
Apartemen Gandari
"Eeehhheeemmmm!" suara dehem terdengar keras di layar tv membuat Abi melepaskan pagutannya ke Gandari. "Mas Abi, ciumannya nanti saja" ucap Kapten Rasyad dengan nada garang.
"Eh? Hahaha... Maaf, saya terlalu excited" cengir Abi sedangkan Gandari tampak merah padam wajahnya malu kepergok bermesraan dengan pria berbadan besar itu.
"Mbak Gandari, apa anda tidak keberatan dengan putusan hukuman?" tanya jaksa Bramantya.
"Tidak pak Bramantya. Menurut saya sudah pas meskipun saya inginnya mereka maksimal sih tapi percuma kan, tetap tidak bisa mengembalikan kedua orang tua saya" jawab Gandari.
"Kalau mereka melakukan banding?" tanya jaksa Bramantya.
"Silahkan saja karena itu hak mereka tapi tetap keputusan nanti di tangan hakim kan?" Gandari menatap jaksa Bramantya. "Saya yakin bandingnya pasti juga ditolak mengingat kejahatan mereka di luar nalar manusia."
Abi menatap lembut ke gadis yang wajahnya makin cerah karena sudah hilang beban yang ditanggungnya selama hampir dua bulan ini. Meskipun Abi ingin melempar mereka semua menjadi santapan piranha tapi pria itu realistis karena tidak mungkin membawa kelima orang itu ke Tokyo ataupun Amazon sekalipun.
Setelah berbincang sebentar, akhirnya live streaming itu selesai.
***
"So, Sabtu depan aku akan ke Connecticut langsung mau melamar kamu, Ndari." Abi menatap serius ke wajah cantik di depannya.
"Iya mas."
"Kamu mau pakai cincin emas kuning atau putih buat tunangannya?" tanya Abi.
"Terserah mas Abi."
"Kok terserah aku? Kan kamu yang mau pakai. Bagusnya di jari kamu apa?" Abi melirik ke sepuluh jari Gandari yang hanya ada sebuah cincin emas sederhana di telunjuk. "Cincin emas kuning bagus terus nanti pas nikahnya beda lagi."
Gandari melongo. "Kenapa nggak jadi satu saja mas cincin tunangan dan nikah? Kan eman-eman duitnya."
Abi melotot. "Kamu tuh!" sungutnya sambil menselentik dahi Gandari. "Dikira aku nggak bisa beli apa!"
Gandari terbahak sambil memegang dahinya yang kena slentik. "Daripada dobel-dobel mas."
Abi mendengus sebal. "Kamu mau minta mahar apa?"
"Mungkin ini jawaban yang diplomatis. Yang tidak memberatkan mas Abi, tidak merendahkan aku dan berguna bagi masa depan kita berdua." Gandari tersenyum manis.
Abi tampak berpikir lalu tersenyum smirk. "Oke!" cengirnya.
Gandari mengangguk. Kayaknya mas Abi mau kasih standar rumah dan mobil. Tapi apapun itu yang penting mas Abi ikhlas kasihnya.
***
Penthouse O'Grady Manhattan
Kaia dan Rhett menyambut baik permintaan Abi untuk melamar Gandari Sabtu depan. Apalagi hari itu mereka semua tidak ada acara party ramah tamah lainnya. Kalau pun ada, Kaia dan Rhett lebih memilih mementingkan anak Lanang.
"Kalau begitu, besok Sabtu, kita ke mansion Blair sekalian memberitahukan Opa dan Oma. Oh, kamu jangan parno ya Bi" seringai Kaia.
Abi menatap ibunya dengan perasaan tidak enak. "Jangan bilang Minggu depan Opa Eiji balik ke New York."
"Bingo!" kekeh Rhett.
__ADS_1
"Oh God! Semoga tidak terjadi apa-apa" gumam Abi sambil memegang pelipisnya.
***
Next Saturday Kediaman Frank Connecticut
Rombongan keluarga Blair, Reeves, Sky dan Hamilton tiba di kediaman keluarga Frank. Pasangan suami-istri Jason dan Jennifer menyambut hangat calon menantu dan besannya.
Keluarga Reeves hadir lengkap dan Ayame serta Yanti langsung suka dengan lemari kabinet yang terbuat dari jati terletak di ruang tengah tempat mereka akan melakukan acara lamaran dan tukar cincin.
"Ya ampun lemarinya cantik banget! Ini jati ya Jennifer?" tanya Yanti ke ibu Gandari itu.
"Iya itu jati. Kami impor dari Indonesia kemari dan pakai acara gegeran di custom dulu malahan" kekeh Jennifer.
"Bagus lho buatannya" komentar Ayame yang memang suka barang-barang dari kayu dan vintage.
"Kamu jangan minta lho Diajeng Aya-aya. Punya orang itu!" celetuk Eiji tanpa beban.
Ayame melirik judes ke arah suaminya. "Yang mau minta juga siapa! Mas tuh malu-maluin!"
"Lha kan memang dari dulu?" cengir Eiji tanpa bersalah.
