
Rajendra, Reana dan Aruna akhirnya berangkat ke Staten Island tempat mansion Blair berada. Semalam Reana dan Rajendra meminta ijin untuk membawa Aruna bertemu dengan Opa Duncan dan Oma Rhea kepada Aksara dan Ghania.
Tentu saja kedua orang tua Aruna mengijinkan karena tahu siapa Duncan Blair dan Ghania bersyukur putrinya bersama dengan keluarga baik-baik jadi dirinya tenang menemani suaminya mengikuti acara pameran dan seminar agrobisnis.
Rhett dan Kaia mengatakan akan menyusul karena masih mengurus pekerjaan mereka di weekend ini.
"Apa Opa Duncan galak?" tanya Aruna ke Reana yang duduk di sebelahnya sedangkan Rajendra duduk di depan bersama dengan Ian.
"Nggak sih. Opa Duncan itu baik lho, kalau Oma Rhea mirip Oma Rain hanya saja lebih blak-blakan" jawab Reana.
"Alhamdulillah kalau baik."
"Memang kenapa, sayang?" tanya Rajendra dari depan.
"Aku kan bisa auto mengkeret" ucapnya sambil memajukan bibirnya.
Reana dan Rajendra tertawa. "Opa Duncan malah suka kalau ada calon cucu menantu nya yang bar-bar" kekeh Reana. "Kalian yakin nih mau nikah muda setelah lulus kuliah?"
Semalam Rajendra memberanikan diri untuk menyatakan perasaan dan keinginannya bersama dengan Aruna setelah lulus kuliah dan bekerja di RR's Meal.
***
Flashback Semalam
"Oom Aksara, Tante Ghania, boleh Jendra ngomong sesuatu?" pinta putra Arjuna McCloud itu kepada keempat orang dewasa yang sedang duduk di ruang tengah.
Rhett dan Kaia menatap keponakannya dengan tatapan bingung. Jangan-jangan ...
"Mau ngomong apa Jendra?" tanya Aksara yang sudah menganggap Rajendra seperti putranya sendiri.
"Rajendra tahu kalau masih 16 tahun, masih muda tapi Rajendra sudah memantapkan hati untuk meminang Aruna Kenes Lewis disaat Rajendra sudah menyelesaikan pendidikan di Culinary Institute dan bekerja di RR's Meal." Rajendra menatap serius kepada Aksara dan Ghania.
Reana dan Aruna hanya bisa melongo melihat keberanian Rajendra sedangkan Rhett dan Kaia menatap kagum ke keponakannya.
"Benar-benar anaknya Junjun , cucunya Oom Jeremy kamu" kekeh Kaia bangga.
Aksara memandang remaja tampan itu. Tidak ada keraguan sedikitpun di mata coklat putra sahabatnya itu. Aksara sendiri sudah menyukai Rajendra sejak tahu dia putra Arjuna dan mengejar putrinya. Pria berdarah Turki Inggris itu sangat menghargai niat baik Rajendra bahkan Ghania sendiri pernah berkata padanya bahwa dia sangat setuju jika Aruna bersama Rajendra.
Sebagai orangtua yang memiliki anak perempuan, dirinya akan merasa tenang jika putrinya bersama dengan pria yang sangat dikenalnya dengan baik. Apalagi, Rajendra berasal dari keluarga yang dikenal lurus hidupnya.
"Apa kamu yakin Rajendra?" tanya Aksara.
"Saya yakin Oom. Bahkan saya sudah bilang berulang kali, saya sudah memantapkan hati untuk Aruna. Hubungan kami sudah berjalan sepuluh tahun lebih dan pada saat saya harus berpisah dengan Aruna karena kuliah disini, saya semakin yakin kalau saya tidak bisa berpaling dari Aruna. Saya tetap menjaga hati saya untuk putri Oom."
Aruna yang menatap dan mendengar semua pernyataan Rajendra merasa terharu. Rajendra memang tidak sering mengucapkan kata-kata 'i love you' atau 'seni seviyorum' tapi Aruna tahu bagaimana perasaan Rajendra kepadanya.
__ADS_1
"Astagaaa, Rajendra. Kamu belajar dari mana bisa berbicara seperti itu?" senyum Ghania yang kagum menatap calon menantunya.
"Saya... hanya mengungkapkan apa isi hati saya..." jawab Rajendra kikuk sambil mengusap kepalanya.
"Jendra, sepertinya kamu itu terlalu dewasa sebelum waktunya deh" goda Aksara.
"Jendra cuma mengikuti pesan Papa."
"Apa itu?" tanya Rhett penasaran mengingat Arjuna sama absurd nya dengan Levi karena tepatnya sering tidak jelas otaknya.
