
Dona terus tersenyum sejak meninggalkan perusahaan Sebastian, tidak sia-sia ia menjadi istri muda Bernard.
Seorang miliader asal negara G yang memiliki bisnis luas dan kekayaan melimpah.
Sayangnya Bernard sudah berusia tua, demi ambisinya Dona rela merendahkan diri demi memenuhi tujuannya.
"Sepertinya kau bahagia sekali nona?" ejek Denis yang sejak tadi muak melihat betapa Dona memuja pria bernama Sebastian itu
"Tentu saja Denis, dia pria yang ku inginkan dan ku cintai dengan segenap jiwa ragaku" ucap Dona dengan wajah tersenyum lebar
"Cih pria seperti itu, dimana letak istimewanya", cibir Denis
"Dia pria istimewa Denis, kau tak akan pernah mengerti" ucap Dona tersenyum tipis menatap Denis,
Dona tahu jika Denis cemburu dan kesal pada Tian, tapi bukan berati dia bisa menjelek-jelekkan Tian.
"Ya pria istimewa yang ingin kau hancurkan karena kau di campakkan.
Ku harap kau tak lupa itu baby??" sindir Denis kembali fokus menatap jalan di depannya
"Tutup mulutmu Denis.
Waktu itu aku khilaf" ucap Dona dengan wajah sedih
"Aku ingat kau ingin menghancurkannya, menggunakan dua orang sekaligus, namun gagal"
"Aku tahu kau tak menyukainya, tapi percayalah kau memiliki tempat tersendiri di hatiku" visi Dona tak ingin sekertaris nya mendengar.
Bert memang sengaja memasang handset sejak memasuki mobil, ia muak mendengar suara Dona, wanita yang kini menjadi istri dari pimpinan perusahaan di tempatnya bekerja sekaligus ayah angkatnya.
Ya Bert adalah sahabat Dona, sahabat yang di manfaatkan Dona sebagai pijakan untuk mendapatkan Bernard sekaligus menaklukan Denis yang merupakan tangan kanan Bernard.
Jangan kira Bert tak tahu bubungan antara Denis dan Dona, hanya orang buta yang tak bisa melihat kedekatan mereka, bagaiman mereka bicara dan menatap dan saling menggoda satu sama lain.
Bert muak melihatnya
Sayangnya Bernard buta karena cinta dan kecantikan Dona. Wanita Asia yang membuat mister Bernard tergila-gila.
"Bert, Bert" panggil Dona menyentuh tangan Bert membuat wanita cantik itu terkejut
"Ya nyonya Bernard?" tanya Bert sengaja mengatakan status Dona agar wanita itu sadar dengan statusnya
"Come on Bert kita sahabat dan hanya kita bertiga.
Lupakan semua formalitas. Kau sahabatku"
"Maaf kita masih di jam kerja" ucap Bert tak ingin membahas
"Bert memang pekerja keras, kau tak bisa memaksa sahabatmu itu bersikap santai" ucap Denis tersenyum
"Kau yang tak tahu setatus mu Denis, bisa-bisanya kau meniduri istri majikan mu, dasar buaya bejat" gumam Bert menatap datar ke arah Denis
"Ah sudahlah, Bert aku dan Denis ada keperluan, kau bisa kembali ke hotel"
"Keperluan??? paling juga menyalurkan hasrat bejat kalian, dasar pasangan biadap" gumam Bert dalam hati, ia menatap keduanya dengan wajah datar
"Bert kau mendengar kami???
"Apa saya perlu ikut??"
"Tidak bert, ini bukan masalah pekerjaan. Kembali lah ke hotel.
__ADS_1
Mungkin kamu akan pulang malam" ucap Dona memasang wajah penuh senyum
ingin sekali Bert memukul wajah Dona yang penuh kepalsuan itu. atau menggores wajahnya agar ia terlihat buruk, namun Bert tak mau melakukanya, ia masih waras.
"Okey" ucap Bert langsung turun dari mobil.
Ia sengaja meninggalkan alat penyadap di mobil tersebut, ya belakangan ini Bert merasa hubungan Denis dan Dona bukan hanya masalah sahwat, tapi lebih ke sesuatu yang menyeramkan.
Demi keselamatan dirinya dan Tuan Bernard Bert merasa perlu memata-matai ke duanya.
Bert tak mau sesuatu yang buruk menimpa tuan Bernard, pria paruh baya yang berhati emas.
Tuan Bernard bahkan menganggapnya seperti putrinya sendiri dan menyekolahkan Bert hingga perguruan tinggi, satu kampus dengan putri semata wayang Tuan Bernard bernama Eliana.
Bert juga tak lupa jasa Beneran mengadopsinya dan memberikan tempat tinggal yang layak.
Sayangnya Eliana tidak mau mewarisi kerajaan bisnis papanya dan memilih pergi dari rumah, mengejar cita-cita nya.
"Elly kau dimana sekarang??? cepatlah kembali.
