My Cold Chef

My Cold Chef
Aruna Lewis


__ADS_3

Rajendra asyik bercerita tentang banyak hal termasuk ada murid baru yang masuk ke kelasnya kemarin.


"Namanya Aruna Lewis, campuran Inggris, Indonesia dan Turki. Cantik Tante cuma galaknya minta ampun" celoteh Rajendra.


"Ya ampun, Jendra. Kalian masih kecil" kekeh Thara yang geli mendengar ucapan bocah tampan itu.


"Tapi Jendra yakin, dia cewek yang menarik" cengir Rajendra. Thara merasakan kepalanya pusing. Apa anak jaman sekarang jauh lebih matang dari jaman aku ya?


Johnny yang mendengarkan hanya tersenyum simpul. Putra tuan Arjuna memang mirip dengan ayahnya, kalau sudah suka tidak pernah menutupi perasaannya.


"Kita sudah sampai tuan muda" ucap Johnny ketika mobil Mercedes Benz G-Class itu berhenti di depan sekolah Rajendra.


Thara pun ikut turun mengantarkan Rajendra dengan Johnny dan dua pengawal di belakangnya.


"Tante, itu yang namanya Aruna" bisik Rajendra menunjuk seorang gadis cilik mengenakan hijab bunga-bunga. Thara pun menatap arah jari Rajendra menunjuk dan tersenyum melihat bagaimana cantiknya bocah perempuan itu.



"Cantik, Jendra" puji Thara.


"Tapi galak!" cebik Rajendra sambil manyun. Lalu bocah bernama Aruna itu pun berjalan melewati Rajendra dan Thara.


"Assalamualaikum Aruna" sapa Rajendra.


Aruna menatap judes ke Rajendra. "Wa'alaikum salam" ucapnya lalu berjalan masuk ke dalam halaman sekolah dengan dagu terangkat.


Thara dan Johnny melongo. Whoah! Ada yang tidak terpesona dengan tampannya tuan Rajendra.


"Duh, dinginnya" goda Thara lalu melihat ke arah Rajendra takut kalau bocah itu tersinggung tapi ternyata putra Arjuna itu hanya senyum-senyum.


"Aku suka gayanya! Cool!" kekeh Rajendra yang membuat Thara semakin melongo. Astaga Rajendra!


Dor! Dor!


Dua pengawal Thara tersungkur dan Johnny reflek melindungi Thara dan Rajendra sambil mengeluarkan pistolnya. Para guru dan orang tua serta murid-murid disana spontan berteriak ketakutan dan bertiarap.


Johnny langsung menodongkan pistolnya sambil menutupi Thara yang memeluk erat Rajendra di balik tubuhnya. Tampak lima orang yang terlihat seperti orang timur tengah menodongkan senjatanya ke arah Johnny.


"Serahkan putri Thara ke kami!" perintah salah seorang dari lima orang pria itu.


"Over my dead body!" Johnny menembak salah seorang tepat di kepalanya dan yang lain menembak Johnny hingga tewas.


Thara dan Rajendra menjerit memanggil Johnny namun keduanya diseret untuk dibawa masuk ke dalam sebuah mobil Van hitam dan pergi dari halaman sekolah.


Para guru langsung menelpon polisi dan Arjuna mengabarkan kejadian yang menimpa putra dan pengawalnya.


Aruna menatap kejadian itu dengan ketakutan. "Rajendra..." bisiknya.


***

__ADS_1


Arjuna dan Aidan murka mendengar berita pengawal setianya tewas ditambah putra dan Thara diculik oleh orang-orang yang mereka tahu adalah anak buah Ja'far.


Abian dan Bryan segera mencari manifest penerbangan Al Azzam dan mendapatkan info bahwa pesawat pribadi milik keluarga itu sudah tinggal landas dari Heathrow, setengah jam setelah kejadian.


Elang pun langsung menghubungi George Major agar diberikan kekuasaan penuh untuk keluarga mereka ijin membebaskan cucunya dan Thara.


"Bukan aku yang memulai George! Mereka sudah membunuh Johnny, pengawalku! Mereka menculik Rajendra cucuku! Dan aku yakin mereka akan membunuh Thara dan cucuku kalau kita tidak bergerak cepat!" bentak Elang ke George.


