My Cold Chef

My Cold Chef
Bonchap - Kuliner


__ADS_3

Pandu mendekati Reana yang berdiri dekat jendela ruang kerjanya. Gedung Giandra Otomotif Co Surabaya memang hanya tiga lantai tapi memiliki hall besar yang dipakai untuk bengkel mobil-mobil mewah. Lantai satu digunakan sebagai showroom, lantai dua untuk area desain dan konsultasi sedangkan lantai tiga adalah ruang kantor termasuk ruangan Pandu.


"Jam berapa kamu dari New York ke Surabaya?" Pandu meletakkan kepalanya di ceruk leher Reana.


"Aku sebenarnya sudah sampai dari kemarin langsung ke hotel dan hari ini baru kemari" jawab Reana sambil memegang tangan kekar Pandu.


"Kamu nginap di hotel mana?" Pandu mencium pipi Reana.


"Mercure. Aku sudah booking untuk dua minggu" ucap Reana yang menoleh ke arah Pandu. Mata biru Reana menatap sayu ke Pandu membuat pria itu mampet otaknya dan segera menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu.


Reana pun berbalik dan keduanya saling berpagutan satu sama lain melepaskan kerinduan yang harus terpisah dengan jarak dan waktu.


Pandu melepaskan pagutannya lalu berjalan menuju pintu ruangannya dan menguncinya. Pria itu lalu melepaskan jasnya tanpa memutuskan pandangannya dari gadis cantik yang menatapnya penuh cinta. Jas mahal milik Pandu, dilemparkannya sembarangan.


Pria itu lalu Melu*mat bibir milik Reana lagi sambil memegang tengkuk gadis itu dan dua lengan ramping itu pun mengalungi leher kokoh Pandu.


"I miss you so much Princess" ucap Pandu saat keduanya harus melepaskan pagutannya untuk mendapatkan oksigen.


"I miss you too" balas Reana.


Pandu membawa Reana duduk di sofa empuk disana dan keduanya saling berpandangan lekat satu sama lain. Pandu mengelus pipi Reana dan tangan gadis itu memegang tangan kekasihnya.


"Aku tidak percaya kamu disini, princess." Pandu menatap wajah cantik Reana.



"Jangan lihatin seperti itu dong mas" ucap Reana dengan wajah memerah.


"Soalnya aku takut aku cuma mimpi" senyum Pandu.


BUGH!


"Aduuuhh! Princess! Kok kamu pukul aku sih?" Pandu memegang bahunya.


"Kamu tuh nggak mimpi mas!" cebik Reana kesal. "Tadi yang ciuman sama mas Pandu siapa? Penampakan?"


Pandu tertawa. "Hanya memastikan sayang."


Reana semakin manyun. "Aku lapar. Makan siang dimana kita enaknya?"


"Kamu tadi datang dengan mobil sendiri?"


Reana menggeleng. "Aku naik ojek online."


"Kamu mau makan apa princess?" Pandu memegang erat tangan gadisnya.


"Rujak cingur? Lontong balap?"


Pandu melongo. "Hah? Serius mau makan itu?"


"Iyalah! Sudah sampai di Surabaya juga" kekehnya.

__ADS_1


"Maukah menunggu setengah jam lagi pas jam 12? Kita sholat dhuhur dulu baru pergi?"


Reana melirik ke smartwatch nya yang menunjukkan pukul 11.30. "Oke tidak masalah."


Pandu berdiri lalu mengecup kening Reana sekilas dan mengambil jasnya yang dibuang sembarangan. Pria itu lalu membuka kunci ruang kerjanya dan kembali duduk di kursi kebesarannya untuk kembali bekerja.


Reana sendiri memilih bermain ponselnya untuk mengabari kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya sudah bersama Pandu di kantornya.


***


"Jadi kamu sekarang sama Pandu disana?" tanya Abi yang memang belum tidur menunggu kabar dari saudara kembarnya.



Abi worry nih


"Iya Bi. Aku sudah sama mas Pandu disini" jawab Reana.


"Kamu hati-hati dik. Memang kamu bongsor tapi usia kamu baru 18 tahun. Pandu sudah 23 jadi ada gap disana. Jangan bikin kepercayaan yang dikasih mom dan dad disalahgunakan."


