My Cold Chef

My Cold Chef
Bonchap - Cucu Berulah, Para Opa Pusing


__ADS_3

Reana tersenyum bahagia mendengar Pandu diterima di perusahaan mamanya apalagi yang mewawancarai adalah Oom dan Opanya membuat wawancara itu fair karena Pandu mampu menjawab semua.


***


"Anak itu punya prinsip D" ucap Javier saat usai acara makan malam di mansion Blair atas undangan Duncan. Ketiga pria-pria generasi ketiga klan Pratomo itu duduk di sofa halaman belakang mansion sambil menikmati teh wasgitel buatan Rhea.


"Dia benar-benar tidak suka hubungannya dengan Reana dicampur adukkan dengan pekerjaan. Si Pandu tetap bersikap profesional" timpal Joshua sambil melahap pisang goreng.


"Jadi kalian berdua iseng ikut dengan Levi mewawancarai Pandu?" tanya Duncan tidak percaya. "Ide siapa?"


"Ideku lah" kekeh Javier. "Kamu dan Kaia tidak mungkin karena pasti nantinya akan bias. Jadi Levi yang maju dan mendengar pacar Reana melamar pekerjaan di Giandra Otomotif Co, datanglah aku. Kebetulan Joshua juga ada urusan di Massachusetts besok jadi kenapa tidak sekalian saja kita kepo?"


"Jadi kalian suka dengan Pandu?" tanya Duncan lagi.


"Setidaknya dari kacamata ku, D, dia punya karakter yang bagus dan layak masuk keluarga kita" jawab Javier.


Duncan mengangguk. Javier adalah orang yang tidak pernah salah menilai seseorang.


"Jika kamu mengatakan demikian, aku sih tidak melarang jika Pandu pacaran dengan Reana tapi setidaknya Pandu harus tahu diri. Reana masih dibawah umur sedangkan Pandu sudah dewasa. Coba nanti aku bicara dengan Reana." Duncan menatap para sepupunya.


"Kalian serius banget?" goda Rhea melihat suami dan sepupunya tampak serius. "Bicarain apa?"


"Sudah telepon ke Alexandra?" tanya Duncan sambil memeluk pinggang Rhea yang duduk di sebelah suaminya.


"Sudah. Ini barusan cerita kalau Falisha bertemu dengan teman sekelasnya yang tuna rungu dan merengek minta belajar bahasa isyarat" senyum Rhea.


"Astuti maksudmu?" tanya Javier. .


"Iya, Bang Javi. Davina cerita?" tanya Rhea ke Javier.


"Agatha yang cerita karena sekarang kan dia lagi di Jakarta. Biasa, kangen Falisha dan Fathir."


"Kamu sendiri gimana mendengar Falisha seperti itu?" tanya Joshua.


"Malah bagus kan? Anak cucu kita punya kelebihan masing-masing dan siapa tahu berguna ke depannya. Apalagi tujuan Falisha untuk bisa berkomunikasi dengan Astuti" senyum Javier yang dalam hati sangat menyukai ide cucunya.


"Sepertinya cucu-cucu kita akan lebih bervariasi passionnya" senyum Duncan.


"Hasil didikan kita D. Kita harus memberikan basic etika, tata Krama dan agama yang kuat hingga mereka bisa memilih jalan hidup seperti apa yang baik sesuai dengan passionnya." Javier menyesap tehnya.


"Dan kita juga memberikan mereka semua langkah yang kamu ambil pasti ada konsekuensinya. Jika kamu memilih jalan yang dilaknat dan dibenci Allah, maka hidupmu tidak akan barokah" sambung Joshua.


"Joey dan Luca gimana Josh?" tanya Rhea.


"Biang kerok di Tokyo University" sungut Joshua.

__ADS_1


Duncan dan Javier terbahak.


"Tapi mereka itu sumbut, nakal iya tapi otak cerdas jalan. Aku mendapatkan laporan dari para dosen walinya, nilai mereka perfect lho. Bingung aku tuh! Joey soalnya kemarin malah menyembunyikan mayat untuk pelajaran anatomi. Bikin horor di ruang seni." Joshua hanya bisa menghela nafas panjang.


Duncan, Javier dan Rhea tertawa terbahak-bahak.


Joey Bianchi, putra Marco Bianchi dan Josephine Al Jordan Akandra adalah mahasiswa kedokteran Tokyo University sedangkan Luca Bianchi adalah putra Mario Bianchi dan Marissa Al Jordan Akandra kuliah di kampus yang sama tapi mengambil jurusan sama dengan Opanya, matematika. Dua saudara kembar mafia klan Bianchi menikah dengan dua saudari kembar putri Joshua Akandra dan Miki Al Jordan.


