
"Siapa kau berani membentak Sekar????" teriak seorang pemuda marah
Panji terkejut bukan main di hentak oleh ria yang tiba-tiba keluar dari kamar tamu, ia tak pernah di bentak orang selama ini kecuali ayahandanya, namun pria ini berani membentuknya
"Siapa kau??" tanya Panji dengan sorot mata tajam, jadi ini alasan Sekar tak mengaktif ponselnya, itu semua karena Sekar sedang sibuk dengan seorang pria di apartemennya, dan entah mengapa Panji sangat kesal melihatnya, terlebih pria itu seperti habis mandi basah, imaginasi liar Panji mengembara, ia memikirkan hal-hal buruk
"Ternyata aku salah selama ini menilai Sekar gadis yang lugu dan baik-baik, ternyata dia.....". entah mengapa ia merasa sakit hati dan cemburu?????
apa ia cemburu???
"Mau apa kau menemui Sekar lagi, dia akan ku bawa pulang daripada jauh-jauh datang demi mengejar cinta tunangannya tapi akhirnya dia sadar pria itu brengsek" maki pria itu penuh arti.
Panji merasa pria itu menyinggungnya, tapi Panji Tan ingat pernah kenal pria itu ataupun Sekar, pertemuannya dengan Sekar juga belum lama.
"Kak....." Sekar menatap pria itu memohon untuk berhenti berucap
"Kau masih membelanya???? ingat waktumu hanya tiga bulan dan kau tak mampu" ucap pria itu dingin
"Siapa kau menekan Sekar, dia sekertaris ku" bela Panji
"Cih brengsek, lebih baik kau enyah dari hadapanku.
Jika bukan karena ada seseorang yang memohon, sudah ku geprek kau" ucap pria itu emosi
"Ayam kali" ucap Panji lirih yang masih bisa di dengar pria itu
"Kau....."
"Kak, please" ucap Sekar lalu pria itu dengan kesal masuk ke kamar dan membanting pintunya dengan keras
"Dasar kingkong"
"Pak Panji, dia kakakku" ucap Sekar yang juga kesal dengan perkataan Panji
"Maaf, aku kira..." Panji merasa konyol menuduh Sekar yang bukan-bukan
"Tak perlu, aku bukan wanita semacam itu, bagiku kehormatan ku hanya untuk suamiku kelak.
mungkin bagi kalian yang hidup di kota metropolitan itu sesuatu yang kuno, namun aku lebih suka di katakan kuno daripada seperti piring yang sering di pakai" ucapan Sekar sangat menohok membuat Panji merasa malu sendiri
"Aku tak bermaksud..."
"Sudahlah, aku tahu kamu.
Kamu sudah kenyang sekarang silahkan tinggalkan apartemen ini, surat pengunduran diriku sudah ada di meja kerja mu." ucap Sekar memotong ucapan Panji.
Semakin lama Panji berada di apartemennya, Sekar semakin takut goyah.
Pagi ini kakaknya datang untuk memeriksa kondisi sekar, ia tak mengabari kedatangannya.
__ADS_1
Sekar yang baru saja pulang dari apartemen Panji langsung menuju kantor menulis surat pengunduran dirinya lalu kembali ke apartemennya.
Betapa terkejutnya Sekar karena kakaknya datang tanpa pemberitahuan.
Melihat mata Sekar yang sembab kakaknya marah dan mendesak Sekar menceritakannya.
Fatir kakak sulung Sekar murka, ia langsung meminta Sekar kembali ke desa mereka.
Sekar pun di minta memenuhi janjinya pada kedua orangtua mereka
"Kau mengusirku???"
"Jika itu yang kau pikirkan.
Aku sudah tidak punya kewajiban lagi. Jangan lupa aku bukan karyawatinya lagi dan aku sedang tak ingin menerima tamu.
Tolong pergilah" ucap Sekar berjalan menuju kamarnya dan menutup pintunya perlahan.
setelah pintu tertutup Sekar menangis sejadi-jadinya, ia membekap mulutnya agar Panji tak mendengarnya
Panji terpaku beberapa saat, ia tak mengerti mengapa sikap Sekar berubah.
Apa yang di perbuat Panji sehingga membuat wanita polos itu seakan menjaga jarak, padahal saat ia sakit, Sekar terlihat khawatir dan sedih, Sekar merawat Panji dengan penuh perhatian, Panji jadi berfikir akan bagus jika ia memiliki seseorang seperti Sekar.
