My Cold Chef

My Cold Chef
Rasa Kehilangan Yang Dalam


__ADS_3

Thara masuk ke dalam dapur dan berkenalan dengan bik Sum dan Gina. Ketiga wanita itu dengan dua orang pelayan lainnya membuat makanan untuk Sekar dan Rain di jam Brunch karena pagi tadi saat sarapan, keduanya hanya makan sedikit akibat masih dalam kondisi syok tidak percaya salah satu anggota keluarga mereka hilang.


Setelah siap, Thara pun meletakkan fried chicken dan waffle yang disiram maple sirup. Rain dan Sekar menatap gadis blasteran Arab Indonesia itu dengan tatapan bingung.



"Apa ini Thara?" tanya Rain seperti orang bingung.


"Tante, mbak Sekar ayo makan dulu. Kita hanya bisa menunggu tapi kita juga harus memikirkan kondisi fisik kita apalagi mbak Sekar sedang hamil. Jadi kita harus banyak makan apalagi kita semalam kurang tidur." Thara memberikan masing-masing satu piring berisikan fried chicken dan waffle. "Habis makan, kita semua beristirahat. Lihat mata panda kita pada saingan."


Rain dan Sekar saling memandang satu sama lain lalu tersenyum tipis karena kantung mata dan warna hitam di bawah mata mereka.


"Benar kata Thara, tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang dan hanya menunggu." Sekar mulai memakan waffle yang sudah disiapkan Thara.


"Semoga segera mendapatkan kabar baik" gumam Rain.


"Aamiin."


***


Namun bukan kabar baik yang diterima oleh Rain, Sekar dan Thara melainkan kabar duka. Elang dan Arjuna memberikan kabar kalau setelah seminggu pencarian, mereka hanya menemukan tiga sosok mayat yang merupakan pilot dan dua rekan Bara dari National Geographic tanpa ada tanda-tanda keberadaan tubuh atau jasad Bara.


Pihak kepolisian dan tim SAR akhirnya memutuskan bahwa Bara ikut menjadi korban meninggal bersama dengan bangkai helikopter yang tenggelam di laut selatan. Rain dan Sekar pun menangis mendengar keputusan pihak berwajib karena mereka berharap Bara masih hidup namun kenyataannya berkata lain.


Dan kini para wanita beda usia itu menunggu kedatangan para anggota keluarga yang kembali dari Indonesia.


***


Johnny Peters bersama kepala keamanan kediaman keluarga McCloud memeriksa semua rekaman CCTV yang terdapat di rumah Arjuna. Kedua pria berwajah dingin itu meneliti dengan seksama semua kegiatan di luar pagar rumah dan melihat dua buah mobil yang sama selalu mengawasi rumah bata merah milik Arjuna.



"Kita harus waspada, Michael. Aku curiga mereka ada hubungannya dengan keluarga nona Thara." Johnny memindai tipe dan nomor polisi kedua mobil itu.


"Absolutely John. Tuan Rajendra pun sudah aku dobel pengawalan." Michael pun memeriksa kamera di mobil Mercedes yang bagian antar jemput Rajendra dan tampak bocah itu sedang asyik bermain rubik.


"Bagus karena tuan Arjuna, tuan Jeremy dan tuan Aidan baru saja kehilangan salah seorang anggota keluarga."


"Siapa John?"

__ADS_1


"Tuan Bara Giandra, putra tuan Ghani Giandra kakak nyonya Rhea Giandra, ibu tuan Aidan."


Michael terkejut. "Dia pernah kemari kan beberapa waktu lalu? Apa tidak diketemukan tubuhnya?"


Johnny menggeleng.


"Oh my God. Keluarga besar pasti hancur."


***


Setelah seminggu di Indonesia dengan membawa berita duka, Elang, Arjuna dan Aidan pun pulang ke London. Gurat lelah dan kesedihan mendalam tampak di wajah pria-pria tampan itu. Arjuna sendiri begitu melihat istrinya langsung memeluk dan menangis.


Elang masih bisa tegar di hadapan Rain namun setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar, Opa tampan itu menangis berdua bersama istrinya. Kehilangan Bara bagaikan kehilangan anak sendiri karena bagi mereka, semua keponakan sama saja seperti anak sendiri.


