
Pagi harinya Karl Schumacher dipanggil oleh Senna Al Jordan ke ruang kerjanya. Kabar dirinya mencium Sabine, sudah terdengar di semua anggota keluarga baik yang senior dan generasi keempat.
Karl masuk ke dalam ruang kerja pemimpin klan Al Jordan dengan wajah tegang. Gara-gara tidak mikir jadinya kacau kan?
Semalam Aidan habis memarahinya dan Karl mengaku salah karena terbawa permainan Sabine yang menggodanya.
"Aku tidak mau tahu Karl! Kamu hadapi Oom Senna!" ucap Aidan judes.
"Iya Ai, akan aku hadapi Oom Senna."
Dan kini, Senna Al Jordan menatap tajam pria bertato di hadapannya.
"Karl Daniel Schumacher."
"Iya Oom." Karl hanya bisa pasrah jika sudah disebut nama panjangnya lengkap berarti fatal.
"Apa maksudmu mencium Sabine?" suara Senna terdengar penuh penekanan menahan amarah.
"Saya yang salah Oom. Saya yang tidak bisa menahan diri saat Sabine... Bottom line, saya yang salah Oom." Karl tidak mau menjatuhkan harga diri Sabine yang sebenarnya menggoda dirinya.
"Apa dia menggoda mu?" tanya Senna tenang.
"Hah? Tidak Oom, saya yang salah disini" elak Karl.
"Karl, Oom tahu sekali kelakuan putri Oom. Kamu bukan orang pertama yang diusili olehnya tapi kamu orang pertama yang berani mencium dirinya."
Karl melongo. Berapa banyak pria yang digoda cewek bar-bar itu?
"Tidak usah kaget begitu Karl. Sabine memang usil tapi hanya kamu yang berani melakukannya. Alex Ghaidan saja pernah dia usili tapi pria itu langsung pingsan ketika wajah Sabine semakin dekat" kekeh Senna. "Sepertinya dia lebih takut dihajar Oom daripada oleh Sabine."
What? Oom Senna, sebenarnya perasaan Oom itu gimana sih?
"Kamu suka Sabine?"
"Sepertinya saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Sabine, Oom."
Senna menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. "Tidak sedikit yang jatuh cinta dengan Sabine tapi putriku satu itu memang susah!"
Karl hanya terdiam.
"Kamu bukan kandidat yang bagus, Karl. Tidak perduli kamu bagus hasil screening apalagi kamu bersahabat baik dengan Aidan cukup lama. Tattoomu itu dan keyakinan mu yang membuat Oom dan Tante keberatan."
Bahu Karl semakin turun. Rasanya seperti kalah sebelum perang.
"Jadi, Oom minta, jauhi Sabine!"
***
"Saya tidak akan menjauhi Sabine, Oom!" jawab Karl tegas.
"Jauhi Sabine! Kamu tidak pantas untuk putri Oom!"
"Biarpun saya lah pencuri ciuman pertamanya?"
"IYA!" jawab Senna tegas.
"Saya memang bertato, saya memang berbeda tapi apakah pria-pria yang tidak bertato dan seiman akan terjamin untuk selalu mencintai Sabine? Jika Sabine menjadi milik saya, dia tidak akan saya kekang melakukan apapun termasuk hobi militernya! Karena saya suka cewek tangguh!" Karl menatap tajam ke Senna.
__ADS_1
"Jika saya memang jodoh Sabine, saya tidak keberatan untuk menjadi mualaf dan sunat!"
Karl pun keluar dari ruang kerja Senna dengan membanting pintu.
Senna hanya tersenyum melihat kelakuan Karl. Fatimah keluar dari sebuah pintu yang menghubungkan dengan kamar tidurnya.
"Bagaimana sayang?" tanya Senna kepada istrinya.
"Dia sepertinya sangat menyukai Sabine dan ada rasa bersalah tapi senang menjadi yang pertama buat putri kita." Fatimah merangkul bahu Senna.
"Tapi tattoo nya ngeri, Fatimah" ucap Senna bergidik.
"Arjuna bertato, Bara juga, Duncan apalagi."
"Tapi mereka kan bagian keluarga kita, sayang. Karl itu sahabat Aidan. Hanya sekedar kenalan keluarga."