Walau sedikit terlihat kurang gaul, tapi wajah Sekar tergolong cantik walau tak secantik Davina, tapi Sekar enak di pandang dan enggak ngebosenin.
Terutama saat wanita itu tersenyum, kedua lesung Pipit di pipinya menambah kecantikannya
Kamu dengar Sekar.
Kamu gak bisa keluar dari perusahaan kecuali aku memecat mu!!!!" teriak Panji lalu pergi
"Dasar gila!" umpat Fatir kesal.
Jika saja ayah mereka tak bersahabat, Panji sudah ia buat babak belur.
Namun Fatir tak mau gegabah dan berbuat nekat yang malah akan memperkeruh keadaan.
"Dengar Sekar, kakak akan memaksamu pulang, kau akan tetap pulang sekalipun si brengsek itu melarang, dasar pria egois." cibir Fatir lalu berjalan menutup pintu apartemen yang di biarkan terbuka oleh Panji
Panji langsung mengendarai mobilnya menuju kantor.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Panji langsung menuju kantornya dan benar saja apa perkataan Sekar, sebuah amplop bertulis namanya berada di atas meja kerja Panji
"Aku gak akan membiarkanmu keluar kerja Sekar" gumam Panji langsung merobek kertas pengunduran diri Sekar
Panji menoleh kearah meja kerja Sekar, disana Tan ada lagi foto Sekar , bunga segar yang biasa Sekar taruh diatas meja kerjanya ataupun di ruangan Panji, semuanya kembali seperti semula.
Dulu Panji sering memarahi Sekar dan mengatakan Sekar aneh, namun entah mengapa melihat keadaan kembali seperti semula, Panji justru merasa aneh.
__ADS_1
Apakah ini artinya ia sudah bisa menerima keberadaan Sekar di dekatnya???
Baru beberapa menit lalu ia bertemu Sekar, mengapa Panji jadi merindukan wanita lugu itu???
Ada apa dengannya????
Atau ini rasa Tan terima karena Sekar yang mengundurkan diri bukan dia yang memecatnya????
Atau dalam hati Panji sudah tertanam benih-benih cinta yang Panji Tan sadari tumbuh.
Panji berjalan gontai menuju ruangan Sebastian, namun Tian sudah pulang satu jam lalu, tepatnya saat Panji di ruangannya.
Panji enggan pulang ke apartemennya, ia menuju ruangan Oscar, pria bertubuh tinggi dan tampan itu terlihat masih sibuk dengan berkas di tangannya
"Eh bule, loe nginep di kantor???" tanya Panji langsung menghempaskan bokongnya di sofa.
Oscar Yangs Edang konsentrasi penuh dan tak menyadari kedatangan Panji sontak terkejut
"Astaga ceking, loe nyebelin banget ya??? gak bisa apa ketuk pintu dulu??? main nyelenong aja"maki Oscar kesal
"Maaf bro, loe aja yang gak denger.
Gue ngetok pintu tadi", ucap Panji beralibi padahal ia tak melakukannya, ia hanya senang membuat orang kaget, jiwa usilnya memberontak jika ia lurus-lurus saja
"Loe udah sehat??"
"Sepertinya, cuma otak gue yang masih sakit"
"Kalau itu udah permanen gak akan sembuh" ucap Oscar cekikikan
"Puas? puas???"
"Belum, loe ngapain kesini??? jangan bilang loe mau numpang nangis karena di tinggal Sekar" ledek Oscar
"Ih suka bener, tapi gue gak mau nangis, ngapain gue nangis coba???"
"Loe bakal nangis, percaya deh" ucap Oscar namun Panji hanya mengangkat kedua bahunya cuek, berjalan ke arah sudut ruangan dan membuat kopi untuk dirinya sendiri
"Tamu gak ada akhlak, buat kopi untuk sendiri gak sekalian.buatin Tian rumah"
"Loe yakin mau kopi buatan gue????" tanya Panji tersenyum penuh arti
"gak usah lah, gue mencium bau-bau kejorokan" ucap Oscar lalu membuat kopinya sendiri dan setelah itu duduk di depan Oscar
"Loe tahu Sekar ngajuin resign???"
"Tahu lah, gue juga yang nyuruh dia taro di meja kerja loe" ucap Oscar sambil menyeruput kopi nya
"Kok loe bisa tahu sih??? tanya Panji penasaran
__ADS_1
"Jadi...."