
Davina tersenyum penuh kemenangan melihat Dona keluar dari toilet dengan wajah kesal
Bughhh
"Aaaawwwww"
Seorang wanita yang ingin keluar jatuh dengan telak, sampai terdengar suara seperti patah.
Davina melihat wanita itu meringis kesakitan sampai air matanya keluar
"Mba apa kamu baik-baik saja??" tanya Davina panik
",Sakit huhuhu" ucap wanita itu menangis dengan wajah pucat
Davina langsung menghubungi rumah sakitnya untuk mengirim ambulance secepatnya
"Jangan bergerak, aku sudah memanggilkan ambulan" ucap Davina berusaha tenang.
Davina menunduk dan memegang lantai, lalu menciumnya.
Sabun, aroma sabun cuci tangan.
Apa mungkin Dona yang melakukannya??
Davina memandang sekeliling mencari kamera CCTV, namun tak ada, ya toilet ini merupakan ruang privasi, tak mungkin di beri CCTV.
Davina mengepalkan tangannya emosi.
Jika ia yang terjatuh, sudah pasti ia akan keguguran dan kehilangan anaknya untuk kedua kali.
Davina sangat yakin ini ulah Dona, sayangnya ia tak punya bukti, tak bisa bertindak sekarang.
Davina mengabarkan pada manager restoran jika ada pengunjung yang terjatuh, ia meminta pelayan memberikan air untuk si korban, sementara menunggu ambulance datang.
Karena keributan kecelakaan di toilet membuat Tian langsung berlari menuju toilet, khawatir istrinya yang jadi korban, namun begitu melihat Davina sedang duduk memeriksa wanita yang terjatuh, Tian lega
"Sayang, apa kamu baik-baik saja???
Kamu gak kenapa-nap kan??" tanya Tian menangkup wajah Davina.
"Aku baik-baik saja sayang, beruntung Allah masih melindungi aku dan anak kita dari orang jahat" ucap Davina melirik kearah Dona.
Dona membuang muka, panik
"Sial, kenapa bukan dia aja sih yang jatuh, wanita bodoh merusak rencana ku saja" gerutu Dona menatap tajam ke arah wanita yang terjatuh tersebut.
Sepuluh menit kemudian, ambulance datang.
Mereka langsung membawa wanita malang tersebut ke rumah alit milik Davina.
"Aku akan pergi" ucap Shandy
"Pergilah dan urus semua, pastikan mereka tak memungut biaya apapun pada wanita malang itu.
"Mba, orang saya akan membawa mba, mba tenaga aja mereka akan merawat mba sampai sembuh dan free" ucap Davina Menggenggam tangan wanita tersebut
"Terima kasih mba" ucap wanita itu tersendat menahan sakit.
Ambulance meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit
"Karena semua sudah beres ayo kita makan" ucap Denis yang tak terlihat sama sekali terganggu dengan insiden ini.
Sebastian menatap istrinya meminta pendapat
"Ayo sayang, anakmu sepertinya sudah minta makan" ucap Davina sengaja mengelus perutnya
reflek Sebastian yang kini memiliki hobby baru ikut mengelus perut rata Davina dan berbicara pada anak dalam kandungan Davina
"Dede usaha laper ya?? ayo kita makan sayang.
__ADS_1
anak pintar gak nyusahin mama kan?" ucap Tian membuat Oscar melotot tak percaya sahabatnya itu seperti orang bodoh
"Sepertinya aku akan berpikir dua kali memiliki anak, aku tak mau terlihat bodoh sepertimu" ucap Oscar melangkah pergi
Sementra Dona hanya melempar pandangan tajam ke arah Davina yang di balas senyum kemenangan Davina.
"Kalau kau ingin main-main denganku, kau harus siap berada di neraka Dona" ucap Davina menatap benci Dona yang berjalan menyusul Oscar dan Denis
"Sayang kok malah bengong, katanya udah laper"
"Eh ayo mas, laper" ucap Davina manja.
entah mengapa sejak kehamilannya ia jadi senang di manja Tian, bahkan tingkat kecemburuannya meningkat drastis, mungkin ini efek dari hormonnya yang tidak stabil
Sebatsian dengan. sabar dan penuh cinta melayani istrinya makan.
Sebatsian memastikan steak yang di makan Davina matang sempurna, lalu memiringkan daging steak menjadi kecil-kecil agar Davina mudah memakannya.
memesan juice buah lengkap dengan kebiasaan Davina tanpa gula, jangan encer dan BLA BLA
Semua orang tersenyum melihat Sebastian yang terlihat begitu cinta pada Davina, namun tidak dengan Dona.
Ia di bakar api cemburu dan dendam ingin menghancurkan Davina.
Davina yang tahu itu makin sengaja memamerkan kemesraan merek, i meminta Sebastian menyuapinya
"Maaf semuanya, istriku sedang hamil, ia memang sedikit manja" ucap Tian tersenyum canggung
"Selamat ya kak, semoga sehat selalu mama dan baby nya" ucap Bert tulus
"Selamat tuan Sebatsian" ucap Denis datar.
"Selamat kakak ipar, tolong buatkan ponakan yang banyak untukku" ucap Oscar membuat semua orang tertawa, namun tidak dengan Dona.
"Dasar bule gila, kau saja yang menikah dan memproduksi anak" Dengus Davina membuat Oscar tertawa.
