
Aidan mendongak melihat wajah istrinya yang tiba-tiba naik ke lantai dua. Wajahnya memasang bingung dan gelisah.
"Ada apa, Thara?" tanya Aidan sembari menunduk menyelesaikan pekerjaan laporan keuangan dari semua cabang RR's Meal seluruh dunia.
'Ai... Bisa nggak aku minta sesuatu?"
"Minta apa?" Aidan masih berkutat dengan setumpuk berkas.
"Buatkan ini." Thara menunjukkan gambar jajanan pasar tradisional khas Jawa di ipadnya.
Aidan mengerenyitkan dahinya. "Lupis, kelepon dan cenil?" Thara mengangguk.
"Kayaknya enak" ucap bumil itu sambil mengusap bibirnya yang memulai terbit air liurnya.
Aidan melongo. Terakhir dia makan jajanan pasar ini adalah saat dia masih kecil di Jakarta. Ogan Abi dan Necan Dara selalu menyediakan berbagai macam jajanan pasar tradisional di meja makan setiap pagi. Abi adalah pecinta kuliner tradisional.
"Are you serious?" Adrian menatap Thara.
"I'm so serious Ai. Bisa tidak?" tanya Thara penuh harap.
"Aku belum pernah buat tapi Tante Rain bisa. Apa Tante Rain aku minta kesini? Secara bahan baku untuk buat jajanan ini ada semua di dapur pastry kan?"
Mata Thara berbinar-binar. "Benarkah Tante Rain bisa? Minta kesini dong."
"Aku hubungi dulu, Thara." Aidan menggelengkan kepalanya. "Setidaknya kamu nggak minta cupcake 200 biji. Horor tahu!"
Thara tertawa.
***
Rain pun datang bersama dengan Rajendra yang antusias untuk melihat bagaimana Oma dan Oomnya membuat makanan tradisional asal negara Oma dan mamanya. Rajendra sendiri masih memegang dua kewarganegaraan, Inggris dan Indonesia.
"Kamu ngidamnya kok Indonesia banget sih" kekeh Rain sambil memakai apron yang disiapkan oleh Aidan.
"Nggak tahu nih Tante. Tiba-tiba kok kebayang kue-kue itu." Thara pun duduk di kursi dekat meja baja tempat dirinya dan Stacy biasa bekerja membuat berbagai pastry yang membuat para pelanggan RR's Meal ketagihan.
"Ya sudah, berarti cucu Oma maunya makanan Indonesia, seperti Necan, Oma dan Ogannya" senyum Rain.
Para pegawai RR's Meal pun beberapa mengehentikan pekerjaannya guna melihat bagaimana Aidan dan Rain bekerja sama membuat penganan tradisional yang biasanya dijual di pasar tradisional.
Stacy dan Rajendra pun ikut kepo bagaimana dengan luwesnya Rain membuat lupis. Bahkan Stacy membantu membuat gula Jawa cair sedangkan Rajendra mengeyel untuk memarut kelapa meskipun harus terkena parutan jadul yang memang dikoleksi Aidan. Semua lima jari tangan Rajendra pun sudah terbalut plaster bergambar Disney.
Tiga jam kemudian semuanya siap dan wajah Thara tampak berbinar-binar melihat hasil karya suami dan Tantenya yang memang pintar membuat pastry.
Thara memasukkan sepotong lupis dan wajahnya tampak bahagia. "Hhhhmmmm enaakkk."
"Dia mirip Sekar saat hamil Rama kalau mendapatkan makanan yang diinginkan" kekeh Rain. Rajendra pun mencoba mencicipi cenil.
"Oma... Ini enak banget! Ini juga" ucapnya saat memakan kleponnya. "Ini juga."
__ADS_1
"Ayo, semua pada mencicipi. Kami membuat banyak kok" ajak Rain.
"Buat apa Rain?" suara bariton membuat orang-orang di dapur pastry menoleh. Tampak seorang pria tinggi yang sudah berumur tapi masih tampak gagah dengan brewok di dagunya. Matanya yang bewarna hijau kebiruan itu memancarkan tajam seperti Elang namun lembut dan penuh cinta kepada satu wanita saja.
"Buat jajanan pasar. Itu lupis, klepon dan cenil. Kamu pernah aku buatkan dulu" senyum Rain sambil menghampiri suaminya yang memberikan senyum mesra.
"Thara ngidam?" pria itu menoleh ke arah istri keponakannya.
