My Cold Chef

My Cold Chef
Bonchap - Harta, Tahta dan Gendakan


__ADS_3

Polsek Gajah Mungkur Semarang


Abi dan Travis menunggu kedua gadis yang sedang dalam posisi ngamuk sambil minum kopi dari kantin Polsek. Kapten Rasyad tadi meminta ijin untuk menyelesaikan berkas agar segera diajukan ke persidangan meskipun jaksa Bramantya sudah mengatakan sudah bisa diajukan tapi kapten Rasyad tidak mau ada yang terlewat.


Tak lama dari ruang interogasi keluar Polwan Ririn dan Gandari sambil tersenyum. Wajah kedua gadis itu tampak lega usai menghajar Anggita.


"Sudah? Lega? Enak?" kekeh Abi ke keduanya.


"Aku sih yang penting sudah hajar diatas meja, sisanya mbak Ririn" senyum Gandari ke Abi dan Travis.


"Kurang Iin dong!" celetuk Travis.


"Oh yang di sel nomor empat ya?" tanya Polwan Ririn.


"Kenapa anda tahu?" tanya Travis.


"Karena wanita itu mengatakan bahwa dirinya akan menuntut semua orang yang berani menahannya karena ayahnya seorang pejabat DPR Jakarta."


Travis menyeringai. "This is getting better and better. Bawa ke ruang interogasi saja mbak Ririn. Biar dia tahu dia berhadapan dengan siapa! Bapaknya baru anggota DPR saja belagu!"


Ririn tersenyum lalu mengundurkan diri menuju sel tahanan dibelakang sedangkan Travis menelpon seseorang.


"Oom Bryan? Sibuk? Aku butuh aib seseorang."


Abi hanya tersenyum smirk tapi tidak dengan Gandari yang bingung kenapa harus ada pencari aib.


"Nanti aku jelaskan, Ndari" senyum Abi.


Dua orang polwan masuk ke ruang interogasi dan membawa Anggita yang teler menuju sel tahanan. Abi sendiri sudah memberikan permintaan mendatangkan dokter independen agar tidak banyak pertanyaan.


***


Ruang Interogasi Polsek Gajah Mungkur room 1


Ruang interogasi itu sudah bersih dan kering dari genangan air dan darah akibat ngamuknya Gandari tadi. Dan kini, Iin sudah duduk di kursi ruang interogasi dengan wajah antara takut dan kesal.


"Selamat sore Bu Iin. Masih ingat saya kan?" tanya Kapten Rasyad.


"Sore pak Kapten. Tolong pak Kapten, bebaskan saya. Saya...saya melakukan ini karena diancam oleh Jerome dan Lukman."

__ADS_1


Kapten Rasyad menaikkan sebelah alisnya. "Diancam? Diancam bagaimana?"


"Iya pak kapten, saya diancam karena jika tidak mau membuat sertifikat itu, mereka akan menjatuhkan kantor notaris saya."


Kapten Rasyad tersenyum smirk. "Ayah anda kan anggota DPR. Kenapa harus takut?"


"Saya tidak mau merepotkan ayah saya."


"Atau karena memang bukan ayah anda kan?" seringai Kapten Rasyad.


Wajah notaris Iin memucat.


"Anda tahu kan saat kedua polwan anak buah saya bertanya pada anda siapa ayah anda, tentu saja kami menyelidiki Bu Iin. Dan orang yang anda sebut mengaku tidak mengenal anda. Tapi jangan khawatir, kami punya bukti saat anda check in dengan 'ayah' anda di hotel Ciputra, hotel Gumaya dan hotel Louis Kenne."


Kapten Rasyad memberikan foto-foto Notaris Iin bergelayut mesra dengan anggota DPR itu.


"Oh jangan khawatir, ayah anda juga terseret kasus anda meskipun bidangnya beda. Harta, tahta dan gendakan itu adalah trio lucknut yang bisa menghancurkan seseorang."


"Jangan ... bawa dia..."


"Oh itu tergantung bagaimana anda. Mau bekerja sama atau tetap mengeyel merasa tidak bersalah? Jangan lupa, tangan anda juga dilumuri darah Gavin dan Lahita lho. Sekarang pilihan ada di tangan anda. Mau bicara sekarang atau anda ingin bernasib seperti ini?" Kapten Rasyad menunjukkan gambar-gambar yang ada di dalam iPad.


"Polisi dimana - mana sama saja! Mainnya hajar orang seenaknya!" teriak Iin yang tidak terima.


"Anda salah nona. Bukan kami atau saya yang melakukan." Kapten Rasyad menyeringai sembari bersedekap.


"Aku yang melakukannya. Sekarang giliran kamu yang merasakan, b1tch!"


