My Cold Chef

My Cold Chef
Bertemu Hasyim dan Aisyah Al Azzam


__ADS_3

Pesawat yang membawa Thara dan Rajendra tiba di bandara internasional Dubai dan langsung menuju hanggar private milik keluarga Al Azzam. Thara dan Rajendra saling bergandengan erat ketika pintu kamar di pesawat terbuka dan tampak pengawal yang menembak mati Johnny berdiri disana.


Tunggu saja pembalasan papaku! Aku yakin, hidup kamu tidak akan lama! Rajendra menatap pria itu dengan penuh kebencian.


"Ayo jalan!" bentak pria itu. Diam-diam Rajendra memencet sebuah tombol di jam mainannya dan terdapat mini cam disana yang bisa memperlihatkan wajah orang langsung ke laptop Abian, Bryan dan Arjuna.


"Kamu sudah membunuh Oom Johnny dan aku yakin hidupmu tidak akan lama!" ucap Rajendra dengan bahasa Indonesia.


"Kamu ngomong apa bocah!" bentak pria dengan bahasa Arab itu hendak memukul Rajendra yang langsung ditahan tangannya oleh Thara.


"Apakah kamu pria? Beraninya sama anak kecil! Aku yakin bu*rungmu pasti kecil ukurannya karena nyalimu hanya bisa segini!" Thara menatap tajam ke orang itu.


Pria Arab itu tidak bisa berbuat apa-apa karena perintah dari pangeran Ja'far dan Raja Hamid Al Azzam jangan sampai gadis di hadapannya terluka.


"Jalan!" bentak pria itu ke Thara dan Rajendra.


Thara menggenggam tangan Rajendra erat. "Harus berani Jendra. Yakin papamu dan Oom Aidan akan membebaskan kita berdua" ucap Thara dengan bahasa Indonesia.


"Iya Tante" jawab Rajendra tegas namun dia masih memperlihatkan orang-orang lainnya di pesawat. "Orang yang kumisnya melintang menembak Oom Johnny di kepala. Orang yang ada tahi lalat di bawah dagu, menembak Oom Johnny di dada" gumamnya dengan mata coklatnya yang menyala-nyala.


Andaikan aku sudah dewasa, kalian semua tidak akan aku biarkan hidup!


***


Bryan segera mengirimkan hasil kamera dari jam tangan Rajendra ke ponsel Arjuna dan Elang. Pria tampan itu tahu bagaimana dendamnya ayah dan anak itu ke orang-orang yang membunuh Johnny. Bahkan Sekar pun tampak tidak ragu meminta suaminya menghilangkan nyawa orang padahal Bryan tahu bagaimana kakak ipar sepupunya yang cantik itu bukan tipe cewek bar-bar dan sadis.


Rasa Kehilangan membuat orang mampu merubah pola pikir. Mbak Sekar yang kaku saja bisa savage. Memang pantas jadi istri Junjun.


"Bry, ini anakku cerdasnya bukan main! Ternyata dia tahu bahwa papa dan opanya akan membalaskan dendamnya" ucap Arjuna sambil melihat satu persatu orang-orang yang membunuh Johnny.


Arjuna kini sedang berada di pesawat milik keluarga McCloud bersama dengan Elang, Aidan dan Karl Schumacher sedangkan Xander tetap mengelola restauran. Karl dan Xander yang mendengar Rajendra dan Thara diculik lalu Johnny beserta anak buahnya dibunuh, tentu saja tidak terima.


"Kak Juna, aku minta setelah ini selesai, Rajendra dibawa ke psikolog anak agar menghilangkan traumanya. Kasihan anak lima tahun harus melihat pembunuhan di depan matanya." Bryan memang lebih melihat efek kejiwaan dan psikologis Rajendra meski tahu bocah itu mewarisi sifat cool Elang dan kuatnya Arjuna tapi tetap saja dia anak kecil.


"Tenang saja Bry. Aku sudah memikirkannya."


"Oh kak Juna, aku kirimkan foto tebaru Hamid Al Azzam, Ja'far dan Bhizad. Silahkan dihabisi" seringai Bryan.

__ADS_1


***


Iwan langsung pergi menuju kota Ungaran untuk menemui Hasyim dan Aisyah Akbar. Pria tampan itu akan membawa pasangan suami istri itu terbang ke Dubai untuk mengambil alih kekuasaan sebelum Hamid dan Ja'far berbuat macam-macam kepada Thara dan Rajendra.



Iwan Aradhana


Ungaran di pagi hari udaranya terasa segar apalagi semalaman turun hujan membuat hawa dingin pun terasa. Iwan datang bersama dengan dua pengawalnya yang memang diminta oleh Danisha dari Savitri Pratomo.


Jam delapan pagi, Iwan sudah sampai di depan rumah Hasyim Al Azzam alias Hasyim Akbar dan menunggu pintu dibuka. Tak lama Hasyim pun muncul dan pria itu tampak terkejut melihat Iwan.


