
Semarang Jawa Tengah
Pagi ini Abi, Travis, Gandari bersama dengan kapten Rasyad dan beberapa anak buahnya datang ke rumah di jalan Kawi. Mereka membutuhkan waktu dua hari untuk menyusun bukti - bukti pemalsuan dokumen dan sertifikat hingga penipuan asuransi.
Rombongan dengan dua mobil itu pun masuk ke dalam rumah yang pagarnya tidak ditutup dan segera semuanya turun. Kapten Rasyad pun memencet bel rumah sedangkan Gandari merasa asing dengan rumahnya sendiri apalagi spanduk 'Dijual' tertempel di depan pagar dan pintu garasi.
Lukman membuka pintunya sendiri dan tampak terkejut melihat seorang petugas kepolisian dengan berbagai atribut di hadapannya menatapnya dingin.
"Saudara Lukman Kristiawan?" tanya Kapten Rasyad.
"I..iya. Saya sendiri. Ada apa ya pak?" tanya Lukman bingung.
"Sayang, siapa di depan? Calon pembeli rumah ya?"
Kapten Rasyad menatap ke belakang Lukman dan tampak wanita berusia 40an dengan dandanan super heboh dan gaun ketat yang kapten Rasyad tahu itu bermerek Gucci memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Ah, bagus anda berdua ada di rumah semua! Perkenalkan, saya kapten Rasyad, Kapolsek Gajah Mungkur. Dan saya membawa surat penangkapan atas nama Lukman Kristiawan dan Anggita Kristiawan dengan tuduhan pembunuhan berencana, pemalsuan dokumen dan penipuan asuransi" seringai Kapten Rasyad.
"Eh! Eh! Pak kapten jangan seenaknya menuduh dong! Memang apa buktinya.?" sanggah Lukman.
"Banyak buktinya dan yang menuntut Anda pun ada!"
"Siapa?" tanya Anggita sombong. Tidak mungkin kan komplotannya karena mereka semua sudah dapat bagiannya.
"Halo semua" Gandari pun menampakkan diri. "Sudah kenyang makan uang haram? Apa masih kurang hingga rumah ini kalian jual? Oh, ngomong - ngomong apa kalian menemukan sertifikat asli rumah ini?"
Lukman dan Anggita melongo. "Gan...Gandari?"
"Oh, apakah kalian tahu ada lemari besi rahasia disini? Tentu tidak." Gandari pun masuk ke dalam rumah namun dicekal oleh Anggita.
"Eh jangan kurang ajar kamu ya! Sudah nuduh seenaknya, sekarang main masuk rumah orang sembarangan!" bentak Anggita.
"Rumah orang? Rumah orang? Ini rumah milik Lahita Kristiawan, bukan milik kamu!" balas Gandari dingin. "Lepas cekalan kamu atau.."
"Atau apa?" tanya Anggita menantang. Gandari memiliki tinggi diatas Anggita hanya tersenyum smirk.
Tanpa basa basi gadis itu mencengkeram leher gaun Anggita dan membuat wanita itu terkejut dan sesak nafas. Tanpa ampun Gandari mendorongnya ke tembok dengan keras membuat kepala Anggita membentur dinding itu hingga berbunyi 'Duk' cukup keras dan membuat Anggita nyaris pingsan dan lemas.
__ADS_1
"Kurang ajar kau!" Lukman hendak menerjang Gandari tapi sebuah tangan kekar mencengkeram kerah bajunya hingga dirinya terasa tercekik lalu tanpa aba-aba tubuh Lukman dibanting hingga telungkup.
"Jangan macam-macam dengan wanita yang sedang marah. Apa kamu tidak lihat dia ingin membunuh mu?" Abi membisikkan kalimat itu dengan dingin. "Tampaknya kamu patutnya dimutilasi dan dijadikan makanan piranha."
"Kapten Rasyad, bisakah anda ikut dengan saya?" pinta Gandari.
"Kamil, tahan mereka berdua, borgol kaki dan tangannya. Saya menemani Bu Gandari" perintah Kapten Rasyad.
"Siap Ndan!" Kamil dan beberapa anak buahnya menangkap Anggita yang sudah lemas dan Lukman yang masih tidak percaya keponakannya bisa bar-bar begitu.
"Kita kemana ini Ndari?" tanya Abi.
"Ke ruang kerja papa." Gandari membuka sebuah ruangan yang ternyata sudah berubah menjadi sebuah tempat bilyard.
Gandari lalu menuju ke sebuah lemari tanam disana dan membukanya yang ternyata menjadi tempat penyimpanan stik golf dan stik bilyard.