Aidan berjalan ke halaman belakang lalu duduk di kursi sofa. Mata birunya hanya menatap nanar dan kosong ke langit seolah nyawanya tidak menyatu dengan raganya. Di meja ada sebuah pigura foto yang sedari tadi dipegangnya.



"Mr Blair..." panggil Thara pelan. "Aidan?"


Aidan menoleh ke arah gadis yang membawakan dua cangkir teh herbal panas. Thara meletakkan baki berisi cangkir itu dan duduk di sebelah Aidan.


Aidan hanya menatap Thara datar. Tanpa berkata apapun Aidan merengkuh tubuh langsing gadis itu dan menangis. Thara yang terkejut hanya bisa membalas pelukan Aidan sambil mengelus punggungnya.


"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega, Aidan" bisik Thara. Aidan semakin terisak dan Thara membiarkan bajunya basah. Entah berapa lama mereka berpelukan sampai Thara merasakan tubuh Aidan semakin berat dan pelan Thara meletakkan kepala pria tampan itu diatas pahanya.


!Rupanya saking lelah dan syoknya, dia sampai tertidur. Thara membiarkan pria itu tertidur sampai bangun sendiri.


Thara melihat pigura foto itu dan mengambilnya. Di foto itu tampak lima orang yang sedang berlibur mengenakan pakaian pantai. Empat tampak bule sedangkan satu berwajah Asia. Gadis itu mengenali dua dari pria bule itu adalah Aidan dan James. Penasaran, Thara membuka tutup belakang pigura itu dan membaca tulisan disana.


The Blairs.


Bara, Danisha, Kaia, Aidan, James


Sembari membolak-balik foto itu, Thara memperhatikan perbedaan Bara dengan sepupu-sepupunya. Jadi ini yang namanya Bara. Wajahnya menunjukkan dirinya orang baik dan tak heran semua keluarganya sangat kehilangan.


Thara merasakan kepala yang berada di pahanya mulai bergerak dan mata biru itu pun terbuka. Menyadari dirinya sedang berbantal paha seseorang, Aidan pun bangun dengan sedikit disorientasi.


"Maaf..." ucapnya parau.

__ADS_1


"Saya juga minta maaf, lancang membuka foto..." Thara melihat mata biru Aidan berkilat tajam.


"Kembalikan seperti semula!" desisnya dingin.


Thara pun mengembalikan foto itu seperti sedia kala. "Aku minta maaf Aidan..."


"Just go Thara."


"But ..."


"GO AWAY!" bentak Aidan yang membuat Thara terkejut. Setelahnya gadis itu berdiri.


"Seminggu!"


Aidan menoleh. "Excuse me?"


"Seminggu adalah waktu yang pas untuk berkabung, setelahnya hidup terus berjalan. Yang sudah mati tidak akan kembali meskipun kamu mau nangis darah sekalipun. Jadi, aku biarkan seminggu kamu berkabung tapi jangan lupakan yang masih hidup dan membutuhkan dirimu di restauran." Thara menatap Aidan dingin hingga pria itu bingung dengan warna matanya yang berubah menjadi abu-abu pucat jika gadis itu sedang menahan amarah.


"Diminum teh herbal nya, aku berikan sedikit jahe, kayu manis, mint dan madu. Maaf jika sudah mulai dingin." Gadis itu berbalik dengan langkah anggun meninggalkan Aidan yang melongo.


Apa itu tadi? Seorang putri memarahi aku? Aidan menatap punggung Thara yang berjalan tegak.


Seriously? Seminggu? Memang dikira mudah apa menghilangkan rasa berkabung? Aidan menatap foto yang di pigura. Foto yang diambil setahun lalu saat piknik khusus keluarga Blair di Hawaii. Sang papi dan Oom Neil memutuskan berlibur bersama minus Tante Nadya yang harus beristirahat setelah terkena demam berdarah.


Kelima saudara sepupu itu tampak bahagia dan sengaja berfoto tanpa pasangan masing-masing. Dan kini salah satu harus menghilang dan membuat Aidan merasakan sesuatu yang hilang dari hatinya.


Semoga Mas Bara diberikan tempat yang indah bersama Ogan Abi dan Necan Dara. Opa Edward, Oma Yuna, titip mas Bara ya. Aidan menyesap teh herbalnya yang mulai agak dingin dan tak terasa air matanya mengalir lagi.


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Maaf tadi sibuk jadi belum sempat ngetik.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2