Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Davina Hilang Ingatan


__ADS_3

Davina tertidur hingga pagi hari, Sebastian terus terjaga sepanjang malam, hingga Willy merasa kasian dan meminta Sebastian untuk istirahat, namun Tian tidak mau beranjak walau sejengkal pun dari sisi tempat tidur Davina.


Dia trus saja Menggenggam tangan istrinya dengan penuh cinta.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Sebastian terlihat sangat kelelahan, terkadang ia terlelap sesaat dan kemudian terbangun lagi.


Willy memaksa Tian untuk memejamkan matanya beberapa waktu, dengan sedikit paksaan dan bujukan akhirnya sebagian menurut, namun ia memilih tidur di sofa yang terdapat di ruangan tersebut


Kamar Davina kini sudah di pindahkan karena ia sudah sadar artinya masa kritisnya sudah lewat, namun masih dalam pantauan team ahli di rumah alit tersebut.


hanya dalam hitungan detik Tian yang merebahkan tubuhnya di sofa terbuai dalam mimpi.


Willy hanya menggelengkan kepala melihat adik nya yang keras kepala itu.


Tak selang berapa lama team dokter masuk untuk memeriksa Davina, Davina yang merasa risih membuka matanya dan melihat team dokternya sedang bekerja memeriksanya.


Ia juga di tanyai pertamanan umum seperti pasien lainnya, hanya bedanya ia pasien super special karena ia pemilik rumah sakit ini.


"Siang nanti kita akan melakukan pemeriksaan lengkap Bu, apa kondisi ibu sudah lebih baik?" tanya dokter kepala sopan


"Ah aku semalam sangat kesakitan, apa yang terjadi pada tulang punggungku, apa aku mengalami cidera parah????"


"Iya anda mengalami cidera di bagian belakang tubuh anda, tepatnya punggung anda mengalami retakan.


Kemungkinan anda tidak bisa beraktivitas bebas sementara waktu ini" ucap Dokter spesialis orthopedi


"Pantas aku merasa sangat kesakitan"


"Lalu ...???


"Anda juga mendapatkan luka cukup dalam di bagian paha bagian atas yang cukup parah" ucap dokter spesialis bedah Davina hanya melirik ke bagian tubuh bawahnya yang terbungkus selimut


Ia jika merasakan sakit luar biasa di sana.


"Baik, terima kasih kalian sudah bekerja dengan baik" ucap Davina tersenyum lebar.


Setelah selesai pemeriksaan team dokter yang di kepalai Dokter kepala langsung keluar dari ruangan tersebut.


kini tinggal Davina dan Willy serta sebastian yang pula tertidur tanpa terganggu dengan kedatangan para dokter tersebut.


"Om, siapa di sofa itu???"


"Suamimu, dia tidak tidur sepanjang malam karena mengkhawatirkan dirimu.


Baru beberapa menit lalu ia tertidur itu juga Karena aku yang memaksa" terang Willy menatap adiknya di kejauhan


"Hahaha om nih bisa aja becanda, itu kan om Sebastian??? masa suami aku??" ucap Davina cekikikan lalu meringis. Ia lupa jika bahunya terluka.


Willy terkejut menatap Davina, ia seolah tak percaya dengan ucapan Davina


"Apa kau gak ingat kalau dia suamimu???" tanya Willy ingin memastikan pendengarannya


Terlihat Davina menggeleng pelan dengan wajah polos.


Willy terhenyak, apa yang terjadi dengan Davina???


gak mungkin kan anak nakal ini sedang bercanda masalah serius seperti ini?????


Apa ????? apa jangan-jangan????


Willy menggelengkan kepalanya berusaha menghalau pikiran buruknya., ia butuh Agatha, istrinya.


Saat ia butuh hanya Agatha yang bisa mencari jalan keluar.


"Sayang, jangan bangunkan suamimu, om mau menghubungi istri om" ucap Willy lirih


"Ah iya panggil Tante Agatha kesini, bagaimana sih aku sakit bukanya disini malah om sama om Tian yang jaga aku.

__ADS_1


Mau aku pecat apa dia???" cerocos Davina.