"Joey dihukum dong?" kekeh Duncan.


"Dihukum lah! Disuruh membersihkan kamar mayat rumah sakit Todai satu Minggu. Yang aku heran, tuh anak cuek banget. Kalian tahu, aku mendapatkan laporan dari kepala kamar mayat, Joey membersihkan kamar mayat sambil nyanyi. 'Mayat oh mayat, kok kamu diam saja'. Apa aku nggak pusing mendapatkan laporan cucuku seperti itu?" adu Joshua kesal.


Ketiga sepupunya semakin tertawa kencang.


"Astaghfirullah! Cucu kita itu sepertinya terkontaminasi Eiji deh!" celetuk Duncan.


"Bersyukur lho D, kita masih diberikan kesempatan melihat cucu-cucu kita yang ikut durjana macam kita dulu" gelak Javier.


"Aku jadi ingat Oom Abi sampai darting dengan kita-kita dulu, sekarang kita ngalami sendiri." Joshua tertawa geli mengingat ulah mereka dulu.


"Karma itu menyebalkan!" ucap Duncan dan Javier bersamaan.


***


Tiga bulan kemudian


Kesempatan inilah yang ditunggu oleh Rajendra untuk mendapatkan ilmu yang berbeda dari apa yang dia pelajari di RR's Meal selama ini.


Anna Rudd masih tetap masuk kuliah tapi dia memilih mengambil jarak dengan Rajendra meskipun cowok tampan itu santai saja.


Akhirnya pengumuman restauran yang akan didatangi oleh para mahasiswa diumumkan di papan pengumuman dan email. Rajendra hanya bisa melongo ketika membaca dirinya ditugaskan kemana.


"RR's Meal Hell's Kitchen? Are you f**king kidding me?"


***


Kini Rajendra menghadap dosen pengampu dan meminta untuk dipindahkan dari RR's Meal karena sama saja dirinya tidak berkembang. Semua RR's Meal memiliki aturan yang baku dan sama semua di cabang seluruh dunia.


"Apa kamu ingin pindah McCloud?" tanya dosen itu.


"Iya Sir. Karena bagi saya, RR's Meal saya sudah hapal di luar kepala karena sejak kecil saya sudah berada di RR's."


Dosen itu pun mulai membaca background Rajendra dan terkejut jika remaja tampan di hadapannya adalah keponakan Aidan Blair.


"Astaga, kamu keponakannya Aidan Blair?" ucap dosen itu.

__ADS_1


"Iya Sir. Makanya saya meminta untuk tidak ke RR's Meal lagi" cengir Rajendra.


"Oke McCloud. Kamu nunggu pengumuman besok karena saya harus menjadwalkan lagi kamu berada di restauran mana."


"Baik Sir. Terimakasih." Rajendra pun berdiri dan mengangguk hormat kepada dosennya.


***


Reana sedang duduk di cafe kampusnya untuk menunggu Sarah dan seperti biasanya dia membaca novel dari pengarang favoritnya.


"Akhirnya aku menemukanmu, cantik" sebuah suara membuat Reana mendongakkan wajahnya dari buku yang dibacanya.


"Gadis seperti kamu hobinya kok membaca novel picisan seperti itu? Jaman sekarang itu baca dari iPad. atau tablet, bukan buku kertas seperti itu. Kuno!" Ricahrd Stanton langsung duduk di hadapan Reana.


"Siapa yang mengijinkan kamu duduk?" ucap Reana dingin.


"Tidak ada! Aku hanya ingin duduk menatap wajahmu, cantik." Richard Stanton menopang wajahnya dengan kedua tangannya.


Reana yang melihat pengawalnya datang lalu memasukkan semua barang bawaannya dan segera berdiri.


"Hei! Kamu mau kemana, cantik?" seru Richard.


"Pulang!"


"Aku baru datang kenapa kamu main pulang?" Richard meraih tangan Reana.


Reana menatap dingin Richard. "Lepaskan tanganku."


Sarah yang melihat nonanya diganggu hendak membantu tapi Reana memberikan kode ke Sarah untuk tidak membantu.


"Kalau aku tidak mau?" goda Richard.


Reana langsung mencengkeram tangan Richard yang memegang tangan kirinya lalu memitingnya di belakang punggungnya dan menekan tengkuk Richard diatas meja dengan sikutnya.


"Ini akibatnya kalau kamu tidak mau melepas tanganmu" bisik Reana dingin. "Jangan pernah datang ke hadapanku! Atau aku sebarkan bahwa kamu menelantarkan dua anak hasil hubungan mu dengan pacarmu!"


Wajah Richard berubah menjadi pucat pasi.


***


Yuhuuuu Up Sore


Sambil cengok di perjalanan ini buat Reana dan Rajendra


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2