
Agatha sudah sampai di rumah sakit milik Davina, wajahnya masih terlihat sangat tegang, air mata terus merembes keluar dari sudut matanya, perasaanya tak menentu.
Ia mengendarai kendaraanya seperti orang gila, dan hanya butuh waktu tiga puluh menit sampai rumah sakit tersebut pada jam macet saat ini, semua karena ia di kawal pihak kepolisian yang entah bekerjasama dengan team Agatha.
Agatha langsung turun dan memberikan kunci mobilnya pada resepsionis untuk mengurus mobilnya,, ia tak menelpon untuk memberitahu kedatangannya sehingga tak ada yang menyambut kedatangan nya,karena ia khawatir keselamatannya, menelpon saat ia menyetir seperti orang gila, bisa-bisa ia juga mengalami kecelakaan
"Bu, anda di minta langsung menuju ruang tunggu operasi, Bu Davina sedang menjalani operasi, beliau kritis" ucap seorang bodyguard menghampiri Agatha
Duarrr
Bagai di sambar petir di siang bolong, ternyata Davina lah yang mengalami kecelakaan, tubuh Agatha oleh, ia hampir jatuh karena kakinya lemas.
pantas saja Willy tidak memberitahunya karena khawatir Agatha akan shock, nyatanya ia tetap shock.
Davina sudah ia anggap adiknya sendiri, mereka sudah mengenal satu sama lain sejak Davina kecil dan melihat Davina tumbuh. Agatha sangat menyayangi Davina.
"Bu, apa anda baik-baik saja???" tanya bodyguard itu melihat Agatha hampir jatuh, beruntung Agatha memegang tembok di sampingnya, Bodyguard itu ingin membantunya, namun agatha mengangkat tangan tak ingin di bantu, ia harus kuat, walau air matanya jatuh berderai.
"Ayo kita kesana" ucap Agatha serak, ia menguatkan hatinya seraya berdoa dalam hati.
Sesampainya di ruang tunggu kamar operasi, seluruh keluarga telah berkumpul, terlihat Ayudia yang pucat pasi dan sedang menangis tersedu-sedu dalam pelukan Khadijah mama tirinya
"Kak Ayu" panggil Agatha lirih
Ayudia menoleh lalu bangkit dan memeluk Agatha, ia kembali menangis histeris
keduanya menangis tersedu-sedu
"Agatha putriku di tabrak, putriku di tabrak.
Sekarang dia di sana sedang terbaring berlumuran darah, Aku mohon cari pelakunya secepatnya" pekik Ayudia histeris Ayudia terisak lalu tumbang tak sadarkan diri.
Sejak mengetahui putri sulungnya kecelakaan Ayudia terus menangis dan tak sadarkan diri berkali-kali, terlebih kondisi Davina kini kritis.
Berita kecelakaan Davina sampai juga ke telinga Angelo, kedua pasutri manula itu langsung terbang menuju tanah air dengan pesawat jet pribadinya
Adhi dan Khadijah membawa Ayudia yang tak sadarkan diri ke ruangan yang disediakan khusu untuk keluarga Davina.
Di sudut lain terlihat Tian yang sangat shock, ia menitikkan air mata, di sebelahnya ada Arjuna yang menepuk punggung anak menantunya, Arjuna juga terlihat sama shocknya, mereka terlihat saling memberi kekuatan
"Ikut aku" ucap Willy lirih mendekati istrinya.
Agatha ingin memprotes, ia ingin berada di ruangan tersebut menanti operasi Davina selesai,, namun Willy pasti memiliki tujuan lain meminta Agtha mengikutinya.
Di sebuah ruangan yang merupakan ruangan yang bisa di pakai untuk rapat sebelum operasi dj sana sudah berkumpul Daffa, Daffi, Shandy,Vincent,Axel dan Lilly
__ADS_1
Agatha langsung duduk di kursi yang kosong, meneliti wajah orang-orang dalam ruangan ini.
Sepertinya mereka memiliki sedikit bukti di tempat kejadian.
"Gue udah bilang kalau ****** itu pelakuny, tapi adik gue gak percaya, begini nih jadinya" ucap Daffa membuka pembicaraan
"Kalian juga udah kantongin bukti tapi masih gak bergerak. Ini bukan kalian banget deh" timpal Axel yang ikut emosi melihat keadaan Davina saat ini.
Semua orang menyayangi gadis cerewet itu dan sangat khawatir karena saat ini Davin sedang berjuang di meja operasi.
"Berita terbaru, Davina keguguran" ucap William yang baru bergabung
"Maksud kakak???...."tanya Willy memastikan pendengarannya
"Ya saat ini Davin sedang hamil muda, dia juga tak tahu jika sedang hamil dan mempertaruhkan nyawanya menyelamatkan Cleo.
