My Cold Chef

My Cold Chef
Sabine the Sniper


__ADS_3

Sore ini, semua keluarga berkumpul di ruang tengah yang mewah di mansion Al Jordan. Para orang tua kebanyakan duduk di sofa sedangkan yang muda-muda lebih memilih lesehan di karpet tebal sambil menggelar semua blueprint dan foto satelit yang diambil Abian dan Bryan. Abian sendiri memilih tinggal di Tokyo bersama Miki, Josephine dan Marissa berjaga-jaga jika membutuhkan bantuan. Lagipula, Rahma masih proses pemulihan di sana, Abian tidak mungkin meninggalkan gadis itu.


Duncan, Elang, Senna dan Kai berunding bagaimana besok untuk masuk ke dalam istana Al Azzam, apakah langsung frontal atau acara negosiasi dulu.


"Kalian itu kalau mau menghajar orang, ajak-ajak dong!" Sebuah suara membuat semua orang menoleh.


"Javier!" seru Duncan bahagia.


Javier Arata datang dengan wajah cemberut. "Kalian pada durjana!" umpat ayah Davina itu.


"Kamu kan masih ada urusan di Spanyol jadi kita tidak mengajak kamu" ucap Elang sambil tersenyum.


"Bisa ditinggal cumiiii !" Javier lalu duduk diantara Elang, Duncan dan Senna. "So, sinyal Bocah pintar itu masih nyala?"


"Masih Oom. Sinyal itu kalau diaktifkan bisa bertahan sampai dua Minggu" jawab Arjuna.


"Oke. Kita sudah kehilangan tiga hari jadi kalian mau gimana? Hajar bleh langsung bumi hanguskan atau pakai cara smooth tapi tetap mematikan?" seringai Javier dengan wajah menyeramkan.


Duncan dan Elang hanya bisa menahan nafas melihat kelakuan sepupu mereka yang lolos hell week berulang kali.


"Smooth dan mematikan" jawab Aidan.


"Aku lebih suka itu. Lagipula aku punya hutang sama putra dan istriku" seringai Arjuna dengan wajah devil.


"Apa itu Jun?" tanya Javier.


"Hutang membinasakan orang-orang yang membunuh Johnny" rahang Arjuna mengeras.


"Bahkan Sekar pun sekarang savage?" Javier terkekeh. "Bagus! Aku makin suka dengan menantuku itu!"


"Hei, Sekar menantuku Javi" protes Elang.


"Halah! Pelit kau!"


***


Keesokan paginya Elang, Duncan, Javier dan Senna mendatangi istana Al Azzam. Keempat pria dengan fisik paripurna itu dengan percaya dirinya meminta bertemu dengan Hamid Al Azzam.


Mendengar keluarga Al Jordan datang, Hamid hanya tersenyum smirk. Mereka akan bertekuk lutut demi anak kecil itu. Waktunya aku mengambil alih semua kekuasaan Al Jordan.


Keempat pria berusia lima puluhan yang masih tegap dan sehat itu memindai isi ruang tamu mewah itu.


"Sayang kalau semua ini dihancurkan oleh Junjun" bisik Elang sambil tersenyum.


Javier dan Duncan terbahak sedangkan Senna hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa yang membuat keluarga besar Al Jordan datang kemari?" sapa Hamid Al Azzam dengan wajah menyebalkan.


"Aku hendak menjemput cucuku!" jawab Elang dengan wajah dingin.

__ADS_1


"Cucu? Jadi anak kecil yang cengeng itu cucumu? Pantas seperti dirimu!" ledek Hamid ke Elang yang tetap memasang wajah datar.


***


Arjuna yang mendengar anaknya disebut cengeng hanya tersenyum smirk dan membuat Aidan menoleh. Semua klan Pratomo berada di luar istana Al Azzam di semua titik dan semuanya memakai kufiya atau sorban khas Arab.


"Anakmu dibilang cengeng, kamu malah tersenyum?" tanya Aidan. Kini kedua pria tampan berdiri di depan istana dengan membawa senjata di balik jaket mereka. Wajah Aidan dan Arjuna ditutup dengan sorban hingga hanya tampak matanya saja.



Anggep saja begini ya gaaeeesss


"Berarti Rajendra satu kamar dengan Thara dan tidak bisa dipisahkan" ucap Arjuna. "Itu kode kalau dulu dia tidak mau tidur tanpa Sekar."


"Oh."


