
Solo, Jawa Tengah, Indonesia
Abi dan Reana sangat menikmati kota Solo, kota yang bisa dibilang sebagai kota pensiunan karena harga barang disana jauh lebih murah dari Jakarta dan kuliner tradisional serta modern bisa berbaur adil. Ciri khas kuliner di Solo, sedep tur kudu murah. Tak heran disana masih banyak para pedangang warung angkringan baik yang masih dengan gerobak dan tenda pinggir jalan maupun sudah semi rumah makan.
Dan kini setelah menikmati gudeg khas restauran legenda Adem Ayem yang berada di jalan Slamet Riyadi bersebrangan dengan Solo Grand Mall, rombongan itu menuju wedhangan pak Basuki yang berada di Brigjen Katamso.
Abi sangat menyukai wedang jahe merah, nasi bandeng, sate kikil dan jadah di wedhangan itu karena memang sedap semua. Waktu kecil, dirinya dan Reana sering diajak Kaia dan Rhett ke Solo jika liburan yang selalu mampir kemari.
Tapi setelah high school, mereka jarang ke Solo karena pekerjaan kedua orangtuanya pun semakin padat. Dan kini Abi seperti membalas dendam dengan pesan macam-macam.
"Astaghfirullah! Abi, habis itu?" Danisha melihat bagaimana Abi khilaf pesan banyak makanan.
"Tenang saja Tante Nisha, nanti aku yang akan bantu abisin" senyum Reana yang memang hanya memesan satu nasi bandeng dan secangkir teh uwuh.
"Soalnya selera aku dan Reana sama, Tan. Jadi bisa kolaborasi buat ngabisin" cengir Abi.
Danisha dan Iwan pun saling berpandangan tapi melihat tubuh besar Abi, mereka pun tidak heran.
"Bi, kok Oom lihat kamu makin lama makin mirip Opamu deh!" komentar Iwan.
"Mirip Opa Duncan kah?"
"Iyalah, kan kita tidak pernah bertemu dengan orangtuanya papamu" senyum Danisha.
"Kalau kata mama sih, badanku memang mirip Opa Duncan tapi sifat gabungan antara Ogan Abi dan Ogan Edward."
"Kamu nggak sejulid Ogan Abi kan?" Danisha memicingkan matanya.
"Abi tuh julid Tante" kekeh Reana.
"Parah mana sama Ogan Abi?" tanya Danisha lagi.
"Kata Oma Rhea sih, masih parah Ogan" gelak Reana.
Danisha dan Iwan tertawa.
"Mas Abi." Suara Ega membuat sepupunya itu menoleh.
"Apa Ga?" jawab Abi.
"Makan apa sih bisa punya badan Segede itu?"
"Yang jelas rajin olahraga, body building juga. Dulu badan aku juga sama seperti kamu, kurus. Kena bully lagi di sekolah saking kurusnya terus akhirnya aku bertekad punya badan bagus. Jadi nggak cuma rutin latihan beladiri tapi juga aku ikut MMA dan nge gym. Jadinya gini deh!" papar Abi sambil tersenyum.
"Kamu ikut Tante Alexandra atau nggak?" tanya Danisha yang tahu istri Ghani Giandra itu jago eskrima.
__ADS_1
"Reana yang ambil eskrima, aku hanya ambil krav maga" jawab Abi.
Kelima anggota keluarga keturunan Abi Giandra ( kecuali Iwan yang jatuh cucu menantu ) menikmati acara makan di wedhangan meskipun banyak mata menatap dua orang bule yang denahn santainya menikmati makanan tradisional tanpa jaimnya.
***
Di pinggiran kota London
Direndra dan Alaric melihat ke arah Rama yang masih konsentrasi untuk melepaskan anak panahnya. Kedua kakak beradik itu memperhatikan kakak sepupu mereka yang tampak tampan dan harum.
Syuuuttt!
Anak panah yang dilepaskan oleh Rama pun melesat dan langsung mengenai target di tengah.
"Yes! 10 poin!" seru Rama.
"Mas!" panggil Direndra.
"Apa?"
"Elu dah mandi kan?" ledek Alaric.
"Eh udah dong cumiii! Tambah ganteng kan?" cengirnya yang dimata kedua kakak beradik Blair itu tampak menyebalkan.
"Sebentar." Direndra pun menatap langit. "Oh masih terbenam di barat kok mataharinya."