"Kata papa, kalau kamu sudah mantap sama Aruna, maju terus pantang mundur wow keren nembung ke Oom Aksara" cengir Rajendra.
Kaia melongo sedangkan para orang tua lainnya bersama Reana, tertawa terbahak-bahak.
"Astagaaa! Junjuuunnn!" umpat Kaia.
Aruna pun tidak bisa menyembunyikan tertawanya. Pacarku memang suka membagongkan!
"Rajendra, tanpa kamu meminta pun, Oom dan Tante sudah memberikan restu kamu dengan Aruna. Kami sudah auto setuju ketika tahu kamu anak siapa." Aksara pun berdiri. "Jangan sampai mengecewakan kami ya Jendra." Pria seumuran Rhett itu menepuk bahu Rajendra.
"Insyaallah tidak Oom. Bahkan saya bersedia dihajar oleh Aruna jika mulai Meleng."
"Bagus!"
***
Mobil Range Rover yang disetiri oleh Ian sampai di sebuah mansion dengan logo keluarga Blair di pintu gerbangnya.
Penjaga pintu gerbang memberikan akses masuk mobil mewah itu. Dan Ian memarkirkan mobil itu di garasi besar milik keluarga Blair.
Aruna dan Reana pun turun sedangkan Rajendra berjalan di belakangnya.
"Wow! Aku kira kastil milik Oma Rain sudah besar ternyata mansion milik Oma Rhea jauh lebih besar ya?" gumam Aruna.
"Ini belum seberapa Runa. Kamu belum ke Dubai. Disana sepupuku Enzo tinggal di istana Al Jordan" sahut Reana sambil tersenyum.
"Is..istana?" Mata coklat Aruna membulat sempurna.
"Iya. Direndra itu keturunan pangeran lho. Nanti kalau sudah besar, dia dan Alaric akan mewarisi gelar Emir Al Azzam."
"Reana, apa kamu yakin Rendra itu pangeran?" bisik Aruna.
"Kenapa?"
"Aku kok gak yakin karena sikapnya seenaknya sendiri" kekeh Aruna.
__ADS_1
Reana tertawa. "Namanya juga Direndra." Ketiganya kini sampai di pintu utama mansion Blair dan seorang pelayan mengantarkan ketiga remaja itu ke ruang tengah.
Disana tampak Duncan dan Rhea sedang ada tamu. Jika dilihat dari belakang seperti ayah dan anak karena kedua tamu itu membelakangi mereka.
"Reana! Rajendra! Alhamdulillah datang juga" seru Rhea melihat cucu-cucunya datang. Oma cantik itu pun berdiri menghampiri kedua cucunya.
"Oma" seru Reana sambil mencium punggung tangan Rhea dan memeluknya. Rajendra pun melakukan hal yang sama.
"Ini siapa? Aruna kah?" tanya Rhea menatap gadis cantik berhijab biru itu.
"Njih Oma. Saya Aruna" jawab gadis remaja itu sambil mencium punggung tangan Rhea.
"Alhamdulillah bisa bertemu juga akhirnya. Ayo, Salim sama Opa." Rhea menghela ketiga cucunya ke Duncan. Ketiganya pun mencium punggung tangan Duncan, dan hanya Reana yang menambahkan ciuman di pipi kiri kanan pria paruh baya itu.
"Alhamdulillah kalian sampai juga. Aruna, akhirnya Opa bisa bertemu kamu" senyum Duncan lembut. "Oh kenalkan ini pegawai MB Enterprise yang baru datang dari Jakarta. Pak Shailendra Juwono dan putranya Pandu Dewanata. Sementara baru mereka yang akan tinggal di New York, nanti istri dan si bungsu Pramana menyusul."
Rajendra mengulurkan tangannya menjabat tangan Shailendra dan Pandu. Reana pun melakukan hal yang sama dan hatinya bergetar ketika tangannya menjabat tangan Pandu.
Tampan. Eh? Kenapa aku jadi deg-degan. - batin Reana.
Masyaallah, cucu tuan Blair cantik sekali. - batin Pandu. Tapi, aku bukan siapa-siapa baginya.
"Pandu kuliah di New York University jurusan ekonomi dan sebentar lagi lulus" sambung Duncan.
Reana tertegun. Dia kuliah disini? Di New York?
Pandu menundukkan wajahnya. Ya Allah, kenapa jantungku berdebar begini ya? Apa aku akan terkena serangan jantung?
"Oma, aku lapar" bisik Rajendra membuat Rhea tertawa.
"Ayo semua cucu Oma, kita ke ruang makan." Rhea mengajak ketiganya masuk namun Reana sempat menoleh ke belakang untuk melihat Pandu yang tanpa diduganya juga melakukan hal yang sama. Keduanya saling bertatapan dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan.
***
Visual Reana aku ganti.
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1