My Cold Chef

My Cold Chef
The Rusuh Familia


__ADS_3

Semua pria generasi keempat memegang kuping masing-masing yang habis kena jewer oleh para mommy masing-masing. Dan sekarang adalah giliran para istri dan kekasih yang merawat pasangannya yang rata-rata pada memanyunkan bibirnya.


"Ma! Sakit ini!" teriak Levi sambil mengusap-usap telinganya yang merah ke Ayame yang menatapnya tajam. Yanti hanya bisa mengelus suaminya.


"Mau mama jewer lagi? Iya? Kalian semua itu ya sudah dibilang jangan balapan! Kok pada ngeyel!" omel Ayame mewakili para emak-emak generasinya.


"Habis, ditantang ya balapan lah!" sahut Arjuna cuek namun akhirnya terdiam setelah mendapatkan pelototan dari Rain.


"Memangnya pakai mobil apa semalam balapannya?" tanya Ezra yang memang tidak ikut karena mengalami jetlag.


"Maserati nya Reyhan. Tadinya mau pakai Koenigsegg punya Oom Senna cuma nggak dikasih Sabine..." suara Fuji menghilang ketika sang Daddy melotot ke arahnya.


"Siapa yang nyetir?" tanya Ezra lagi seolah tidak paham bahwa ada aura seperti gunung berapi di sekitarnya.


Semua menunjuk ke Reyhan. Tamara langsung mendelik ke arah putra tampannya.


"Maserati nya selamat kok mom. Nggak lecet" cengir Reyhan.



Reyhan Al Jordan


Tamara mengeplak bahu putranya. "Bukan masalah Maserati nya Reeeyyy! Taruhannya itu yang mommy nggak suka!"


"Kalian bertaruh berapa?" tanya Javier.


"$25,000 plus mobil" jawab Reyhan sambil menunduk.


"Terus dapat mobil apa?" tanya Javier lagi.


"Porsche 911 Carrera" jawab Arya.


"Astaghfirullah! Seperti kamu nggak bisa beli saja!" pendelik Maira ke putranya yang langsung menunduk.


Hasyim Al Azzam melihat bagaimana interaksi keluarga besar klan Pratomo yang gesreknya minta ampun tapi ada nilai didikan yang bagus disana.


"Siapa nantang siapa?" tanya Ghani.


"Kami sedang nongkrong ngobrol, tiba-tiba datang segerombolan orang melihat mobil-mobil kami, Pa lalu nantang lah mereka" jawab Bara. "Ya sudah Maserati lawan Porsche."


Para ayah hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mereka bukannya tidak mengijinkan para putranya have fun go mad tapi jika terjadi sesuatu hal kan bisa menimbulkan skandal. Sudah cukup mereka membuat gegeran Dubai beberapa bulan lalu.


"Kalian tahu kenapa kami marah kan, boys?" Alexandra menatap tajam ke arah putra dan keponakannya.


"Sudah, kita pulang ke mansion Al Jordan" putus Duncan. "Aidan, kamu disini sama Thara."


"Tapi Mr Blair, tak apa lho mereka semua disini karena istana kami kan cukup luas dan banyak kamar" ucap Hasyim yang suka dengan kekacauan keluarga besannya.


"Tidak Mr Al Azzam, kami sudah membuat kacau dan tidak menghormati tuan rumah."


Hasyim menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Saya sangat suka kekacauan kekeluargaan seperti ini."

__ADS_1


"Mr Al Azzam, saya suka kalimat anda" seringai Eiji.


***


Keluarga Al Jordan, Reeves dan Giandra memutuskan kembali ke mansion Al Jordan dan hanya keluarga Blair, Ramadhan dan Arata yang tinggal. Sebenarnya setelah acara pernikahan, mereka hendak kembali ke Mansion Al Jordan tapi Hasyim meminta semuanya menginap di istana.


Aidan pun masuk ke kamar bersama Thara dengan wajah manyun. Pria itu pun mendudukkan tubuhnya di atas sofa empuk. Thara yang melihat telinga suaminya memerah itu pun langsung mengambil handuk kecil dan merendamnya dengan air hangat lalu mengompres nya.


"Sakit ya Ai?" tanya Thara yang telaten merawat Aidan.


"Lebih cenderung malunya sih dilihat banyak orang kena omel macam anak remaja" sungut Aidan kesal.


Thara cekikikan mengingat bagaimana kacaunya keluarga besar klan Pratomo.


"Sekarang mobil hasil balapan dimana?" tanya Thara.


"Di garasi mansion. Rencananya mau dijual sama Reyhan" jawab Aidan yang merasa telinganya sudah mulai berkurang sakitnya. Rhea kalau menjewer memang penuh niat dan perasaan, lebih pedas dari Duncan.


Thara membereskan handuk dan baskom kecil lalu duduk di sebelah Aidan.


"Kalian sih sebenarnya kenaap tidak boleh balapan?" tanya Thara penasaran.


"Lebih cenderung ke skandal sih dan taruhan itu kan termasuk gambling jadi begitulah. Dan kami kan sudah membuat gegeran di Dubai saat membebaskan kamu dan Rajendra" ucap Aidan. "Orangtua hanya ingin melindungi anak-anaknya meskipun kami sudah sebesar ini."


"Apakah kalian akan seperti ini terus?"


"Maksudnya, Thara?"


Aidan terbahak. "Di bawah Bayang-bayang orang tua itu jika kasusnya seperti ini tapi kalau soal pekerjaan, kami bisa membuktikan sendiri. Kamu lihat sendiri, orang tuaku tidak pernah intervensi soal pekerjaan aku."


