
"Kenapa? kau tumben tertarik?" selidik Daffi pada kakak nya
"Pikiranmu...
Tadi malam aku menolong seorang wanita berkebangsaan asing, dia sepertinya korban tabrak lari, tapi anehnya banyak luka lembab seperti Habsi di siksa, dan wanita itu adalah wanita yang mirip dengan wanita dalam dokumen ini"
"Apaaaaaa, dimana kau membawanya?" tanya Davina langsung bangkit
"Rumah sakit mu, aku tak tahu.."
",Ayo kita ke sana Shandy" ucap Davina langsung menyambar stop kontaknya dan berjalan cepat keluar ruangannya
"Kenapa kau tak memberitahu ku?" gerutu Daffi lalu menyusul Davina keluar
"Apa dia orang yang penting???,
Aku hanya Kasian dan membawa dia kesana agar gratis" ucap Daffa lalu menyusul mengikuti Davina keluar di ikuti Zidan yang masih bingung
"Kita akan ke rumah sakit juga?" tanya Zidan pada Daffa
"Kalau kau tak mau bisa pulang, tapi baik taksi" ucap Daffa santai.
"Tidak aku mau ikut juga" ucap Zidan langsung masuk ke dalam mobil dan duduk manis.
Daffa hanya menggelengkan kepala.
Sementara Daffi lebih memilih satu mobil dengan adik mereka, Davina
Sesampainya di rumah sakit, team dokter sudah menanti dan langsung memberi laporan karena Davina sudah menelpon mereka.
Terlihat Lilly tengah berlari menghampiri Davina.
Hati ini ia izin tak masuk karena sakit gigi dan mendengar Davina datang, ia langsung bergegas menemui Davina setelah giginya di tambah
"Maaf aku tak mengabari ada pasien yang di bawa Daffa" ucap Lilly canggung
"Bukan tanggung jawab mu lilly, tak apa.
Apa gigimu sudah baikan??"
"Ya, berkat obatmu" ucap Lilly bersyukur
"Baiklah aku mau ke ruangan Bert, kau ikut??"
"Tentu" ucap Lilly mengikuti Davina menuju keruangan perawatan intensive, Bert dalam kondisi koma
Ia mengalami patah tulang di berbagai bagian tubuh dan yang parah adalah kakinya.
Davina memeriksa semuanya dan alisnya berkerut.
Ini bukan tabrak lari bisa, tapi kekerasan di di cover seolah kecelakaan.
melihat metode nya menyiksa Bert, terlihat hanya di lakukan oleh orang dari bawah tanah, kejam dan tanpa ampun, langsung ke inti.
"Periksa semua CCTV di tepat kejadian dan laporkan padaku" ucap Davina penuh emosi, ia memandang prihatin gadis riang yang pernah di temui beberapa saat lalu kini terbaring tak berdaya tak ubahnya mayat hidup dengan alat penopang menempel di seluruh tubuhnya.
"Aku sudah melakukanya, sebentar aku minta anak buahku mengirimnya ke email mu" ucap Daffa yang karena curiga langsung bergerak mencari kebenaran.
"Thank Kak, kau bisa diandalkan" ucap Davina yang di balas anggukan Daffa
"Gue yakin ini ulah Denis dan Dona" ucapan Shandy mengepalkan tangannya.
"bawa barang yang aku pinta" ucap Davina pada Shandy, Shandy yang mengerti langsung menuju suster penjaga dan beberapa saat kemudian sudah kembali
__ADS_1
"Ini semua yang di kenakan Bert" ucap Shandy menatap pakaian Bert yang compang-camping dan berlumuran darah
"Dia tak membawa dompet atau identitas, hanya mengenakan pakaian tidur keluar dari hotel, itu sangat aneh" ucap Shandy bergumam
"Apa ini kalung Bert?" tanya Davina memegang sebuah kalung dengan bandul unik.
Permata prisma panjang.
"Aku mohon rawat temanku dengan baik, dan beri informasi perkembangannya padaku" ucap Davin pada team dokternya.
setelah mengarahkan team dokternya Davina kembali menemui semua orang
""Anak buahku sudah mengirimnya" ucap Daffa
"Baik kita ke ruangan ku.
Ah Zidan pulanglah, ini lebih aman untukmu.
kak Daffi tolong antar Zidan kembali ke rumahnya.
Lilly tolong kabari suamiku dan beritahu keadaan Bert dan minta dia kesini"ucap Davina memberi perintah
"Apa aku harus memberitahu kak Agatha juga?" tanya Lilly
"Tidak, Agatha sedang mengandung, aku tak mau dia stress" ucap Davina menghela.nafas. Saat seperti ini ia memang butuh Agatha, Lilly terllau kaku diajak diskusi, sementara Shandy lebih mengutamakan otot.
