
The Museum of Modern Art
Gandari sedang mengkurator sebuah lukisan karya Basuki Abdullah yang dipinjamkan dari museum Basuk Abdullah Indonesia ketika seorang pegawainya mengatakan ada seorang pria tampan mencarinya.
"Apakah Abiyasa O'Grady?" tanya Gandari.
"Bukan Ms Pramudhita, namanya Travis Blair."
Jantung Gandari berdegup kencang. "Suruh Mr Blair masuk."
Tak lama Travis pun masuk ke dalam ruang kerja Gandari dan langsung takjub dengan lukisan karya Basuki Abdullah.
"Wow Gandari. Basuk Abdullah?" tanya Travis.
"Tahu mas?" kekeh Gandari.
"Hei, aku bukan seperti sepupuku yang tuna seni itu" cebik Travis.
Gandari tertawa. "Ada perlu apa mas Travis kemari?"
"Aku hendak memberitahukan sesuatu." Travis duduk di sebelah Gandari yang melepaskan sarung tangannya. "Lukman sudah sadar."
Mata coklat Gandari membulat. "Benarkah? Alhamdulillah." Hati Gandari langsung lega luar biasa karena dia tidak perlu memikirkan beban mencabut semua alat penunjang hidup Lukman. "Mas Travis tahu dari siapa?"
"Kapten Rasyad yang mengabari. Lega kan Gandari?"
"Iya mas. Sungguh aku merasa beban berat jika sesuatu terjadi."
Travis tersenyum. "Sudah lega ya. Jadi kalian acara menikah besok tidak ada beban yang mengganjal."
"Iya mas. Mas Abi juga galau memikirkan kalau aku sampai harus memberikan ijin ke rumah sakit untuk melepaskan mesin penunjang kehidupan."
"Setidaknya Tuhan masih memberikan kesempatan untuk Lukman taubat dan kita harap dia benar-benar paham arti dikembalikannya nyawa dia" ucap Travis.
"Aamiin mas. Semoga bisa bertaubat."
***
Abi yang menjemput Gandari sepulang kantor pun merasa ikut bahagia mendengar kabar itu. Setidaknya kegalauan Gandari seminggu ini bisa terjawab.
"Alhamdulillah, aku ikut senang Ndari. Setidaknya kamu tidak ada beban" ucap Abi.
"Iya mas. Duh rasanya kayak kepotokan kalau sampai aku harus menjadi algojo."
Abi menggenggam tangan Gandari. "Allah memberikan kesempatan untuk Lukman agar mau bertaubat. Kita doakan agar dia menyadarinya."
***
The Calhoun School
Benjiro Smith masuk ke sekolahnya dengan wajah cuek dan autis karena memakai airpods di telinganya. Mata biru si bontot klan Pratomo itu tiba-tiba melihat seorang remaja putri sedang berkelahi dengan tiga orang remaja.
Benji itu langsung berlari menolong remaja putri berambut hitam panjang itu dan tanpa basa basi langsung menghajar remaja pria yang hendak memukul.
Gadis remaja itu melongo melihat Benji tanpa ampun memukul tiga orang yang diketahui adalah seniornya di SMP The Calhoun School.
"Beraninya sama perempuan! Banci kalian!" bentak Benji.
"Kamu junior! Berani lawan senior! Kamu tidak tahu siapa ayahku?" hardik salah satu remaja itu.
"Tahu! Anak senator kan? Yang sedang kena kasus korupsi!" balas Benji judes.
"Kamu..."
__ADS_1
"Apa perlu aku bongkar aib kalian satu-satu? Dan aku viralkan kesemua orang? Ayo, siapa takut!" Benji mengambil ponselnya.
Ketiga remaja itu memilih pergi meninggalkan Benji dan remaja putri itu.
Setelahnya Benji menoleh ke arah gadis remaja itu dan melihat wajahnya babak belur kena pukulan.
"Ya ampun! Kamu terluka! Ayo, ke ruang kesehatan!" Benji menarik tangan gadis itu dan mengambil tas nya.