"Iya Oom Jeremy, maaf merepotkan" ucap Thara.
"Namanya juga ngidam. Dulu Sekar ngidam apa Ai? Blue Velvet cupcakes ya?" Elang menatap Aidan.
"Iya Oom" jawab Aidan.
"Opa. Lihat!" Rajendra memamerkan lima jarinya yang terbalut plester biru bergambar berbagai macam tokoh Disney dengan wajah bahagia.
"Apa yang terjadi pada jari cucuku?"
***
Aidan, Thara, Rain dan Rajendra langsung mengkeret melihat tatapan tajam Elang Samudera McCloud yang tidak terima jari cucunya terluka.
"Jendra yang minta kok Opa. Jangan marahi Oma dong" rayu Rajendra.
"Tapi kan kalian bisa melarang Jendra jangan sampai terluka begini" keluh Elang. "Kalau Arjuna tahu apa tidak lebih heboh lagi?"
"Kalau memang mau jadi chef, harus pernah kena parut atau keiris pisau. Oom tahu kan aku saja meskipun sudah profesional begini, kadang masih terluka juga" ucap Aidan membela Rajendra supaya tidak down kena omel Opanya.
"Iya Opa. Tapi enak kan makanannya? Paling enak parutan kelapanya. Kan Jendra memarutnya penuh perasaan" ucap bocah tampan itu.
"Iya deh" senyum Elang dan Rajendra pun mencium pipi Opanya.
"Ngomong-ngomong, kok tinggal dikit ya lupisnya? Aku ambil lagi ya Ai." Thara pun berdiri hendak mengambil lupisnya.
"Kamu disini saja, biar aku ambilkan." Aidan pun turun menuju dapur.
"Ai sudah banyak berubah ya Thara" ucap Rain sambil menyenderkan tubuhnya ke Elang. Kebiasaan Rain dari dulu selalu bersender ke suaminya jika duduk berdua.
"Alhamdulillah Tante." Thara terkejut ketika Rajendra menempelkan telinganya di perut Thara.
"Kok belum ada duk Duk Duk seperti dik Rama ya Oma?" komentar bocah itu bingung.
"Ya belum lah. Nanti bulan depan baru kedengaran Duk Duk Duk." Rain tertawa melihat wajah cucunya.
Istilah Duk Duk Duk itu saat Rama dalam perut menendang perut Sekar dan Rajendra adalah orang pertama yang merasakan tendangan Rama.
"Semoga laki-laki ya Tante" ucap Rajendra.
"Memang kalau perempuan kenapa?" tanya Elang bingung.
"Gampang jaganya. Kalau perempuan, Jendra bingung nanti jaganya, Aruna atau adik Jendra" ucapnya polos.
__ADS_1
Rain dan Elang melongo. "Kok sampai ke Aruna lagi?"
Thara hanya tertawa kecil membayangkan jika anaknya perempuan, mengikuti kemana Rajendra pergi akan membuatnya kesal karena mengganggu ketika bersama Aruna.
***
Aidan hanya terdiam judes melihat piring-piring berisikan lupis, kelepon dan cenil sudah habis tidak tersisa.
"Siapa ini yang menghabiskan?" tanyanya dingin.
Goro, sang sous chef pun menghampiri dengan takut-takut. "Kami semua chef Blair" ucapnya pelan.
"Enak kah?" tanya Aidan lagi.
"Enak banget chef!" seru anak buahnya.
Aidan hanya menggelengkan kepalanya.
"Besok bikin lagi ya chef? Aku sudah mempelajari caranya. Kan bisa kita sajikan buat acara minum teh sore?" pinta Stacy dengan wajah berharap.
"Minggu depan saja kita memakai tema masakan Indonesia. Bagaimana?" usul Aidan. "Pastry tiga penganan tadi."
"Setuju chef!" seru para kru Aidan.
***
Aidan masuk ke dalam ruang kerjanya dengan wajah manyun.
"Kenapa Ai?" tanya Rain.
"Dihabiskan anak-anak di bawah" ucap pria bermata biru itu.
Elang, Rain dan Thara tertawa terbahak-bahak. "Ya sudah tidak apa-apa. Kapan-kapan kita buat lagi."
Thara pun menghampiri suaminya.
"Yang penting aku sudah makan tadi jadi ngidam ku keturutan" ucapnya sambil memeluk dan mencium suaminya.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Yang nunggu bang Dapid, masih di-review dari semalam belum lolos 😭😭😭
__ADS_1