My Cold Chef

My Cold Chef
Aidan dan Duncan Blair


__ADS_3

Aidan mengajak Thara ke halaman belakang rumah Arjuna dan menyuruhnya duduk. Sekilas dia teringat saat Bara hilang dan Thara memberikan waktu seminggu untuk berduka dan setelahnya dia harus move on.


"Kamu tunggu disini." Sedingin-dinginnya Aidan tapi melihat wajah pucat dengan tubuh gemetar dan keringat dingin membanjiri tangan serta kening Thara, dirinya tidak tega juga. Hanya aktris handal yang bisa bersikap seperti itu.


Aidan meminta kepala pelayan Arjuna, Gina, untuk membuatkan teh camomile untuk Thara. Tak lama dua buah cangkir dan teko berisi teh camomile itu tersedia di meja depan sofa.


"Minum!" perintah Aidan ke Thara setelah menuangkan teh. Tidak mau membuat pria dingin itu semakin dingin, Thara mengambil cangkir berisikan teh panas dengan tangan gemetar dan perlahan menyesapnya.


Aidan menatap gadis itu sembari bersedekap. Mata birunya semakin biru ketika hatinya sedang kesal.


"Kamu butuh konseling buat trauma healing kamu?"


Thara menggeleng. "Tidak usah" bisiknya.


"Terserah!" Aidan hendak pergi meninggalkan Thara namun tangannya dipegang oleh gadis itu.


"Apa aku benar-benar tidak termaafkan, Ai?" Thara menatap Aidan dan Aidan bisa melihat mata hijau itu tampak terluka dan sedih.


"Kalau kamu di posisiku, bagaimana rasanya? Tidak dianggap, diremehkan. Apakah kamu memikirkan itu Thara?" Aidan menatap tajam ke Thara.


"I'm so sorry Aidan. So sorry" suara Thara terdengar gemetar. "Aku tahu aku salah, salah besar. Aku benar-benar minta maaf, Ai."


Aidan menepis pegangan Thara lalu wajahnya mendekat ke wajah gadis itu. "Kamu sudah membuat aku menghajar Sous chef terbaikku, menghajar sepupuku sendiri. Apa kamu sadar kekacauan yang kamu perbuat? Apa kamu tahu bagaimana aku jatuh bangun membuat RR's Meal menjadi seperti sekarang ini? Hanya berbekal nama 'Blair' itu tidak cukup untuk membuat restauran warisan Opaku dan Opa Ryu menjadi seperti ini. Ada keringat dan air mata untuk membuatnya menjadi bangkit kembali."


Mata hijau Thara membulat dan air mata pun menggenang disana. Dirinya benar-benar membuat Aidan terluka. Dirinya tidak tahu ataupun mencari info bagaimana Aidan membangun restaurannya.


Aidan menjauhkan wajahnya dan duduk di seberang Thara.


"Aku masih 18 tahun saat lulus sekolah culinary dan selama setahun setelahnya aku mempelajari manajemen restauran dengan bekerja dari bawah di MB Restauran. Padahal itu adalah milik keluarga ku tapi aku bekerja dari bawah, dari tukang cuci piring! Kenapa aku memilih dari bawah? Agar aku bisa melihat etos kerja para pegawai. Sengaja aku tidak memakai nama Blair di belakang namaku agar aku leluasa bekerja.


Head chef saat itu tidak mengenali siapa aku dan aku bisa melihat kinerja mereka semua, siapa-siapa yang loyal dan siapa-siapa yang bang*sat! Perlahan aku mulai naik menjadi asisten cook, lalu menjadi cook dan terakhir menjadi Sous Chef. Pada saat itu aku membuka kedokku."


Aidan mengambil teko dan mengisi cangkir kosongnya dengan teh camomile lalu menyesapnya.

__ADS_1


"Aku membuang orang-orang yang tidak memiliki passion, dedikasi dan loyalitas. Aku mulai merekrut orang-orang terpilih dan Xander adalah salah satunya. Dia adalah orang yang berdedikasi tapi karena bujuk rayumu, dia bisa berubah. Kamu benar-benar menggunakan gelarmu ya Thara."


Aidan menyesap tehnya lagi. "Kukira kamu adalah wanita yang berbeda tapi ternyata sama saja. Lupa jika sudah memiliki status sosial tinggi sehingga bisa seenaknya. Tapi kamu berhadapan dengan orang yang salah, Thara. Memang benar kamu dua langkah di depanku tapi strategi yang kamu perbuat adalah bumerang untukmu sendiri karena aku tidak respek sama sekali dengan strategi mu."