"Eh? Tapi..."
"Sudah! Ikut aku saja!"
***
Ruang Kesehatan **The Calhoun School**
"Kamu apain Ben?" tanya dokter Gaby, dokter sekolah Benji.
"Kok aku? Aku tuh menolong dia dok" cebik Benji sebal.
"Kamu anak baru ya?" tanya Dokter Gaby sambil mengobati wajah remaja putri berdarah Korea itu.
"Iya..."
"Siapa nama kamu?" tanya dokter Gaby.
"Jang Geun-moon."
Benji mendelik. "Apa hubungan mu dengan Big Jang?"
Jang Geun-moon menatap remaja imut itu. "Kamu tahu appaku?"
Benji melongo. Appa? Daddy?
***
"Iya. Opaku dulu adalah tangan kanan Edward Blair" jawab Benji.
"Pantas tahu nama appaku."
"Kamu tadi kenapa dikeroyok dengan senior loser itu?" tanya Benji penasaran.
"Mereka tidak suka dengan gadis Asia masuk ke sekolah ini. Padahal aku masuk juga bayar sama dengan mereka." Geun-moon memakan sandwich nya.
"Picik! Rasis! Aku permalukan saja mereka nanti!" sungut Benji geram.
Geun-moon tertawa. "Kamu lucu Ben."
"Aku tidak lucu GM..."
"Apa? Kamu panggil aku apa?"
"GM. Geun-moon jadi GM saja ya?" cengir Benji.
Geun-moon tertawa. "Terserah kamu Ben. Tapi kalau kamu tidak lucu, apaan?"
"Menggemaskan!" jawab Benji kalem.
Geun-moon semakin terbahak.
***
Starbucks Manhattan
__ADS_1
Benji dan Geun-moon menuju Starbucks sepulang sekolah untuk mengerjakan tugas bersama, apalagi keduanya di kelas dan kelompok yang sama.
Si bontot itu tampak kagum melihat kecerdasan Geun-moon dalam membuat program coding. Meskipun Benji mampu, tapi dia lebih suka melihat gadis itu melakukannya karena menurutnya gadis pintar dan cerdas itu seksih!
"Gimana menurutmu Ben? Program ini pas kan?" Geun-moon memperlihatkan hasil karyanya di MacBooknya.
"Wow! GM, kamu keren !" puji Benji.
"Benji?"
Benji dan Geun-moon menatap ke arah dua orang yang berdiri di hadapan mereka.
"Mas Abi?"
***
"Jadi kalian teman sekolah?" tanya Abi ke dua orang murid berseragam itu.
"Iya mas. Geun-moon murid pindahan di sekolahku dan baru masuk sudah dibully orang-orang pecundang!" jawab Benji geram.
"Geun-moon, kamu cantik banget!" puji Gandari ke remaja putri itu.
"Eonni juga cantik" senyum Geun-moon malu-malu.
"Appa kamu sehat Moon?" tanya Abi.
"Lho Abi oppa kenal appa?" Geun-moon menatap pria bule berambut pirang itu.
"Appamu berapa kali ke gedung Giandra untuk konsultasi pesawat pribadi yang bagus dan menggunakan mesin buatan kami. Jadi aku kenal appamu."
Geun-moon mengangguk.
"Ini mas Abi ngapain sama mbak Gandari?" tanya
"Ngopi lah. Memangnya ke Starbucks ngapain?" kekeh Abi.
"Kapan kalian menikah?" tanya Geun-moon.
"Insyaallah tiga Minggu lagi" jawab Gandari.
"Wah, Eonni pasti jadi pengantin yang cantik!" seru Geun-moon antusias.
"Asal cincinnya nggak gelinding lagi saja" gelak Benji.
"Cincinnya gelinding?" Geun-moon menatap Benji bingung.
"Aibnya mas Abi seumur hidup deh!"
Abi pun manyun sedangkan Gandari tertawa.
Yang tanya pawangnya Benji itu siapa
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1