
Nicholas sudah berada di rumah sakit yang sama dengan Bernard dan Elly, hanya saja dia di bangsal umum
Davina sengaja meminta ia di tempatkan di ruangan umum karena akan sulit untuk seornag pembunuh menyusul di bangsal umum yang satu ruangan di huni lebih dari satu orang, dan kamar inap Nicholas di huni oleh tiga orang, dengan dia jadi empat.
dengan adanya Nicholas di rumah sakit yang sama memudahkan anak buah Davina berpatroli.
Seperti dugaan Davina, tepat tiga jam kemudian berita Nicholas selamat sampai ke telinga Denis,
Denis langsung mengirim dua orang anak buahnya menuju rumah sakit, memantau, mencari celah untuk menyingkirkan Nicholas selamanya.
"Seperti yang kita duga, dua tikus anak buah Denis memakan umpan" ucap Daffa sambil menyuap sarapan paginya
"Aku mengandalkan mu kak"
"Aku dan Daffi hanya ingin semua cepat selesai, dan kau tahu aku dan Daffi sangat mengkhawatirkan mu.
terlebih mama dan papa mempercayakan kamu menjagamu, jika kau mengacau tamat riwayat kami"
"Come on kak, aku sudah bersuami" protes Davina kesal
"Tapi kami kakakmu, walau kau sudah bersuami kamu tetap adik, anak kecil di mata kami"
"Kita hanya beda menit, jangan sok tua, kau menyebalkan" ucap Davina melempar bantal ke arah Daffa yang ditangkap Daffa tanpa menoleh
"Terima saja sis, kau masih kecil" timpal Daffi tertawa senang
"Kalian menyebalkan, cepat menikah.
muka kalian kusam!!!" ucap Davina langsung masuk ke dalam kamar apartemen milik Daffa.
Tadi sore ia dan Tian memutuskan menginap di apartemen Daffa untuk menyusun rencana selanjutnya.
Terdengar tawa kedua saudaranya dari arah ruang tamu.
Davina merengut, sepertinya kesalahan besar ia tinggal di apartemen Daffa.
namun dari tawa kedua saudaranya, ada satu suara tawa yang sangat ia kenal, tawa Tian, suaminya
"Sayaaaaang, ini pasti ulah mu kan???" teriak Davina yang sudah berdiri di depan pintu,membuat ketiga pria yang tertawa langsung terdiam
"Adik ipar aku angkat tangan, aku sepertinya haus" ucap Daffi bangkit
"Ah aku lupa memeriksa Bert" ucap Daffa bangkit dan langsung masuk kamar Bert
Bert yang sedang mengganti pakaian terkejut bukan main, ia menjerit dan melempar bantal di sebelahnya
"aaaaaaarrrrrghhh
Dasar pria mesum main masuk kamar tanpa mengetuk" teriak Bert marah, sementara Daffa sangat terkejut, niatnya mau menghindari masalah, malah ia dapat masalahnya sendiri
"Kapok" ucap Tian tanpa suara
Davina kembali keluar membawa satu bantal dan melemparkannya pada Tian
"Malam ini mas tidur di luar bersama kakak-kakakku tersayang" ucap Davina lalu membanting pintu dan terdengar suara pintu terkunci
Daffa berjalan menuju bar mini, ia merasa tenggorokannya kering dan wajahnya panas.
Ia baru pertama kami melihat tubuh wanita polos di depannya dan entah mengapa ia terus membayangkan tubuh Bert, apa dia sudah gila atau memang dia mesum???
__ADS_1
"Loe kenapa kak??? dari tadi geleng-geleng kepala terus menghela nafas gitu?" tanya Daffi menghampiri kakaknya sambil membawa semangkuk mie.
Aroma mie rebus langsung menyebar membuat lapar
"Aku lapar" ucap Daffa langsung merebut mie milik Daffi dan menyuapnya
"Woi bikin sendiri ah **** iler loe kak" ucap Daffi kesal. Ia paling benci makanannya di makan.
Daffa segera menghabiskan mienya diiringi gerutu Daffi.
Setelah habis ia menuju ke dapur, terlihat mie buatan Daffi baru matang, ia langsung berlari kecil seperti anak kecil yang takut di rebut makanan nya
"Huh dasar bocil" ucap Daffa, ia memasak mie rebus lagi
"Apa tadi gak kenyang??? loe makan apa kesetanan??" tanya Daffi , Daffa hanya mengangkat bahunya tanpa menyahut.
Setelah matang Daffa berjalan melewati Daffi yang melihatnya aneh
"Cie cie, inget Tante ya?"
"Tutup mulutmu atau ku usir keluar" ancam Daffa membuat Daffi menutup mulutnya sambil angkat tangan.
ini jam dua belas malam, Daffi terlalu malas pulang ke apartemen nya ataupun ke markas.
Tok tok tok
"Bert tolong buka"
"Pergi kau" teriak Bert kesal
"Buka please, aku hanya ingin membawakan mu makan" ucap Daffa lembut membuat Daffi melongo.
Sejak kapan manusia es itu mencair??? apa dia menyukai wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya??? ini berita besar!!!
