
Sissy Major menatap tajam ke Thara seolah berkata 'Are you kidding me?' membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
"Princess, kenapa anda memilih bekerja disini? Bukannya anda sudah nikmat ya tinggal di istana Al Azzam?" Sissy mendekati Thara yang berdiri disana.
"Karena saya menyukai pastry dan suka suasana disini" senyum Thara manis.
"Hhhmmm" Sissy melirik ke arah Aidan yang masih bersedekap acuh. "Kamu yang meminta dia bekerja disini?"
"No aunty. Dia sendiri yang ingin bekerja disini dan sudah membuat kontrak kerja dengan RR's Meal." Aidan sengaja menjawabnya lamat-lamat.
"Oh Astagaaa! Seriously?" Mata coklat Sissy menatap Thara dengan tatapan tidak percaya.
"Iya Mrs Major. Saya memang sudah membuat surat kontrak kerja itu."
"Harusnya kamu tolak, Ai. Yang benar saja!" gerutu Sissy yang tidak habis pikir Aidan menerima begitu saja seorang princess dari Dubai bekerja di restauran high class begini.
"Biarkan saja. Kan dia yang mau" senyum Aidan. "Lagipula, aunty kan bisa mendapatkan pastry enak-enak."
Sissy menepuk bahu Aidan. "Iya juga sih Ai."
***
Thara sedang menunggu dijemput oleh Iffa ketika melihat Xander datang ke restoran. Gadis itu tersenyum melihat mantan sous chef di RR's Meal cabang West End.
"Mr O'Neill. Lama tidak tampak" sapa Thara ramah. "Maafkan saya atas semua perbuatan saya yang tidak berpikir panjang hingga membuat anda dihajar oleh Aidan."
"It's okay Thara. Aku juga salah, James juga. Kami terlalu memikirkan bagaimana kalau ditolak oleh Aidan jadi sama-sama tidak berpikir jernih." Xander memberikan tepukan di bahu gadis itu. "Lagipula, Aidan mengirimkan aku mengelola RR's Meal cabang Manchester karena head chef disana dipindahkan ke Milan sebab istrinya orang sana. Lagipula, aku kan bisa nonton di Old Trafford atau Etihad langsung."
Thara melongo. Rupanya Aidan tidak seburuk yang dia sangka.
"Anda tidak apa-apa meninggalkan London?"
"Santai saja. Istriku yang bahagia karena dia asli orang Manchester. Jadi kami seperti pulang kampung" kekeh Xander. "Aku tidak kelihatan juga karena mengurus semuanya disana. Disini jabatan aku memang diturunkan oleh Ai, tapi itu memang sebagai pelajaran bagiku saat diberikan beban bertugas sebagai head chef di Manchester."
"Sepi dong nggak ada anda, Sir" ucap Thara sembari manyun.
"Hei, kan ada Stacy, ada Goro, dan aku sudah bilang ke Christina soal bahan pastry dan Christina paham kok."
Thara mengangguk dan tersenyum manis. "Terimakasih."
__ADS_1
Tak lama sebuah mobil datang dan tampak Iffa di bagian pengemudi.
"Saya pulang dulu, Mr O'Neill. Selamat malam."
"Selamat malam princess" balas Xander.
Thara pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan halaman belakang restauran. Xander masih berada disana ketika Aidan berjalan menuju ke bagian belakang dapur.
"Xander? What are you doing?" sapa Aidan terkejut melihat sahabatnya disana.
"Baru saja mengobrol dengan Thara."
Aidan mengangguk lalu mengambil bungkus rokoknya dan menawarkan ke Xander yang mengambil satu batan. Aidan pun mengambil satu dan menyalakan batang putih itu.
"Gimana Manchester?" tanya Aidan sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Kacau Ai. Di permukaan tampak fine, aslinya banyak kekacauan." Xander pun menghisap rokoknya lagi.
"Bukannya kamu suka tantangan, bro?" Aidan menoleh ke arah Xander.
"Iya sih Ai. Bagiku pelajaran yang kamu berikan padaku itu sangat manis dan membuat aku jauh lebih mantap mengambil Manchester."
"We've been ever worst than this" gelak Xander yang ingat sebelumnya mereka juga terlibat adu jotos dengan kasus yang berbeda sampai-sampai Terry yang kebetulan disana berusaha keras dia memisahkan.
"Parah ya kita" kekeh Aidan.
"Well, kalau nggak gitu, kita nggak awet temenannya Ai" senyum Xander. "Kamu itu tipenya kalau tidak suka langsung maju sedangkan aku kan mikir dulu, kalau langkah begini gimana, langkah begitu gimana."
"Good luck di Manchester, Xander."
"Thanks Ai. Sering-seringlah ke Manchster. Kita ke Old Trafford atau Erihad" cengir Xander.
"Gampang lah itu. Kalau ke Old Trafford, aku bisa minta Mark Neville buat cari tiketnya. Kan dia pemain United."
Xander terbahak. "Aku lupa kalau keluargamu ada yang di Manchester dan turun temurun menjadi bagian United."
***
__ADS_1
Sabine menatap wajah tampan yang sedang tertidur setelah menjalani proses khitan dan membuat gadis itu meringis melihat bagaimana seriusnya Karl di depan Senna, papanya, berusaha meyakinkan bahwa dirinya adalah pria yang tepat untuknya.
Gadis itu sekarang berada di sebuah kamar VIP rumah sakit di Dubai menjenguk pria itu. Senna mengijinkan Sabine membesuk dengan syarat tidak boleh macam-macam tapi boleh menghajar Karl kalau mulai kumat meshumnya.
"Kamu kok nekad sih bocah Jerman? Pakai acara pitenah tidur bareng lah, takut aku hamidun dua bulan ke depan lah. Gimana mau hamidun, ditengok ajah belum pernah!" gumam Sabine.
"Jadi... yang dibawah mau ditengok?" suara serak bariton itu mengagetkan Sabine.
"Lho kok kamu sudah bangun? Ayo tidur lagi! Anggap saja ini mimpi!" Sabine menutup mata Karl dan menepuk bahunya seperti kalau dia membuat Rajendra tidur.
"Gimana bisa tidur, ada yang bilang minta ditengok bawahnya" seringai Karl.
Sabine hanya bisa melotot. "Lha yang habis dipotong apa kabar, bocah Jerman? Kan belum bisa digunakan."
"Ya tunggu seminggu deh, kayaknya dah bisa. Apa perlu kita cicil dulu?" seringai Karl yang membuat Sabine tidak tahan menghadapi kemeshuman Karl.
BUGH!
Sebuah tinju mendarat di wajah Karl.
"Auch Sabine! Awas besok kalau sudah halal, akan aku hukum kamu!" Karl menatap Sabine dengan wajah licik yang membuat gadis itu merinding.
Mati awak!
***
Yuhuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***
Oh Hoshi udah launching
__ADS_1
Silahkan meluncur