
Duncan dan Rhea datang pada malam harinya setelah menempuh penerbangan delapan jam bersamaan dengan Hasyim dan Aisyah Al Azzam yang berangkat dari Dubai.
Keempatnya tampak perhatian melihat cucu laki-laki mereka yang masih harus di dalam inkubator dengan pengawasan ketat. Bayi yang lahir prematur memang rentan karena masih belum sempurnanya semua metabolisme dan imun tubuh.
"Bang, Rendra akan baik-baik saja kan?" tanya Rhea sambil menangis melihat cucunya tampak tidak berdaya di dalam dengan pengawasan suster dan dokter anak.
"Rendra kuat, Rey. Ingat dia anak siapa, cucu siapa, cicit siapa. Gen keluarga kita dan keluarga Al Azzam itu kuat. Insyaallah Rendra akan kuat meskipun harus di inkubator dulu." Duncan memeluk istrinya yang masih menatap sendu ke Direndra.
"Jeng Rhea, saya yakin Rendra kuat kok. Kita sebagai Oma dan eyangnya, hanya bisa memberikan doa buat cucu kita." Aisyah menggenggam tangan besannya.
"Aamiin. Insyaallah anak itu nurun Daddy, Opa, Eyang dan Ogannya yang sama-sama punya semangat hidup."
"Aamiin."
***
Duncan merasa gemas ketika Aidan meminta agar papinya tidak menuntut petugas cleaning service yang ceroboh kurang kering mengepel lantai rumah sakit.
"Sudahlah Papi, orang itu juga tidak bermaksud mencelakakan Thara. Namanya juga musibah jadinya Rendra lahir lebih cepat di Minggu ke 36." Aidan mengusap bahu Duncan agar mengurangi rasa amarah papinya.
"Tapi dia harus diberi teguran Ai. Ini untung Thara hampir lahiran, kalau yang masih trisemester pertama gimana? Bisa keguguran!" Duncan masih jengkel.
"Sudah diurus sama Arjuna dan Oom Elang papi. Cukup papi duduk manis dan minum teh serta camilan. Habis itu pulang, istirahat, besok kesini lagi." Aidan menatap serius ke Duncan.
"Kamu mulai berani usir papi?" pendelik Duncan.
"Dih, papi mah gitu. Maksud aku papi dan mami kan baru sampai, masih jetlag, harusnya istirahat dulu. Besok pagi bisa kesini lagi dengan lebih segar dan ganteng."
"Yang ganteng cuma Ogan kamu, Ai. Papi kan ga mungkin ambil alih gelar yang sudah diklaim Ogan kamu" kekeh Duncan mengingat mertuanya yang selalu julid dengannya dan Daddy Edward.
"Iyalah! Paling ganteng cuma Ogan Abi. Kalau papi tetap opa Duncan saja cukup."
***
Setelah dibujuk rayu oleh Aidan dan Thara, akhirnya keempat opa dan Oma baru itu mau pulang ke mansion Blair untuk beristirahat disana.
Aidan sendiri memilih memindahkan kasur buat pemunggu pasien dekat dengan istrinya. Setelahnya Aidan duduk di pinggir tempat tidur Thara.
"Capek?" tanya Aidan lembut.
__ADS_1
"Lebih kepikiran Rendra" jawab Thara apa adanya.
"Rendra pasti lagi tidur. Ayo, mommy juga istirahat biar besok ketemu Rendra sudah segar dan cantik." Aidan mencium kening Thara lembut. "Kalau kamu merasa ada yang sakit, kasih tahu aku ya. Atau kalau kamu tidak bisa tidur, ini ada roti." Aidan meletakkan beberapa bungkus roti.
"Roti? Buat apa?" tanya Thara bingung.
"Buat dilempar ke aku kalau kamu gagal membangunkan aku dengan suara mu" jawab Aidan cuek yang membuat Thara melongo.
"Oh astaga!"
***
Thara dan Aidan memutuskan untuk lama di rumah sakit sekitar dua Minggu hingga Rendra mulai bertambah berat badannya. Aisyah dan Rhea pun tidak mau jauh-jauh meninggalkan putri dan cucu mereka hingga akhirnya Duncan dan Hasyim memilih pulang ke New York dan Dubai terlebih dahulu.
Rhett, Kaia bersama kedua anak kembar mereka Abi dan Reana, datang ke London untuk menjenguk keponakan dan sepupu mereka.
