
Thara tampak melamun di sebuah taman dekat sekolah Rajendra. Hari ini adalah hari liburnya dan gadis itu memutuskan untuk menikmati kesendiriannya sembari menunggu Rajendra pulang sekolah. Iffa dan Rahma tampak mengawasi dari jauh.
"Apakah princess akan tetap tinggal disini, nona Rahma?" tanya Iffa.
"Aku tidak tahu, Iffa. Tapi aku tahu kalau tuan Aidan memang keras wataknya dan Princess memang agak lancang melangkahi wewenang tuan Aidan." Rahma tidak menyangka kalau Aidan akan sangat murka padahal dia mengira bahwa putra Duncan Blair itu akan menerima dengan tangan terbuka mengingat mereka sudah menjadi keluarga.
Ternyata Aidan punya aturan tersendiri soal etika kerjanya. Di awal Thara diterima karena ada alasannya untuk melindunginya tapi sekarang dengan status berbeda, Aidan pun membedakan aturannya. Aidan memberlakukan sesuai dengan aturan formal.
Poor princess Thara.
***
"Tante" suara anak perempuan imut terdengar di telinga Thara yang sedang melamun membuat gadis itu menoleh.
"Aruna?" Gadis cilik itu pun mengangguk. "Rajendra mana?"
"Rajendra tidak masuk Tante. Katanya kena radang" jawab Aruna.
Thara terkejut. "Oh. Sejak kapan?"
"Dari kemarin. Tante namanya siapa?" Mata coklat Aruna tampak ingin tahu.
"Thara."
Aruna mengangguk. "Tante kok tidak tahu Rajendra sakit?"
"Tante sibuk bekerja, Aruna. Jadi Tante tidak tahu" senyum Thara.
"Bayan Aruna." Aruna menoleh dan tampak nannynya datang menjemput.
"Tante, Aruna pulang dulu. Ke rumah Rajendra saja besuk anak ceroboh itu. Assalamualaikum" pamit Aruna.
"Wa'alaikum salam." Thara menatap tubuh gadis cilik itu yang berjalan menuju sang nanny.
***
Aidan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Arjuna sambil membawakan bubur ala Dara, sang Oma, untuk keponakannya yang sedang sakit. Arjuna memang sudah mengabari kalau Rajendra kena radang dan harus istirahat di rumah.
Kepala pelayan keluarga McCloud mempersilahkan Aidan masuk dan disana sudah ada Rain yang sedang membuat teh jahe untuk cucunya.
"Tante Rain" sapa Aidan sambil meletakkan tas berisikan termos tempat bubur diatas meja dapur.
"Aidan. Bawain bubur Tante Dara?" senyum Rain.
Semua di keluarga selalu bilang kalau itu adalah bubur Dara karena resepnya memang darinya. Hanya Rhea, Kaia dan Aidan yang bisa membuatnya otentik padahal yang lain pun sudah mendapatkan resep yang sama tapi bagi sebagian keluarga yang sudah pernah mencicipi buatan Dara, hanya ketiga anak dan cucunya yang bisa membuat sama. Dan bagi Rajendra, kalau sakit wajib makan bubur itu.
"Iya Tante. Sudah sama ayam dan udangnya." Aidan lalu menuangkan bubur itu ke dalam mangkok dan memberikan toping ayam serta udang kukus, daun bawang dan cakwe.
"Aku ke kamar Rajendra dulu Tan" pamit Aidan sambil membawa baki berisikan bubur.
"Sana Ai, anak itu selalu bersugesti, belum sembuh kalau belum makan bubur Necan Dara" kekeh Rain. Aidan tertawa kecil lalu menaiki tangga menuju kamar Rajendra.
__ADS_1
Pintu kamar yang terbuka membuat Aidan masuk.
"Jendra, ini Oom Ai bawakan..." Aidan nyaris menjatuhkan bakinya jika dirinya tidak sigap menahan emosinya. Tampak Thara di pinggir tempat tidur Rajendra sembari mengupaskan buah jeruk.
"Oom Aaiiiii ! Bawain bubur... Uhuk... uhuk!" Thara mengambilkan segelas air putih diatas nakas dan menyerahkan ke bocah tampan itu.
Setelah menghabiskan separuh airnya, Rajendra menatap baki yang dibawa Aidan. "Bubur Necan kan?"
"Iya Jendra." Thara pun menyingkir dan berpindah ke sisi kanan tempat tidur sedangkan Aidan meletakkan baki semi meja kecil di atas paha Rajendra.
"Yummy!" serunya. "Jendra makan dulu!"
"Mau disuapi?" tawar Aidan namun Rajendra menggeleng.
"Maem sendiri... Hhhmmm enaknya" gaya Rajendra yang mirip dengan Sekar jika suka akan sesuatu.
"Habiskan. Kalau mau lagi, nanti Oom panaskan yang ada di termos."
