My Cold Chef

My Cold Chef
Rombongan London


__ADS_3

Iwan langsung membawa Hasyim dan Aisyah Al Azzam menuju kota Semarang ke arah bandara Ahmad Yani yang akan menjemput Gozali dan Arya Ramadhan di bandara Soekarno-Hatta. Ghani sendiri awalnya ingin ikut tapi dilarang Alexandra dan Bara karena masih harus memulihkan fisik setelah sempat drop saat Bara hilang.


Pesawat pribadi milik Gozali Ramadhan memang sudah mendarat sejak semalam di Semarang dan kini mereka pun siap berangkat ke Jakarta.


***


"Jadi Hasyim dan Aisyah sudah dijemput Iwan?" tanya Duncan setelah Bryan mengabari Oomnya itu. Bryan memang stay di London menemani Sekar dan Rain yang menunggu kabar Rajendra dan Thara.


"Sudah Oom. Ini mas Iwan ngabarin sudah take off ke Jakarta jemput Oom Gozali dan mas Arya."


"Bagus. Thanks Bry. Berikan update ke kami, rombongan London, Tokyo dan Jakarta ya" ucap Duncan.


"Njih Oom. Kalau butuh rudal diluncurkan baik dari Amerika, Rusia, Jepang atau Australia, kabari saja" cengir Bryan.


"BRYAAANNN!"


***


"Jadi ini yang namanya majikannya Iago?" tanya Kaia sambil melihat foto yang dikirimkan oleh Bryan.


"Beneran mirip Ja'far di Aladin" komentar Levi. "Harusnya pakai baju hitam dan merah, bawa tongkat sama burung Nuri. Cocok!"


"Ini blueprint yang dikirimkan Oom Abian dan Bryan" Kris memperlihatkan denah istana Al Azzam. "Tinggal kita menunggu sinyal Jendra di ruangan mana."


"Jendra cerdas kok! Malah sudah memindai orang-orang yang membunuh Johnny" kekeh Nathan. "Kayaknya dia salah ibu deh!"


"Maksudmu apa Nate?" tanya Ezra.


"Cocoknya dia jadi anaknya Kaia" gelak Nathan.


"Bisa dihajar Arjuna kamu tar!" kekeh Fuji.


"Mumpung Junjun gadha disini lah!"


"Gue denger cumiiii !" teriak Arjuna. Nathan pun melongo.


"Gue lupa kita masih koneksi ke semua pesawat milik kita" bisik Nathan dengan wajah panik.


"Mampus Lo!" ledek Levi.


***


Arya Ramadhan melihat pesawat milik keluarganya mendarat di landasan milik Giandra Otomotif Co dengan selamat dan melihat Iwan turun bersama dengan dua orang yang sebaya dengan ayahnya.


"Selamat datang di Jakarta, pak Hasyim dan Bu Aisyah" sapa Arya ramah.


"Ini Arya Ramadhan, sepupu saya." Iwan memperkenalkan Arya. "Pemilik GR protection." Tak lama datang seorang pria yang wajahnya mirip Arya datang menghampiri.


"Perkenalkan ini papa saya, Gozali Ramadhan. Pa, ini pak Hasyim Al Azzam dan Bu Aisyah" ucap Arya.


Gozali menyalami keduanya. "Iwan, Danisha nggak papa kamu tinggal?"

__ADS_1


"Nggak papa Oom."


"Ya sudah, kita langsung berangkat saja. Mari pak Hasyim, Bu Aisyah."


***


Gozali menatap kedua orangtua Thara di hadapannya, melihat keduanya tampak tegang memikirkan bagaimana nasib putri dan cucu dari pengusaha terkenal Arjuna McCloud.


"Pak Gozali, apakah benar kalian masih bagian dari keluarga Pratomo?" tanya Hasyim.


"Iya pak. Bahkan kami semua diberikan imunitas diplomatik baik dari pemerintah Inggris dan Dubai untuk membebaskan Thara dan Rajendra, apapun caranya. Kasarannya, pemerintah tutup mata. Bukan kami merasa superior tapi kami nyaris tidak pernah membuat masalah dengan pemerintah manapun. Kalau dari Inggris, Opa Rajendra, Jeremy McCloud adalah sahabat karib George Major, perdana menteri Inggris. Begitu juga dengan Duncan Blair yang memegang dua kewarganegaraan Inggris dan Amerika." Gozali tersenyum.


"Oom Duncan juga sahabat baik dengan PM Inggris dan Presiden Amerika Serikat ditambah eyang buyut Duncan McGregor membangun hubungan baik dengan istana Buckingham. Kami memang memiliki banyak koneksi dengan orang-orang penting, makanya tidak heran mereka juga mau membantu disaat kami mengalami masalah, apalagi nyawa cicit keluarga Pratomo terancam." Arya menambahkan.


