My Cold Chef

My Cold Chef
Kembali


__ADS_3

Setelah beberapa hari di Solo, akhirnya rombongan pun pulang ke London dan Sekar serta Rain tidak sabar mendengarkan cerita mereka secara live.


Malam ini para pria itu berkumpul di rumah Arjuna minus Levi yang memutuskan kembali ke New York. Wajah Arjuna, Elang, Aidan dan Bryan tampak bahagia setelah mengetahui salah satu anggota keluarga mereka masih hidup.


"Jadi, Bara ditemukan di Pacitan?" tanya Rain.


"Iya sayang" ucap Elang kepada istrinya. Mereka semua berada di ruang tengah sembari menikmati kopi, teh dan camilan usai makan malam. "Rupanya Bara terjun sebelum helikopter itu menghantam laut dan dia berenang hingga terdampar di pantai Dusun Sendang Kulon dan ditemukan oleh Ricky dan putrinya Arum."


"Apa mas Bara tidak kekurangan apapun? Sudah mulai bisa mengingat?" tanya Sekar ke suaminya Arjuna yang sedang membawa Rama dalam pelukannya.


"Alhamdulillah sudah sayang. Oom Ghani dan Tante Alexandra sangat bahagia melihat Bara masih hidup" Arjuna mencium pucuk kepala istrinya.


"Benarkah Levi mau adain aqiqah lagi?" tanya Rain.


"Iya Tante. Kak Levi sampai dimarahi Oom Ghani" kekeh Bryan.


"Astaga, anak itu!" Rain tersenyum. "Setidaknya mbak Alexandra bisa tersenyum lagi setelah dua bulan ini rasanya seperti hilang nyawanya separo."


Thara hanya diam saja sambil mengelus rambut tebal Rajendra yang dengan santainya meletakkan kepalanya di paha gadis itu.


"Syukurlah semua sekarang sudah kembali. Kalian semua pasti lelah, ayo istirahat" ucap Sekar sambil meminta Rama dari pelukan suaminya.


"Kok Rama kamu minta?" tanya Arjuna bingung.


"Mas gendong Jendra. Tuh enak banget tidur di pangkuan Thara" Sekar mengedikkan dagunya.


"Jendra bolos ke Dojo dua kali lho, Jun hanya gara-gara ingin masak sama Thara" lapor Rain sambil tertawa.


"Oh Astaga!" Arjuna menyerahkan bayi Rama ke Sekar lalu berdiri menghampiri Thara. "Maaf Thara, aku gendong Jendra dulu." Hot Daddy itu lalu mengambil Jendra yang sudah terlelap.


"Pelan-pelan Jun, nanti Jendra kaget" ucap Elang.


"Iya pa. Ayo semua istirahat. Pasti masih pada capek. Ai, tidur di kamar biasanya dengan Bryan ya" kata Arjuna. Elang dan Rain pun berdiri menuju kamar yang memang khusus dibuat untuk mereka oleh Arjuna.


"Selamat malam semuanya" pamit Elang dan Rain bersamaan.


"Selamat malam" jawab semua orang.


"Bang Ai, aku tidur duluan." Bryan pun berdiri lalu menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya dan Aidan.


Akhirnya di ruang tengah tinggal Aidan dan Thara setelah semua orang masuk ke kamar masing-masing.


"Mr Blair tidak istirahat?" tanya Thara.


"Sebentar lagi. Kamu tidur saja dulu, saya masih harus memeriksa beberapa pekerjaan" jawab Aidan sambil melihat Ipad-nya.


"Kalau begitu, saya ke kamar dulu. Selamat malam." Thara pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.


"Thara, besok kita kembali ke mansion Blair." Suara datar Aidan membuat Thara menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Baik, Mr Blair." Gadis itu pun berjalan lagi menuju kamarnya di lantai satu.


***


Aidan membaca pesan yang dikirimkan oleh Abian bahwa operasi plastik yang dijalani Rahma berhasil dengan sukses dan sekarang tinggal perawatan saja. Pria itu masih memeriksa email yang dikirimkan kepadanya dan matanya tertuju pada email yang dikirimkan oleh Iwan, suami Danisha.


Mas Aidan, ini hasil pencarian anak buahku di area Ungaran untuk mencari Hasyim Al Azzam dan Aisyah Al Azzam.


Tuan Hasyim dan Nyonya Aisyah sudah berganti nama ketika tiba di Ungaran hanya saja nama depan masiu, tapi nama belakang berganti Akbar. Mereka berdua sekarang membuka warung makan rumahan dengan menu masakan Arab.