"Ya kali!" sahut Direndra sembari mengedikkan bahunya cuek.
"Dih nyebelin!"
"Mas, jangan malas mandi kenapa? Kata mommy, Tante Sekar selalu jewer mas saban disuruh mandi. Apa nggak sayang tuh kupingnya?" Alaric menatap serius ke Rama.
"Irit air lah, Al."
"Oh Astaga! Kan elu nggak mandi seharian juga! Paling kan cuma lima belas menit dan itu shower nggak ngalir terus" sungut Direndra.
"Dih, kalian kok pada bahas soal aku malas mandi? Topik yang lain dong! Eh iya, beneran kalian belajar bahasa Arab?" tanya Rama mengingat kedua sepupunya sudah diumumkan secara resmi di pihak istana Al Azzam sebagai calon pewaris Emir Al Azzam karena sang ibu Thara tidak memiliki saudara laki-laki jadi Hasyim Al Azzam memutuskan saat Thara melahirkan Direndra dan Alaric, kedua cucunya menjadi penerus gelarnya.
"Iya, karena memang kami harus bisa bahasa Arab" jawab Direndra.
"Hebat dong! Aku sih gak bakalan sanggup. Jerman dan Inggris saja sering keucap dalam satu kalimat" gelak Rama.
"Tapi sebenarnya mas, bahasa paling sulit itu Jawa" celetuk Direndra. "Segala sesuatu harus disesuaikan dengan kondisinya. Mana setiap daerah di Jawa Tengah saja beda cara bilangnya tapi maksudnya sama."
"Waktu kita ke Jakarta, sama Tante Gendhis kan sempat tuh dengar dia ngobrol sama Tante Danisha pakai bahasa Jawa, sumpah bikin pening." Alaric menggelengkan kepalanya. "Oma Rhea juga masih bisa nyambung lho biarpun lama tinggal di New York."
"Karena pada dasarnya kita tuh masih ada keturunan Jawa kan?" kerling Rama. "Meskipun casingnya jadi bule begini."
__ADS_1
***
Solo Baru, Solo, Jawa Tengah, Indonesia
Reana merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk di kamarnya. Abi dan Reana memang menginap di rumah milik keluarga Al Jordan di Solo Baru sesuai dengan ijin Mamoru, Miki dan Masayuki. Mereka tidak mempermasalahkan keponakan mereka tinggal disana karena selain ada yang ngeruwat, ketiga Al Jordan bersaudara itu pun masih punya rumah warisan Shanum dan Hiroshi Al Jordan di Manahan.
Disaat Reana hendak memejamkan mata, suara notifikasi ponselnya berbunyi dan mata birunya pun otomatis terbuka. Wajahnya tersenyum melihat siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum mas" sapa Reana ke layar hpnya.
"Wa'alaikum salam princess. Sudah mau tidur?" Pandu menatap wajah cantik polos tanpa make up di layar ponselnya karena dirinya melakukan panggilan video.
"Sebentar lagi. Mas Pandu sendiri bagaimana hari ini?"
"Seperti biasanya, ngantor. Kamu sendiri princess?"
"Well aku tadi makan gudeg dan opor adem ayem lalu ke wedhangan pak Basuki."
"Bersama dengan Bu Danisha dan pak Iwan kan?" tanya Pandu.
"Iya, bersama Ega sepupu ku juga."
"Besok acara kemana?" tanya Pandu berusaha menahan senut-senut yang berasal dari miliknya.
"Kayaknya mau ke Oma Savitri dan Opa Jaehyun." Reana menatap wajah Pandu yang tampak menahan sesuatu. "Mas Pandu kenapa?"
"Princess, bisa tidak kamu tidak pakai lingerie?" ucap Pandu parau.
"Hah?" Reana pun menundukkan kepalanya dan setelahnya wajahnya mendongak menatap Pandu dengan wajah memerah. "Oh Astagaaa!"
"Ya, oh astaga! Mas tutup dulu!" Pandu segera mematikan panggilannya sedangkan Reana menaikkan selimutnya.
Ya ampun! Kok bisa sih dadaku kelihatan ! Reana menutup wajahnya dengan selimut.
Sementara itu, Pandu segera menuju kamar mandi untuk menyiram dirinya dengan air dingin.
Damn it!
***
Yuuuhhuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1