My Cold Chef

My Cold Chef
Kepercayaan itu Penting


__ADS_3

Aidan dan Duncan keluar dari ruang kerja Arjuna dengan wajah datar. Keduanya tampak seperti baru saja melakukan pembicaraan yang menguras energi. Aidan melihat Thara duduk bersama dengan Rain di halaman belakang dan tampak gadis itu hanya menunduk mendengarkan ucapan Rain.


"Duncan, kemana tadi kamu?" tanya Elang yang sedang mengobrol dengan Aksara, Ghania dan Arjuna.


"Ngobrol dengan Aidan. Apa kabar Aksara, Ghania" Duncan menyalami keduanya. "Maaf tadi aku tidak melihat kalian berdua."


"Tidak apa Mr Duncan, tadi kami membesuk Rajendra di kamarnya jadi anda tidak melihat kami." Aksara tersenyum.


"Rajendra gimana Jun?" tanya Duncan ke keponakannya.


"Senang dia, sudah ditengok ayang Aruna" sungut Arjuna sambil manyun.


Aksara terbahak. "Kalau Aruna dan Rajendra berjodoh, kamu kan tidak perlu repot-repot screening Jun. Lagipula, aku lebih ayem kalau nanti dewasa, Aruna dengan Rajendra."


"What? Rajendra naksir Aruna?" Duncan tertawa terbahak-bahak. "Astagaaaaa Jeremy, ada yang nurun dari kita berdua."


"Maksudnya gimana Mr Duncan?" tanya Ghania bingung. Meskipun dalam hatinya masih tidak I'llpercaya putrinya sudah ditaksir Rajendra dari belia tapi dia sama dengan suaminya, lebih tenang siapa keluarga Rajendra.


"Aku sudah klaim istriku, Rey, sejak dia belum lahir. Jeremy, papanya Juna, sudah naksir Rain sejak SD." Duncan tersenyum. "Pria dan wanita di keluarga kami memang punya dramanya sendiri."


"Aku keatas sebentar lihat Rajendra" pamit Aidan.


"Ai, tolong bilang ke Aruna, waktunya pulang" pinta Ghania.


"Oke." Aidan pun naik tangga menuju kamar Rajendra.


Aidan sendiri pernah naksir Ghania, gadis Jawa Indonesia yang selalu tersenyum ramah setiap dirinya ke coffee shop dekat MB Restauran. Saat itu Aidan 19 tahun, Ghania sudah berusia 22 tahun. Aidan tidak mengetahui kalau Ghania sudah menjalin hubungan asmara dengan Aksara Lewis, pria campuran Inggris Turki.


Tak lama, Aidan mendengar kalau keduanya menikah dan pindah ke Bedfordshire karena Aksara memiliki usaha pertanian dan perkebunan disana. Pada saat Aidan resmi mengambil alih MB restauran dan RR's Meal lalu memergerkan keduanya menjadi RR's Meal di bawah bendera PRC group, dia mulai melakukan kerjasama mengambil pasokan bahan makanan di Lewis Farming hanya karena ingin melihat apakah Ghania bahagia menikah dengan Aksara. Hatinya lega melihat wajah berseri-seri Ghania saat tahu Aidan menjadi chef dan partner bisnis suaminya.


Dan kini keponakannya Rajendra naksir anak Ghania. Benar-benar takdir mempunyai maunya sendiri.


***


"Thara, Tante tidak menyalahkan Aidan kalau sampai seperti itu sama kamu karena disini kamu posisinya memang salah tapi Tante juga tidak suka melihat kamu diacuhkan dan dimarahi sedemikian rupa sama Aidan" ucap Rain sambil mengelus bahu Thara.


"Aku sudah berkali-kali minta maaf, Tante tapi sepertinya Aidan benar-benar murka denganku."


Rain tersenyum. "Sifat Aidan itu nurun dari omanya, Tante Yuna. Omanya Ai itu orangnya punya sikap tegas dan harga diri tinggi. Hanya karena Tante Yuna sebenarnya cinta sama Oom Edward saja jadi mau bersama lagi padahal Oom Edward sudah bikin Tante Yuna kecentok."

__ADS_1


"Tapi aku dan Aidan kan tidak saling cinta, Tante. Apalagi setelah kejadian ini, sudah pasti Aidan akan memilih menjauh dariku apalagi aku bisa melihat cara pandang Aidan ke Ghania."


Rain tersenyum. "Ai memang sempat naksir Ghania tapi Ai juga gentleman, mundur setelah tahu Ghania sudah bertunangan dengan Aksara."


"Aksara tahu?"


