Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Davina bertindak


__ADS_3

Seperti perkataan Davina, Saat mereka tiba terlihat beberapa dokter terlihat sedang memeriksa kondisi Elly, saudarinya itu terlihat sudah siuman dan sedang di periksa dan diberi beberapa pertanyaan seputar keluhannya-


Empat dokter. Tiga laki-laki dan satu wanita.


seorang diantara mereka terlihat lebih dominan. Mungkin dokter itu kepalanya.m


"Selamat siang semua" sapa Davina membuat email orang menoleh.


"Hei girls, kau akhirnya sampai" sapa pria itu langsung memeluk Davina akrab


"Apa kabar dokter Marco" sapa Davina akrab


"Alhamdulillah baik"


"Owh ya perkenalkan dia kepala rumah sakit ini, dokter Valery, gak kenalkan dia mantab kekasihku" ucap Marco mengedipkan sebelah matanya.


"Hai val, aku tak menyangka Marco akhirnya menikah juga" ucap Davina tersenyum lebar.


"Hai Dav, Marco sudah menceritakan tentang kamu, dia penggemar beratmu" ucap Valery mengedipkan sebelah matanya, keduanya tertawa.


"Owh ya kenalkan team ku, dokter Ivan ahli syaraf dan dokter David ahli patologi anatomi" ucap Valery mereka lalu saling berkenalan.


"Owh ya aku kesini dengan saudariku, dia ahli farmasi, tradisional dan akupuntur" ucap Davina bangga.


Ia mendekati pintu dan memanggil Lilly masuk


"Muka nya....."


"Ya mereka kembar dengan pasien yang akan kita tangani" ucap Davina mengerti keterkejutan mereka.


Lilly lalu bersalaman , berkenalan dengan ke empat dokter tersebut.


"Aku dengar kau sudah menikah, apa suamimu membiarkanmu datang ke negara ini sendirian???" tanya Marco memicingkan matanya


Sebastian dan Oscar berjalan masuk ke dalam ruang perawatan


"Itu suamiku, sayang kenalkan ini dokter Marco dan istrinya, dan dokter David serta dokter Ivan"


ucap davina.


mereka lalu melanjutkan perbincangan mereka di ruang kerja dokter Valery, membahas tentang kondisi Elly DNA penanganan.


Davina menyerahkan tiga buah botol berisi obat yang ia kembangkan, Marco langsung menyambut dengan senang,


"Apa ini obat yang kita bicarakan???" tanya Marco antusias


"Jika kau bisa membuat Elly kembali berjalan, aku akan membiarkan rumah sakit kalian menjadi salah atu pelanggan kami"


"Apa kau tidak begitu kejam???" tanya Marco tak bis melepaskan pandanganya dari botol obat di tangan nya


"Itu sebanding, apa kau harus perhitungan.


hei dia saudariku" ucap Davina yang di balas atas Marco


"Aku hanya bercanda.


Kamis usaha melakukan pemeriksaan dan hasilnya, memang kaki saudarimu mengalami kondisi yang parah, kami..."

__ADS_1


"Intinya kalian bisa membuatnya kembali berjalan atau tidak????"


"Dav, apa Elly...."


"Tenang saja, temanku adalah spesialis bedah terkenal. dia dijuluki tangan dewa. percaya padaku" ucap Davina mencoba menenangkan Elly.


"Kita lakukan operasi besok, dan apa kau juga membawa..."


"Tenang, team ku sudah membawanya.


Apa kau begitu tak sabaran????"


"Ini kesempatan langka hahaha" baiklah aku akan langsung meeting dengan team ku" ucap Marco mereka lalu berpisah.


Davina, Tian dan Lilly kembali ke ruangan Elly.


disana nampak Oscar dan Gabriel sedang berbincang, sementara Elly tertidur.


"Gab, bagaimana keadaan saudariku???"


"Dia tak mengatakan apa-apa, mengeluh sakit pun tidak, padahal alisnya berkerut pasti merasakan sakit karena operasi nya serta kakinya" ucap Gabby muram.


Ia ingin Elly menunjukkan sisi lemahnya, tapi wanita itu tak mau dan masih bersikap tegar membuat Gabby makin sedih


"Sayang, bagaimana hasil diskusi dengan para dokter itu???"


