Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Pawang


__ADS_3

Saat pintu terbuka.....


"Mas Panji..." ucapan pernah pria sok tahu


"Maaf saya temannya, tuan rumah lagi turun berok nya" ucap Tian kesal


"Ah baik pak, ini tolong di tanda tangani pesanan mas Panji" ucap si pemuda pengantar pizza.


Tian langsung menandantangani nota penerimaan dan memberikan selembar uang merah sebagai tips


"Maaf pak ini"


"Terima saja, itung-itung ini hari hoki kamu" ucap Tian


"Baik terima kasih, selamat menikmati" ucapnya menunduk hormat lalu pergi


"Siapa bro??"


"Kang pizza lah" ucap Tian santai membuka pizza nya lalu memakannya tanpa menawari Panji


"Woi main makan aja loe" teriak Oscar dari arah kamar kecil


"Eh bule, cuci tangan loe.


Najis tahu" ucap Tian melotot membuat Oscar kembali ke wastafel lalu mencuci tangannya


"Liat?? yang jorok tuh Oscar bukan gue"


"Loe sama juga, cuci tangan loe, gue lihat tadi loe ngupil" ucap Tian melirik tajam ke arah Panji yang ingin menyomot pizza


"Kau sungguh menyebalkan" Dengus Panji kesal


"Cepet bro nanti gue abisin" pancing Oscar yang sudah selesai cuci tangan dan langsung bergabung dengan Tian


"Dasar rakus", umat Panji buru-buru cuci tangan dan langsung bergabung dengan kedua rekannya


Ketiganya asik makan pizza


"Gue ke dalam dulu mau bawain Sekar ya" ucap Panji bangkit mengambil dua slice pizza lalu masuk ke kamar tidur nya.


Terlihat Sekar sedang bersandar di tepi tempat tidur sambil memainkan ponselnya


"Sayang sudah bangun?"


"Uhm, baru saja "


"Apa masih terasa sakit?" tanya Panji lembut membelai rambut istrinya


"Lebih baik, obat ini bekerja dengan cepat mas.


Jangan lupa sampaikan terima kasihku pada kak Davina"


"Kau bisa mengatakan sendiri nanti" ucap Panji tersenyum penuh arti


"Apa...???"


"Pstttt, Tian dan Oscar mengganggu kit, jadi aku hanya memanggil pawangnya saja" ucap Panji tertawa pelan


"Jiiii, gue abisin nih pizza nya" teriak Oscar dari luar ruangan


"Tuh kan bule barbar, aku keluar dulu ya sayang.


Makan pizza nya" ucap Panji mengecup kening Sekar lalu keluar dari kamar


"Astaga kalian seperti mesin penggiling, cepat sekali ludes" pekik Panji yang melihat hanya tinggal dua slice dari dua pan pizza.


Panji segera mengangkat dua pizza yang masih tersisa dua slice, mengamankannya agar tak di makan Tian atau Oscar.

__ADS_1


Mereka seperti anak kecil, lupa akan usia mereka yang sudah tak muda lagi, berebut makanan sampai teriak-teriak lalu tertawa terbahak-bahak.


Sekar hanya tersenyum melihat tingkah laku tiga pria dewasa di ruang tengah itu lalu kembali masuk ke dalam kamar


Bel apartemen berbunyi kembali, kini Oscar dengan semangat bangkit ingin membukakan pintu.


"Apa lagi yang loe pesen ji???


tumben loe gak pelit" ucap Oscar dengan senyum lebar membuka pintu apartemen Panji.


Namun senyumnya menghilang empat seiring pintu yang terbuka


"Siapa Os???" tanya Tian karena tak mendengar suara Oscar


"Bilang kurir makanan" ucap seorang wanita melotot


"Ku.. kurir makanan" ucap Oscar tergagap


"Cepet lah gue masih laper.


Panji lagi Baek dia ada tamu di suguhi" puji Tian yang tak tahu menahu siapa sebenarnya Yanga da di depan pintu apartemen Panji.


Sementra Panji hanya bisa menahan tawa


"Kapok kalian, siapa suruh ganggu pengantin baru" gumam pAnji dalam hati


"Sayang, kenapa kamu kesini?" tanya Oscar setengah berbisij


"Menjemputmu dari menganggu ornag" ucap Lilly ketus seperti biasa, namun Oscar malah tersenyum lebar


"Kau merindukanku?"


"Sama sekali tidak" ucap Lilly tegas


"Aku tahu sayang, kau merindukanku, hanya saja kau malu mengatakannya"


"Dalam mimpimu" ucap Lilly kesal langsung mengikuti Davina masuk ke dalam apartemen Panji.