Fatimah mengusap kepala suaminya dengan sayang. "Kita lihat saja, apakah Karl bisa menaklukkan Sabine. Dan aku setuju dengan ucapan Karl, belum tentu yang tidak bertato dan seiman, bisa membuat Sabine nyaman apalagi Karl berjanji mengijinkan Sabine untuk mengikuti latihan militernya. Hanya orang-orang yang paham putrimu yang bisa menerimanya."
Senna hanya terdiam. Meskipun dalam hatinya dia agak tidak rela melihat putrinya bersama dengan pria bertato macam Karl, tapi jika jodoh, mau dipisahkan bagaimana pun pasti akan bersatu.
Kita lihat saja nanti, bocah Jerman!
***
Karl meminum kopinya di balkon dekat ruang makan sambil melamun. Darah Jermannya yang tidak takut apapun membuatnya tadi meledak-ledak berargumen dengan Senna.
"Ya ampun! Karl! Itu calon mertua lu!" umpatnya. Pria itu lalu mengalihkan pikirannya dengan membuka laptop untuk memeriksa semua pekerjaan yang dia serahkan ke asistennya. Dengan serius, pria itu mengenakan kacamata nya dan mulai bekerja.
Karl mendongak dan tampak Sabine berdiri disana dengan rambut hitam lebatnya disanggul asal model Bun.
"Hai Sabine."
Gadis itu tidak membalas lalu duduk di depan Karl sambil menopang wajahnya dengan tangannya. Sabine tampak judes menatap pria yang mengenakan kaus oblong putih itu menampilkan tatto di kedua tangannya.
"Kamu sudah menghadapi papa?"
Karl menatap gadis cantik di hadapannya. "Sudah."
"Lalu?"
"Nggak gimana-gimana."
"Papa tidak menghajar mu?"
"Tidak. Kan aku gentle."
Sabine menghela nafas panjang dengan kesal. "Kamu menyebalkan!"
"Ich liebe dich ( I love you )" senyum Karl.
"Ich liebe dich...nicht! ( I don't love you )" Sabine menjulurkan lidahnya.
Karl pun maju ke mendekati wajah Sabine. "Du wirst mich lieben.( Kau akan mencintai ku )" Pria itu lalu mencium pipi Sabine.
__ADS_1
"Verdammt nochmal! ( Damn you! )" umpat Sabine sambil mengelap pipinya.
Karl tertawa.
***
Hari ini Rajendra dan Thara diijinkan pulang oleh dokter dan ijin Fuji serta Nathan setelah melihat kemajuan psikis dan fisik keduanya yang semakin membaik.
Rajendra sendiri sudah tidak sabar untuk kembali ke London. Ketika Arjuna bertanya apakah karena rindu dengan Sekar dan Rama, ternyata jawaban Rajendra diluar ekspektasi.
"Rajendra mau ketemu dengan Aruna. Kasihan dia, kaget dan takut pas lihat Rajendra dan Tante Thara diculik dan Oom Johnny dibunuh."
"Siapa itu Aruna?" tanya Arjuna bingung.
"Cewek judes pa. Tapi Jendra suka."
Arjuna melongo. Astaghfirullah! Kamu itu masih lima tahun Rajendra!
***
Aisyah membantu Thara membereskan semua baju dan barang-barang lainnya. Wanita paruh baya itu sangat terbantu oleh Kaia Blair O'Grady dan Sabine Al Jordan dengan membelikan pakaian untuk Thara.
Nathan datang bersama Aidan, menatap kedua wanita yang sedang sibuk beberes.
"Ada yang bisa dibanting... eh dibantu?" cengir Nathan.
"Tidak ada, nak Nathan" kekeh Aisyah. "Hari ini kami kembali ke mansion Al Jordan ya?"
"Sementara Umi. Hari ini Kaia, Rhett, Kris dan Oom Duncan pulang ke New York. Besok sepertinya rombongan Tokyo" ucap Nathan.
"Rombongan London?" tanya Thara yang setelah itu menggigit bibir bawahnya.
Aidan melirik ke Thara. "Apa kamu mau kembali ke London? Yang benar saja!"
Thara cemberut sedangkan Aisyah hanya tersenyum. Nathan hanya melongo melihat sikap Aidan yang kumat menjadi Sub-Zero.
"Astaghfirullah! Aidan!" seru Nathan.
"Lho benar kan? Dia tanya Rombongan London, berarti ingin kembali ke London kan? Salahku dimana coba?" Aidan menatap Nathan datar.
Astagaaaaa! Dasar beruang kutub!
***
Yuhuuu Up Malam
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H
Selamat liburan, berkumpul dengan keluarga.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1