"Aku tahu itu Bi. Aku juga tidak ingin mengecewakan mom dan dad" ucap Reana.


"Kalau nanti ada waktu lowong, aku akan menyusul kamu ke Surabaya. Ingin tahu seperti apa sih kotanya."


"Bilang saja kamu mau menjaga aku" gelak Reana tanpa ada nada kesal atau jengkel mendengar ucapan saudara kembarnya.


"Kamu adikku perempuan satu-satunya, Re. Wajar lah jika aku akan selalu melindungi kamu." Abi tersenyum dan Reana bisa merasakan bahwa kembarannya tersenyum.


"Ini kamu mau makan siang dimana?"


"Aku minta rujak cingur dan lontong balap" jawab Reana.


"Aku yakin, pulang-pulang dari Surabaya pasti kamu gendut kebanyakan kulineran" kekeh Abi.


"Kayaknya" gelak gadis itu.


***


Pandu dan Reana kini berada dalam satu mobil Rubicon milik pria itu menuju ke sebuah lokasi pujasera yang menjual banyak kuliner khas Surabaya yang lengkap. Pandu memilih untuk tidak memakai jasnya hanya dengan kemeja putih yang lengannya digulung dan celana pantalon. Dasinya sendiri dia simpan di laci meja kerjanya.


Gaya santai Pandu mengikuti gaya santai Reana yang wajahnya berbinar melihat banyaknya kuliner enak-enak khas Jawa Timuran yang tidak ada di New York.


Gadis cantik itu tampak excited ingin mencicipi ini itu tapi Pandu mencegahnya.


"Princess, kan kamu masih lama disini, jangan khilaf lah" kekeh Pandu sambil merangkul pinggang ramping Reana.


"Tapi semuanya tampak lezat" ucap Reana dengan wajah sumringah. Keduanya seolah tidak menyadari bahwa banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.


"Gini saja, aku pesan rujak cingur, kamu pesan lontong balap jadi kita bisa saling mencicipi. Bagaimana?" Pandu menatap Reana.


"Begitu juga boleh" ucap Reana sambil mengangguk.

__ADS_1


"Kalau begitu, kamu cari tempat duduk dulu, biar aku yang pesan." Pandu mengedikkan dagunya ke arah meja yang kosong memberi kode agar Reana duduk disana.


Gadis tinggi semampai itu pun duduk di meja kosong sambil memperhatikan kekasihnya memesan makanan yang dia inginkan.


"Agak nunggu ya Princess" ucap Pandu setelah memesan makanan mereka dan duduk di hadapan Reana.


"Tak apa" senyum Reana.


"Kamu tidak apa makan di tempat seperti ini?"


"Maksudnya?" tanya Reana bingung.


"Bukan fine dining."


Reana tertawa. "Astaga mas. Biasa saja, aku yang penting tempat nya bersih dan rasanya enak."


"Kamu tuh anak Sultan, cucu Duncan Blair tapi santai saja makan di tempat seperti ini" senyum Pandu. Dia semakin kagum dengan gadis cantik di hadapannya yang cuek dengan tempat makan pujasera sederhana seperti sekarang mereka datangi.


"Mas Pandu, di New York orang memang tahu aku anak siapa, cucu siapa. Tapi disini, di Surabaya, orang hanya melihat aku sebagai seorang turis bule. Tidak ada yang mengenali aku disini bahkan tidak ada paparazi juga."


Pandu pun melihat ke sekelilingnya dan memang tidak ada wartawan atau paparazi seperti di New York yang kadang mengikuti Reana.


"Abi mau kemari?" tanya Pandu.


"Katanya sih sekalian mau lihat Surabaya juga dia."


Pesanan mereka pun datang membuat percakapan mereka terhenti. Wajah Reana tampak antusias ingin mencicipi makanan khas Surabaya khususnya dan Jawa Timur umumnya.



Rujak cingur



Lontong Balap


"Waaaahhhh, tampaknya enak" ucapnya sambil mengambil sendok dan garpu yang disediakan.


"Enjoy your meal, Princess." Pandu menatap penuh cinta ke Reana.


"Bon appetit."


***


Yuuuhhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2