
"SE..Sekar...?????"ucap Panji terkejut sambil mendorong pelan wanita yang memeluknya yang tak lain adalah Mila
"Maaf, aku akan datang lagi lain kali, silahkan di lanjut" ucap Sekar dengan suara bergetar, ia segera pergi dari tempat itu.
Panji melihat Sekar menghapus air matanya, entah mengapa Panji merasa perasaan aneh melihat Sekar pergi. padahal ia tahu jelas ia masih mencintai Mila.
Atau karena ketelatenan dan kesabaran Sekar merawatnya membuat Panji merasa tak enak atau perasaan lain????.....
"Siapa wanita itu....
Apa dia Sekar??? Sekretaris mu yang baru mas?" tanya Mila di bakar api cemburu
"Katakan mau apa kau kesini?"
"Mas, percayalah aku di paksa, aku terpaksa menuruti Fredy. Dia mengancam akan memberhentikan pengobatan mamaku" Isah Mila dalam tangisnya
Panji hanya diam tak menyahut
"Kau bisa mengecek kebenarannya mas, aku sungguh mencintaimu" ucap Mila memeluk Panji, namun Panji hanya diam.
Panji memejamkan matanya, hatinya terasa sakit oleh pengkhianatan yang di lakukan Mila
"Beri aku kesempatan mas, bukankah Tuhan maha pemaaf?? mengapa...."
"Tutup mulut kotor mu, apa kau masih ingat Tuhan saat tubuhmu ternodai??? kita manusia kotor, jangan naif Mila"
"Aku..., aku,...."
"Pergilah, aku tak ingin melihatmu"
"Apa sebegitu bencinya kah padaku mas??" rintih Mila sedih
"Kau pikir sendiri saja, pintu keluar ada di depan" ucap Panji bangkit lalu bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi. Otaknya serasa mau pecah, ia sudah tenang dan sedikit terobati dan berusaha melupakan Mila, namun wanita itu malah datang lagi bahkan masuk kedalam apartemen saat ia masih tidur..
Panji yang sedang tertidur pulas di kejutkan karena merasa wajahnya di belai dan ada beberapa tetes air mata Mila yang mengenai wajahnya sehingga ia terbangun dan langsung duduk.
"*Sepertinya aku harus mengganti password apartemen ini demi kenyamanan ku, tapi bagaimana dengan Sekar ya??? ah **** ngapain gue jadi kepikiran Sekar, dia kan cuma sekertaris gue.
Panji berdiri di bawah shower dan membasahi kepalanya dengan pakaian lengkap, ia harus mendinginkan otaknya dan berharap dinginnya guyuran air shower dapat mendinginkan otaknya
Setelah satu jam ia keluar dari kamar mandi, terlihat kamarnya kosong, ternyata Mila sudah pergi.
Panji berjalan menuju lemari pakaian namun langkahnya terhenti saat melihat cincin berlian yang pernah ia berikan pada Mila, tergeletak dia tas meja rias beserta sepucuk surat
__ADS_1
"Mas,aku sadar kesalahanku fatal DNA sulit untuk memaafkan, aku juga sudah berbohong padamu, tapi perasanku padamu tak pernah bohong.
Seiring waktu aku mencintaimu, entah sejak kapan rasa itu hadir.
Kau pria yang memperlakukan aku seperti seorang ratu, menghargai ku, mencintaiku tulus.
Mas, dulu kau memberikan cincin ini sebagai tanda perasaan hatimu padaku, karena kini kita sudah berpisah, cincin ini aku kembalikan padamu.
Maaf kan ku atas semua kesalahanku yang menyakitimu, dan terima kasih telah hadir dalam hidupku.
Mila.
Panji meremas surat tersebut, ia mengepalkan tangannya sambil memejamkan mata, setetes air mata keluar dari matanya
"Tuhan apa yang harus ku lakukan???
Aku tak bisa menerimanya lagi, walau jujur aku masih mencintainya, tapi perasaan itu seperti.....
Hampa"
Panji memakai pakaiannya lalu keluar dari kamar, diatas meja ada kotak makan, kotak yng sama yang biasa Sekar bawa saat membawakannya makanan
"Sekar, astaga aku sampai lupa gadis desa itu" gumam Panji lalu mencoba menelpon Sekar, namun ponselnya tidak aktif
"Tumben? kemana itu anak? enggak biasanya dia gak aktif ponselnya" gumam Panji setelah mencoba menghubungi Sekar beberapa kali akhirnya ia menyerah karena perutnya sudah berbunyi minta di isi, begitu di buka ayam opor favoritnya sudah menggoda untuk di lahan.
walau Panji sudah kabur dari rumah, namun ia kerap menghubungi ibundanya jika ia senggang
Setelah selesai makan, Panji langsung mengambil ponselnya dan menghubungi ibundanya hingga lupa waktu, memang Panji dan ibundanya sangat dekat ketimbang dengan ayahandanya yang kaku dan otoriter.
