My Cold Chef

My Cold Chef
Bonchap - Masih Di Semarang


__ADS_3

Semarang Jawa Tengah


Abi melongo. "Sempat ya kamu mikir tarif?"


"Tapi mas Abi, masa aku tidak bayar ke mas Travis? Sudah keluar banyak ini..." bisik Gandari.


"Sudah! Kamu nggak usah mikir, Ndari. Semua sudah diurus sama aku dan Travis." Abi manyun menatap gadis itu. Kok malah itung-itungan? Padahal aku ikhlas kok bantuin. Uang segitu mah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kepuasan batin menghajar orang serakah!


"Tapi mas..."


"Ndari, kamu sekali lagi bilang 'tapi mas' aku suruh kamu makan tiga lumpia! Mau?" pendelik Abi judes yang membuat Gandari menganga.


"Mas! Aku tuh doyan lumpia tapi ya ga segitunya!" protes Gandari.


"Ya sudah! Diam saja, santai, nggak usah mikir soal bayar apapun. Kita fokus saja sama tujuan kita kemari apa!" ucap Abi sambil menatap Gandari tajam.


"Iya mas" jawab Gandari pelan. Duh bukannya total biaya mas Travis bisa nembus di angka $3 juta dalam waktu dua Minggu. Duit dari mana? Belum biaya menginap, pesawat pribadi...dan macam-macam. Habis berapa ini? Gandari memegang pelipisnya merasa pening menghitung biaya.


Mobil Alphard itu pun tiba di hotel yang berada di jalan Gajah Mada yang dekat dengan Kranggan dan pasar gang baru. Gandari langsung sumringah melihat lokasi hotel Gumaya itu apalagi dekat dengan jalan Depok yang malam banyak kuliner seperti tahu Pong, bubur ayam Sukabumi dan sate ayam berderet-deret. Belum kalau malam minggu ada Semawis di daerah Pecinan dekat sana.


"Otakmu pasti mikir kuliner kan Ndari?" goda Abi yang melihat wajah gadis itu berseri - seri.


"Aku memang hampir tiga belas tahun meninggalkan Semarang tapi soal makanan, tetap ingat" gelak Gandari.


"Nanti malam kita kulineran tapi sekarang kita check in dulu" ajak Travis yang mengajak mereka semua masuk hotel.



Di lobby, Travis dan Abi mengurus semuanya bahkan Abi mengeluarkan black card-nya. Kedua pria tampan itu mengacuhkan tatapan kagum resepsionis ke mereka.


"Selamat datang di hotel Gumaya, Mr O'Grady" ucap resepsionis itu ramah.


"Thanks" jawab Abi sambil mengambil kembali black card-nya lalu keduanya menghampiri suami istri Frank dan Gandari lalu menyerahkan card key masing-masing. Abi dan Travis sengaja memesan tiga kamar dengan Gandari kamar sendiri serta mereka dalam satu lantai agar mudah untuk berkomunikasi.


Abi dan Travis masuk ke dalam kamar mereka yang double bed. Keduanya langsung memasang MacBook masing-masing dan membereskan semua barang bawaan mereka.



"Bro"


"Yup."


"Tadi Gandari bikin aku jengkel."


Travis menoleh ke arah sepupunya. "Kenapa?"

__ADS_1


"Masa dia tanya bayar ke elu berapa mengingat bayaran elu kan hampir $10,000 per jam" sungut Abi.


Travis terbahak. "Gadismu itu lucu deh! Padahal kamu sendiri yang menanggung semua biayanya."


"Maka dari itu! Kan dongkol gue!"


"Bi, sebenarnya apa sih motif elu bantu Gandari seperti ini? Sampai bela - belain cuti lama di MB Enterprise dan meminta gue kagak boleh terima klien?" Travis menatap sepupu kandungnya. Iya, Abi dan Reana sepupu kandung pria tampan itu karena Travis adalah cicit Stephen Blair yang adik kandung Edward Blair, opa buyut Abi dan Reana.


"Gue hanya tidak suka orang serakah!"


"Bi, itu bukan jawaban!" Travis mengeluarkan baton dari dalam kopernya dan memasukkan ke dalam tas selempang Smythson Burlington messenger miliknya.



Symthons Burlington Messenger Bag price $1,695


"Sepertinya aku suka dengan gadis itu, Vis." Abi menatap Travis serius.