Rajendra mengangguk. Thara melirik ke arah Aidan yang masih memandang keponakannya.
"Kamu kok bisa sakit sih boy?" tanya Aidan sambil membersihkan noda bubur di bibir Rajendra dengan tissue.
"Buktinya bisa" cengir Rajendra. "Oom, gimana cara ya supaya Aruna datang besuk aku?"
Aidan melongo. "Hah? Kamu ingin dibesuk Aruna?" Rajendra mengangguk.
"Kangen aku diomeli." Aidan menepuk jidatnya sedangkan Thara cekikikan mendengar modus putra sulung Arjuna itu.
"Jendra, ini teh jahenya sudah Oma buatkan." Rain meletakkan teh jahe buatannya diatas nakas sebelah tempat tidur Rajendra. "Cleo, ayo turun dari tempat tidur! Jendra lagi makan." Beagle kesayangan Rajendra pun turun menuju tempat tidurnya.
"Oom Jeremy, Junjun sama Sekar kemana Tante?" tanya Aidan.
"Elang sedang bertemu dengan George dan bang Duncan. Papamu kan kemari Ai, datang langsung ketemuan dengan George." Aidan melongo. Kok nggak bilang-bilang papi datang.
"Kalau Juna dan Sekar sedang kontrol Rama, kan jadwal imunisasi." Rain menatap Thara yang duduk di seberang. "Tadi kamu ke sekolah Jendra ya Thara ?"
"Iya Tante. Saya dikasih tahu Aruna kalau Jendra sakit jadi langsung kemari."
"Rahma dan Iffa nggak ikut?"
"Nggak Tante, saya suruh kembali ke apartemen."
"Jadi sekarang kamu nggak di apartemen PRC group lagi?" tanya Rain.
"Nggak Tante, sudah pindah seminggu lalu ke apartemen dekat situ juga soalnya saya sudah nyaman disana."
"Assalamualaikum" suara Sekar terdengar di lantai satu.
"Nah dah datang. Oma kebawah dulu ya" Rain mengusap kepala Rajendra. "Ne soyez pas en colère longtemps ( jangan lama-lama marahnya )" bisik Rain ke Aidan.
__ADS_1
"Elle commence la première. Je garde juste ma dignité ( dia yang memulai. Aku hanya menjaga harga diriku )" jawab Aidan tegas.
Rain menepuk bahu keponakannya. "Kamu mirip Tante Yuna kalau sudah punya prinsip."
"Mau gimana? Aku cucunya" cengir Aidan.
Rain hanya tersenyum dan meninggalkan Aidan, Rajendra dan Thara di kamar bocah itu.
***
Arjuna dan Sekar kedatangan sepasang suami istri dan seorang anak perempuan berhijab yang membawa sebuah kotak makanan.
Aksara Emir Lewis dan istrinya Ghania Ardhana adalah sepasang suami istri petani lokal Inggris yang memiliki nama di kalangan para chef, termasuk Aidan. Dan Arjuna baru tahu kalau Aruna Kenes Lewis adalah putri Aksara yang berdarah Turki Inggris sedangkan Ghania berdarah Jawa.
"Rupanya Aruna itu putrimu?" kekeh Arjuna ketika tahu siapa yang datang.
"Aku sih sudah tahu kalau Rajendra putramu" kekeh Aksara.
"Ayo masuk" ajak Sekar. "Mau bahasa Indonesia atau Inggris nih?"
"Indonesia saja, mbak Sekar. Aku kangen ngomong pakai itu, capek in English. Sukur-sukur iso jowo sithik" kekeh Ghania.
"Kangen tanah Jowo ya mbak" cengir Sekar yang masih menggendong Rama yang tertidur.
"Papa, mau ke tempat Jendra" pinta Aruna sambil menarik jas Aksara.
"Oh ini yang namanya Aruna?" sapa Rain yang langsung gemas melihat bocah perempuan berhijab karena Ghania pun berhijab.
"Mrs McCloud" sapa Aksara dan Ghania bersamaan.
"Apa kabar. Aku baru tahu Aruna anak kalian padahal kita tahu Lewis Farming tapi tidak mikir sampai kesana" senyum Rain.
"Kami memang baru pindah ke London setelah sebelumnya di Bedfordshire" ucap Aksara.
"Aruna naik tangga saja lalu ke kamar yang pintunya cat biru itu. Disana kamar Rajendra. Ada Tante Thara dan Oom Aidan disana" terang Rain. "Berani kan?"
"Berani Oma. Aruna keatas dulu" jawab Aruna sambil berjalan menaiki tangga.
"Aidan? Aidan Blair?" tanya Aksara ke Arjuna.
"Yup. He's my cousin" cengir Arjuna.
***
Rajendra McCloud dan Aruna Lewis Dewasa
Yuhuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️