
Semarang Jawa Tengah
Pagi ini semua orang sarapan di hotel Gumaya sembari membicarakan langkah - langkah yang akan diambil. Semalam usai bertemu dengan kapten Rasyad, diputuskan untuk membuka kembali kasus kecelakaan Gavin dan Lahita.
"Apa kamu mau nyekar dulu, Ndari?" tanya Abi ke Gandari di sela-sela sarapan.
"Nanti saja mas, kalau sudah lega jadi aku bisa laporan ke papa dan mama" senyum Gandari.
"Acaranya apa hari ini Abi?" tanya Jennifer.
"Kita pagi ini ke notaris yang membantu membuatkan sertifikat palsu itu dan mengkonfrontir pegawai BPN bernama Joko mantan suami si Anggita."
"Gimana ceritanya Bi?" tanya Jason.
"Semalam Benji sudah membuatkan timeline dibantu dengan Gandari yang mencoba mengingat sedikit demi sedikit."
Jason dan Jennifer memang tidak terlalu kepo dengan keluarga Gandari secara detail karena bagi keduanya yang penting gadis cilik itu mereka adopsi.
"Beruntung Gandari kalian adopsi lalu anda bawa pergi ke Amerika, Mr dan Mrs Frank, karena saya yakin jika Gandari masih di Semarang, bisa jadi nyawanya terancam karena pewaris sah masih hidup" ucap Travis.
"Bisa jadi, Vis" gumam Jason.
"Jadi nanti akan ke kantor notaris dan BPN bersama dengan polisi?" tanya Gandari.
"Iya, nanti bersama kapten Rasyad. Ohya Gandari, kamu suka nonton India nggak?" Travis menatap Gandari usil.
"Nggak terlalu. Kenapa?"
"Soalnya kapten Rasyad mirip aktor India."
***
Jam sepuluh pagi kapten Rasyad bersama dengan dua asistennya dan Abi, Travis serta Gandari, menuju kantor BPN. Disana mereka bertemu dengan pimpinannya untuk memberitahukan hendak membawa pegawainya yang bernama Joko Triyadi ( sorry buat yang namanya sama, ini hanya cerita fiktif ) ke kantor polsek Gajah Mungkur.
Joko Triyadi hanya menatap bingung kenapa Kapolsek Gajah Mungkur hendak membawanya ke Polsek tapi kapten Rasyad mengatakan untuk membantu pemeriksaan sertifikat. Tanpa curiga Joko pun ikut ke dalam mobil polisi sedangkan Abi, Travis dan Gandari hanya menunggu di mobil Alphard agar tidak membuat Joko curiga.
Untuk pertama kalinya ketiga orang itu melihat sosok mantan suami Anggita. Pria itu berperawakan sedang dengan tinggi rata-rata pria Indonesia sekitar 170an tapi Abi dan Travis melihat mata nya tampak tajam dan licik.
"Bi, kita ke Polsek Gajah Mungkur?" tanya Travis.
"Biar kapten Rasyad yang pegang si Joko, kita ke notaris Iin dulu saja. Karena tanpa notaris, tidak mungkin bisa terbit juga tuh sertifikat" ucap Abi. Tak lama suara notifikasi ponsel Travis berbunyi.
__ADS_1
Travis membaca pesan dari kapten Rasyad dan meminta agar notaris Iin dibawa oleh Abi dan Travis.
"Kita ke notaris Iin yang kantornya di jalan Merapi" ucap Travis ke pak Rahman.
***
Setibanya di kantor notaris Iin, Abi dan Travis tanpa basa basi langsung masuk ke ruang kerja wanita itu. Tentu saja Notaris Iin merasa keberatan dengan kedatangan mereka.
"Apa maksudnya anda semua masuk tidak sopan ke ruangan saya?" bentak Notaris Iin itu.
"Membawa anda ke kantor polisi karena anda sudah memalsukan sertifikat rumah jalan Kawi yang merupakan milik Lahita Kristiawan, serta dua tanah di jalan pemuda" ucap Travis tenang.
"Siapa anda yang berani melakukan tuduhan tak beralasan dan tidak ada bukti?" Wajah notaris Iin tampak memucat menahan amarah dan ketakutan.
"Perkenalkan saya Travis Blair, dari kantor pengacara Blair and Blair. Jerome sudah menceritakan semuanya kepada saya dan jika anda meminta bukti, ini saya berikan buktinya." Travis melemparkan berkas-berkas dari kantor Jerome yang berisikan draft kasar, pemalsuan tanda tangan Lahita dan Gandari sebagai ahli waris serta surat wasiat asli Lahita dan Gavin yang dibuat baru seolah semua diberikan kepada Lukman Kristiawan, bukan ke putrinya.
