
Aidan melotot tidak percaya ketika Sabine memintanya menjemput dirinya, Thara dan Rahma ke Heathrow. Menjemput! Astagaaaaa! Cewek satu itu!
'Aidan sepupu kutub utaraku, tolong siang ini jemput aku, Thara dan Rahma ya. Terimakasih kasih Kuma 😘😘😘'.
"Kuma? Memang aku beruang apa?" omel Aidan kesal. Kuma dalam bahasa Jepang berarti beruang.
Meskipun ngomel-ngomel, Aidan tetap datang menjemput pagi hari itu ke Heathrow setelah Sabine mengatakan pesawat milik Al Jordan akan mendarat pukul sembilan pagi. Karl yang mendapatkan informasi dari Aidan bahwa dia akan menjemput rombongan Dubai, langsung semangat.
Sesampainya di Heathrow, Aidan melongo melihat Karl sudah sampai sana dengan dandanan rapi tak terlihat tattoo nya.
Karl Schumacher
Aidan Blair
"Lha elu dah sampai duluan?" tanya Aidan.
"Demi Sabine" cengir Karl. "Elu juga dandan?"
"Aku habis jemput mau menghadap Uncle George bareng Arjuna dan Oom Jeremy."
"Mereka mau kamu bawa kemana Ai? Apartemen itu lagi?"
"Tunggu Sabine maunya gimana." Aidan menatap pintu kedatangan khusus bagi penumpang pesawat pribadi dan tampak tiga wanita cantik dengan tiga pengawal perempuan berjalan masuk.
Sabine Desiree Al Jordan
"Kumaaaaa!" teriak Sabine sambil berlari meninggalkan Thara dan Rahma ketika melihat Aidan yang hanya menatap datar tanpa ekspresi. "Hokkyokuguma!" ( beruang kutub ).
"Nani ( apa )! Enak saja bilang aku hokkyokuguma!" protes Aidan sambil memeluk Sabine yang langsung memeluknya.
"Rapih amat nih cumi. Mau jemput gue Ajah pakai acara dandan! Ooohhh apa mau menarik perhatian Thara?" ledek Sabine tanpa beban.
"Sembarangan!" cebik Aidan sambil menoyor dahi Sabine. "Habis ini aku mau makan siang dengan Uncle George Major bareng Oom Jeremy dan Junjun."
"Oh kirain." Sabine nyengir. "Eh bocah Jerman! Ngapain kamu kesini?"
"Jemput calon istriku lah!" jawab Karl kalem.
Aidan dan Sabine melongo. "Siapa? Rahma?" tanya Sabine polos.
Karl melotot ke arah Sabine. "Kamu calon istri aku!"
"Kuma, dia nggak ngadi-ngadi kan?" tanya Sabine ke Aidan.
"Entahlah" suara Aidan menghilang ketika Thara datang bersama Rahma yang sudah berubah setelah patutnya hilang.
"Assalamualaikum" sapa Thara.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam" jawab Aidan dan Karl. "Kamu ngapain kesini?"
Thara hanya bisa menghela nafas panjang. Dasar beruang kutub!
Thara Azalea Al Azzam
***
Karl tidak memperdulikan protes Sabine yang langsung menyeret tangan gadis berambut hitam panjang itu. Keduanya kini berjalan menuju mobil Mercedes Benz AMG GT Coupe bewarna hitam. Pria berdarah Jerman itu dengan cueknya meninggalkan Aidan bersama Thara dan Rahma.
"Karl! Wooiii! Dasar bocah Jerman!" teriak Sabine dengan langkah sedikit terseret.
"Diam-diamlah Sabine!" Karl membukakan pintunya dan mendorong gadis itu masuk lalu menutup pintunya. Pria itu memutar tubuhnya menuju pintu pengemudi.
Di dalam mobil, Sabine melotot ke arah Karl yang tampak kalem lalu menstater mobilnya. "Dasar bocah Jerman! Mobilpun juga merk Jerman!"
"Ich liebe meine Heimat ( saya cinta tanah air saya ). Ich bin stolz auf Produkte made in Germany ( Saya bangga dengan produk buatan Jerman ). Viva Deutschland!" cengir Karl sambil meletakkan tangan kirinya di dadanya.
"Iya, kamu bangga tapi cari makan di London Inggris, cumiii !" cebik Sabine sambil manyun dan bersidekap. Mata gadis itu menatap ke jalan dengan kesal.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di pipi kiri Sabine yang membuat gadis itu refleks mengelap pipinya dengan tangan karena posisi setir mobil Karl di sebelah kiri.