Papamu dalam bahaya" ucap Bert lirih sambil menatap mobil yang di kendarai Dona dan Denis menjauh
"Sial aku bisa tak waras melihat dua manusia tak beradap itu" gumam Bert mengusap wajahnya kasar
Tin tin tin
Sebuah mobil membunyikan klakson, membuat Bert menoleh
"Miss Bert, sedang apa anda di pinggir jalan???" tanya seorang pria menyapa
"Tuan Shandy anda?"
"Apa anda tersesat miss???" tanya Shandy celingak celinguk mencari keberadaan Dona dan Denis
"Tidak, ah saya harus memanggil taxi" ucap Bert canggung
"Hotel Gran I???? masuklah, aku kebetulan satu arah, tapi aku perlu ke perusahaan calon adik iparku sebentar baru ku antar kau ke hotel, bagaimana???
Mumpung di Jakarta juga jalan-jalan" ucap Shandy.
Bert terlihat ragu sejenak, namun melihat sikap Shandy Bert yakin pria itu orang yang sopan dan baik
"Baiklah jika tuan Shandy Tan keberatan, maaf merepotkan"
"Tak perlu sungkan Bert, ah ya panggil Shandy saja, usia kita tak beda jauh" ucap Shandy tersenyum lebar menampilkan lesung Pipit di wajahnya yang tampan.
Sekilas Shandy tidak mirip seorang asisten pribadi, ia lebih mirip binaragawan, dan luka di tangannya sepertinya Shandy melewati kehidupan yang keras, itu menurut penilaian Bert yang terbiasa hidup susah
"Kau sejak tadi memperhatikan tanganku???.
Ini luka karena sayatan pisau dan kawat berduri" ucap Shandy tak menutupi
"Santai saja Bert, aku bukan orang jahat, setidaknya kini aku jadi manusia berguna" ucapan Shandy tertawa kecil seolah menghibur dirinya sendiri
"Aku tahu anda orang baik Tuan Shandy"
"Shandy... tak perlu tuan.
Aku dan kamu sama-sama di gajih hehehe.
Nah sudah sampai di perusahaan calon adik iparku, apa kau mau ikut???
__ADS_1
Ini adalah perusahaan istri Sebatsian " bisik Shandy tersenyum lebar
"Jadi tuan Sebastian...."
"Ya dia calon adik iparku, jangan katakan pada siapa-siapa ya hahaha" Bert hanya tersenyum canggung.
Pria di depannya ini sungguh pria yang supel dan sangat enak diajak bicara
"Ayo turun, gak enak juga dalam mobil nunggu aku.
Sekalian aku kenalkan pada mereka dan calon istriku hahaha"
"Ba...baik" ucap Bert lalu turun dan mengikuti Shandy.
Bert bisa melihat sapaan hormat beberapa karyawan dan karyawati yang melintas dan di jawab Shandy dengan sopan. Pria ini membuat Bert kagum.
"Lama bener baru sampai, cewek loe udah nunggu di ruangan kak Davina" ucap Seorang wanita menepuk kencang punggung Shandy
"Dasar gladiator wanita, tepukan loe buat tulang belikat gue patah" ringis Shandy
"Lebay" ucap Lilly tertawa lepas.
"Eh ya kenalkan...."
"Elliana???" ucap Bert lirih menatap Lilly dengan sudut mata yang menitikkan air mata
"Dia siapa??" tanya Lilly bingung
"Sekertaris klien"
"Loe bawa kesini? mau ngapain???" tanya Lilly bingung
"Bawel loe,"
"Jangan bilang loe jadi tour guide hahaha dasar cowok aneh.
Gue cabut dulu ada berkas yang ketinggalan di meja kerja gue" ucap Lilly melangkah pergi sebelum Shandy menjawab
"Bert, Bert.
Kau melamun???"tanya Shandy yang melihat wajah sedih Bert sambil menatap kepergian Lilly
"Dia...."
"Dia Lilly, asisten pribadi Davina, istri Sebastian" ucap Shandy.
Shandy dan Bert langsung menemui Davina di ruang kerjanya, Shandy memperkenalkan Bert pada mereka, entah mengapa Bert terlihat seperti orang linglung, dan saat Lilly kembali Bert melongo seperti orang bodoh
"Lilly kau belum berkenalan dengan Bert, nanti aku kenalkan"
"Hai Bert ini Lilly sistem pribadiku sekaligus adikku " ucap Davina memperkenalkan lilly
"Lilly" ucap Lilly tersenyum
"Kenapa kau terus memandang Lilly???" tanya Shandy setengah berbisik melihat keanehan pada Bert
"Dia mirip sahabatku" ucap Bert lalu menunjukan foto pada ponselnya,
Shandy lalu membandingkan foto Lilly dengan sahabat Bert
mirip, hanya saja Lilly versi kulit hitam manisnya, sedang dalam foto Bert gadis itu berkulit putih bersih.
__ADS_1