***


"Berani bayar berapa untuk cucumu itu?" tantang Hamid ke Elang. Pria itu dikelilingi oleh banyak pengawal dan Elang bisa melihat dua diantaranya adalah pelaku yang menembak Johnny. Arjuna sudah memberikan cluenya dan Elang benar-benar mengingatnya.


"Apa yang kamu minta?" tanya Elang tenang.


"Semua perusahaan Al Jordan!"


Rahang Senna mengeras. "You're Son of the B1tch!"


"Pilih nyawa cucumu atau perusahaanm Dan setelah semua kekayaan Al Jordan aku ambil alih, kalian semua hengkang dari Dubai!"


***


Kaia dan Rhett beserta Fuji dan Iwan sudah berada di halaman belakang istana Al Azzam. Mereka melihat di tembok tinggi itu terdapat beberapa pengawal dan CCTV. Ketiganya meminta kepada Aidan dan Bryan untuk mematikan kamera itu.


"Sabine? Kamu dimana?" tanya Kaia.


"Di hatimu Kai" kekeh Sabine di earpiece Kaia.


"Serius Sabinnneee!" desis Kaia kesal.


Pok! Pok! Pok! Pok! Pok!


Suara tembakan dengan peredam terdengar di telinga ketiganya.


"Monggo manjat" ucap Sabine yang menembak dari sebuah bukit dekat istana Al Azzam. Seperti halnya Arjuna dan Aidan, Sabine mengenakan sorban menutupi wajahnya kecuali mata indahnya.




Sabine menembak kelima pengawal itu menggunakan Barret M82 miliknya. Selain Kaia, gadis itu memang jago menembak jarak jauh bahkan sering ikut lomba sniper di Amerika Serikat dan Arab Saudi. Gadis itu tengkurap sambil mengawasi sekitar dengan senjatanya.

__ADS_1


"Gue suka senjata lu!" ucap Kaia sambil melemparkan tali tambang dan mereka berempat mulai memanjat tembok seperti panjat tebing.


"Untung gue rajin nge-gym jadi bisa naik begini!" ucap Fuji sambil nyengir.


"CCTV aman kakak-kakak" ucap Bryan.


Kaia, Rhett, Fuji dan Iwan sampai di tembok belakang. Tas duffle bag berat yang dipanggul Rhett dan Fuji pun dibuka.


"Kamu pilih apa Wan?" tanya Fuji.


"Semua!"


Kaia dan Rhett melongo. "Serius?" Iwan mengangguk. "Ok!"


Masing-masing mengambil MP5, Glock, SIG, PPK, beberapa pisau dan stun gun. Keempatnya lalu berpisah, Kaia bersama Rhett sedangkan Iwan bersama Fuji. Mereka menyusuri sisi barat dan timur istana.


***


Sabine berlari sambil membawa senjatanya menuju sisi barat gunung untuk melihat kondisi disana.


"Sisi timur aku sudah bereskan" ucap Arya yang sama-sama memegang Barrett tapi seri Snow Wolf.


"CCTV clear. Rajendra dan Thara ada di sayap kiri sesuai dengan sinyal." Aidan memberitahu kepada mereka semua.


***


Marco dan Mario berhasil masuk melalui pintu yang biasa dipakai untuk pembantu. Kedua saudara kembar yang memiliki darah mafia klan Bianchi itu memakai baju yang sama dengan sepupunya yang lain.


"Sisi Utara masih belum dimasuki Arjuna dan Aidan. Kami sudah sampai di sisi selatan kiri" lapor Marco.


"Aku dan Nathan sudah masuk sisi selatan kanan setelah menghajar dua kutu" ucap Karl Schumacher.


"Hati-hati pengawalnya banyak sekali. Kalau bisa kalian pakai silent kill. Selamat memakai Eskrima, krav maga dan pisau kalian" ucap Abian.


***


Kaia menusukka suntikan mematikan ke leher seorang pengawal dan memperlihatkan kepada Arjuna dengan body cameranya. "Ini bukan pembunuh Johnny?" Sedangkan Rhett membunuh dua pengawal lainnya yang dekat dengan lokasi Harem Al Azzam.


"Bukan! Dua ada di hadapan papa. Sepertinya dua lagi mengawal kamar Rajendra" ucap Arjuna. "Keempat kecoa itu bagianku dan Ai! Jangan ada yang menyentuh! Karena aku harus membayar hutang dendam Sekar dan Rajendra!"


***


Yuhuuu Up Siang


Gimana? Tegang? Seru? Kurang Yaa?


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2