
Thara menuju ke sebuah laptop yang dipinjamkan oleh Rajendra untuk gadis itu agar bisa browsing mencari tahu kabar dunia. Thara mulai tahu bagaimana hubungan keluarga mereka semua dan pemberitaan tentang klan Pratomo jarang ada skandal.
Awalnya Thara tidak percaya ada keluarga besar yang bisa akrab dan akur seperti itu tanpa ada rasa iri satu sama lain sampai kemarin dia sempat berbincang dengan Sekar.
Yesterday... all my troubles seemed so far away...
( Nyomot lagunya The Beatles )
Sekar dan Thara sedang menikmati acara minum teh sore bersama Rain dan Rajendra. Meskipun mereka hidup di Jakarta dan Solo, tapi kedua mertua dan menantu itu mengikuti kebiasaan orang Inggris acara minum teh sore. ( Mirip kayak di Indonesia tapi kalau kita tanpa rules, minum teh plus singkong goreng... Yummy! )
Thara menanyakan bagaimana keluarga sebesar itu tidak ada gesekan, ribut atau rebutan perusahaan maupun kekuasaan.
Sekar dan Rain tersenyum mendengar pertanyaan yang sering ditanyakan.
"Dari cerita mas Arjuna, kami semua terutama anak cucu keluarga Pratomo, mendapatkan saham setiap anggota keluarga. Gambarannya begini, Opa Ryu adalah ayah mama Rain dan mendapatkan saham dari Oma Buyut Adriana Pratomo yang dibagi rata di keempat anaknya. Nah saham dari Opa Ryu, diserahkan kepada mama Rain. Ketika mas Juna lahir, saham dari mama sudah diberikan separo ke mas Juna. Rajendra lahir, sudah mendapatkan saham dari mama dan mas Juna, begitu juga nanti saat adiknya Jendra lahir. Itu dari pihak mama, belum dari papa" papar Sekar.
"Jadi Thara, kami hidup sangat berlebihan tapi kami selalu dididik untuk tidak boros. Bahkan kemarin sewaktu kita ke solo untuk acara nikahannya keponakan kami, semua banyak memborong barang di pasar Klewer. Kami bukan keluarga maniak bahan branded mewah karena kami membeli sesuai kebutuhan dan keperluan tapi kalau membeli barang di pasar tradisional, itu juga membantu UMKM.
Oma Adriana pernah bilang 'kamu tidak butuh barang mewah dibawa mati. Hanya amal ibadah dan dosamu yang kamu bawa menghadap sang pencipta. Bukan mobil kamu, bukan mantel bulu kamu ataupun uang kamu. Allah tidak membutuhkan itu! Yang Allah butuhkan, apa yang sudah kamu lakukan di bumi. Bagaimana hubungan mu dengan Allah, manusia dan alam. Hablum Minallah, Hablum Minannas dan Hablum Minal Alam'. Kami semua menerapkan itu karena itulah yang diwanti dari Eyang Pratomo kepada anak cucu hingga cicitnya.
"Thara, keluarga kami memang besar tapi kami tetap menekan ego kami karena apa? Karena kami adalah keluarga yang dihubungkan dengan darah dan pernikahan. Keluarga itu saling menyayangi, mencintai, menghormati dan menghargai bukan saling serang demi ego" Rain menatap Thara serius.
"Oh jangan kaget kalau kumpul kami rusuh" senyum Sekar.
***
Thara menghubungi seseorang yang membantunya selama di sekolah culinary dan dia sungguh tidak tahu jika orang itu adalah bagian keluarga besar Pratomo.
"Hai" sapa orang itu. "Bara masih belum ketemu?"
"Sudah dinyatakan meninggal karena jasadnya tidak diketemukan."
"Kasihan Oom Ghani dan Tante Alexandra. Oh bagaimana kamu tahu aku bagian dari keluarga besar yang ramai ini?"
"Aku melihat fotomu di meja Konsul Arjuna lengkap dengan nama keluarga masing-masing. Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu adalah Sabine Al Jordan?" Thara menatap gadis cantik di hadapannya yang dua tahun lebih tua darinya.