Kaia sendiri yakin kalau Rendra akan baik-baik saja dan akan menjadi pria yang tampan jika dewasa nanti.
"Yakin deh sama aunty Kaia kalau Rendra akan seperti Abi dan Reana nantinya, jadi anak yang cerdas dan tampan" ucap Kaia serius.
"Aunty?" Aidan melirik ke kakaknya.
"Lho bener kan? Harus beda sendiri lah!" tukas wanita berambut pirang itu.
Rhett hanya mengacuhkan keributan kedua kakak beradik itu dan dia lebih memilih mengajak Abi dan Reana untuk mengajak bicara keponakannya.
"Dik Rendra, ini mas Abi. Dik Rendra cepat besar ya, nanti bisa main sama mas Abi" ucap Abiyasa, putra Rhett dan Kaia.
"Dik Rendra kok bobok terus ya pa?" tanya Reana. Gadis cilik berambut pirang seperti sang mama tampak sedih melihat adiknya masih harus terpasang kabel di tubuhnya.
"Dik Rendra kan masih kecil jadi harus banyak bobok supaya cepat besar" ucap Rhett.
"Kapan bisa sebesar dik Rama?" tanya Reana mengingat adiknya yang juga masih bayi di rumah Arjuna.
"Tunggu beberapa bulan lagi nanti dik Rendra akan sebesar dik Rama" jawab Rhett.
"Dik Rendra, cepat sehat dan besar ya" bisik Reana penuh perhatian.
***
Tak terasa baby Rendra sudah berusia tiga bulan dan sudah pulang ke mansion. Dokter anak yang memantau Rendra mengatakan bahwa akan ada beberapa masalah yang akan dihadapi pada bayi prematur seperti masalah kesehatan yang lebih rentan dari bayi yang lahir cukup bulan.
__ADS_1
Semenjak hari kedua di inkubator, Thara selalu memaksa untuk memberikan ASI eksklusif bagi Rendra. Thara percaya bahwa dengan ASI nya, putranya akan lebih cepat kuat dan memiliki tumbuh kembang yang baik. Bahkan Thara merasakan ikatan yang kuat dengan putranya.
Dua Minggu Rendra berada di rumah, kedua orangtua Thara datang untuk menemani putri dan cucunya karena Aidan harus berangkat ke Tokyo untuk menghadiri pernikahan Fuji dan Seira Hayami.
"Kamu nggak papa aku tinggal ke Tokyo?" tanya Aidan sedikit khawatir karena kalau bukan Fuji yang menikah, dirinya tidak akan berangkat.
"Nggak papa, kan ada Abah dan Umi disini. Lagipula ada Bu Najwa juga yang dulu menjadi nannyku. Aku banyak bantuan Ai. Sudah kamu berangkat ke Tokyo." Thara mendorong tubuh suaminya keluar dari kamarnya.
Pasangan suami istri itu pun turun sembari bergandengan tangan. Di bawah tampak Aisyah sedang asyik menggendong cucunya yang antusias memainkan hiasan hijabnya.
"Sudah siap mau berangkat?" tanya Hasyim melihat menantunya sudah membawa traveling bag.
"Iya Abah. Sebentar lagi" jawab Aidan. Suara ponselnya berbunyi dan tampak wajahnya tersenyum miris.
"Kenapa Ai?" tanya Thara.
"Levi tidak bisa terbang ke Tokyo gara-gara Hoshi kena campak alias gabagen. Ini dia dan Yanti lagi pusing menghadapi Hoshi yang rewel" ucapnya.
"Owalaahhh, kasihan" sahut Aisyah. Rendra tampak rewel lalu Thara pun mengambil alih putranya dari sang eyang.
"Anak ganteng mommy kenapa rewel?" goda Thara sambil menggendong Rendra.
"Sayang, hold still. Aku ambil gambar kalian." Aidan lalu memotret keduanya.
"I really love you both." Aidan mencium pipi Thara dan Rendra bergantian.
"We love you too Daddy."
Aidan pun bersiap pergi ke Tokyo bersama dengan keluarga Arjuna.
*** END ***
Yuhuuuu Alhamdulillah selesai juga cerita Aidan Blair dan Thara Azalea.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1
Lope lope sekebon dari bang Aidan dan neng Thara