Panggilan keduanya disana berubah menjadi Abah dan Umi Akbar. Aku akan memeriksanya sendiri dan memberikan kabar lebih lanjut. Apalagi Danisha sekarang sudah tenang setelah mas Bara ditemukan masih hidup.


Regards


Iwan Aradhana


Iwan mengirimkan beberapa foto yang menunjukkan dua orang seumuran dengan Ghani dan Alexandra dengan wajah mirip Thara. Aisyah tampak anggun dengan hijab sedangkan Hasyim mengenakan baju Koko dan kupluk.


Aidan membaca berulang email Iwan dan bersyukur keduanya masih hidup. Abah dan Umi? Sepertinya aku harus siap-siap membantu Hasyim mengambil alih kekuasaan yang menjadi haknya.


***


Thara terbangun ketika waktu menunjukkan pukul lima subuh dan seperti biasa dia langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Setelahnya dia keluar kamar menuju dapur membantu para pelayan disana.


Ketika Thara sedang berjalan menuju dapur, dirinya terkejut melihat Arjuna memeluk Rama di sofa tanpa baju. Rama tampak nyenyak tidur di dada sang papa.



"It's okay Thara. Sekar sedang memanaskan botol ASI-nya. di dapur..." jawab Arjuna pelan takut membangunkan putranya.


Thara pun mengangguk lalu berjalan menuju dapur dan berpapasan dengan Sekar yang sedang membawa botol berisi ASI nya.


"Sudah bangun Thara?" sapa Sekar.


"Iya, aku mau membuat sarapan. Tahu sendiri aku tidak bisa diam tanpa memasak" senyum Thara.


"Oke. Oh, Jendra semalam pesan ke mas Juna, minta baklava buat bekal ke sekolah. Bisa minta tolong dibuatkan?" pinta Sekar.


"Of course. Aku buatkan sekarang." Wajah Thara sumringah mendengar permintaan bocah tampan itu.


"Thanks Thara" ucap Sekar tulus.


"Apa sih yang tidak buat Jendra" senyum Thara.


"Kamu sangat menyayangi putraku ya?"


"Iya. Jendra mengingatkan anakku yang hilang. Kalau aku tidak keguguran, usianya se Jendra."


Sekar mengusap bahu Thara. "Mungkin itu yang terbaik, Thara karena tidak mudah di kamunya nanti. Bukan sesuatu yang mudah menerima anak hasil perko*saan sebab ada trauma tersendiri di kamu."

__ADS_1


Thara terdiam. "Apalagi jika tahu siapa pelakunya..." bisik gadis itu.


"Iya. Kapan-kapan aku ceritakan sesuatu padamu" senyum Sekar.


Thara mengangguk.


***


"Jadi kamu ingin diantar Tante Thara ke sekolah?" tanya Arjuna meyakinkan pendengarnya meskipun dalam hatinya agak ragu-ragu.


"Iya pa. Pengen diantar Tante Thara" ucap Rajendra sambil menghabiskan sarapannya.


Arjuna menatap Aidan yang masih memasang wajah datar. Ih, si cumi satu ini kenapa sih mukanya flat? Seperti papan cucian saja!


"Ai? Aidan? Bagaimana menurutmu?" tanya Arjuna sambil memandang sepupunya.


"Gak papa, Jun. Asal dikawal Johnny dan pengawal lainnya. Jendra kamu kasih berapa pengawal?" tanya Aidan.


"Jendra ada empat, Ai."


"Ya sudah tak apa asal setelah dari sekolah Jendra, langsung ke restauran. Thara akan lebih aman disana daripada di luaran." Aidan menatap tajam ke Thara.


"Bawa Mercedes nya saja Jun. Kan lebih keras dari Range Rover mu" ucap Elang.


"Iya pa."


***


Rajendra sudah siap dengan semua perlengkapan sekolah dan segera masuk ke dalam mobil setelah mencium semua orang di sana termasuk adiknya Rama.


"Kami berangkat" pamit Thara yang didampingi Johnny dan dua pengawal lain sambil menggandeng Rajendra.


"Hati-hati" pesan Sekar dan Rain.


Aidan hanya menatap mereka dengan tatapan tidak bisa dibaca. Kenapa aku merasa akan ada sesuatu ya.


***


Yuhuuu Up Brunch Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️



Bonus Visual Rajendra dan Aruna Dewasa

__ADS_1


__ADS_2