
Flashback ...
"Memang kamu mau ngapain Jendra?" tanya Aruna melihat wajah usil bocah tampan itu.
"Bikin Oom Ai sama Tante Thara baikan."
"Gimana caranya?" bocah perempuan imut berhijab itu bingung gimana caranya orang dewasa baikan. Bukannya orang dewasa itu lebih ribet ya kalau marahan?
"Aku mau minta bantuan Opa Duncan dan Eyang Hasyim." Wajah Rajendra tampak seperti memikirkan sesuatu yang jahil.
"Kalau tidak berhasil?" Aruna menatap Rajendra dengan cemas.
"Harus berhasil. Rajendra kok dilawan" ucapnya songong yang membuat Aruna memukul bahunya.
"Nggak boleh sombong!" omelnya.
"Kamu kok mukulnya beneran sih Run? Sakit tahu!" Rajendra mengusap-usap bahunya.
"Mau lagi?" Aruna mendelik judes. "Allah bilang nggak boleh sombong jadi orang. Tahu nggak!"
"Iya Aruna." Rajendra pun memanyunkan bibirnya.
"Kamu tuh dikasih tahu malah manyun!" cebik Aruna sebal.
***
Dasar anak cerdas, Rajendra berhasil mendapatkan nomor ponsel Hasyim Al Azzam yang tersimpan di ponsel Arjuna. Bocah itu berhasil merayu sang papa untuk meminjam ponselnya karena hendak bermain game sebab ponsel milik Rajendra sedang di charge.
Setelah mendapatkan, bocah itu mempersiapkan semuanya dan Aruna menatap Rajendra dengan perasaan cemas dan penasaran. Apa rencana Jendra berhasil ya? Aku suka sama Tante Thara juga, tapi Oom Aidan memang galak sih!
"Pelan-pelan Runa tapi aku yakin berhasil kok" cengir Rajendra.
"Semoga ya."
***
Duncan masih berada di kamar Rajendra setelah menjewer Aidan yang tidak mau mengantarkan Thara pulang. Rajendra hanya bisa menggelengkan kepalanya, sebal melihat Oomnya lebih anak kecil darinya.
"Jendra, besok kalau sudah besar, jangan tiru Oom kamu yang seperti anak TK ya!" pesan Duncan sambil duduk di pinggir tempat tidur dan mengusap rambut tebal cucunya itu.
"Nggak Opa. Jendra nggak akan seperti itu dengan Aruna" jawabnya yakin.
"Opa suka lihat Aruna. Imut dan cantik" senyum Duncan.
"Benar kan? Makanya Jendra suka meskipun judes kadang-kadang" kekeh Rajendra.
"Kamu tuh masih kecil, Jendra" Duncan mengacak-acak rambut Rajendra gemas.
"Opaaaa" suara Rajendra terdengar imut.
"Apa boy?"
"Jendra punya permintaan dan minta Opa mengabulkan."
"Apa itu permintaannya? Jangan minta Ferrari seperti mas Abi lho ya!" Duncan menatap cucunya jenaka. Rajendra terbahak. Abi adalah cucu Duncan dari Kaia dan Rhett O'Grady yang usianya setahun lebih tua dari Rajendra.
"Nggak kok. Rajendra kalau pengen Ferrari tinggal minta ke papa."
"Lalu apa?"
"Rajendra ingin Oom Ai menikah dengan Tante Thara."
__ADS_1
Duncan melongo. "Kamu lagi jadi mak comblang?"
"Bukan Opa, Jendra lagi jadi Cupid bukan Mak comblang" eyel Rajendra.
"Sama ajah lah itu. Maksudnya gimana nih cucu opa yang ganteng?"
Rajendra memberikan rencananya ke Duncan yang membuat Opa bertubuh besar itu tidak bisa menolak permintaan cucunya. Apalagi wajah Rajendra yang tampak imut menggemaskan membuat Duncan pun menyerah.
"Siapa saja yang tahu rencana ini?"
"Hanya Aruna yang tahu tapi dia sudah berjanji tidak akan cerita kepada siapa-siapa. Kata Aruna, janji itu harus ditepati dan Jendra percaya sama Aruna."
Ya ampun Jeremy... Cucumu keterlaluan cerdasnya!
"Nanti Rajendra juga akan bilang ke Eyang Hasyim jadi Oom Aidan dan Tante Thara nggak bisa menolak" kekeh Rajendra.
Oh Astaghfirullah! Benar-benar keturunan klan Pratomo.
***
Present Day, Istana Al Azzam
"SAH!"
