My Cold Chef

My Cold Chef
Bonchap - Sidang Pertama


__ADS_3

Semarang, Jawa Tengah


Pak Rahman membawa Abi dan Gandari ke sebuah warung pecel daerah PRPP karena pria itu meminta makan pecel yang membuat Gandari tertawa.


"Mas Abi ngidam?" goda Gandari.


"Eh? Unboxing kamu saja belum kok ngidam?" jawab Abi cuek. Gandari langsung memukul bahu keras Abi. "Lho? Kan benar kan Ndari?"


"Mbuh!" balas Gandari sambil bersedekap.


Abi terbahak. Mereka pun tiba di warung pecel yang tidak terlalu ramai dan langsung memesan nasi pecel lengkap dengan lauknya serta kerupuk.



Usai sarapan yang membuat Abi melongo saat tahu harganya yang tidak sampai $5 untuk makan bertiga.


"Murahnya! Enak lagi!" bisik Abi ke Gandari.


"Jangan samakan kita makan di New York. Bahan bakunya saja sudah mahal. Kalau disini kan masih murah." Gandari menatap Abi.


"Kita langsung ke pengadilan negeri, pak Abi?" tanya Pak Rahman setelah mereka selesai makan.


"Ya pak Rahman. Pak Travis sudah sudah disana." Abi melihat ponselnya.


"Baik."


***


Abi dan Gandari tiba di pengadilan negeri Semarang di jalan Siliwangi. Tampak Travis sudah menunggu disana dengan dua orang asistennya.


"What's up bro!" sapa Abi sambil memeluk Travis.


"Baik. Syukurlah kalian selamat sampai sini" senyum Travis. "Jadi pakai pesawatnya Opa Duncan?"


"Jadi. Soalnya pesawat papi dipakai ke Tokyo."


"Gandari, sudah siap?" tanya Travis sambil menjabat tangan gadis itu.

__ADS_1


"Insyaallah siap mas."


"Yuk kita masuk. Sebentar lagi dimulai."


***


Di dalam ruang pengadilan sudah tampak jaksa Bramantya bersama dengan tim nya sedangkan pihak Lukman, Anggita, Iin dan Joko diwakili oleh Jerome meskipun status pria itu tersangka.


Kapten Rasyad dan sersan Kamil menyambut Abi dan Gandari yang datang. Mereka semua pun langsung duduk di kursi yang sudah disediakan.


Acara dimulai dengan pembukaan sidang, penuntut umum menyebutkan nama-nama terdakwa dan hakim menanyakan siapa pembela para terdakwa sebab jika tidak memiliki pembela, akan ditunjuk pihak pengadilan.


Mengetahui Jerome juga bertindak sebagai pengacara meskipun Jaksa Bramantya keberatan tapi hakim ketua mengijinkan karena ijin Jerome masih belum dicabut. Kecuali dia sudah terbukti bersalah, baru ijin pengacaranya dicabut.


Usai urusan administrasi, Jaksa Bramantya pun membacakan dakwaan kepada kelima tersangka dan otak pelaku yaitu Lukman, Anggita dan Joko. Hasil interogasi lebih lanjut usai mereka dihajar Gandari oleh kapten Rasyad, rupanya itu adalah ide mereka bertiga untuk mengambil harta milik Lahita. Awalnya mereka hendak 'menyingkirkan' Gavin saja namun Lukman menginginkan ketiga anggota keluarga Pramudana harus lenyap semua karena pasti harta mereka akan jatuh ke tangannya.


Abi harus memegang tangan Gandari yang tercekal erat ingin menghajar lagi namun pria yang makin mirip dengan Duncan Blair itu menggelengkan kepalanya tanda agar Gandari sabar.


Lukman dan Anggita tertunduk tidak berani menatap Gandari yang menatap tajam ke arah mereka semua yang duduk di kursi terdakwa. Joko dan Iin hanya menatap kosong ke arah Bramantya yang membacakan dakwaan.


Usai pembacaan dakwaan yang cukup panjang, Hakim ketua pun menanyakan pada Jerome apakah ada eksepsi ( jawaban atas dakwaan ) namun Jerome menyatakan tidak ada eksepsi. Baginya mengajukan eksepsi tapi semua bukti memberatkan dirinya maka sama saja bohong karena jaksa penuntut umum pasti akan langsung menolak.


Karena tidak ada eksepsi, maka hakim ketua meminta agar jaksa penuntut umum memberikan bukti-bukti kejahatan para tersangka. Dimulai dari perginya keluarga Pramudana menuju rest area km 429A dari tol Krapyak. Hakim ketua melihat bagaimana mobil Innova itu diutak-atik oleh dua orang yang nanti akan dihadirkan dan mereka juga melihat wajah Joko di mobil Pajero saat kedua orang itu masuk ke dalam mobil hitam itu.


