
Sebastian dan keluarga kecilnya sudah berada di kediaman orangtua Panji, mereka di sambung hangat seperti keluarga.
Ini kali kedua Sebastian bertemu langsung dengan pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan berwibawa
Cokro Mangunkusumo Raharjo, seorang pria yang memiliki darah biru dan memegang teguh adat istiadatnya, di sampingnya Catherine Raharjo, Wanita cantik blasteran Jerman.
pantas saja Panji memiliki wajah tampan, ternyata kedua orangtua Panji memiliki wajah rupawan, sayang saja Panji dulu hidup di jalan karena kabur dari rumah dan urakan, jika saja ia bisa berpakaian rapih dikit pasti Panji tak kalah tampan dengan Sebastian.
"*Ma, kok om Panji gak sama kaya eyang Kakung dan eyang putri??" bisik Cleo pada Davina
"Mirip kok, darimana gak mirip nya?" tanya Davina lirih
"Ok panji item" ucap Cleo polos membuat Davina ingin tertawa tapi tak enak karena mereka sedang bertamu di rumah orang
"Om panji bukan item, hanya jarang mandi, makanya kamu harus rajin mandi ya?" ucap Davina bingung membalas ucapan Cleo.
Gak mungkin kan Davina menjelaskan perjalanan Panji, nanti malah Cleo yang selalu ingin tahu melontarkan banyak pertanyaan.
"Maaf ya ji, tapi itu salah satu faktor kulitmu kusam" gumam Davina dalam hati*
"Mama kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Cleo menatap mamanya
"Owh, mama lagi ngebayangin reaksi om Panji waktu lihat kita tahu-tahu ada di sini"
"Wah iya, om Panji kan gak tahu ya ma?" Davina mengangguk dan mengelus rambut Cleo.
mereka berbincang-bincang santai. sementara Cleo sedang bermain dengan Santi adik satu-satunya Panji.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang kediaman Cokro, seorang pria turun dari mobil, ia menatap penuh rindu pada rumah yang pernah ia tinggali dulu.
Terbayang di pelupuk matanya masa saat ia kecil, bermain berlari di halaman luas ini.
Tak ada yang berubah, bangunan utama tetap sama, hanya kini rumah itu di pagar tinggi.
"Ibunda, ayahanda aku pulang" ucap Panji lirih.
Tak terasa air matanya menetes, delapan tahun pergi meninggalkan rumah karena di jodohkan.
"Pagi mas, cari siapa ya???" tanya seorang security menatap Panji dengan tatapan curiga
"Pak Cokro, ah maksud saya Bu Catherine" ucap Panji ngeri membayangkan ayahandanya yang galak
"Anda siapa dan ada keperluan apa ingin berjumpa dengan beliau"
__ADS_1
"Memangnya harus ya?" tanya Panji malas.
"Memang anda pikir bise bertemu dengan beliau seenaknya saja apa? beliau pernah sibuk" ucap sekeruty tersebut melengos pergi
"woi... sial gue mau ketemu nyonya rumah ini" teriak Panji kesal di perlakukan seperti gembel, padahal ini rumahnya
Sebuah mobil berhenti dan membunyikan klakson kencang membuat Panji loncat karena terkejut
"Woi, minggir" teriak seorang wanita cantik memakai kacamata hitam
Panji menatap wanita itu DNA tersenyum, ia pura-pura tak mendengar malah berkacak pinggang
Tin tin tinnnnnn
Bunyi klakson berulang-ulang untuk meminta Panji Minggu, namun Panji cuek membuat wanita cantik itu turun dan siap-siap mendamprat Panji
"Kamu tuli ya??? di klakson-klakson ga dengar" maki wanita cantik tersebut
"Makanya buka gerbang sendiri, belagu amat" ucap Panji tanpa menoleh
"Loe kurang ajar bener ya ???? ini rumah gue dan gue mau masuk"
"Terus masalahnya apa??" tanya Panji santai
"Loe menghalangi jalan dodol" teriak wanita itu kesal
"Jalan kaki aja masuk kerumah, manja bener" ucap Panji membalik badan membuat wanita di depannya terdiam, namun sedetik kemudian wanita itu menjerit
"Kau... kau????" tanpa di duga security tersebut mengunci lengan Panji karena di kira Panji ingin berbuat jahat
"Aaaaaewww sakit"
"Kak Panjiiii...." teriak Celine senang
"Loe apaain kakak gue, lepasin" teriak Celine yang melihat Panji kesakitan
"Kakak???" tanya security itu balik
"Iya dia kakak kandung gue, cepat lepas apa loe mau di pecat bunda???" ancam Celine membuat security tersebut membuka kuncian tangannya dan memohon maaf
"Maaf ya mas, saya gak sengaja bener deh"
"Loe..."
__ADS_1
"Udahlah, cepat masuk ayo" ajak Celine menarik tangan Panji ke arah mobil nya
"Kak loe jelek bener sih kaya gembel gini" ejek Celine pada kakak ny
"Sembarangan,"
"Beneran mana item bener, kakak jadi kuli ya?? apa mulung??"
"Nih mulut dari dulu gak berubah, kamu sebenarnya bertanya apa menghina kakak?" gerutu Panji dengan gemas mengacak-acak rambut Celine adik bungsunya
Celine kini tumbuh menjadi wanita cantik dan fashionable.
"mobilku???"
"Serahkan kuncinya pada Kuncoro"
"Siapa Kuncoro?? hari gini nama Kuncoro, di panggung Kun Kun gak mungkin di panggil coro lucu"
"Hus" Celine melotot sambil matanya melirik ke arah security rumah mereka, Panji ikut menoleh kearah mata Celine dan tersenyum canggung sambil menyerahkan kunci mobilnya
"Sorry bro, hati-hati bawa mobil gue ya, itu mobil antik" ucap Panji takut Kuncoro dendam dan menabrakkan mobil kesayangannya
Celine dan Panji meneruskan urusan mereka masuk kedalam rumah, Celine langsung menarik Panji turun begitu sampai di pintu utama rumah, seorang wanita paruh baya membukakan pintu dan terkejut
"Ndoro, den bagus pulang, den bagus Panji datang" teriak wanita patuh baya tersebut senang bukan main.
Dia adalah pengasuh Panji saat kecil dulu, mbok Iyem
"Mbok Iyem, apa kabar???"
"Mbok baik-baik saja, Aden gimana kabarnya, ya Allah Ireng nemen koe den" ucap mbok Iyem memegang wajah Panji yang sudah seperti putranya sendiri
Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik berjalan cepat keluar di ikuti oleh suaminya dan......
"Panji, putraku huhuhu" Catherine tak bisa membendung lagi kerinduannya, ia memeluk Panji dan menciuminya
"Ma om Panji seperti anak pungut, mereka seperti kopi susu" ucap Cleo membuat Davina tersendak.
Ini momen hari bagaimana bisa anak kecil ini merusak suasana haru ini dengan omongan yang tak penting
"Pstttt " Davina meletakkan jari telunjuknya didepan mulut meminta Cleo diam
"Anak durhaka" ucap Cokro dengan wajah kaku dan terlihat marah
__ADS_1
"Mas...." suara Catherine lembut membuat pria kaku itu tak berkutik