Ya ini memang tipikal davina, cerewet galak dan sedikit gila. Dia mengenali Agatha, tapi mengapa ia tak mengenali sebastian suaminya??? sekali lagi Davina tak terlihat sedang berpura-pura!!!.


Willy segera meraih ponselnya dan ingin menghubungi istrinya, namun di kejauhan ia melihat Agatha yang sedang berjalan dengan membawa dia paper bag di tangannya serta di sebelah kirinya ia menenteng dua cup kopi, seperti nya Agatha mampir di coffee shop sebelum ke ruangan ini


Melihat Agatha datang Willy langsung berjalan menghampiri istrinya membuat Agatha mengerutkan alisnya, Willy bukan tipe yang menghampirinya, ia cenderung monoton. Atau mungkin terjadi sesuatu pada Davina melihat air muka Willy yang terlihat tak baik


"Sayang akhirnya kau datang" ucap Willy


"Apa, apa Davina ba...ba... "


"Davina baik-baik saja kok," potong Willy yang mengerti istrinya langsung berfikiran buruk


"Kau ya mas mengagetkanku saja, bikin jantungan saja" ucap Agatha ingin mengelus dadanya sayang kedua tangannya penuh barang bawaan


"Tapi belum copot kan??" goda Willy membuat Agtha ingin sekali mencubit suaminya karena kesal


"Kamu ih, kita lagi panik Davina kecelakaan, JANGAN BERCANDA!!!" teriak Agatha untuk pertama kalinya berani berbicara naik satu oktaf, namun Willy tak marah, ia senang Agatha perhatian pada keluarganya.


Willy mengelus puncak kepala istrinya membuat amarah Agatha reda.


"Mas kau gak ksian apa tanganku penuh kanan kiri BW brang kita berbicara sambil berdiri seperti ini"


"Astaghfirullah aku sampai lupa.


Sayang ada hal yang membuatku khawatir. Davina sudah siuman, tapi...


Menurutku...."


"Kenapa??? apa dia berubah jadi bego???"


"Sembarangan!!!" Sentil Willy pada hidung bangir istrinya


"Ya kamu ngomong setengah-Setengah, yang jelas, singkat, padat gitu, jadi gak bikin orang mengira-ngira"


ucap Agatha sebal


"Apaaaaaaa" teriak Agatha setengah berteriak membuat suster yang berjaga menoleh padanya.


Beruntung lantai ini di khususkan untuk keluarga dan rekan serta kolega penting perusahaan, jadi tak banyak orang yang berada di lantai ini.


"Sttttt, tahan sedikit toa mu, kebiasaan"


"Ma serius??? ma lagi gak becanda kan???" tanya Agatha dengan mimik wajah tak percaya


"Serius lah, ngapain juga aku becanda untuk urusan seperti ini."


"Pegang ini" ucap Agatha menyodorkan semua barang bawaannya pada Willy


"Itu pakaian gantimu dan Tian, serta sarapan pagi kalian, dan kopi untuk kalian berdua, Snack nya bisa kau beri Davina beberapa, aku membelikan banyak untuk kalian bertiga.


Aku akan kembali setengah jam lagi" ucap Agatha lalu berjalan berlawanan arah dengan sebastian.


"Sayang mau kemana???? aku gimana???" tanya Willy bingung


"Gak gimana-gimana, bicara bisa saja, aku akan kembali dengan dokter" ucap Agatha lalu setengah berlari menuju lift menemui dokter kepala untuk merundingkan permasalahan ini.


Sesampainya di ruangan dokter kepala langsung memanggil beberapa dokter bedah dan syaraf yang ada di rumah sakit tersebut, mereka langsung mengadakan rapat dadakan.


Setelah itu mereka beramai-ramai menuju ruang perawatan Davina.


Agatha dan team dokter melihat Davina yang sedang lahap memakan Snack yang Agatha bawa tadi, sementara Tian dan Willy sedang duduk memandangi Davina tanpa berkedip.


Willy sudah menjelaskan pada Tian kemungkinan Davina amnesia, sehingga Sebastian bisa menjaga sikapnya, karena Davina tahunya ia memiliki pacar, memori nya menikah dengan Tian hilang dan hanya sampai saat ia kembali dari luar negeri beberapa tahun silam dan berpacaran dengan Marcel.