Lilly melotot ke arah Oscar namun ia tak bisa berbuat apa-apa di depan tatapan Gabby


"Operasi Elly besok akan di lakukan, kakinya mengalami cidera parah, namun kau jangan khawatir, mereka bisa mengatasinya" ucap Lilly sekaligus menghibur dirinya sendiri


"Davina mana???" tanya Gabby


"Tuh di depan sama Shandy.


Elly akan di pindahkan keruangan khusus.


di sana sudah di sterilkan dari ornagbyang tak penting.


ini memudahkan dalam pengawasan" ucap Tian


"Terima kasih, aku dan Elly sangat berterima kasih" ucap Gabby terharu.


"Hei, kita keluarga, apa kau lupa???


jangan sungkan" ucap Tian menepuk punggung Gabby.


Sementara di luar ruangan


Davina sedang menanyakan keadaan di kediaman Bernard dan situasi sekarang.


Ia merasa harus menyelesaikan semuanya secepatnya agar keluarga Lilly bisa berkumpul kembali.


"Jadi kedua kakak ku sudah bertindak??" tanya Davina tersenyum lebar.


ia tak menyangka Daffa dan Daffi mau langsung pergi saat Tian meminta mereka pergi menggantikan dirinya.


"Sudah, mereka sudah melakukan sesuatu pada rumah itu hahaha"

__ADS_1


"Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau.


Owh ya bagaimana dengan Bert??? kemana dia???" tanya Davina yang tak melihat Bert


"Bert berada di apartemen Daffa"


"Apa??? ngapain???


tumben sekali dia memperbolehkan orang asing di apartemennya apalagi wanita" ucap Davina heran


"Bukan kah itu kemajuan???" ledek shandy


"Kemajuan gundul mu, Bert lebih tua dari kakak ku.


Bert berusia sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun sementra Daffa masih dua puluh dua tahun" Dengus Davina.


Davina berkata begitu bukan berati ia tak suka Bert, hanya saja ia khawatir karena sifat Daffa itu sedikit, aneh....


siapa yang bisa bertahan dengan pria aneh macam Daffa????


"Cinta tak mengenal usia, apa kau mau ku kenalkan pada seseorang yang menikahi dengan...." Shandy tersenyum lebar menggoda Davina


"Uhuk uhuk Tutup mulutmu" ucap Davina dengan rona merah di wajahnya. Ia tahu ke mana arah pembicaraan Shandy.


jika bukan calon Sania, sudah pasti Davina akan menendang pria itu.


"Apa kau sudah menyelidiki apakah itu murni kecelakaan atau percobaan pembunuhan???" tanya Davina kembali ke inti masalah


"Percobaan pembunuhan, aku menemukan seseorang yang mencurigakan kemarin saat aku tiba, kami sudah meringkus dan menyekapnya di markas" ucap Shandy


"Lalu bukti di lapangan??"


"Daffi berhasil mendapatkannya., hanya kurang jelas karena posisi CCTV di area rusak atau mungkin sengaja di rusak untuk menghilangkan bukti"


"Sial, kita hanya bergantung pada pria mencurigai itu, apa yang kau dapat darinya???"


"Ini seperti saat berhadapan dengan Liona dan temannya" ucap Shandy menghela nafas


"Menarik, organisasi berani mati, jangan lupa tinggalkan semua yang bisa membuat pria itu bunuh diri


Aku sendiri yang akan menginterogasinya" ucap Davina tersenyum jahat


"Lalu mereka???"


"Beritahu suamiku aku keluar sebentar, ayo Shan" ucap Davina setelah meninggalkan pesan pada anak buahnya lalu ia pergi dengan Shandy menuju markas angel death di negara tersebut.


Davina sengaja membeli sebuah rumah yang niatnya akan mereka gunakan sementra untuk menyelesaikan kasus ini, namun di perjalanan malah ini sangat berguna dan ia sudah memutuskan kan membuka cabang di negara ini.


Mungkin saja setelah semua selesai Lilly memutuskan akan tinggal di negara ini, maka saat itulah Davina bisa menyerahkannya pada Lilly untuk wanita itu urus, walau Davina berat harus kehilangan orang terbaiknya serta saudari yang ia sayangi, namun demi kebahagiaan Lilly ia harus rela.


Mereka berhenti dia sebuah bangunan lumayan besar, dengan plang nama perusahaan milik Davina.


Shandy melenggang masuk dengan Davina menggunakan lift khusus direksi.


karena perusahaan ini baru maka tak ad ayang mengenali siapa Davina.


mereka hanya tahu Shandy pemilik perusahaan itu.

__ADS_1


__ADS_2