
Reana keluar kamar setelah menunaikan ibadah paginya dan tampak Oma dan tantenya sudah sibuk di dapur, kebiasaan yang sama dilakukan oleh maminya. Gadis itu tahu meskipun mereka memiliki pelayan dan art, tetap saja mereka senang melakukan sendiri.
"Oma Alexandra, Tante Gendhis. Ada yang bisa Reana bantu?" tanya gadis berambut pirang itu.
"Lho kok sudah bangun? Mau bantu apa?" tanya Alexandra.
"Sarapan apa pagi ini?" tanya Reana sambil celingukan.
"Arga dan Arimbi ingin nasi lemak aka nasi uduk. Kamu goreng ayam saja Re." Arum memberikan instruksi.
"Baik Tante." Dengan cekatan Reana menggoreng ayam yang sudah diungkep semalam.
Ketiga wanita tiga generasi itu saling berbincang dan para pelayan disana pun ikut senang dengan majikan mereka yang selalu baik kepada mereka.
***
"Wah sarapannya Upin Ipin" seru Hoshi saat melihat meja makan sudah tersedia beberapa piring nasi lemak disana.
"Ada yang minta" ucap Alexandra kalem.
Hari ini semua anggota keluarga Giandra duduk di meja makan untuk sarapan. Arimbi sendiri sudah tampak cantik dan sepertinya hendak pergi.
"Kamu mau kemana nduk?" tanya Arum melihat putrinya sudah rapi.
"Mau ke Dojo, Ma."
"Ikut!" seru Abi, Hoshi dan Reana bersamaan yang membuat semua orang disana terkejut.
"Astaghfirullah! Untung jantung aku aman" ucap Ghani.
"Dah sana, pergi ke Dojo semua!" usir Bara dramatis.
"Dengan senang hati Oom" cengir Hoshi.
***
Keempat saudara itu pun tiba di Dojo yang diasuh oleh Takei-sensei, salah satu klien Bara yang menjadi teman baiknya. Takei menganggap Arimbi dan Anarghya seperti keponakannya sendiri. Dan tak jarang, Alexandra dan Ghani berlatih disana untuk kebugaran.
"Takei-sensei!" seru Arimbi saat melihat pria berkebangsaan Jepang itu.
"Arimbi. Sama siapa ini?" sapa pria berusia tiga puluh tahun itu.
"Perkenalkan ini sepupu aku. Ini Hoshi, mas Abi dan mbak Reana. Dua bule ini kembar" senyum Arimbi.
"Wah, Abi, bodi kamu bagus. Rajin body building ya?" puji Takei-sensei. "Kalau Hoshi... Tampak judes ya?"
"So?" sahut Hoshi songong yang langsung mendapat keplakan dari Abi di bahunya.
"Yang sopan, Hosh!" hardik Abi.
Takei-sensei tertawa. "Kamu menarik, Hosh. Bisa apa?"
"Krav maga mix taekwondo."
"Kalau kamu Bi?" tanya Takei-sensei.
"Pencak silat dan krav Maga."
__ADS_1
"Nona Reana?"
"Eskrima dan pencak silat." Reana menatap Takei-sensei sambil tersenyum.
"Whoah! Mirip nyonya Alexandra!"
"Yuk kita mulai pemanasan." Takei-sensei mengajak keempat bersaudara itu berganti pakaian dan memulai pemanasan.
***
Rajendra tiba di New York dan dijemput oleh Ian dan Amir, dua pengawal setianya.
"Selamat datang kembali ke jungle concrete tuan Rajendra" sapa Amir sok formal.
"Idiiihh seperti sama siapa saja. Apa kabarmu Ian, Amir." Rajendra menyalami kedua pengawalnya.
"Kami baik-baik saja kok" jawab Ian. Kini ketiganya berjalan menuju tempat parkir.
"Si kembar lagi ke Indonesia ya?" tanya Rajendra sambil memasukkan tas ke bagasi mobil.
"Iya Jendra. Bagaimana London?" tanya Amir yang menyetir Range Rover milik Kaia.
"London is fun. Aku sudah lama tidak latihan menembak dan kemarin baru sempat melatih lagi."
Ian menoleh ke belakang. "Apakah benar koleksi senjata keluarga Blair gila-gilaan?"
Rajendra terbahak. "Nggak seperti toko senjata sih tapi koleksinya memang keren-keren. Beberapa senjata api yang sudah berkarat dan tidak bisa digunakan, kami simpan sebagai kenangan."