"Jadi boleh dibilang urusan keluarga baru kalian heboh gitu?" Thara tidak habis pikir dengan kekacauan keluarga Aidan.


"Yup. Soal bisnis kami biasa saja tapi tidak seheboh kalau soal keluarga. Well kata papi sih memang sudah dari turun temurun." Aidan tertawa kecil mengingat semua cerita kehebohan keluarganya baik dari sang Oma, Necan maupun kedua orangtuanya sendiri.


Thara hanya terdiam membiarkan Aidan mengingat keluarganya. Diam-diam gadis itu merasa iri bagaimana keluarga yang luar biasa besarnya, ternyata bisa akur dan luar biasa gesreknya.


"Aku iri sama keluarga mu Ai" bisik Thara.


Aidan menoleh. "Ngapain iri? Keluarga gesrek durjana sering tidak lihat tempat kalau ribut tidak jelas nggak punya akhlak kalau ngomong kok iri?"


Thara melongo. "Itu kamu ngomong kok kayak kereta api?"


"Kamu lupa apa ya? Kamu kan sudah jadi bagian keluarga klan Pratomo, apa masih iri?"


Thara tersentak. Dia mengakui aku bagian dari keluarga besarnya? Berarti Ai juga mengakui aku istrinya?


"Aku lupa..." bisiknya.


"Sudah, jangan terlalu memuja keluarga ku" Aidan pun berdiri berjalan menuju kamar mandi.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena akan membuatmu darting."


***


Duncan dan Rhea menikmati acara jalan-jalan di halaman belakang istana yang didesain secara apik oleh Alex Ghaidan. Keduanya memang kebiasaan selalu menyempatkan berjalan berdua sambil bergandengan tangan dan tak jarang Duncan memeluk istrinya sambil menciumi pelipis dan pipinya meskipun harus agak menunduk karena Rhea lebih pendek darinya.


"Anak-anak tuh biarpun sudah besar sudah menikah dan memberikan cucu, tetap saja anak-anak" ucap Duncan sambil tertawa.


"Mereka tuh memang deh bang. Kayaknya sengaja bikin emaknya pada jewerin mereka. Kangen kayaknya kejadian yang dulu, jadinya diulang lagi" kekeh Rhea.


Sepuluh tahun lalu, keluarga besar memutuskan untuk berlibur ke Muenchen Jerman apalagi Duncan dan Rhea baru saja kehilangan Edward dan Yuna akibat kecelakaan pesawat, membuat Kenzo dan Keanu, kakak sepupunya yang paling besar ( putra Alexandra Reeves dan Jeffry Kim ) menyewa kastil untuk acara lebaran disana agar mereka tidak di rumah New York atau London yang banyak meninggalkan kenangan sepasang suami istri savage itu.


Dan yang membuat acara lebaran itu kacau adalah, Aidan yang masih terpukul kehilangan opa dan omanya dengan tragis, terlibat pertengkaran dengan seorang remaja lokal yang ternyata anak seorang pejabat negara Jerman.


Keduanya pun memutuskan balapan di Nurburgring dengan dukungan penuh para sepupunya. Keduanya pun balapan yang berakhir dengan Audi milik Aidan remuk dan Porsche milik remaja itu pun rusak berat. Sejak saat itu, semua keluarga besar melarang balapan karena melihat efeknya Aidan harus dirawat di rumah sakit selama tiga bulan akibat patah kaki. Sedangkan remaja pria itu mengalami patah tangan, patah tulang rusuk dan patah pergelangan kaki.


"Tapi kalau nggak begitu, Aidan tidak bertemu dengan Karl" kekeh Duncan. "Memang takdir berjalan dengan maunya sendiri."


"Iya tapi baru ketemu lagi berapa tahun kemudian. Ya Allah bang, aku tahu Abang tattooan dan itu sudah bikin Daddy dulu darting. Lihat Karl tattooan begitu, apa mas Senna nggak lebih darting dari Daddy ya?" Rhea menatap suaminya yang sudah menikahi nya hampir 30 tahun.


"Biarkan Senna darting, anak itu terlalu mafia jadi butuh hiburan" gelak Duncan cuek.


"Karl memang cocok sama Sabine, sama-sama kacau" senyum Rhea.


Duncan mencium kening Rhea sayang. "Terimakasih Rey, sudah mau bersama Abang dengan bonus keluarga kacau Abang."


"Aku sudah hapal bang, jadi tidak heran." Rhea berjinjit untuk mencium bibir suaminya. Duncan pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan pria itu membalasnya.


"Kalian itu dari jaman Oom Abi masih hidup, masih saja suka nggak lihat tempat!"


Keduanya melepaskan pagu*Tan dan menoleh ke arah suara yang sangat mereka hapal.


"Nggak usah iri, Eiji." Duncan mengernyitkan dahinya. "Bukannya kamu harusnya ke mansion Al Jordan?"


"Harusnya cuma si Toyib melupakan Bentley Kai yang masih terdampar disini jadi aku harus mengambilnya sekalian mencari bahan usil juga." Eiji celingukan. "Ngomong-ngomong, Aidan kapan tuh mau unboxing?"


Duncan dan Rhea melotot tidak percaya mendengar ucapan rusuh sepupu mereka satu ini.


"Pulang sanaaaa!" Hardik Duncan kesal.


"D nggak asyik!"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2