"Itu baru jawaban karena tidak mungkin kamu berani berkorban seperti ini kalau tidak ada perasaan disana." Travis menepuk bahu kekar Abi. "Gandari bakalan luluh sama kamu Bi karena kamu adalah orang yang mampu bertanggung jawab dan bisa melindunginya."


"Are you sure bro?"


"Demi toutatis, ya iyalah! Cewek mana yang ga bakalan klepek-klepek melihat kamu rela terbang melintas benua hanya untuk membantunya mengambil hak nya yang direbut oleh pamannya. Kalau sampai dia nggak klepek-klepek, terlalu!"


***


Kamar Gandari.


Gandari memasukkan pakaiannya ke dalam lemari yang tersedia dan dirinya merasa bingung mengingat bagaimana wajah judes Abi saat ditanya soal tarif Travis.


Dia tahu maksud Abi baik tapi kan posisinya ini adalah masalahnya dan tidak bisa seenaknya dia membebankan kepada Abi semua meskipun tahu pria itu ikhlas membantu dirinya.


Apa mas Abi ada maksud lain ya? Tunggu dulu ... Apa mas Abi suka padaku? Wajah Gandari memerah. Tunggu dulu... Astaghfirullah! Apa iya?


Gandari mondar mandir di kamarnya. Sing nggenah wae! ( yang benar saja ). Masa anak Sultan suka sama aku yang hanya kurator dan kebetulan menjabat menjadi direktur museum? Gandari menggigit kuku jempolnya, kebiasaannya kalau sedang gugup dan panik.


"Tenang Gandari... Kamu kan bukan anak ABG lagi. Kamu wanita dewasa yang tahu tanda - tanda pria menyukai lawan jenisnya. Tunggu, apa mas Abi ada pamrih? Tapi kayaknya nggak, dia tampak tulus membantu aku... Duh gimana ini? Aku suka mas Abi karena dia pria cerdas, menyenangkan dan wawasannya luas... tapi ... Duh Gusti!" Gandari mengacak-acak rambutnya kesal hingga suara bel kamarnya membuat dirinya terlonjak.


Buru-buru Gandari membuka pintu kamarnya dan tampak Abi berdiri disana dan memandangi dirinya dengan tatapan bingung.



"Rambutmu kenapa? Kok acak - acakan? Memang ada ketombenya?" tanya Abi cuek tapi membuat Gandari dongkol.


"Enak saja! Nggak ya mas!" sungut gadis itu kesal. "Ada apa mas?"

__ADS_1


"Yuk makan siang. Kamu kan belum makan, kita belum makan."


"Sebentar aku ambil tas dulu..."


"Ndari..."


"Apa mas?" Abi langsung mengulurkan tangannya dan mulai membenarkan tatanan rambut gadis itu.


"Nah, much better. Dah, ambil tasmu." Gandari merasa ngelag sejenak mendapatkan perlakuan yang manis dari Abi, buru-buru mengambil tas Louis Vuitton nya.



Setelahnya gadis itu mengambil card key dan memasukkan ke dalam dompetnya yang juga dari brand yang sama.


"Tas mu lucu" komentar Abi ketika Gandari menutup pintu kamarnya.


"Iya, salah satu klienku memberikan padaku."


"Siapa?"


"Marie Vuitton, salah satu keturunan LV. Dan dia memberikan tas ini karena suka dengan pelayanan aku saat mencarikan lukisan karya Abdullah yang memang dijual."


"Pantas. Limited edition kan?" tanya Abi sambil menuju kamar keluarga Frank.


"Iya." Abi memencet bel kamar kedua orangtuanya Gandari dan tak lama mereka keluar lalu menuju lift sambil menunggu Travis yang masih di kamar.


"Kita akan makan dimana Abi?" tanya Jennifer.


"Ayam goreng pak Supar bagaimana? Katanya sop buntutnya enak" jawab Abi.


"Ikut sajalah, yang penting ada sambal" kekeh Gandari.


Tak lama Travis pun menyusul. "Kita ke pak Supar kan?" tanya pria tampan itu yang sedang memegang ponsel. "Pak Rahman, kita ke pak Supar. Makan siang disana baru setelah itu ke jalan Guntur menemui pengacara itu."


Abi hanya tersenyum smirk. Tanganku sudah gatal ingin menghajar orang!


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2