Acara ijab qobul Aidan dan Thara pun selesai dilaksanakan meskipun tampak kedua mempelai sedikit kaku dan tegang. Tegang karena seperti ditodong dan dipaksa.
Hasyim Al Azzam sendiri mengumumkan bahwa Aidan Blair tidak akan menjadi Emir di klan Al Azzam karena dia bukan keturunan langsung, dan jatuhnya menantu. Gelar Emir sendiri akan diberikan kepada anak Aidan dan Thara nantinya jika yang lahir laki-laki.
Aidan yang mendengar pengumuman itu hanya bisa cemberut. Gimana mau dapat cucu? Belum tentu juga kami akan berhubungan. Pria keturunan Inggris - Indonesia itu melirik ke arah Thara yang wajahnya memerah mendengar kata 'anak' dan 'cucu'. Setidaknya kita satu server.
Setelah mengikuti acara pernikahan tradisi keluarga Thara, Aidan mendatangi sang Papi. Wajahnya tampak ditekuk sepuluh dan meminta penjelasan dari Duncan Blair.
"Oke. G, Goz, sebentar ya" pamit Duncan.
"Ai, jangan gelut sama papimu ya!" senyum Ghani yang diikuti tawa kecil Gozali.
"Nggak Oom... Nggak janji!" sahut Aidan durjana.
"Mau bicara dimana?" tanya Duncan.
"Gazebo situ saja pap."
Kedua ayah dan anak itu pun duduk di sebuah gazebo halaman belakang istana.
"Papi, jelaskan!" Aidan menatap tajam ke arah Duncan. "Siapa yang merencanakan ini? Rajendra bukan?"
Duncan tersenyum smirk. "Bingo!"
Aidan berdiri, mengusap wajahnya malas dan melepaskan jasnya lalu melemparnya sembarangan.
"Apa sih yang ada di otaknya anak nakal itu?" Nada suara Aidan terdengar naik dua oktaf.
"Pemikiran yang logis dan tepat" jawab Duncan santai.
"Papi kan bisa nggak menurut sama Rajendra! Dia masih anak kecil! Mana tahu urusan orang dewasa! Aku yang menjalani pernikahan ini, bukan Rajendra!"
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak menolak?" cengir Duncan.
"Lalu melihat mami bawa rolling pin kesayangannya getok kepalaku? Oh nggak Pi, Ai masih sayang kepala Ai."
__ADS_1
"Nah tuh tahu! Jangan bikin mamimu ngamuk karena bisa gegar otak!" gelak Duncan durjana sedangkan Aidan mendengus kesal.
Di keluarga besar ada catatan tidak tertulis. Semua anak boleh berdebat dengan para ayah tapi jangan sekali-kali melawan para ibu.
"Aidan, papi kan tidak bisa menolak permintaan cucu kesayangan. Apalagi kalau kamu melihat wajahnya yang menggemaskan, tambah nggak tega papi."
"Gitu ya, lebih memilih cucu daripada anak sendiri!" sungut Aidan kesal.
"Terima sajalah Thara. Toh dia Tante kesayangannya Rajendra. Apa kamu tega membuat bocah itu bersedih dan menangis?" Duncan menatap wajah putranya dengan mimik manyun.
Papi, Rajendra itu tukang drama! Sama dengan cucu-cucu papi yang lain!
"Setidaknya, kamu nggak perlu repot-repot cari istri yang kudu screening dulu."
Aidan memutar matanya malas.
***
"Sabine sayang" sapa Karl yang datang menghampiri kekasihnya.
Sabine yang malam ini memakai gaun pesta bewarna biru navy model kemben itu menoleh dan melihat pria yang akan menjadi calon suaminya itu datang menghampiri dirinya.
"Halo bocah Jerman" sapanya sambil tersenyum lebar.
"Kamu bisa nggak sih pakai baju yang agak tertutup?" bisik Karl sambil mencium pelipis Sabine.
"Kenapa memang?" tanya Sabine polos.
"Karena... " Karl mendekatkan bibirnya di sisi telinga Sabine. "Ingin memberikan tanda di seluruh bahumu" bisiknya sen*sual.
Plak!
"Nikahi anakku dulu Karl! Baru kamu boleh mesum!" Hardik seorang pria di belakang Karl.
Karl yang mengusap belakang kepalanya yang terkena keplakan hanya bisa tersenyum kecut.
"Oom Senna."
Sabine tertawa terbahak-bahak.
Bocah Jerman kena keplak
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Maaf agak slow ...
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Bonus Rajendra dan Aruna
__ADS_1