes, mas?"
"I love you too, mas." Abi mencium bibir Gandari lembut.
***
Keduanya asyik memakan makan siang yang dibawakan oleh Gandari berupa bento dari restauran Jepang favorit Gandari yang dekat dengan galeri tempatnya bekerja.
"Ini enak!" ucap Abi sambil menyesap ochanya.
"Enak kan mas? Ini restauran langganan aku kalau makan siang di galeri. Karena aku tahu hari ini mas Abi masih dongkol dengan kejadian kemarin, makanya aku sengaja bawa makan siang kemari. Sekalian menghibur yang lagi manyun." Gandari memberikan senyum manis sebelum Abi tambah cemberut.
"Untung sayang, kalau nggak aku dah ngomel - ngomel" sungut Abi.
Suara ponsel Abi membuat keduanya menoleh ke barang pipih di sebelah pria itu.
"Siapa mas?" tanya Gandari yang melihat kening Abi mengerut.
"Travis. Ada apa ya?" Abi langsung menggeser tombol hijau. "What's up bro?"
"Bi, Gandari dimana?" tanya Travis dengan nada sedikit panik.
"Ini disini bersamaku lagi makan siang. Kenapa Vis?" Abi menatap Gandari dengan tatapan bingung.
"Kamu di Giandra atau PRC atau MB?"
__ADS_1
"Di Giandra. Kenapa?"
"Stay there! Aku akan kesana!" Travis langsung menutup panggilannya membuat Abi menatap bingung layar ponselnya yang sudah berubah menjadi gambar dirinya dan Gandari saat bertunangan.
"Mas Travis kenapa mas?" tanya Gandari.
"Aku juga tidak tahu." Abi melanjutkan makannya.
***
Travis tiba di ruangan Abi setengah jam kemudian sambil membawa beberapa cup Starbucks.
Jika Travis sudah membeli banyak kopi Starbucks, berarti ada masalah yang membuat pria itu gelisah.
"Abi ... Gandari... Sebentar." Travis menyesap americanonya.
"Pasti masalahnya berat ini Ndari. Soalnya kebiasaan Travis kalau beli kopi aneh-aneh, berarti dia lagi panik" bisik Abi ke Gandari.
"Kamu ada makanan nggak? Aku lapar." Travis menatap Abi dan Gandari.
"Apa hal pengacara yang biasanya cool dan tenang jadi gedubrakan begini?" hardik Abi kesal karena Travis seperti mengulur - ulur waktu.
"Aku mendapatkan kabar dari kapten Rasyad." Travis menyesap kopinya lagi. "Semalam terjadi kerusuhan di lapas Kedungpane dan ada gegeran antara napi narkoba yang menjalar hingga napi pembunuhan. Perkelahian tidak dapat dihindarkan dan... Pamanmu Lukman menjadi korban salah tusuk."
Abi dan Gandari terkejut. "Lalu? Bagaimana Vis?" tanya Abi.
"Kondisinya tidak baik, Bi. Sekarang masih di ICU. Joko dan Jerome pun terluka dan keduanya juga di rawat di rumah sakit Bhayangkara."
Gandari meremas tangan Abi pertanda dirinya sangat terkejut dan terguncang.
"Gandari, apakah kamu sudah memaafkan pamanmu? In case kita akan mengahadapi worst scenario" tanya Travis sembari menatap lekat calon iparnya.
Gandari menatap Abi yang hanya mengangguk pelan.
"Mas Travis, setelah mereka dijatuhi hukuman, detik itu juga aku memaafkan mereka semua dan berharap di dalam penjara, mereka menyadari kesalahannya dan berusaha bertaubat atas dosa-dosanya. Aku tidak mau menyimpan dendam terus menerus karena akan menggerogoti diri aku sendiri. Aku hanya ingin menatap masa depan aku, melangkah bersama dengan pria tuna seni ini..."
"Heeeeiii" protes Abi.
"Dan aku tidak mau menoleh ke belakang. Kejadian kematian kedua orang tuaku sudah 12 tahun lebih dan aku sudah tahu penyebabnya dan pelakunya sudah dihukum, sudah cukup bagiku karena mau aku nangis darah pun, kedua orang tuaku tidak kembali." Gandari menatap Abi lembut.
"Syukurlah. Jadi kamu sudah ikhlas ya jika alat-alat penunjang hidup pamanmu dicabut?"
Gandari terkejut. "Kok minta ijin sama aku? Kemana Anggita?"
"Anggita bunuh diri di sel dua hari sebelum kalian bertunangan. Dia tidak tahan membayangkan seumur hidupnya dihabiskan di penjara. Apalagi ketiga anak Anggita tidak diketahui keberadaannya karena mereka tidak ditemukan di Purworejo. Karena kamu yang masih ada hubungan keluarga, dokter meminta ijin padamu melalui kapten Rasyad dan aku."
Gandari menatap Travis bingung.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️