Thara hanya menunduk dan air mata mengalir di pipinya yang mulus. "I'm sorry Ai. I'm so sorry" ucapnya berulang.


Aidan hanya menghembuskan nafas panjang. "Aku maafkan tapi untuk percaya lagi padamu, aku belum bisa."


Aidan pun berdiri. "Hati-hati pulangnya."


"Aidan Richard Giandra Blair. Dimana sikap gentelman kamu?"


Aidan melongo. "Papi?"


***


Duncan Blair menatap wajah tampan putranya dengan perasaan gemas dan ingin menjitak kepalanya. James Blair dan Xander sudah menceritakan apa yang terjadi, membuat Duncan memutuskan terbang ke London tanpa Rhea. Istrinya itu pasti akan lebih bar-bar menghajar putranya kalau tahu si bontot ngambek berkepanjangan.


Duncan sendiri tidak kaget jika sikap dan sifat Aidan mirip Yuna sang mommy yang kalau sudah kecentok, bakalan lama luluhnya bahkan Duncan juga tahu bagaimana sulitnya Edward Blair sang Daddy merayu mommy nya sampai benar-benar mau luluh lagi. Dan putranya mewarisi sifat Yuna secara harafiah.


Aidan menatap Duncan dengan wajah masam. "Seriously Pi? Apa Thara memulai dramanya dengan mengadu ke papi?"


Duh! Nurun mommy benar judesnya!


"Thara tidak mengadu ke papi. Sama sekali! Papi mendengar dari James saat dia ke New York dengan pipi biru. James tidak mau cerita tapi papi mendesaknya dan papi tahu apa yang terjadi."


"So?"


"Soto! Duh papi jadi kangen soto buatan mamimu... Anyway, papi tidak membela Thara tapi apa kamu tidak capek menindas dia? Kamu itu benar-benar Oma Yuna plek ketiplek kalau sudah keluar tanduknya!" sungut Duncan.


"Biar Thara tahu aturannya Pi. Jangan mentang-mentang dia merasa dekat dengan keluarga kita jadi seenaknya!"


"Thara kan merasa dekat dengan kalian jadi dia merasa it's okay..."

__ADS_1


"It's NOT Okay Pi! Dia bisa masuk RR's Meal Dubai sesuai dengan aturan, lalu kenapa tidak bisa saat mau masuk West End? Apa karena dia sudah merasa jadi Putri seorang Emir di Dubai, pewaris gelar Al Azzam jadi menganggap semua itu bisa sesuai dengan keinginan dia? Iya? Gitu?"


"Aidan... "


"Papi kan tahu bagaimana aku membangun RR's Meal dari jaman bobrok hingga menjadi sekarang ini seperti apa. Dan dia datang merusak semua fondasi yang aku bangun susah payah!"


Duncan mengatupkan kedua tangannya di atas meja kerja milik Arjuna. Kedua ayah dan anak itu sekarang berada di ruang kerja ayah Rajendra.


"Papi tahu, Aidan tapi hukumanmu sudah cukup boy. Thara sudah melalui banyak hal dalam hidupnya, jangan kamu tambah lagi. Jangan sampai ada penyesalan nantinya, Ai."


Aidan menatap mata biru Duncan yang lebih pucat daripada mata birunya.


"Apa kamu tidak capek Ai? Emosimu jadi berantakan, drama tidak berkesudahan? Mau sampai kapan?"


Aidan hanya terdiam.


"Beruntung mamimu tidak ikut, sebab papi yakin, telingamu akan habis dijewer oleh istri papi yang cantik itu" kekeh Duncan.


"Istri papi itu mamiku lah!" sungut Aidan. Duncan terkekeh.


"Turunkan egomu Ai. Papi rasa Thara sudah banyak belajar akan peristiwa ini apalagi yang dihadapi adalah Aidan Blair, chef paling dingin di London."


Aidan hanya menghembuskan nafas panjang.


"Ai, menurunkan ego bukan berarti kamu mengalah atau kalah tapi menunjukkan bahwa kamu memiliki sikap yang harus dihormati oleh orang lain. Percaya sama papi."


Aidan menatap Duncan dengan tatapan bimbang.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2