
Pagi ini Thara datang ke RR's Meal jam delapan pagi lengkap dengan baju putih chef dan Xander sudah berada disana.
"Princess" sapa Xander dengan mengangguk hormat.
"Oh come on Chef, jangan seperti itu. Saya disini juga sama dengan yang lain, bawahan Anda" senyum Thara. "Disini saya chef pastry lho, bukan putri Sultan atau Emir."
"Bagaimana Aidan?" tanya Xander.
"Sepertinya dia marah karena saya memilih bilang dengan anda, Chef" Thara tampak meringis mengingat bagaimana dinginnya wajah Aidan kemarin dan sempat membentaknya.
"Etikanya memang harusnya bilang ke Aidan dulu tapi kita tahu pasti dia menolakmu mentah-mentah padahal kamu ingin menjadi chef pastry." Xander membuka dapur pastry. "Apakah menjadi princess membosankan?"
"Sangaaaattt!" ucap Thara dramatis. Dua pengawal Thara berdiri di dekat dapur pastry. "Dan aku merasa tidak bebas" bisik Thara ke Xander sambil melirik ke dua pengawalnya. "Aku merasa seperti Rajendra harus dikawal kemana-mana."
Xander terbahak. "Apakah kamu sudah bertemu bocah pintar itu?"
"Kemarin aku datang ke sekolahnya lalu ke rumah Mbak Sekar dan setelahnya kami ke makam Johnny."
"Poor Johnny tapi aku bersyukur pelakunya sudah dihabisi Arjuna. Mungkin terdengar sadis tapi aku tahu keluarga Arjuna seperti apa." Xander membuka lemari es yang sudah penuh bahan-bahan yang dibutuhkan Thara. "Daftar yang kamu minta. Aku yakin kamu dan Stacy akan menggila membuat banyak pastry."
Mata hijau Thara berbinar-binar melihat lengkapnya bahan baku untuk membuat berbagai macam pastry. "Terima kasih, Chef Xander."
"Princess Thara!" seru Stacy heboh melihat Thara di dapur pastry. "Oooohhh I miss you so much!" Gadis itu langsung memeluk Thara. "Aku tidak menyangka princess benar-benar datang!"
"Panggil seperti biasanya saja Stace. Aku risih kalau dipanggil princess" senyum Thara.
Satu persatu para pegawai Aidan pun datang dan mereka langsung heboh melihat Thara disana. Setelah acara temu kangen selesai, semuanya kembali ke pos-pos masing-masing.
Thara dan Stacy mulai membuat banyak cake untuk acara makan siang dan minum teh nanti sore. Kedua chef pastry itu tampak bahagia sembari membuat adonan cake dan icing.
Pukul sebelas siang, Aidan datang dengan wajah dingin seperti biasanya dan melihat Thara tertawa bersama Stacy sembari menghias cake dengan cantiknya.
"Thara!" panggil Aidan dengan nada keras yang membuat semua orang disana terkejut termasuk Thara dan Stacy. Kedua pengawal itu pun sempat hendak bertindak karena ada yang berani membentak putrinya namun sang princess memberikan kode agar mereka diam. "Ke ruanganku! Sekarang!"
Thara menghela nafas panjang. Cepat atau lambat akan terjadi juga. Stacy menatap Thara dengan tatapan prihatin. Dia tahu bagaimana marahnya Aidan jika ada yang tidak sesuai dengan aturannya.
__ADS_1
"Aku ke ruangan Mr Blair dulu." Salah seorang pengawalnya berdiri hendak mengikutinya. "Diam disana saja, Iffa. Aku bisa menghadapinya." Thara pun berjalan menuju lantai dua. Xander hanya memberikan tepukan pelan di bahu gadis itu dan Thara mengangguk.
Setelah mengetuk pintu dan suara bariton itu mempersilahkan dia masuk, Thara pun masuk ke dalam.
"Tutup pintunya!" perintah Aidan yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
Thara pun menutup pintunya dan dirinya baru menyadari bahwa semua jendela di ruang kerja pria itu tertutup rapat hingga tidak bisa dilihat dari luar.
Aidan berdiri dan menghampiri Thara. Seketika harum kue bercampur Lavender tercium di hidung mancung Aidan.