"Kamu mau aku hajar lagi, Karl?" pendelik Sabine.
Sabine melongo. "Oh astaga!"
"Aku jatuh cinta padamu Sabine. Dan aku akan berbuat apa saja agar kamu juga jatuh cinta padaku." Karl menatap serius ke arah gadis itu.
"In your dream!"
Pria Jerman itu hanya tersenyum smirk. "Kita lihat saja, apakah kamu bisa tahan dengan pesona Jermanku."
"Kamu sama Ai itu sama! Sama-sama kulkas!"
"Eh aku bisa menjadi gulungan api jika bersamamu, Bine." Karl menghentikan mobilnya di sebuah restauran cepat saji lalu melepaskan sabuk pengamannya. "Apalagi jika bibirku telah bertemu bibirmu. Aku yakin, kamu akan mende*sah jika sudah merasakannya..."
Karl menarik tengkuk Sabine lalu Melu*mat bibir gadis itu yang membuat Sabine gelagapan. Ciuman Karl awalnya penuh naf*su dan panas membuat gadis itu berontak namun tenaga Karl lebih kuat dan kedua tangan Sabine ditahannya dengan satu tangan.
Disaat Sabine mulai sedikit menyerah, Karl merubah ciumannya menjadi lembut, lidahnya bermain-main di dalam rongga mulut Sabine dan sebuah desa*han pun lolos dari bibir gadis itu. Karl pun langsung menghentikan ciumannya. Sabine yang merasa kehilangan membuka matanya dan tatapan Karl yang sayu dan penuh cinta tampak di hadapannya.
Karl sendiri berusaha mati-matian untuk tidak mencium Sabine lagi karena dia tahu, dirinya tidak dapat menahan diri untuk tidak melakukan lebih dari ini. Apalagi melihat wajah sayu di hadapannya.
"Marry me Sabine."
Sabine hanya bisa melongo.
***
__ADS_1
"Apakah Sabine baik-baik saja dengan Karl?" tanya Thara ketika berada dalam satu mobil bersama Aidan yang sedang menyetir Range Rover nya.
"Baik-baik saja."
"Tapi Karl kan suka dengan Sabine."
"Lalu?"
"Apa mereka...
"Princess Thara Azalea, kenapa kamu seperti ibu-ibu sih?" Aidan menatap sebal ke Thara.
Gadis itu langsung diam sedangkan Rahma hanya tersenyum geli melihat nona dan Mr Blair ribut tidak jelas.
Aidan terpaksa harus menunggu pengawalnya datang membawa mobil satu lagi untuk para pengawal Thara. Gadis itu sebenernya tidak ingin dikawal namun Hasyim mengancam, dengan pengawal atau tidak ke London sama sekali. Thara pun mengalah.
"Kamu nginap dimana princess?" tanya Aidan.
"Apartemen milik PRC group saja."
Aidan menoleh. "Seriously, princess? Kenapa tidak di four season hotel? Atau Mandarin Oriental Hyde Park? The Savoy? Shangri-La?"
"Aku lebih suka di apartemen PRC group. Lebih dekat dengan RR's Meal" jawab Thara kalem.
Aidan memincingkan mata birunya. "Apa maksudmu lebih dekat dengan RR's Meal?"
"Oh Mr Blair, apakah kamu tahu tujuanku kemari apa?"
"Kamu liburan? Mau bertemu dengan Rajendra?" tanya Aidan cuek.
Rasanya Thara ingin mencekik leher kokoh itu.
"Aku akan kembali menjadi chef pastry di restauran mu, Chef Blair." Mata hijau Thara menatap mata biru Aidan dengan tenang disaat mobil pria itu berhenti di lampu merah.
Aidan mendelik. "AAAPPAA?"
"Aku sudah bilang ke Mr Xander dan Stacy kalau aku akan kembali bekerja seperti biasanya." Thara tersenyum manis.
Aidan hanya memandang wajah cantik itu dengan dingin.
"TERSERAH!" ucapnya dingin. "Princess itu bebas!"
Thara merasakan hatinya sakit mendengar nada sindiran dari Aidan. Ya ampun, apa salahnya sih kalau aku lebih suka menjadi chef pastry daripada seorang putri dan pewaris klan Al Azzam? Kalau bisa memilih, aku lebih suka terlahir menjadi wanita biasa. Gadis itu lalu memandang keluar jendela.
Tanpa disadari dua butir air matanya terjatuh.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️