"Untung masih dipakai tidak dibongkar" kekeh Gandari yang mengambil sebuah kunci kecil. Sedikit meraba, gadis itu menemukan lubang kecil yang tersamar lalu memasukkan kunci itu. Dan terbukalah sebuah lemari besi yang ukurannya standar dan disana ada banyak perhiasan, surat-surat berharga dan beberapa serifikat tanah di daerah Kudus, Demak dan Kendal yang semuanya milik Lahita.
Abi, Travis dan Kapten Rasyad serta satu anak buahnya yang merekam untuk dokumentasi melongo melihat banyaknya barang berharga disana.
"Gimana kamu bisa tahu Ndari?" tanya Abi.
"Dan aku yakin sudah diambil semua oleh mereka" gumam Travis.
"Mbak Gandari, ini ada surat wasiat dan sebuah surat dari eyang anda" ucap Kapten Rasyad.
Semua orang disana pun membacanya diatas meja bilyard dan betapa terkejutnya kalau Lukman ternyata adalah anak angkat eyangnya. Lukman adalah anak hasil hubungan gelap adik eyangnya dengan pembantu rumah tangganya. Merasa kasihan karena ditolak sana sini, eyangnya mengangkat anak sebagai adik Lahita. Namun memang Lukman sejak kecil susah diatur hingga sang ayah memutuskan untuk tidak memberikan warisan banyak-banyak apalagi setelah berhubungan dengan Anggita.
Semua orang disana hanya bisa mengelus dada. Si anak angkat yang diopeni ternyata membalas kebaikan orang tua angkatnya dengan membunuh saudaranya angkatnya tanpa perasaan.
"Maaf tapi kalau bibitnya dari yang jelek, bisa menurun meskipun tidak semua sih" gumam Abi.
Gandari pun terduduk di sofa dengan lemas. "Astaghfirullah... astaghfirullah... Jahatnya... Jahatnya" ucapnya berulang.
"Sekarang kita ambil alih rumah Kawi. Semua penghuni kita suruh keluar karena tidak ada hak termasuk anak-anak Anggita!" ucap Travis. "Rumah ini kita segel. Bagaimana pak Kapten?"
"Setuju mas Travis. Ini benar-benar kejahatan luar biasa. Saya tidak menyangka sama sekali. Jahat yang..." Kapten Rasyad menghela nafas panjang. "Mbak Gandari, kuat?"
__ADS_1
Gandari menatap wajah kapten Rasyad. "Bawa saya ke kantor polisi. Biarkan saya sendiri yang menghajar manusia b@ngs@t itu!"
"Oh, saya sudah menghubungi semua pengacara di Semarang. Kasus ini sudah dihandle oleh Blair and Blair dan berhubungan dengan keluarga Blair dan Pratomo. Berani membela Lukman, dijamin tidak akan menang sama sekali" seringai Travis. "Lagipula, siapa yang berani macam-macam dengan calon cucu menantunya keluarga Blair?"
Gandari melongo. "Apa mas?"
"Eh Gandari, memang nya Abi nolong kamu nggak ada maksud? Dia itu sayang sama kamu cuma kaku saja kayak maminya" gelak Travis.
Abi melotot ke arah sepupunya dengan judes. "Kagak usah diperjelas cumiii!"
Kapten Rasyad tertawa. "Wah, mbak Gandari dan mas Abi sama-sama polos atau naif ya?"
Abi menatap Gandari. "Soal itu, kita bicarakan nanti. Sekarang, kamu jadi nggak menghajar manusia - manusia itu?"
Gandari mengangguk dengan wajah memerah. "Jadi lah mas!"
"Rustam, kamu, Effendi, Haryo berjaga disini sembari menyegel rumah ini. Jika anak-anak Lukman datang, suruh ke Polsek Gajah Mungkur menemui saya biar saya jelaskan kenapa kedua orangtuanya kita tahan dan rumahnya kita segel!" perintah kapten Rasyad.
"Siap Ndan!"
Keempatnya pun keluar rumah setelah Abi memasukkan semua isi brankas ke dalam tas selempang nya.
"Mas Abi..." bisik Gandari.
"Apa Ndari?" tanya Abi yang kini berjalan bersama Gandari di belakang Travis dan Kapten Rasyad.
"Apa benar ucapan mas Travis soal perasaan mas ke aku?"
Abi melengos. "Apa ya perlu diperjelas tho?"
Gandari hanya bisa melongo. Beneran mas Abi suka sama aku? Whaaaattt??? Wajah putih Gandari pun berubah seperti tomat.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️