Notaris Iin menatap nanar ke arah pintu Interogasi yang terbuka.


"Gan... dari? Tapi ... bagaimana polisi tidak melindungi orang-orang yang dipukuli oleh Gandari. Harusnya anda melindungi kami dari dia!" ucap Iin sambil menunjuk Gandari.


"Ohya? Lalu apakah kalian memikirkan saat dia harus kehilangan semuanya termasuk kedua orangtuanya? Tidak, karena kalian sudah disilaukan oleh ketamakan!" Kapten Rasyad memajukan tubuhnya. "Wajar jika nona Gandari dendam kepada anda - anda semua. Kalian sudah membunuh kedua orangtuanya. Mungkin harta nona Gandari tidak perlu karena dia sudah kaya dengan usahanya sendiri tapi amarah saat mengetahui orangtuanya meninggal karena disengaja oleh kalian... Ckckck, bahkan saya sendiri kalau tidak ingat hukum jabatan, saya melakukan lebih dari yang nona Gandari lakukan."


Notaris Iin tampak begitu panik dan memucat.


"Mbak Gandari, Monggo." Kapten Rasyad pun berdiri meninggalkan Gandari bersama dengan Notaris Iin. "Polwan Ririn, tunggu di dalam bersama dengan nona Gandari."


***

__ADS_1


Di dalam ruang kerjanya, Kapten Rasyad menemui ketiga anak Anggita dan Joko. Jamal yang paling besar tampak tidak terima atas perlakuan polisi kepada ayah kandung, ibu kandung dan ayah sambungnya.


"Itu rumah kami pak Kapten! Anda tidak bisa seenaknya mengusir kami! Ini bukti sertifikat atas nama Lukman Kristiawan dan Anggita!" bentak Jamal ke Kapten Rasyad sambil menyerahkan sertifikat rumah Kawi.


"Rumah itu bukan milik anda, ayah sambung anda maupun ibu anda! Dan sertifikat yang anda berikan kepada saya, itu palsu!" Kapten Rasyad menatap tajam ke arah pemuda yang tampaknya kurang pendidikan attitude.


"Polisi memang sukanya mengada-ada! Jelas - jelas ini sertifikat asli!" ucap Jamal sinis.


"Sertifikat asli disimpan dalam safe deposit box di sebuah bank dan pemilik aslinya sudah memperlihatkan kepada saya dan jaksa penuntut umum. Oh apakah kalian tahu, ketiga orang tua kalian itu adalah pembunuh, pencuri dan penipu?"


"Bapak bohong!" teriak Yulia.


"Silahkan anda melihat bukti - bukti ini" jawab Kapten Rasyad tenang. "Oh, saya kasih lihat video CCTV 12 tahun lalu dimana ayah anda membawa dua orang untuk membuat mobil Oom Gavin dan Tante Lahita anda kecelakaan."


***


Ketiga anak Anggita dan Joko itu langsung lemas apalagi semua bukti otentik terpampang dengan jelas. Sertifikat yang dipegang oleh Jamal, sudah diteliti oleh seorang notaris yang didatangkan oleh Kapten Rasyad sebagai sertifikat asli tapi palsu.


"Jadi selama ini, kami hidup mewah..." Ricky tampak paling terpukul mendengar perbuatan orang tuanya. Dia tidak menyangka uang banyak yang mereka miliki adalah hasil kejahatan.


"Sudah jalannya yang namanya barang busuk akan ketahuan! Apalagi yang namanya hukum tabur tuai sangat terjadi cepat atau lambat."


Yulia tampak menangis karena harus kehilangan semuanya.


"Kesalahan orang tua kalian itu adalah serakah! Hingga melakukan segala cara agar mendapatkan kekayaan yang bukan haknya karena ayah sambung kalian hanyalah anak angkat eyang Kristiawan. Secara hukum hak ayah anda tidak ada hak tapi eyang anda masih memberikan beberapa sawah di area Boyolali Solo yang sayangnya sudah dijual juga. Gaya hidup kalian yang bermewah-mewah selama ini berasal dari uang berdarah. Apakah kalian ingat mbak Gandari? Anaknya Oom Gavin dan Tante Lahita? Dialah yang berhak atas semuanya, bukan kalian bertiga. Tentang bagaimana anda kedepannya, semua tergantung keputusan hakim dan kebaikan mbak Gandari."


Ketiga orang itu hanya menunduk. Dalam sekejap semuanya akan hilang dan ketiga anak itu merasakan dendam kepada orang tuanya yang menyeret mereka menjadi miskin sekarang.


***



Mbak Ndari, Ojo bar-bar tho


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2