
Museum Of Modern Art Manhattan New York
Gandari menemani Abi berjalan-jalan di museum dan gadis itu semakin mengetahui 'isi' Abiyasa O'Grady yang tidak hanya cerdas di dunia engineering tapi juga banyak cerita perwayangan. Gandari sendiri sangat suka perwayangan apalagi orang tua angkatnya pengoleksi komik perwayangan milik komikus artis Indonesia, Teguh Santosa.
Contoh karya maestro Teguh Santosa
"Mas Abi" panggil Gandari.
"Ya, Ndari?" Panggilan Abi yang berbeda membuat wajah ayu itu memerah.
"Apa sebaiknya kita ke Café bersama dengan Mr Dewanata dan Ms O'Grady?"
Abi menoleh. "Kayaknya good idea deh soalnya aku juga lapar."
Gandari tersenyum lalu keduanya menuju ke cafetaria tempat Pandu dan Reana berada disana.
Setibanya disana rupanya keduanya asyik melihat-lihat katalog koleksi karya seni yang sedang dipamerkan.
Reana tersenyum melihat kembarannya datang bersama Gandari.
"Kemana saja tadi?" tanya Reana ketika Abi dan Gandari duduk di hadapannya dan Pandu.
"Muter-muter lihat Van Gogh terus ada lukisan Affandi juga disini sambil ngobrol soal perwayangan" jawab Abi santai.
"Kamu diajak ngobrol wayang?" tanya Reana ke gadis yang setahun di bawahnya itu. Tadi Reana dan Pandu mencari tahu tentang Gandari dari Bryan.
"Iya dan ternyata mengasyikkan ngobrol soal wayang dengan mas Abi" senyum Gandari sambil menoleh ke arah Abi yang masih sibuk memilih menu.
"Keluarga kami memang suka membaca soal wayang tapi jangan ajak kembaran aku nonton wayang kulit" kekeh Reana.
"Kenapa?"
"Karena bakalan ngorok dia" gelak Reana.
"Oh, Bulan depan ada pertunjukan wayang orang di Broadway. Aku baru saja mendapatkan informasinya tadi pagi. Apa Ms O'Grady dan Mr Dewanata..."
"Gandari, panggil nama saja. Kamu manggil mas Abi saja pakai nama, kok ke kita resmi" kekeh Reana.
__ADS_1
"Baik mbak Reana dan mas Pandu" senyum Gandari.
"Kamu mau makan apa Ndari?" tanya Abi yang membuat Reana dan Pandu melongo.
Apa? Manggilnya seperti itu? Reana menatap tidak percaya. Seumur-umur Abi bukanlah orang yang biasa memanggil nama depan teman-temannya atau orang yang baru dikenal apalagi dengan panggilan yang seperti personal.
"Ikut saja mas" jawab Gandari.
"Eh, Gandari tidak apa-apa kamu menemani kami seharian? Pekerjaan kamu gimana?" tanya Reana.
"Oh aku sudah bilang ke staff, menemani Keluarga Blair dan O'Grady jadi mereka paham. Siapa sih yang tidak mengenal kalian?" senyum Gandari.
Abi pun memesan makanan yang disamakan dengan Gandari. Para pegawai disana tidak terkejut melihat direktur nya duduk bersama dengan orang-orang terkenal jadi ketika melihat Gandari duduk bersama Abi dan Reana O'Grady, mereka biasa saja.
"Ohya, katanya kamu orang Semarang ya? Duh aku sudah lama tidak kesana" celetuk Reana. "Aku kangen bandeng presto, lumpia, jalan - jalan ke pasar gang baru kuliner disana..."
"Sama mbak. Aku sejak pindah kemari bersama Mom dan Daddy, belum sempat ke Semarang lagi" timpal Gandari yang tidak heran keluarga O'Grady sudah mencari tahu tentang dirinya.
"Ceritanya bagaimana kamu bisa diadopsi kemari?" tanya Abi.