"Apa sih yang ada di pikiran kamu? Bisa-bisanya kamu terbang ke London dan langsung main kerja di restauranku tanpa pemberitahuan kepadaku? Pemiliknya? Kamu punya etika nggak sih?" omel Aidan.
"Kalau aku minta ijin padamu, apa kamu akan ijinkan?" balas Thara.
"JELAS TIDAK!"
"Nah! Itu yang aku dapatkan kalau aku minta ijin padamu! Makanya aku meminta pada Xander dan Stacy untuk merahasiakan permintaan ku!" Mata hijau Thara menatap tajam ke Aidan.
"Apa kamu tidak berpikir, Thara? Kamu bukan Thara yang dulu! Kamu sekarang princess. Princess! Apa perlu aku eja?!" sarkasme Aidan.
"Kamu bisa jadi chef di Istana mu!"
"Aku lebih suka bekerja disini!"
"Kenapa? Kenapa kamu tidak kembali saja ke RR's Meal di Dubai? Ngapain kamu jauh-jauh ke London?"
"Di Dubai aku tidak bisa bebas!"
"Jadi di London kamu bisa bebas? Bisa seenaknya gitu? Bagus Thara! Karena kamu sudah melakukannya!" Aidan menatap Thara tajam. "Kamu tidak menghormati pemilik restauran yaitu Aku!"
"Karena kamu tidak akan mengijinkan aku bekerja jika aku meminta ijin padamu, Aidan Richard Giandra Blair!" bentak Thara kesal.
"Apa kata ayahmu jika tahu putrinya bekerja disini, hah? Apa jadinya jika para pengawal mu melaporkan kerasnya kehidupan bekerja di dapur?" tanpa disadari Aidan berdiri berhadapan dekat dengan Thara.
"Aku sudah melakukan perjanjian dengan Abah! Ke London dengan pengawalan tapi dengan syarat tidak ada intervensi selama aku bekerja disini" ucap Thara. "Bukankah dengan adanya berita seorang princess menjadi chef pastry menaikkan pamor RR's Meal?"
"Pamor? Pamor? Yang ada namaku tercoreng! Aidan Blair memperkerjakan seorang princess dari Dubai. Seriously Thara!" Aidan mengusap rambutnya. Hatinya sangat kesal dengan sikap Thara yang santai menghadapi dirinya.
__ADS_1
"Aku tidak meminta gaji padamu, Aidan."
Aidan tertawa sinis. "Tentu saja, karena kamu sekarang sangat kaya, Princess!" sindirnya.
Thara hanya menatap Aidan tenang. "Just let me work in here, Aidan. Aku hanya ingin menjadi chef pastry, itu yang membuatku bahagia. Jika aku boleh memilih, aku lebih suka menjadi wanita biasa saja, yang bekerja sebagai chef pastry bukan putri seorang sultan."
"Mau sampai kapan kamu disini? Sampai kamu bosan?" sindir Aidan. "This is not your playground!"
"I know." Thara memberanikan diri mendekati Aidan. "Sampai kamu memecatku."
"Kalau begitu, aku pecat kamu sekarang!"
"Jika kamu memecatku sekarang, kamu harus membayar kompensasi. Ada di surat perjanjian kontrak kerjaku yang sudah ditandatangani oleh ku, Xander dan disahkan oleh James Blair."
Aidan melotot tidak percaya. Bahkan gadis ini sudah bertindak sangat jauh? Sampai-sampai James ikutan? Dasar cumiiii !
"Brengsek!" umpat Aidan.
"Jangan mengumpatiku, Aidan." Thara menatap tajam ke pria itu membuat sedikit terkejut.
Ternyata Thara benar-benar seorang princess. Auranya sangat terasa bagaimana dia bisa kuat menghadapi aku.
"Kamu itu benar-benar sudah memikirkan segalanya ya Thara?" Aidan tersenyum smirk.
Thara mendekati wajah Aidan. "Don't call me Princess Thara Azalea Al Azzam jika tidak bisa memikirkan dua langkah ke depan darimu, Ai."
Tangan kanan Thara yang berbau harum adonan kue memegang wajah dingin Aidan. Selanjutnya bibir Thara kemudian mencium bibir Aidan membuat pria itu melotot tidak percaya.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1