"Opaaaa! Hoshi antar pulang lho!" ancam Hoshi, cucu Eiji yang terkenal judes dan mulut cabe.
"Eh jangan dong Hosh. Kita belum makan ini!" balas Eiji semakin durjana.
"Ji!" tegur Duncan yang membuat Eiji kicep.
"Ah tak apa. Seru lho!" kekeh Jennifer. "Yuk silahkan duduk semuanya.
"Ini semua keluarga kamu Bi?" tanya Jason yang terkejut melihat Ezra Hamilton dan Levi Reeves disana. Bagi para akademisi, Levi dan Ezra sering melakukan kuliah umum di berbagai universitas di Amerika Serikat. Jason dan Jennifer bahkan pernah menghadiri saat keduanya hadir di Yale University.
"Baru sebagian kecil. Masih ada di Inggris, Dubai, Jepang dan Indonesia" jawab Abi.
"Kita mulai saja ya acaranya" senyum Jennifer yang kemudian memanggil Gandari.
Abi sendiri tampak gugup namun oleh Travis, Pandu, Rajendra, Rama, Hoshi dan Benji diberikan semangat.
"Santai saja Bi, Gandari nggak kemana - mana" cengir Rajendra.
"Palingan ke kamar mandi" celetuk Hoshi yang mendapatkan pelototan dari semua sepupunya. "Bukannya kalau gugup bakalan beseran ya?"
"Eh mas Hoshi kok selalu bener. Benji juga gitu mas" cengir si bontot yang masih SMA. "Apalagi kalau nggak bisa jawab pelajaran bahasa Spanyol. Duh rasanya pengen pipis terus!"
"Yang nanya elu siapa, cumiii!" sahut Hoshi sambil menoyor dahi adiknya.
"Mas Hoshi KDRT!" rengek Benji.
"Kita kagak nikah bambaaannggg!" cebik Hoshi.
"Ya udah! KDPS!" balas Benji.
__ADS_1
"Apaan tuh?" tanya Rajendra.
"Kekerasan Diantara Para Sepupu!" cengir Benji yang mendapatkan keplakan dari semua kakak-kakaknya.
Para pria-pria tampan itu pun berhenti ribut ketika Jennifer datang bersama Gandari yang mengenakan gaun bewarna ungu putih diberi aksen seperti korset.
Rambutnya hanya diikat sederhana dan make upanya pun dibuat flawless. Mulut Abi langsung menganga membuat Rajendra dan Travis harus menaikkan dagunya.
"Awas lalat masuk" goda Rajendra.
Abi pun berdehem dan langsung bersikap sok cool.
"Sana gih. Duduk di depan!" dorong Hoshi kesal melihat kakaknya langsung loading lama.
Abi pun duduk diantara Rhett dan Kaia sedangkan Gandari duduk diantara Jason dan Jennifer.
Rhett sendiri langsung mengutarakan maksud dan tujuannya membawa rombongan sirkus datang ke kediaman Frank dengan maksud meminang Gandari untuk putranya Abiyasa.
Jason Frank pun menerima permintaan Rhett dan keduanya pun bersepakat untuk melangsungkan pernikahan bulan depan tepat di musim gugur hingga tidak terlalu panas.
"Monggo pak Rhett, mau di Connecticut atau New York, kami tidak masalah" ucap Jason. "Dan ijinkan kami yang membiayainya sebab Gandari adalah anak kami satu-satunya dan sudah kewajiban kami sebagai orangtuanya meskipun angkat, untuk mementaskan dengan layak dan bermartabat" ucap Jason.
"Soal itu bisa kita bicarakan sambil santai pak Jason. Bi, sana kasih cincin buat Gandari." Rhett menoleh ke arah putranya.
Abi dan Gandari pun berdiri saling berhadapan dan gadis itu bisa melihat bagaimana gemetarnya tangan dan jari Abi.
"Gan...dari. Ndari, dengan cincin ini yang nilainya tidak seberapa..."
"Whaaaattt!" seru sepupunya heboh membuat Abi melirik judes sedangkan Gandari cekikikan.
Para Opa dan Oma serta orangtua mereka langsung tepuk jidat mendengar durjananya cucu dan anak mereka.
"Ehem. Kamu akan terbiasa dengan sepupu-sepupu aku yang minus akhlak." Abi berdehem. "Dengan cincin ini, aku meminangmu menjadi istriku, sahabat, teman berdebat, dan calon ibu bagi anak-anak kita kelak. Will you marry me?"
Gandari mendongak dan tampak matanya berkaca-kaca dan sambil tersenyum mengucapkan. "Of course I'll marry you mas, pria yang tuna seni."
Sontak para sepupunya tertawa terbahak-bahak.
Abi mengacuhkan kehebohan sepupunya tapi karena gugup tiba-tiba cincinnya jatuh dan menggelinding ke bawah lemari jati yang disukai Ayame dan Yanti.
"Lha! Kok malah gelinding?" Abi tampak melongo sedangkan Gandari menatap tidak percaya.
"ABIYASAAAA!!!" seru Kaia judes.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️