"Maaf, cari siapa mas?" tanya Hasyim.


"Assalamualaikum Abah Hasyim Al Azzam" sapa Iwan sopan yang membuat pria paruh baya itu terkejut.


"Wa'alaikum salam. Astaghfirullah... Saya bukan Hasyim Al Azzam, mas" elak Hasyim berusaha menghilangkan rasa terkejutnya.


Iwan hanya tersenyum manis. "Maaf saya belum memperkenalkan diri. Nama saya adalah Iwan Aradhana, menantu Ghani Giandra. Abah pernah mendengar nama Giandra Otomotif Co?"


"Mari masuk nak Iwan, tidak pantas kita berbicara di pintu." Hasyim pun masuk ke dalam rumah diikuti Iwan, sedangkan dua pengawal duduk di teras sembari mengawasi sekitar.


"Njih pak" jawab Iwan sopan.


"Giandra Otomotif Co. Siapa yang tidak kenal perusahaan itu mas. Anak tetangga kami bekerja disana sebagai teknisi dan bercerita bahwa dia sangat suka disana" senyum Hasyim. Aisyah yang melihat ada tamu, lalu masuk ke dalam dapur untuk membuat minuman. "Lalu ada hubungan apa dengan saya, nak Iwan?"


"Adik pak Ghani, mertua saya, menikah dengan tuan Duncan Blair yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Al Jordan."


Wajah Hasyim terkejut mendengar nama keluarga yang selalu dimusuhi oleh Hamid.


"Al Jordan?"


"Benar Abah. Nyonya Rhea Giandra menikah dengan tuan Duncan Blair yang masih sepupu dengan tuan Mamoru Al Jordan, Nyonya Miki Al Jordan dan tuan Masayuki Al Jordan. Mereka bertiga adalah putra..."


"Hiroshi Al Jordan" ucap Hasyim. "Kakek saya adalah teman Hiroshi Al Jordan dan Keiji Al Jordan. Saya mengenal Senna dan Kai Al Jordan tapi tidak terlalu dekat karena Hamid selalu membuat ulah hingga keluarga kami berseteru dan celakanya pihak pemerintah Dubai dan Arab Saudi lebih memilih berhubungan dengan keluarga Al Jordan."


"Betul Abah. Maksud kedatangan saya kemari, hendak meminta Abah dan Umi ..." Iwan menunggu sampai Aisyah meletakkan cangkir berisikan teh panas itu di atas meja tamu dan wanita paruh baya itu meletakkan baki di meja makan lalu duduk bersama keduanya. "Umi" Iwan memberikan salim ke Aisyah.

__ADS_1


"Bagaimana nak..."


"Iwan, Iwan Aradhana, Umi."


"Iya nak Iwan. Bagaimana?" tanya Aisyah lembut.


"Maaf jika kedatangan saya kemari membawakan kabar tidak enak. Putri Abah dan Umi, princess Thara Azalea Al Azzam diculik oleh Ja'far Al Azzam."


Kedua orang tua itu terkejut. "Astaghfirullah Al Adzim. Bagaimana ceritanya nak? Thara bagaimana?" tanya Aisyah panik. Iwan bisa melihat bahwa mereka adalah orangtua kandung Thara.


Iwan pun menceritakan dari awal mula Thara kabur ke London tanpa menceritakan kejadian memilukan yang menimpanya karena tidak mau menambahkan beban pikiran hingga kejadian penculikan di depan sekolah Rajendra.


"Lalu Thara dan Rajendra dibawa ke Dubai?" tanya Aisyah panik.


"Iya Umi, sekarang keluarga besar kami sedang menuju Dubai."


"Maaf nak Iwan, keluarga besar?" tanya Hasyim tidak paham. "Kalian dari keluarga Blair, Al Jordan, dan McCloud. tapi maksudnya keluarga besar bagaimana?"


Iwan tersenyum. "Dengan siapa Hiroshi Al Jordan menikah?"


"Shanum...Pratomo" bisik Hasyim lalu matanya membulat. "Astaghfirullah, nama-nama keluarga itu berhubungan dengan keluarga Pratomo?"


Iwan mengangguk.


"Mereka salah mencari lawan! Nak Iwan, kapan kita ke Dubai? Sudah waktunya saya ambil alih kekuasaan Al Azzam karena mereka sudah terlalu lama disana!" Wajah Hasyim mengeras dan tampak geram. Iwan merasakan aura kepemimpinan dari pria Arab itu.


"Hari ini! Tenang Abah, jika dulu Abah tidak memiliki sekutu yang kuat untuk melawan mereka, kali ini Abah mendapatkan dukungan penuh dari kami."


"Mari kita bebaskan putriku!" timpal Aisyah.


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


Jangan lupa tiga besar top fans akan mendapatkan pulsa @50k.


__ADS_2