"Berarti besok sudah mulai masuk ke restauran Giancarlo Bouloud?" tanya Amir.
"Belum sih. Aku besok kembali ke kampus dulu. untuk daftar ulang dan mencari info bagaimana mempercepat studiku."
"Yes. Karena bagiku, terjun di dunia kuliner secara langsung jauh lebih menantang."
***
Reana sedang beristirahat setelah melakukan pemanasan dan sempat tanding dengan Arimbi. Gadis itu tidak menyangka sepupunya yang masih SMP itu mampu meladeni serangan-serangannya bahkan Reana tadi nyaris kalah kalau Arimbi tidak terlalu ceroboh terburu-buru.
Suara ponsel dari tasnya, membuat Reana mengambil benda pipih itu. Wajahnya sumringah melihat siapa yang menelpon dengan panggilan video.
"Wah, yang pamer otot bisep" goda Reana ketika dirinya menggeser tombol hijau.
"Mumpung weekend kan kantor bisa aku tinggal sebentar. Lagian sudah lama aku nggak nge-gym" jawab Pandu.
"Padahal badanmu sepertinya nggak sebesar Abi tapi kok ototmu lumayan juga ya?" kekeh Reana.
"Bagus kan badanku?" Pandu bersiap membuka kaosnya.
"Eh ... eh ... mas Pandu mau ngapain?" desis Reana panik dengan wajah memerah.
"Pamer bodi lah ke kamu."
"Oh no no no! Jangan disini! Ya Allah mas, malu lah!" Wajah cantik Reana semakin memerah.
"Nanti saja ya kalau sudah halal" cengir Pandu yang suka melihat wajah gadisnya malu-malu.
__ADS_1
"Iya. Eh...?" Jangan ditanya bagaimana warna pipi Reana yang seperti kepiting rebus.
"Boleh juga nih calonnya elu mbak."
Reana terkejut mendengar suara di belakangnya dan segera menoleh.
"Hoshi?"
Hoshi hanya memberikan tanda peace. "Hai mas Pandu."
"Hai Hoshi" balas Pandu kikuk.
***
Rajendra tiba di penthouse O'Grady cukup malam sekitar jam sebelas karena memang pesawatnya tiba di New York sudah sore. Dan Jumat malam seperti ini, jalanan New York memang padat dan macet dimana-mana.
"Sudah pulang Jendra?" sapa Kaia melihat lift pribadi itu terbuka.
"Alhamdulillah sudah Tante Kaia" jawab Rajendra.
"Maem dulu. Tuh Tante sudah siapkan buat makan malam. Apa tadi sudah makan?" Kaia menyiapkan chicken grilled with mashed potatoes Dan asparagus.
"Tadi sih cuma sempat beli McD buat ganjal perut karena macet dimana-mana. Parah New York kalau mau weekend begini."
"Ayo makan dulu lah. Nanti nggak bisa tidur lho kalau masih lapar." Kaia merangkul keponakannya.
***
"Gimana kabar mommy dan daddymu?" tanya Kaia sambil menemani Rajendra makan.
"Alhamdulillah sehat semua. Tapi mama ribut tiap hari sama dik Rama. Malas mandinya itu Tante" kekeh Rajendra.
"Tante ya heran. Kok bisa Rama seperti itu padahal setahu Tante, Arjuna dan Sekar itu orangnya pembersih lho. Oom Jeremy dan Tante Rain apalagi soalnya Omamu itu kan alergi debu jadi rumah harus bersih meskipun tidak alergi bulu anjing-anjingnya sih."
Rajendra tertawa. "Lho Oom Rhett kemana?"
"Ke Dublin memeriksa pabrik bir disana. Oom Kieran kan rutin setiap tiga bulan mengadakan pertemuan keluarga O'Grady."
Rajendra mengangguk karena mengetahui pabrik bir hitam dan whiskey milik keluarga O'Grady sekarang menjadi terbesar dan terbaik di Inggris raya bahkan semua cabang RR's Meal di Inggris memakai bir dan whiskey dari pabrik O'Grady.
"Besok acara kamu kemana?" tanya Kaia.
"Ke kampus untuk mencari tahu apakah aku bisa menyelesaikan lebih awal karena aku hendak mengambil alih RR's Meal Hell's Kitchen" ucap Rajendra yakin.
Kaia tersenyum melihat semangat Rajendra.
"Itu baru cicit Opa Ryu Reeves."
***
Yuuuhhuuu Up Malam Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1