"Sial apa yang sebenarnya terjadi padamu Bert???
Apa kau tahu sebuah rahasia yang tak seharusnya kau tahu???" gumam Davina melihat keadaan Bert yan parah.
Kini tinggal Daffa, Shandy dan Davina
ketiganya terdiam sibuk dengan sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menatap layar laptop milik Davina
"Tentu.
By the way, CCTV ini bukan berasal di tempat kejadian, ini berasal dari rumah yang menghadap ke jalan raya itu"
"Thank Kak"
Daffa yang sudah memprediksikan akan diperlukan sudah mempersiapkan laptopnya sendiri dan mulai menari diatas perangkat lunak itu, beberapa saat kemudian gambar terlihat jelas.
"Bukan Dona dan Denis, tapi aku yakin mereka ada sangkut pautnya dengan Denis dan Dona" ucap Shandy
"Butuh data mereka?" tanya Daffa menyeringai
"Kau bisa mendapatkannya???"
"Tentu saja adikku yang manis" ucap Daffa lalu kembali sibuk.
Davina meminta orangnya membawakan minuman dan makanan kecil.
Namun Belum ada satu jam Daffa memperoleh data mereka
"Lihat tempat mereka bekerja, sesuai dugaan ku" ucap Shandy bersorak
"Sial, mereka berani bertindak di wilayah kita" umpat Davina
"Seperti nya Bert sudah menyinggung seseorang" ucap Shandy menduga
"Mungkin lebih tepatnya Bert mengetahui sesuatu yang seharusnya tak ia ketahui" ucap Daffa yang membuat Shandy serta Davina mengangguk setuju dengan dugaan Daffa.
Luka yang di derita Bert adalah luka untuk melenyapkan wanita muda itu.
__ADS_1
"Jika Bert ingin dilenyapkan, pasti Bert menemukan sesuatu, kita perlu memeriksa tempat menginap Bert" ucap Davina ingin mengusut semua
"Kita perlu link agar bisa ke sana"
"Tenang, manager tempat Bert menginap adalah teman papaku, cepat suruh anak buah kita kesana" perintah Davina
"Siap"
"Aku akan ikut mereka memeriksa tempat itu" ucap Daffa bangkit. Davina mengerutkan keningnya.
Tidak biasanya kakaknya itu cekatan membantu
"Aku sedang luang dan iseng" ucap Daffa yang seolah tahu apa yang di pikirkan Daffa
"Terima kasih kakak ku yang tampan"
"Hmmmm" ucap Daffa lalu keluar dari ruangan Davina dengan tangan yang di masukkan ke kantong celananya.
Wajahnya yang tampan namun angkuh membuat ia seperti seorang raja yang tak tersentuh.
Davina menggelengkan kepalanya, kapan kakaknya itu memiliki pacar jika sikapnya saja sedingin kulkas dua pintu.
"Nanti juga akan ketemu jodohnya, biasanya pria yang modelnya dingin gitu dapat cewek yang cerewet" ucap Shandy yang mengerti kekhawatiran Davina
"Semoga saja ada cewek yang mau sama dia dan bisa kuat iman, gak mati karena makan hati menghadapi sikapnya yang datar dan dingin kaya lapangan sky"
"Hahaha kau bisa saja"
"Itu benar, kalau aku bukan adiknya, aku akan menghindari pria seperti itu"" ucap Davina
"ah sudahlah, masing-masing orang memiliki karakter berbeda-beda"
"Iya aku mengerti, tapi karakter Daffa karena dapat gen buruk dari kakek buyut"
"Hahaha tahu dari mana kau?" tanya Shandy teringat akan kakek tua yang galak itu
"Daffa duplikat kakek buyut saat muda, bukankah itu kutukan????
Sementara di kediaman Angelo
Hatcin, hatcinnnn
Angelo bersin-bersin
"Sepertinya sedang ada yang menggunjing ku" gumam Angelo
"Kau percaya mitos sayang.
Itu karena tubuh tua mu yang imunnya menurun""ucap Ernest tertawa kecil
"Mungkin" sahut Angelo cuek kembali meneruskan rajutannya.
"Jangan mencari alasan, kau sedang ku hukum" ucap Ernest menatap suaminya tajam
"Iya, iya, huh" Dengus Angelo
"Jika bukan karena Davina akan melahirkan penerus ku, aku aku keberatan", gerutu Angelo lirih
"Apa kau bilang??" tanya Ernest yang melihat suaminya menggerutu
"Tidak sayang, aku menerima hukuman dengan patuh" ucap Angelo menjilat agar istrinya tak marah dan menambah hukumannya.
Matanya sudah kabur dan pinggang tuanya tak mau bekerjasama duduk lama.
__ADS_1
Merajut menyiksanya.