Tak terasa jam makan tiba, Panji sudah menunggu kedatangan Sekar tapi sudah satu jam berlalu Sekar tak kunjung datang menemuinya
"*Astaga apa Sekar ingin membuatku mati kelaparan??? mana janji dia akan merawat ku? ah memang wanita sulit di pegang perkataannya" gerutu Panji lalu meraih ponselnya dan mulai menghubungi Sekar.
Namun ponsel Sekar tetap tak bisa di hubungi,
"Astaga, sekaaaarrrr.....!!!!!!" teriak Panji kesal .
Ia terdiam sejenak dan ingat pagi tadi sepertinya Sekar keluar dari apartemennya sambil menangis, tapi mengapa???
perasaan Panji tak enak, ia langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya bergegas menuju apartemen Sekar. Panji sebenarnya malas ke sana, ia kesal dengan Tian yang pilih kasih, bagaimana sekretarisnya langsung di berikan fasilitas apartemen di hari pertamanya dia kerja, sungguh pilih kasih.
Kini Panji jadi berfikir ini aneh, siapa sebenarnya Sekar????
__ADS_1
Apa dia istri muda Tian???? tapi mengapa Davina dekat dengannya*????
"Baiklah, sekali menyelam dua tiga pulau terlewati. Gue pengen tahu siapa sebenarnya Sekar" gumam Panji lalu berjalan melajukan kendaraannya menuju apartemen Sekar.
Setengah jam kemudian Panji sudah berdiri di depan unit apartemen Panji, ia segera menghubungi Sekar, namun ponselnya masih juga belum bis di hubungi.
Panji dengan ragu menekan bel pintu apartemen, setelah beberapa saat seseorang membukanya
"Cari si......" Sekar terkejut melihat Panji ada di depan pintu apartemennya
"Kamu kemana saja sih? ponsel pake gak aktif lagi?" gerutu Panji kesal, namun Sekar hanya bengong dan diam tak percaya kedatangan Panji
",Apa kau bisu??? di tanya diam aja.
Ahhh kah memang membosankan, awas aku mau masuk" ucap Panji menerobos masuk apartemen Sekar.
"Wangi apa ini??? opor??? kenapa kau masak opor ayam tapi tak mengantarnya ke apartemen ku??" Panji tak tahu mau, ia segera membuka rice cooker, menyendok nasi lalu oper ayam di kompor dan mulai lahap memakannya.
Sekar hanya diam memandangnya tanpa suara, air mata Sekar menetes melihat pria yang ia cintai di depannya, namun Panji tak melihatnya karena ia terlalu fokus makan mengisi perutnya yang keroncongan.
"Kau menangis??" tanya Panji yang tak sengaja melihat ke arah Sekar
"Tidak, aku kelilipan.
Cepat habiskan makan mu dan pergi, aku tak mau kekasihmu salah paham"
"Kekasih???? ah hahahhaa" Panji tertawa sampai batuk-batuk , Sekar segera mengambilkan Panji minum, sekecewa apapun ia pada Panji, ja masih sangat mencintai Panji.
"Terima kasih" ucap Panji setelah meminum air yang di berikan Sekar.
”Owh ya dia bukan kekasihku lagi, aku dan dia sudah putus. Ngomong-ngomong mengapa kau mematikan ponselmu dan itu, koper, koper siapa?" tanya Panji yang baru menyadari ada dua koper berukuran besar di ruang tamu
"Koperku" jawab Sekar membuang pandangannya ke arah lain, masalah wanita itu, ia sudah tahu semua dari Davina.
"Mengapa kau membawa koper sebesar itu???
Dengar Sekar, kau karyawan baru, tidak di izinkan cuti atau izin selama setengah tahun, apa kau tak tahu itu???" tanya Panji menerangkan, walau entah mengapa ia merasa perasaan yang tak enak
"Aku tahu, tapi aku bisa pergi sesuka hatiku karena aku bukan karyawan lagi"
"Apa maksudmu??? jangan bilang kalau kau..." Sekar hanya diam memandang pria yang ja cintai untuk terkahir kali
"Sekar jangan bilang kau..." Sekar mengangguk pelan
__ADS_1
"Kau, kau sungguh tak kompeten, baru juga kerja sebentar sudah resign, kau pikir perusahaan kami taman anak-anak???" ucap Panji kesal, namun Sekar hanya diam dan menunduk
"Siapa kau berani membentak Sekar????" teriak seorang pemuda marah