Davina langsung mengabari Lilly dan memintanya ikut.


awalnya Lily menolak mengingat terakhir kali Scr membuatnya malu, ya walau Lily merasa Oscar serius padanya, namun ia masih belum menerima sepunuhnya Oscar.


Pria itu terllau berisik dan menempel padanya seperti benalu, membuat Lilly jengah dan kesal.


Sulit sekali melepaskan Oscar, pria itu selalu mengekornya tanpa rasa malu dan lelah.


"Sayang, katakan kau merindukanku"


"Tidak" ucap lilly kesal


"Aaaaaewww Panji sue kuping gue sakit" ucap Tian yang tak melihat siapa yang menjewer nya, ia hanya tahu jika Panji duduk di sofa dan hanya ada Panji di sana


"Lepasin, sue bener gue pindahin ke kutub loe nanti" ancam Tian yang sedang asik main game terganggu


"Jadi kamu mau pindahin aku ke kutub??? punya nyali???"


"Sa...sayang??? maaf aku kira penjol"


"Ngapain kamu disini???" tanya Davina menaikan sebelah alisnya


"Kan antar obat sama makanan sayang"


"Terus ini??? Tadi aku ke kantormu tapi kata sekertaris mu kamu sudah pergi dengan Oscar dari makan siang"


"Itu, hehehe aku rindu Panji" ucap Tian mengedipkan sebelah matanya pada Panji memberi kode


"Najis, dia datang menggangguku kakak ipar" adu Panji membuat Tian melotot kesal

__ADS_1


"Aku ke memang memintamu ke apartemen Panji tapi hanya mengantar obat, buat apa kau mengajak bule rusuh itu?" tunjuk Davina dengan pandangan mata


"Kakak ipar, aku diajak suamimu menemaninya" protes Oscar


"Kakak ipar gundul mu" ucap Tian kesal


"Aku mu bertemu Sekar"


"Ayo kakak ipar, Sekar sedang di kamar" ucap Panji dengan senyum penuh kemenangan


"Aku bisa sendiri" ucap Davina mengetuk pintu kamar


lalu masuk ke dalam di susul Lilly yang jengah karena Oscar terus menempel padanya


"Kau sungguh sahabat yg menyebalkan" gerutu Tian


"Tapi aku senang dia memangg Lilly datang"


"Dasar bule gila" umpat Tian kesal


"Salah sendiri menggangu bulan maduku dengan Sekar" ucap Panji cuek


"Kau minta di pindahkan ke pelosok"


"Ayo pulang" ucap Davina yang sudah keluar kamar


"Kakak ipar terima kasih obatnya" ucap Panji tulus, Davina hanya menganggu dan memberi kode suaminya untuk mengikutinya pulang


"Lilly ...."


"Jika kau tetap tinggal, jangan pernah menempel padaku selamanya" ucap Lilly mengikuti Davina keluar apartemen Panji


"Hahahhaa pawang nya sudah datang, hus hus, cepat pergi" ucap Panji seperti mengusir ayam


"Kampret" maki Oscar.


"Sayaaaaang" teriak Davina dari luar apartemen


"Iya sayang, aku datang" ucap Tian langsung menyambar jas nya dan pergi


Panji tertawa puas menyaksikan kedua sahabatnya seperti domba yang di giring


"Kamu pasti yang menelpon mereka kan?" tanya Sekar yang berdiri di depan pintu


"Mereka menggangu sekali, gara-gara mereka aku tak bisa memelukmu seharian"


"Otak kotor, pikiranmu hanya begituan saja" ucap Sekar kesal


"Kan ini karena aku harus puasa seminggu sayang"


"Mau puasa lagi?" ancam Sekar


"Enggak, jangan sayang. Adek gak kuat puasa" ucap Panji mengikuti Sekar, ia menempel pada Sekar seperti cicak.


Menempelkan kepalanya di bahu Sekar.


Sekar hanya bisa pasrah, ia membuka kotak makan yang di bawa Davina.


Aroma Opor ayam menyeruak memenuhi ruangan.


"Alhamdulillah rezeki anak Sholeh.


Kakak ipar yang terbaik" ucap Panji lngsung loncat duduk di meja makan sambil memegang sendok seperti anak kecil saja.


Sekar hanya tersenyum sambil menggeleng.


Mengapa ia baru melihat sisi imut Panji saat ini

__ADS_1


Suaminya itu pria yang sungguh aneh, entah sisi mana yang membuatnya jatuh cinta?


Yang jelas Sekar jatuh cinta saat pertama kali Panji menolongnya, cinta monyet yang bertahan hingga kini.


__ADS_2