"Saya berterima kasih atas kebaikan keluarga kalian yang sudah berusaha melindungi Thara" ucap Hasyim. "Saya terlalu lemah dalam menghadapi mereka semua apalagi saya tidak memiliki sekutu yang kuat."


"Kenapa anda tidak meminta bantuan Senna atau Kai Al Jordan?" Gozali menatap Hasyim.


"Saya terlalu sungkan meminta bantuan keluarga terpandang itu karena Hamid sangat rapi membuat propaganda atas saya dan Aisyah. Pada saat itu yang saya pikirkan adalah keselamatan saya dan Aisyah. Kami tidak bisa membawa Thara karena Santhy sudah mengungsikan ke Abu Dhabi hingga kami tidak bisa membawanya." Hasyim mengusap air matanya.


"Mungkin akan berbeda ceritanya jika anda meminta bantuan ke Senna dan Kai" gumam Gozali.


"Iya."


"Tapi pa, mungkin memang jalannya seperti ini jadi better late than kagak" cengir Arya yang mendapatkan pelototan Gozali. "Meskipun caranya dengan menculik Rajendra."


"Pak Hasyim, sebelumnya saya atas nama keluarga besar, meminta maaf dan ijin terlebih dahulu" Gozali menatap Hasyim serius.


"Anda harus berlapang dada jika nanti istana Al Azzam kemungkinan besar menjadi hancur luluh lantak akibat kemarahan keluarga kami" seringai Gozali dan Arya yang wajahnya semangat dan tidak sabar ingin menghajar orang-orang itu.


Hasyim tertawa. "Hancur malah saya senang pak. Agar semua maksiat disana hilang, sirna, musnah! Saya ingin membangun kekuasaan Al Azzam dari nol dan murni."


Arya terbahak. "Bagus pak! Setujah saya!" Iwan yang mendengarkan hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa bisa begitu pak Gozali?" tanya Aisyah bingung.


"Dua keponakan saya, Arjuna dan Aidan Blair sudah niat meluluhkan lantakan demi membebaskan Thara dan Rajendra." Gozali tersenyum.


"Sejujurnya jika saya masih muda, saya pun akan melakukan hal yang sama." Hasyim mengangguk ke Gozali.


"Sesampainya disana, pak Hasyim dan Bu Aisyah langsung ke mansion Al Jordan. Disembunyikan di sana dulu. Biar kami yang darah muda yang maju" timpal Arya.


"Sudah nggak sabar ya mas Arya?" tanya Iwan.


"Gatal tanganku!" seringai Arya dengan wajah licik.


"Garuk!" ucap Gozali sarkasme.


Arya melongo. "Papa nggak asyik!"


***

__ADS_1


Pesawat yang membawa rombongan London tiba terlebih dahulu dan Senna serta Sabine menjemput mereka semua di landasan pribadi milik Al Jordan.


"Pesawat kalian masukkan saja ke hangar Al Jordan. Cukup kalau cuma Gulfstream tiga biji. Hangar kami mampu menampung enam Gulfstream" kekeh Senna cuek yang membuat Elang menggelengkan kepalanya.


"Arjuna, Aidan apa kabar?" sapa Sabine sambil tersenyum.



Introducing Sabine Al Jordan


"Lama nggak ketemu ya Bine" senyum Aidan sambil mencium pipi sepupunya. "Aduh! Glock mu kena perutku!"


Sabine terbahak. Arjuna pun memeluk sepupunya.


"Oom Elang, apa kabar?" sapa gadis itu sambil mencium punggung tangan Elang.


"Jeremy, Bine" ralat Senna.


"Enak Oom Elang" balas Sabine. Senna hanya menggelengkan kepalanya.


"Ayo kita ke mansion Al Jordan. Semua yang kalian minta ada disana" ajak Senna.


"Kami bawa sendiri kok Oom" jawab Arjuna. "Oom Duncan kali yang minta. Secara bandara JFK ketat tidak bisa bawa senjata."


"Lha? Tiwas akeh aku siapinnya" celetuk Senna yang membuat Arjuna dan Aidan melongo.


"Seriously Oom?" seru Arjuna. "Malah pakai bahasa Jawa?" Senna nyengir.


"Halo" sapa Karl.


"Halo" balas Sabine.


"Karl Schumacher."


"Sabine Al Jordan."


Karl tersenyum melihat gadis cantik yang tampak tangguh itu. Aidan brengsek! Punya sepupu cantik begini disembunyikan! Awas kamu!


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️



Sudah nongol Yaaaaaa

__ADS_1


__ADS_2