Notaris Iin memucat melihat bagaimana berkas yang tersimpan rapi di lemari besi Jerome, dipegang semua oleh Travis Blair.
"Kebiasaan para pengacara adalah, tidak ada berkas satu lembar pun yang dibuang karena itu merupakan bukti berharga. Bahkan Opa saya masih memiliki berkas yang usianya puluhan tahun" seringai Travis.
"Anda tidak bisa menuntut saya karena hanya bukti tidak kuat seperti ini!" ucap Notaris Iin.
"Bagaimana jika ahli waris yang sah yang menuntut Anda? Termasuk kejahatan pembunuhan terhadap Gavin dan Lahita?" ucap Abi dingin.
"Saya disini, b1tch!" ucap Gandari dingin yang berdiri di depan pintu. "Kamu memang j4l4ng ya! Papaku mempercayakan kamu sebagai notaris perusahaan tapi kamu juga yang membunuhnya!"
Notaris Iin hanya bisa melongo.
***
Anak buah kapten Rasyad pun datang untuk menahan Notaris Iin dan kini ketiganya menuju bank tempat safe deposit box milik Lahita berada. Meskipun cukup alot dengan pihak bank yang tidak mengijinkan membukanya, tapi Gandari memberikan bukti dari surat Lahita hingga pihak bank mau membukanya dengan jaminan dari Travis Blair.
Kunci yang diberikan Lahita pun cocok dengan lemari safe deposit box dan mereka mengambil kotak yang cukup luas itu. Sedikit gemetar, Gandari membuka kotak itu dan mereka pun terkejut melihat semua sertifikat tanah dan rumah yang asli disana. Travis lalu mendokumentasikan semua hasil penemuan mereka.
"Astaghfirullah! Ini semua aset milik eyang yang sudah dibalik nama ke mama" ucap Gandari sambil membaca kesepuluh sertifikat itu. "Mas Abi, lihat. Ini rumah Kawi, tanah pemuda, tanah di Banyumanik, tanah di Tlogosari..."
"Aku tidak tahu daerah mana saja itu Ndari tapi setidaknya kita mendapatkan bukti otentik bahwa kita memiliki sertifikat yang asli." Abi tersenyum lalu menelpon seseorang. "Halo Luc. Empang piranha kamu sudah berapa lama tidak makan orang?"
Travis dan Gandari yang sedang memeriksa sertifikat mendelik ke arah Abi.
"Nanti aku kirim setelah aku mutilasi" gelak Abi durjana.
__ADS_1
"Jangan dengarkan Gandari. Itu percakapan absurd antara Abi dan sepupunya yang anggota mafia Italia" ucap Travis sambil lalu.
Gandari melotot tidak percaya. "Mafia Italia?"
"Dan Yakuza Jepang" sambung Travis lagi.
"Yakuza?" cicit Gandari. What's going on in here?
***
Semua berkas serifikat disimpan dalam koper yang sudah disiapkan oleh Travis sebelumnya, koper yang tidak bisa dibuka sembarangan karena memakai sidik jari miliknya.
"Kita ke Polsek Gajah Mungkur untuk bertemu dengan kapten Rasyad sekarang" ajak Travis. "Aku sudah meminta anak buahku membawa Jerome ke Polsek juga."
"Kita konfrontasi disana?" tanya Abi bersemangat.
"Kalau kamu mau menghajar Bi, ingat konsekuensinya. Mereka bisa menuntut balik" senyuk Travis.
"Gampang! Tinggal aku tuntut pembunuhan berencana."
Gandari menatap Abi. "Memang bisa mas?"
"Hei, apa gunanya Benji membuat timeline? Semuanya sudah dibongkar anak itu. Asal kamu tahu Ndari, dua tetangga depan rumahmu mendapatkan uang senilai masing-masing 500 juta rupiah dari uang asuransi kedua orang tuamu yang diambil pamanmu itu." Abi memperlihatkan berkas - berkas yang didapat oleh Benji.
"Bahkan uang asuransi kedua orang tua ku diambil oleh mereka?" Gandari memegang pelipisnya. "Memang berapa sih mas?"
"$1 juta dollar."
Wajah Gandari tampak mengeras menahan amarah.
"Son of the b1tch!"
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️