"Karena aku tidak mau kamu merasa tidak nyaman denganku" senyum Sabine.
__ADS_1
"Lalu kampus Culinary itu?"
"Dibangun oleh omaku Serena dan Tante Miki. Makanya ketika kamu masuk, lalu Hamid Al Azzam mengotot membawamu pulang, aku harus melakukannya sesuatu." Sabine Al Jordan adalah putri Senna Al Jordan, sepupu Miki Al Jordan.
"Tapi tidak ada nama Al Jordan disana?" setahu Thara hanya SM Culinary College.
"SM... Serena Miki..." cengir Sabine.
Thara pun paham.
"Kami sengaja tidak menyebut nama Al Jordan atau pun AJ Corp tapi menggunakan nama lain hingga orang bisa masuk kesana tanpa beban takut mahalnya masuk ke sekolah kami." Sabine tersenyum.
"Terimakasih Sabine. Tanpa bantuan mu, aku tidak akan bisa keluar istana" ucap Thara tulus.
"Anytime Thara. Be safe and be careful. Karena di Dubai mulai ramai bahwa mereka tahu kamu bersembunyi dimana" Sabine menatap Thara serius.
"I will Sabine. I will."
***
Be safe and be careful. Karena di Dubai mulai ramai bahwa mereka tahu kamu bersembunyi dimana.
I will Sabine. I will.
Aidan mengerenyitkan alisnya. Sabine? Dubai? Apakah Sabine putri Oom Senna? Bagaimana Sabine mengenal Thara?
Pria itu pun sengaja menjauh dari ruang tengah yang memang lengang karena penghuni lainnya sedang berada di kamar dan Rajendra masih di sekolah. Aidan pun duduk di kursi makan setelah mengambil sebotol orange juice.
Thara berjalan menuju dapur yang melewati ruang makan tempat Aidan duduk disana. Gadis itu mengacuhkan pria yang beberapa saat sebelumnya memeluk dirinya sembari menangis.
"Dimana kamu kenal Sabine Al Jordan?" tanya Aidan dingin.
"Bukan urusanmu, Mr Blair" balas Thara sama dinginnya.
"Tetap menjadi urusanku, princess! Karena kamu, aku harus membereskan semua kekacauan di Dubai!"
"Kalau begitu kembalikan saja aku ke Dubai! Kamu tidak punya beban lagi!" Thara menatap tajam ke arah Aidan.
__ADS_1
"Yakin kamu kuat menghadapi pelecehan dari ayah dan kakak tirimu?" sindir Aidan.
Thara menganga. "Bagaimana...?" bisiknya ketakutan.
"Jangan sok berani menantang ku, princess, kalau kamu tidak kuat menghadapi!" Mata biru Aidan berkilat menatap Thara. "Selama kamu disini, selama kamu masih dalam perlindungan keluarga Blair, McCloud dan Al Jordan, kamu harus menceritakan semuanya dari awal kepadaku dan jangan ada yang ditutup-tutupi karena aku akan bisa mencari tahu sebusuk apapun itu!"
Thara hanya menatap Aidan tajam. I hate this man!
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Maaf hari ini sibuk banget.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***
Upcoming Novel after lebaran. Insyaallah setelah Hoshi launching.
My Boyfriend is Not A Trans*gender
Sinopsis seorang letnan polisi harus menyelidiki kasus pembunuhan berantai di kalangan waria dan transgender yang membuatnya harus terjun menyamar menjadi seperti mereka karena licinnya si pembunuh berantai itu.
Celakanya, keluarga kekasih letnan polisi itu tahunya dirinya menjadi transgender tanpa mengetahui alasannya kenapa. Hingga nyawanya dan nyawa kekasihnya pun terancam oleh si pembunuh berantai itu.
Kalau yang ini masih konsep kasar Yaaaaaa. Tetap masih ada gesreknya tapi Eike harus banyak belajar tentang bahasa khas kaum mereka dulu.
Semoga suka.
***
__ADS_1