"Aku mau minta maaf, tadi aku tak sengaja.
Davina mengamuk dan aku hanya berfikir menyelamatkan diri, aku tak bermaksud...."
"Lupakan, aku tahu" ucap Bert menunduk dengan wajah merona
Daffa mengangkat tubuh mungil Bert, mendudukkannya dipinggir tempat tidur. ia meraih mangkuk mie dan meniupnya pelan, persis seperti suami yang perhatian
"Aku bisa makanan sendiri"
"Baiklah" ucap Daffa tak beranjak dari tempatnya duduk
Bert makan dengan tak nyaman karena Daffa terus menatapnya sambil tersenyum.
"Ya Tuhan pria ini sangat tampan saat tersenyum, sayang kami berbeda segalanya"gumam Bert dalam hati.
"Uhuk uhuk" Bert tersedak, buru-buru ia mengambil air, begitu juga Daffa, tangan mereka bersentuhan, keduanya saling pandang lalu buru-buru keduanya menjauh dengan wajah kikuk
"Makanlah pelan-pelan, aku menunggu di luar" ucap Daffa menyerahkan gelas minum dan bangkit keluar dari kamar Bert
Bert merasa hatinya dag Dig dug Tan karuan
"Sial ada apa dengan diriku, apa aku terkena serangan jantung??? mengapa jantung ku berdegup dengan cepat???" gumam Bert memegangi dadanya, tatapannya menatap ke arah pintu dimana Daffa tadi keluar
"Sadar Bert, sadar dia adikmu" ucap Bert mencoba menenangkan hatinya.
__ADS_1
sudah beberapa kali jantungnya terus bergetar saat dekat dengan Daffa, apa tanpa sadar ia sudah jatuh cinta???
ini gila, dia jatuh cinta pada pria yang menolongnya??? atau sekedar rasa terima kasih????
Daffa kembali dua jam kemudian, mie dalam mangkuk sudah habis dan Bert sudah tertidur dengan posisi terduduk sambil membaca buku.
Daffa duduk di tepi ranjang
memandang wajah Bert.
Wajah Bert tidak cantik, tapi tidak juga jelek.
namun ada yang membuat Daffa ingin dekat dengannya, Bert membuatnya tenang, mengerti dia tanpa harus Daffa berucap, rambut Bert yang bergelombang membuat Daffa ingin sekali menyentuhnya.
Daffa mengulurkan tangannya menyentuh rambut Bert, wanita itu menggeliat namun tak bangun, Daffa tersenyum melihatnya.
Ia mengangkat tubuh Bert dari kursi aroma samar lavender tercium dari rambutnya, tanpa sadar Daffa mencium rambut Bert.
Bert melingkarkan tangannya seakan takut jatuh, namun ia tetap tertidur.
Dengan perlahan Daffa meletakkan tubuh Bert di kasur, wajah mereka sangat dekat, Daffa bisa merasakan nafas Bert menerpa wajahnya, entah keberanian dari mana Daffa mencium kening Bert membuat Bert terbangun.
ia terkejut begitu juga Daffa yang terkejut melihat Bert terbangun
"Daffaa" ucap Bert serak
"Ehmm" ucap Daffa langsung ******* bibir tipis Bert, awalnya Bert diam, namun ia akhirnya ia membalas, hasrat dalam dirinya membuncah
keduanya larut dalam ciuman tersebut.
Daffa melepaskan ciuman karena Bert kesulitan bernafas, ia tersenyum lebar
"Apa kau bodoh tak bernafas?" ucap Daffa menatap bola mata Bert yang berwarna abu-abu, ia kembali ******* bibir Bert, Bert mengalungkan tangannya di leher Daffa seolah tak mau lepas, keduanya berciuman lagi dan lagi lalu diakhiri wajah merona keduanya
"Bert jadilah wanitaku" ucap Daffa merapihkan rambut ikal Bert
"Kita.... Daffa kau tahu kita ...."
"Aku akan meyakinkan semua orang, tunggu aku" ucap Daffa kembali mengecup kening Bert
"aku takut kau kecewa" ucap Bert lirih.
terlalu banyak perbedaan diantara mereka.
dan Daffa, pria itu sempurna, baik fisik maupun wajahnya, wajah yang sangat tampan, tak pantas bersanding dengannya.
terutama usia mereka terpaut jauh, Bert lebih tua
"Aku tak pernah menyesal dengan keputusanku.
aku minta kau menungguku, bisa???" tanya Daffa lembut.
Bert merasa terbang ke awan-awan, ia meneteskan air mata haru. entah ini mimpi atau kenyataan, Bert tak mau ini berakhir
"Aku akan membahagiakanmu" ucap Daffa kembali mencium bibir Bert.
keduanya hanyut dalam perasaan dan debaran hati mereka yang menyatu.
Kita tak pernah tahu dengan siapa kita jatuh cinta dan kapan rasa itu datang.
__ADS_1
jika ini untuk sementara maka biarkan aku menikmati manisnya cinta!!!"gumam Bert menatap wajah tampan Daffa hingga tanpa sadar bulir air mata mengalir di pipi Bert.
ini pertama kalinya ia di cintai seseorang.