Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Alethea Piere .


__ADS_3

Semua orang bersorak bahagia.


Macam kecil masuk kerangkeng ya karena pawangnya datang


merek memberi jempol pada Berto.


Berto hanya tersenyum senang melihat rekannya senang.


Berbeda di organisasi Denis dulu, semua orang berlomba menjilat, saling tinju, jotos bahkan menjatuhkan asalkan bisa membuat mereka dilihat oleh bos.


Tapi di tempat Davina, semua saling berpegangan tangan, bahu membahu dan saling menolong.


layaknya keluarga besar yang saling menyayangi


Terlebih Davina juga bukan orang yang pelit, malah sangat dermawan, ia memberikan gaji, fasilitas dan akomodasi yang di katakan diatas kelayakan.


mereka hidup nyaman tanpa takut kelaparan.


"Apa kau puas???"


"Tentu, terima kasih bos" ucap Berto


"Baiklah, ceritakan tentang ibumu.


Apa kau pernah mendengar jika ibu mu pernah menikah dengan pernah jendral???


Jika di tempat itu tak ada wanita bernama yang sama dengan ibumu, maka bisa di pastikan ibumu adalah istri sang jendral yang kabur dari penyekapan.


Hanya saja seharusnya kau memiliki kakak yang usianya sekitar dua puluh enam tahun atau dua puluh tujuh"


"Seingat ku aku punya, tapi ibu ku mengatakan jika putrinya sudah mati"


Jack memasuki ruangan dan mengangguk


"Mereka akan tiba besok"


"Siapa??? keluargaku??" tanya Berto bersemangat


" Ya ,karena sudah aman aku akan membawa mereka kembali.


Lagi pula aku yakin ku sudah rindu putri kecilnya kan????"


"Tentu saja, terima kasih banyak bos


Aku berjanji akan mempertaruhkan nyawaku untukmu bos" ucap Berto berkaca-kaca


"Aku tahu, sudahlah kau duduk kembali.


Aku masih perlu menanyai mu banyak pertanyaan.


persiapkan dirimu"


"Bahkan jika seribu pertanyaan aku siap"

__ADS_1


"Kau pikir bibirku mesin apa ngomong terus?


lupakan kita makan malam,aku lapar" ucap Davina bangkit di ikuti semua orang.


Mereka makan malam bersama.


Setelah makan malam, Davina kembali mengajukan beberapa pertanyaan, hingga pukul dua belas malam dan mereka baru berhenti.


Keesokan harinya keluarga Berto datang, Davina sudah menyediakan sebuah rumah yang langsung Davina berikan pada Berto karena pada operasi np.enangkapan Dona dan Denis, Berto berperan banyak.


Begitu pula beberapa anak buahnya yang memiliki andil di dalamnya, Davina memberikan mereka semua hadiah.


Setelah cukup istirahat, Alethea Piere , mama Berto menemui Davina.


Ia sudah di beritahu tentang maksud Davina memanggil.


Kini Davina sudah duduk di depan seornag wanita setengah baya yang masih terlihat sangat cantik.


Ia terlihat anggun dan bersahaja.


seperti istri seorang militer pada umumnya


"Nyonya Piere, maksud saya adalah..."


"Saya sudah mendengar dari Berto.


Sebelumnya saya secara pribadi ingin mengucapkan terima kasih pada nona Davina yang sudah menyelamatkan kami dari tangan Denis.


terutama cucu kecilku yang malang.


"Nyonya jangan sungkan, Berto juga sudah banyak membantu saya.


Anak anda luar biasa" ucap Davina membuat wanita paruh baya itu menitikkan air matanya


Ia menyodorkan sesuatu pada Davina, terlihat tangannya gemetaran, antara takut dan mungkin juga ada trauma tersendiri


"Ini suami pertama ku" ucap wanita paruh baya itu terlihat berbinar, masih ada cinta di sana untuk suami pertamanya


"Jadi....


"Ya aku adalah Alethea Aaric, istri , mantan istri jendral Aaric"


"Apa benar anda menikah lagi?"


"Jika saya katakan itu untuk melindungi sang jendral apa anda percaya???"


"Percaya!!!" ucap Davina tak ada keraguan sedikitpun.


Wanita paruh baya itu tersenyum dan matanya memandang lurus ke depan


"Saat itu karir suami saya sedang menanjak, banyak orang yang iri dan ingin menjatuhkan.


Sampai suatu ketika ia menemukan sesuatu yang tak seharusnya ia ketahui, hingga berujung penyanderaan anggota keluarganya.

__ADS_1


Ia tak bisa melaporkanya, karena pasti tak akan di gubris, karena yang melakukanya adalah atasannya sendiri.


Adik suamiku meninggal terkena peluru panas saat penjahat sialan itu ingin menembakkan, ia mati karena menyelamatkanku.


Seorang asisten rumah tangga juga tak luput dari kekejian mereka saat melindungi putri kecilku.


Sementara aku hanya bisa memeluk Berto yang kala itu baru berusia dua bulan.


Nama sebenarnya Berto adalah


Alan Aaric putra dari jendral Aaric.


melihat banyak nyawa tumbang, aku menyerahkan diri bersama kedua anakku.


aku di kurung disebuah mansion tua di pinggir laut.


Kami kelaparan dan sangat menderita.


Jika tak ingat anak, aku sudah akan bunuh diri, tapi aku ingat jika suamiku melihatku mati, ia pasti akan menyerah berjuang.


Hingga suatu saat seorang prajurit anak buah penjahat itu tak tahan melihat penderitaan ku dan anak-anakku membawa kami kabur, di tengah perjalanan kami di brondong peluru, kami terus lari dan bersembunyi.


namun aku menyesali keputusanku meminta putriku bersembunyi.


Gadis malang itu terkena peluru nyasar dan tumbang.


aku ingin kembali, tapi prajurit itu menahan ku, karena kamu akan mati jika kami kembali akhirnya aku mengganti namaku, nama belakangku dan nama anak-anakku.


setelah itu untuk berterima kasih aku menikahi prajurit bertanya Thomas itu dan hidup di desa hingga Berto besar dan tak pernah tahu jika Thomas bukan ayah kandungnya" Alethea Piere menitikkan air mata mengenang pahitnya perjalanan hidupnya, semua yang ada di ruangan itu ikut merasakan penderitaan wanita paruh baya itu.


Berto yang baru saja kembali dari ruang senjata membeku di tempatnya,


"Mengapa mama tak pernah mengatakannya ma???


Aku sama saja bekerja pada salah seorang musuh papa dan mamaku" ucap Berto meremas rambutnya frustasi.


"Maafkan mama nak, butuh lebih dari keberanian membuka kenyataan ini"


"Lalu dimana kakak ku???"


"Dia tertembak dan mati" ucap Alethea Piere menangis tersedu-sedu.


"Dimana putri anda tertembak nyonya kalau boleh saya tahu?


"Entahlah aku tak yakin, bahu mungkin, karena aku tak melihatnya bergerak lagi selama lima belas menit"


"Itu belum tentu dia.mati, mengapa...." Berto tak berani meneruskan ucapnya.


sekalipun mamanya istri seorang jendral, ia masih orang awam yang tak tahu senjata.


"Mengapa kau menanyakan itu kak, kau ...


lihat wanita itu terpukul" ucap Davina melihat Alethea Piere menangis tersedu-sedu penuh rasa bersalah

__ADS_1


"Kau akan tahu" ucap Daffa santai lalu setelah itu ia pamit pada Davina meninggalkan ruangan tersebut*.


__ADS_2