"Pas aku SD kelas enam, aku mengalami kecelakaan di tol Salatiga bersama dengan kedua orangtuaku. Aku selamat, mereka tidak dan ternyata pada saat kejadian, mom dan dad eh Jason dan Jennifer Frank berada disana membantu aku keluar dari mobil. Mereka lah yang membiayai semua pengobatan aku dan membantu pemakaman orang tuaku. Setelah sembuh, ternyata rumah milik orang tuaku diambil alih oleh pamanku dan aku ditaruh di panti asuhan."
Abi, Reana dan Pandu terkejut mendengar cerita Gandari.
"Kamu beruntung mendapatkan orang tua angkat yang baik" timpal Pandu.
"Iya. Alhamdulillah. Daddy dan mommy seperti orang tua kandung aku sendiri. Mereka banyak memberikan pelajaran berharga dan aku tidak bisa seperti ini tanpa didikan mereka."
Abi tersenyum ke arah Gandari. "Sometimes disaat kamu terpuruk, pasti akan ada uluran tangan yang memberikan jalan yang lebih baik."
"Kamu benar mas. Siapa yang menyangka anak yatim piatu seperti aku, dibohongi, ditipu oleh keluarga sendiri, lebih diorangkan oleh orang asing hingga mendapatkan pendidikan yang aku tidak sangka akan mendapatkan. Dan sekarang aku memiliki pekerjaan yang cukup prestis dan bidang yang aku suka." Gandari tersenyum ke arah keluarga O'Grady.
"Apa kamu masih mau mengambil rumahmu?" tanya Abi. "Yang di Semarang? Memangnya di daerah mana?"
"Rumahku di daerah Kawi mas."
Abi memberikan ponselnya. "Ketikan alamatnya." Gandari pun mengetikkan alamat rumahnya yang di Semarang.
"Apa yang mas Abi akan lakukan?" tanya Reana.
"Mengambil kembali haknya Gandari lah!" jawab Abi cuek.
__ADS_1
"Eh? Tapi mas, biar aku sendiri yang ambil alih. Mas Abi tidak usah ikut campur hanya karena mendengar ceritaku. Jangan deh mas. Kita baru saja bertemu dan mas Abi baru mengenal aku" pinta Gandari yang tanpa sadar memegang tangan Abi.
"Tapi..."
"Mas Abi, Gandari benar. Bukan kapasitas kamu untuk intervensi kehidupan pribadi Gandari. Jika Gandari memang berencana hendak mengambil rumahnya, kita hanya bisa kasih dukungan." Reana menatap tajam ke Abi.
Apa-apaan ini kembaran aku langsung panasan tanpa menyelidiki!
"Dik Reana benar... Maaf Ndari, aku terlalu emosional karena kesal ada orang yang jahat kepada keponakannya sendiri bahkan baru kehilangan kedua orangtuanya." Abi tersenyum tipis.
"Maaf ya Gandari, mas Abi memang panasan orangnya dan paling tidak suka ada orang yang serakah" Reana menatap lembut ke Gandari.
"Tidak apa-apa mbak Reana. Aku malah senang bertemu dengan kalian yang notabene baru hari ini kita bersua tapi seperti sudah lama sekali" ucap Gandari.
"Apa karena sama-sama ada keturunan Indonesia?" celetuk Pandu.
"Bisa jadi sih mas" senyum Reana ke suaminya.
Abi melirik ke arah Gandari. Akan aku cari tahu kebenaran ceritamu Gandari. Dan jika memang pamanmu yang tidak tahu malu itu mengambil rumah peninggalan kedua orangtuamu, jangan harap mereka akan hidup tenang sekarang.
"Mas Abiiii..." desis Reana menatap tajam.
Damn aku lupa kalau punya saudara kembar yang bisa memindai pola pikiran ku.
"Apa sih dik?" Abi membalas tatapan Reana.
"Don't! Apapun yang ada di pikiran kamu, pokoknya jangan!" Mata biru Reana menatap Abi judes.
Abi pun hanya melengos.
"Apakah ini yang dinamakan cara telepati antar saudara kembar?" tanya Gandari saat melihat keduanya saling berpandangan judes.
"Bisa dikatakan begitulah" kekeh Pandu.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️