"Loh kok???

__ADS_1


kalian ngapain kesini lagi???" tanya Davina bingung


"Kami harus memeriksa anda sekali lagi,


Anda pasti ingat kan dengan beliau???, beliau dokter psikolog yang anda rekrut setahun lalu" ucap dokter kepala lupa jika Davina lupa ingatan


"Mungkin, maaf aku lupa" ucap Davina jujur.


"Kalau begitu saya perkenalkan diri saya, nama saya Johan, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan pada anda Bu Davina"


Davina hanya mengangguk pelan walau terlihat bingung.


Agatha sudah membicarakan jika mereka harus segera memeriksa CT scan Davina agar mengetahui secepatnya apa yang terjadi pada Davina, pemeriksaan di majukan lebih awal, Davina hanya menurut


"Kau menyebalkan , bagiamana bisa ku meminta suamimu dan om Tian menjagaku, huh teman macam apa kau" gerutu Davina saat di Bawa dengan tempat tidurnya menuju ruang pemeriksaan


"Anakku demam, oh ya bagaiman dengan anakmu apa dia sudah datang mengunjungimu?" tanya Agatha memancing apakah Davina ingat Cleo


"Haha gak lucu, kawin saja belum bagaimana punya anak, aku gak marriage by insiden"


Agatha hanya nyengir seperti penuturan Willy, memori Davina terbaru hilang.


Mereka berpapasan dengan Cleo yang di dorong dengan kursi roda oleh Marsha, wanita itu tersenyum meledek seraya dalam hati bersorak bahagia melihat istri baru Tian kini terbaring di atas bed remah sakit


"Berhenti sebentar" ucap Agatha


"Sayang, apa kau baik-baik saja??" tanya Agatha menghampiri Cleo


"Mama, aku mau melihat mama Davina" ucap Cleo terisak


"Agatha siapa ??" tanya Davina yang tak bisa melihat jelas


"Ini...." Cleo langsung menepis tangan Marsha, dengan tangannya sendiri mendorong ban kursi rodanya mendekati tempat tidur Davina


"Mama, mama maafkan Cleo ma.


Mama seperti ini karena Cleo" ucap Cleo menangis histeris, Davina hanya diam mencoba mencerna keadaan.


Ia tak mengenal anak kecil ini, tapi entah mengapa hatinya sakit melihat anak kecil ini menangis


"Aku baik-baik saja adik kecil"


"Mama, aku anakmu" ucap Cleo terkejut dengan panggilan Davina


"Maaf adik kecil, aku belum menikah, dan aku tidak mengenalmu" ucap Davina lirih.


Cleo.menagis sejadi-jadinya.


Marsha datang menghampiri dan Menenangkan Cleo


Sementara Agatha menjelaskan secara singkat pada kedua mantan mertua Tian bagaimana keadaan Davina.


"Mama Marsha, mama Davina tidak menginginkan Cleo lagi, dia benci Cleo" ucap Cleo histeris


"Agatha bawa anak itu ke kamarnya, aku perlu tenang menjalani pengobatan ku" ucap Davina memberikan kode suster melanjutkan perjalanan hingga mereka masuk lift dan hilang dari pandangan


"Sayang, saat ini mamamu sedang sakit, pikirnya juga jadi maklum ya???. Mama davina butuh waktu untuk sembuh. Cleo sayang mama kan??" tanya Agatha mencoba menenangkan gadis kecil itu yang terlihat shock tak dianggap oleh Davina.


"Apa mama???


"Mama lupa ingatan sayang, Tante Agatha kebawah dulu ya, mama Davina perlu di dampingi"


"Tante, sampaikan salam sayang Cleo buat mama"


"Siap, jangan menangis ya, anak Sholehah doakan mama supaya cepat sembuh ya??" ucap Agatha mengelus puncak kepala Cleo. Gadis kecil itu mengangguk dan menghapus air matanya.


Terlihat Marsha menyunggingkan senyum senang,

__ADS_1


"Hah, amnesia??? sepertinya semesta berpihak padaku!!" gumam Marsha dalam hati.


.


__ADS_2