Setelah makan malam mereka melanjutkan obrolan bisnis. Davina tertidur sambil duduk karena bosan, akhirnya Sebastian membopong Davina sampai mobil dan menidurkan Davina di kursi belakang dengan hati-hati
anda suami yang hebat" ucap Bert mengucap salam perpisahan
"Terima kasih Bert. sampai jumpa lain waktu" ucap Sebastian lalu masuk ke dalam kendaraannya dan pergi
"Okey semua, terima kasih" ucap Oscar berjabat tangan lalu setelah itu meninggalkan tempat tersebut.
Kini tinggal Bert, Denis dan Dona
"Kenapa wajahmu jelek sekali???
Apa kau cemburu berat dengan istri Sebatsian???" tanya Denis mengejek Dona
"Tutup mulutmu" ucap Dona sengit
"Hahaha Dona, Dona tak bisa kah kau melihat jika mereka pasangan yang saling mencintai???
Tak ada gunanya kau menjadi pengganggu mereka.
Jika wanita itu masih sendiri aku akan mengejarnya walau nyawa taruhannya, karena wanita itu patut di kejar. Satu kata untuk wanita itu, "Sempurna" ucap Denis dengan sorot mata mesum
"Cih Apa kelebihan wanita itu, sepertinya kau perlu kacamata untuk melihat jelas" cibir Dona pada Denis
"Anu nyonya, Bu Davina wanita hebat, dia .."
"Tutup mulutmu Bert"ucap Dona sinis
"Benar kata Bert.
tidakkah kau lihat ambulance yang membawa waniyt malang tadi?? Bahkan mereka seperti kenal dengan istri Sebastian, bahkan ia menjamin perawatan gratis yang langsung di angguki petugas tersebut
Aku pikir dia adalah pemilik rumah akut tersebut" ucap Denis menyimpulkan kejadian beberapa waktu lalu
__ADS_1
"Bisa jadi, dia juga pemimpin Angelo corp, dia wanita yang hebat" ucap Bert mengingat perjumpaannya dengan Davina siang tadi
"Dari mana kau tahu Bert?"
"Aku di kenalkan oleh Shandy, Asisten Sebastian" ucap Bert tersenyum
"Sepertinya kau mendapat lawan yang tangguh"
"Tutup mulutmu Denis" Dengus Dona marah.
"Dengar, jika kau mau menyingkirkan Davina, kau harus punya kemampuan, sepertinya kita gagal ..." Dona langsung membekap mulut Danis dan melotot tajam ke arah Denis
"Maksud pak Denis???"
"Lupakan Denis hanya terlalu mabuk, Bert bisakah kau naik kendaraan umum??
aku ada perlu dengan Denis" ucap Dona mengusir Bert
Dengan kesal Bert turun dari mobil, mau bagaimana lagi ia hanya pegawai kecil.
Bert menatap kepergian mobil Denis dan Dona dengan wajah kesal.
Bert mengepalkan tangannya hingga kuku jari tangannya menancap pada telapak tangannya
Air mata Bert menetes, ia sangat kesal saat ini.
"Sial pake ketinggalan segala" maki seorang pria yang keluar dari mobilnya
"Eh Bert?? kamu Bert kan???" tanya Oscar yang kembali karena ponselnya tertinggal
"Tuan Oscar? mengapa anda kembali", ucap Bert buru-buru menghapus air matanya
"Kau baik-baik saja??? kemana Dona dan Denis??? mengapa mereka meninggalkan kau sendirian disini??" tanya Oscar beruntun membuat Bert bingung harus menjawab yang mana duluan
"Ah tunggu aku sebentar, jangan kemana-mana" ucap Oscar langsung berjalan cepat memasuki restoran, tak lama kemudian ia keluar dengan senyum lebar di bibirnya
"Maaf aku ketinggalan ponselku, ini nyawaku"ucap Oscar tersenyum lega karena ponselnya tak hilang. Bert hanya bisa tersenyum melihat pria matang itu bertingkah seperti anak kecil.
"Oh ya Bert kemana kedua rekannya??"
"Nyonya Bernard dan pak Denis sudah pergi"
"Nyonya Bernard??? Dona adalah istri Bernard??? tanya Oscar mengulangi Kalimatnya
"Apa anda tak tahu??" tanya Bert bingung.
Oscar menggeleng pelan
"Bukankah Bernard sudah tua Bangka? eh maksudku..."
"Ya Tuan Bernah sudah tua, bahkan lebih cocok jadi ayah nya, tapi kenyataanya mereka sudah menikah Lima bulan lalu", ucap Bert tersenyum
"Maaf aku tak sopan"
" Tak apa, aku sudah biasa mendengar keterkejutan orang-orang"
"Jadi Bert mau ku antar??? jika kamu percaya padaku"
"Jika tuan Oscar Tan keberatan, terima kasih" ucap Bert tak menolak, pasalnya ini sudah sangat malam, ia ragu akan mendapatkan kendaraan pulang ke hotel.
terlebih ia tak tahu daerah ini.
"Panggil saja Oscar, kita sedang tak kerja, santai saja.
Ayo nona manis, silahkan naik" ucap Oscar membukakan pintu penumpang
"Terima kasih tuan tampan" ucap Bert lalu keduanya tertawa.
Oscar mengantarkan Bert sampai ke lobby hotel,
__ADS_1
Bert berkali-kali mengucapkan terima kasih. Setelah itu Oscar pergi.