Setelahnya mereka melihat bagaimana mobil Innova dengan plat nomor H 1234 GD itu melakukan setir zig zag seperti tidak dapat dikendalikan. Dan tak berapa lama, mobil itu menabrak pembatas jalan hingga terguling. Lalu mereka melihat sebuah mobil berhenti disana dan pengemudi serta penumpang yang berdarah bule itu membantu Gandari keluar. Tak lama ambulans dan pihak derek jasa marga pun mendatangi di lokasi kejadian.


"Anda lihat pak Hakim. Dari masuk tol Krapyak, mobil Innova ini jalan tanpa ada kerusakan apapun tapi setelah dua orang ini mengutak-atik mobil itu di rest area, terjadi malfungsi. Sayang mobil ini sudah tidak ada 12 tahun lalu tapi dari sini kita lihat bahwa terdakwa Joko Triyadi ada di lokasi yang sama saat mobil Innova itu parkir di rest area. Dan kita juga lihat mobil Pajero Joko sudah mengikuti mobil Innova itu sejak keluar dari rumah sakit graha Medika."


Bramantya menatap Joko dengan tajam. "Niat ya anda."


Abi dan Gandari melongo. Astaghfirullah! Rupanya mereka sudah mengikuti dari sana.


"Pak Hakim, bukti ini adalah bukti bahwa kematian keluarga Pramudana memang sudah direncanakan oleh ketiga orang disana, saudara Lukman, saudara Joko dan saudari Anggita. Asal kalian tahu Anggita adalah mantan istri Joko yang kemudian menikah dengan Lukman" lanjut Bramantya.


"Apakah ada bukti lain, jaksa penuntut umum?" tanya Hakim ketua.


"Ada pak hakim. Kami mengikuti kemana mobil Pajero itu setelah dari rest area dan rupanya mereka melewati lokasi kecelakaan." Bramantya memberikan gambar CCTV di Jalan tol. "Terdakwa Joko menyeringai."

__ADS_1


Joko melotot tidak percaya bahwa wajahnya tertangkap kamera CCTV yang bertebaran di jalan tol.


"Kita semua tahu, Semarang memiliki banyak CCTV termasuk pinggir-pinggir jalan. Dan kami mengikuti Pajero itu hingga kembali ke Semarang dan mobil itu berhenti di jalan Kawi dimana tampak terdakwa Joko bersalaman dengan terdakwa Anggita dan terdakwa Lukman di depan rumah keluarga Pramudana dengan wajah tertawa bahagia."


Ketiga terdakwa melotot tidak percaya.


"Saya juga memperoleh CCTV dari depan rumah anda yang merupakan sebuah kantor dan rekaman CCTV 12 tahun yang lalu masih ada karena mereka menyimpannya di cloud. Dan bisa anda lihat, tanggal kejadian keluarga Pramudana mengalami kecelakaan sama dengan rekaman CCTV yang kami ambil dari Sapta marga dan ditlantas."


Abi dan Gandari terkejut karena tidak hanya bukti dari Benji saja yang mereka ajukan tapi juga mereka benar-benar mencari bukti sendiri.


Sidang kemudian ditunda karena hari sudah menjelang siang pukul satu. Hakim ketua memutuskan sidang dilakukan pada hari Kamis dengan menghadirkan para saksi termasuk Gandari yang akan maju di persidangan.


Abi dan Gandari pun menghampiri kapten Rasyad dan sersan Kamil yang tersenyum penuh arti karena tahu kedua orang itu penasaran.


"Saya tidak menyangka sampai diikuti seperti itu, Kapten Rasyad" ucap Gandari bingung.


"Melihat bukti dari mas Benji dan mas Travis, saya dan jaksa Bramantya penasaran. Lalu kami telusuri dan menemukan banyak bukti lagi. Bahkan kami sangat beruntung karena semua rekaman CCTV di jasa marga dan ditlantas disetting tersimpan hingga 15 tahun baru dihapus. Kebijakan dari Kapolri itu dibuat saat adanya kecelakaan di tol Jagorawi dua 14 tahun lalu yang akhirnya terungkap kalau itu kecelakaan yang disengaja tapi posisinya mobil fiat kecil itu ditabrak oleh Hummer" ucap Kapten Rasyad.


"Maka dari itu kami berusaha menelusuri rekaman CCTV 12 tahun lalu dan Alhamdulillah mendapatkan banyak sekali bukti yang memberatkan" ucap Sersan Kamil.


"Tapi kalau orang sudah gelap mata dan serakah, semua cara dilakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkan" gumam Abi sambil melihat Travis sedang bercakap-cakap dengan Bramantya.


"Kira-kira mereka dihukum berapa lama?" tanya Gandari.


"Jaksa Bramantya sih hendak menuntut hukuman mati ketiga tersangka utama mengingat kejahatan mereka sangatlah keji tapi semua itu tergantung hakim nanti yang menentukan" jawab Kapten Rasyad.


Gandari mengangguk.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2