"Oke Jeremy, aku berikan imunitas diplomatik karena yang dibunuh adalah warga negara Inggris dan yang diculik adalah warga negara Inggris. Hanya klan Pratomo yang mendapatkan imunitas itu!" George menghela nafas panjang. "Bawa pulang Rajendra, Jeremy. Sissy menangis mendengarnya."


"Tentu saja akan aku bawa pulang cucuku! Tapi kamu jangan ikut campur jika Arjuna anakku, meluluh lantakkan istana Al Azzam!"


***


Rajendra memeluk erat Thara yang masih menangis dalam diam. Bayangan bagaimana mereka menembak Johnny dengan dingin masih terpatri disana. Rajendra sangat menyayangi Oom Johnny yang tidak pernah marah meskipun dia mengajak debat.


"Tante..." bisik Rajendra. Keduanya kini dikunci di dalam sebuah kamar pesawat pribadi yang membawa mereka ke Dubai.


"Iya Jendra..." jawab Thara lemah.


"Tante tenang saja. Papa dan Oom Aidan pasti akan membebaskan kita." Thara menatap Rajendra dengan intens.


"Kamu tidak takut, Jendra?"


Rajendra menggeleng. "Papa selalu memberitahu bahwa Jendra harus kuat menghadapi segala sesuatu. Lagipula..."


"Lagipula...apa?"


"Ya ampun, Tante merasa bersalah dengan Johnny." Thara menangis lagi mengingat pria tinggi besar yang selalu baik kepadanya.


"Oom Johnny pernah bilang kalau dia rela mati buat melindungi papa, mama dan aku. Eh malah kejadian." Rajendra menangis pelan.


"Johnny orang baik, Jendra."


"Iya Tante."


Ya Allah, semoga kami segera ditemukan dan dibebaskan.


***


"Kak Juna! Bang Ai! Ini ada sinyal dari Rajendra!" seru Bryan.


"Anak pintar! Kemana arah pesawat itu?" tanya Arjuna.


"Dubai."


Elang pun masuk ke ruang kerja Arjuna. "Surat imunitas diplomatik sudah di tangan papa berlaku di semua klan Pratomo."


Arjuna dan Aidan membaca surat itu. "Hubungi Levi, Fuji, Nathan, Bang Marco dan Bang Mario plus Arya. Kita ke Dubai sekarang!" Arjuna segera membuka pintu besinya dan tampak senjata disana. "Bawa semuanya!"

__ADS_1


***


Duncan mendengar cucunya diculik pun murka lalu menghubungi Senna dan Kai yang langsung emosi mendengar keluarga Al Azzam berani menyenggol keluarga Pratomo yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Al Jordan.


"Kalian kapan kemari?" tanya Senna.


"Hari ini kami langsung berangkat! Aku, Kaia, Levi, Rhett, Kris dan Ezra ke Dubai hari ini juga!"


"Lalu? Tokyo?" tanya Senna lagi ke Joshua dan Masayuki.


"Tokyo, aku, Marco, Mario dan Yuki berangkat" jawab Joshua.


"Cari mati mereka berani menyenggol kita!" desis Kai geram.


"Siapkan senjata saja Kai, aku tidak bisa membawa dari sini!" ucap Duncan.


"Beres! Oh, imunitas diplomatik kalian sedang aku urus di Dubai" cengir Senna. "Kalian semua klan Pratomo, punya license to kill."


"Seriously?" tanya Joshua.


"Keluarga Al Jordan memiliki hak privilege di Dubai jadi karena ini berhubungan hidup dan mati, mereka tidak akan berkutik. Lagipula kalau sesama sipil, akan berbeda cerita dibandingkan militer." Kai menatap semuanya melalui panggilan zoom.


***


Sekar menatap suaminya yang bersiap untuk pergi ke Dubai dengan tatapan penuh amarah.


"Berjanjilah padaku, tembak mati semua orang yang membunuh Johnny! Hancurkan kepalanya!" ucap Sekar geram yang membuat Arjuna tersenyum smirk.


"Of course sayang! Akan aku buat mereka mati dengan kondisi mengenaskan."


***


Aidan melacak ponsel milik Thara yang terdapat GPS sinyal yang ditanam disana. Posisi masih berada diatas samudera Atlantik.


*Brengsek kalian semua! Jangan salahkan jika nantinya kalian akan aku cincang dan hanguskan hingga menjadi abu!


Thara, Rajendra, tunggu kami*!


Aidan memasukkan berbagai pistol miliknya dan tiga buah pisau di dalam tas nya.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaa


Maaf ceritanya rada gimanaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2