"Tahu tapi karena Aidan gentle bisa memisahkan perasaan dan profesional, mereka menjadi partner bisnis dan bersahabat. Karena pada dasarnya, Ghania hanya mengganggap Aidan teman jadi mereka fine fine saja."


Rain mengusap rambut panjang Thara yang tebal. "Ada baiknya kamu pulang dulu ke Dubai jika disini kamu hanya ribut saja dengan Ai. Kalian berdua butuh cooling down."


"Tapi Tante, pekerjaan di RR's Meal lagi ramai-ramainya."


"Tak ada salahnya kamu pulang dulu barang dua tiga hari setelah pekerjaan kamu tidak terlalu banyak. Karena Tante sendiri sedih melihat kalian berdua menjadi seperti ini. Apalagi kamu sudah menyesal dan tidak akan berbuat seperti ini lagi bukan?" Rain menatap Thara lembut. "Keluarga kami memang open kepada siapa saja tapi kami juga punya aturan tersendiri, Thara."


"Iya Tante. Ini semua murni kesalahan saya yang tidak percaya kepada Aidan" bisik Thara.


"Nah itu. Kepercayaan. Jika saja kamu percaya, semua kejadian ini tidak akan terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Tante tidak meminta kamu mengemis maaf ke Aidan lagi karena sudah cukup melihat kamu berantakan seperti ini." Rain menyingkirkan rambut yang terjatuh di depan wajah Thara dan menyisipkan ke telinga gadis itu. "Bersabarlah. Lama-lama marahnya Aidan akan selesai."


***


"Oom Ai, mau sampai kapan marahan sama Tante Thara?" Rajendra menatap wajah tampan Oomnya yang tampak lelah dengan tajam.


"Benar kan Oom marahan? Apa nggak capek Oom marahan? Kalau aku capek lama-lama marahan sama Aruna" ucap Rajendra dengan gaya menyebalkan yang mirip Arjuna.


"Ih Jendra lebay!" sungut Aruna.


"Aruna, ada pesan dari mamamu, diajak pulang." Aidan memandang gadis cilik itu.


"Oh. Oke. Jendra, pulang dulu. Cepat sembuh anak ceroboh!" Aruna mencium punggung tangan Aidan dan Sekar bergantian. "Oom Aidan, Tante Sekar, Aruna pulang dulu."


"Oke sayang. Yuk Tante antar ke bawah." Sekar menggandeng tangan mungil itu.


"Aruna!" panggil Rajendra.


"Apa?" Aruna menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Sekar.


"Kamu kok ga cium tangan aku?" cengir bocah tampan itu. Sekar dan Aidan melongo tidak percaya mendengar ucapan Rajendra.


"Astagaaaaa!" gumam Aidan sambil tersenyum geli.

__ADS_1


"Ogah! Wek!" Aruna menjulurkan lidahnya ke Rajendra.


Sekar pun tertawa geli melihat kegombalan putra sulungnya. "Rajendra" tegurnya.


"Assalamualaikum" pamit Aruna.


"Wa'alaikum salam" balas Rajendra dan Aidan.


Ditinggal Sekar dan Aruna, Rajendra menatap tajam ke arah Oomnya.


"Memang kesalahan Tante Thara fatal ya Oom? Sampai-sampai Oom tidak mau maafin?"


"Bagi Oom fatal, Jendra."


"Oom, Allah itu Maha Pemaaf, kok Oom nggak bisa maafin sih?"


Aidan menghela nafas panjang. "Oom sudah maafkan Jendra, hanya saja Oom ingin memberitahukan bahwa ada aturan dalam pekerjaan yang harus dipatuhi terutama soal kepercayaan. Kalau dari awal tidak ada rasa percaya, ngapain harus diurusi."


Thara yang hendak berpamitan dengan Rajendra terdiam mendengar ucapan Aidan.


"Rajendra pasti ada rasa percaya sama Aruna kan?" tanya Aidan.


Rajendra mengangguk. "Jendra percaya Runa baik biarpun judes."


"Nah itu. Kalau dari awal ada rasa percaya, Oom tidak akan marahan Jendra. Oom merasa tidak dipercaya oleh Tante Thara dan lebih percaya dengan Oom Xander. Ya sudah! Tapi Tante Thara lupa, Oom Xander itu siapa. Itu duduk masalahnya, Jendra. Kalau kamu besar nanti dan mulai mengambil alih RR's Meal, kamu akan tahu apa artinya kepercayaan dan etika melamar pekerjaan." Aidan menatap sendu ke keponakannya.


Thara bersandar di dekat pintu kamar Rajendra dan menangis diam-diam.


Lebih baik aku pulang ke Dubai. Benar kata Tante Rain, kami berdua butuh cooling down.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaa


Insyaallah Hoshi Senin launching


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2