Davina pendarahan hebat dan keguguran saat itu juga"terang William yang tadi melihat suster keluar
"Astaghfirullahaladzim" pekik semua orang terkejut
"Sial, bang*at, manusia mana yang cari mati sama keluarga benedito????
Gue akan seret orang itu sampai keliang lahat" teriak Daffa penuh emosi, pemuda berpembawaan tenang dan acuh tak acuh itu akhirnya mengeluarkan temperamen nya yang tak pernah sekalipun mereka lihat. Daffa biasnaya akan seperti angin di musim dingin.
Mata itu penuh kebencian dan amarah seakan bisa membunuh hanya dengan pandangan saja.
Agatha merasa dadanya sesak dan ia mulai menangis lirih. Walau bagaimanapun Agatha paling mengerti bagaimana perasaan Davina saat ini, terlebih ia adalah pernah ibu juga
"Sabar,, Davina kita wanita yang kuat" ucap Willy memeluk istrinya dan membiarkan Agatha menangis dalam Pelukannya.
Setelah Agatha sedikit tenang, ia mulai membuka suara
"Shandy kumpulkan team dan mulai telusuri semua dan dapatkan bukti siapa pelakunya.
Gue mau 1x24 jam kalian harus mendapatkan bukti dan dalang di balik kecelakaan ini" perintah Agtha berapi-qpi
"Daffa, Daffi , Tante minta kalian bersama Axel dan Vincent batu team Shandy kalian bagi tugas dan sayang, kamu ikuti wanita dalam foto ini, kami mencurigai dia juga dalang kecelakaan kali ini, hanya saja dia profesional, kau harus berhati-hati"
"Aku ikut," ucap Sebastian yang tahu-tahu sudah berdiri didepan pintu
"Gak bisa, loe harus tetap di sini.
Davina butuh loe" tentang Willy tak setuju
"Tapi gue mau nangkap pelaku nya yang udah buat istri gue celaka" ucap Tian murka
__ADS_1
semua orang mengerti bagaimana perasaan Tian.
Willy menghampiri adik kecilnya itu
"Kakak mengerti, tapi istrimu lebih membutuhkanmu disini, bagaimana jika ia sadar dan mencari mu???
Serahkan semuanya sama kakak dan saudara-saudari mu. Apa yang kau rasakan kami juga rasakan dan kami tidak akan melepaskan pelakunya begitu saja.
Kami akan mencarinya sekalipun harus membalikkan dunia" ucap Willy meyakinkan Sebastian
Sebastian jatuh terduduk, ia mengusap wajahnya kasar, Sebastian terlihat sangat tertekan
Seorang pria akan menahan air matanya tak keluar, tapi saat istri , anak dan keluarganya terluka mereka kan menangis untuk mereka.
"Ayo kembali ke ruang tunggu, Davina pasti mencarimu saat ia sadar" ucap Willy lalu merangkul saudaranya itu kembali keruang tunggu.
Ayo kita bergerak sekarang" ucap Daffa, lalu semuanya seakan tahu tugas masing-masing
"Lilly, aku mohon kamu tetap di dekat Davina, kondisi Davina tanggung jawabmu" ucap Agatha begitu semua orang keluar
"Baik bos" ucap Lilly lalu pamit kembali ke ruang tunggu operasi.
Setelah lily pergi Willy kembali masuk ke dalam ruangan tersebut
"Mengapa kau melepas wanita ini jika kau yakin dia pelakunya???" tanya Willy kesal.
"Kami belum dapat bukti konkrit.
Bukti mengarah semu ke pada Marsha yang memang sudah di rencanakan oleh wanita ini. dia bersih"
"Sial ada orang yang serapih ini menyembunyikan kejahatannya????"Dengus Willy menghela.nafas kasar
"Dia terlatih, lebih tepatnya dia mengasah kemampuannya dengan baik"
"Apa kita bisa menangkapnya sayang??
maksudku"
"Bisa, apa yang tak bisa devil angel lakukan??? jangan lupa kami bisa menciptakan bukti jika itu perlu" ucap Agatha dengan senyum licik
"Aku percaya padamu" ucap Willy menepuk bahu istrinya
"Tolong mas awasi, dia orang yang waspada, jika aku mengutus anak huahku ia akan waspada, namun mas terlihat orang apa umumnya, ia mungkin saja mengendorkan kewaspadaannya".
"Orang pada umumnya?? maksudmu mas terlihat lemah gitu???" ucap Willy yang mengartikan sendiri ucapan istrinya
__ADS_1
"Aku tak bilang, tapi semacam itu" ucap Agatha santai.
Jika saja suasana hati mereka sedang tidak buruk, Agatha akan senang sekali bisa memerintah suaminya dan meledek suaminya, sayangnya saat ini mereka dalam suasana tegang.