Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Tagih Janji


__ADS_3

Davina memeluk tangan lengan suaminya dengan posesif, ia dalam suasana hati yang baik.


Tian hanya sedikit.bingung, pasalnya Davina bukan tipe yang romantis, namun karena istrinya sudah memperlakukannya dengan manis, Tian mengabaikan rasa kakinya yang berdenyut sakit dan pegal karena terllau lama berjalan kaki.


"Sayang, kayanya kamu seneng banget??


Kaya habis dapat lotre aja"


"Ini lebih dari lotre, aku dapat door prize" ucap Davina penuh semangat


"Emangnya dapat apa sih sampai bahagia betul????" tanya Tian penasaran


"Uhmm rahasia!!!" ucap Davina penuh arti.


Ia sangat bahagia membuat kedua temanya terkejut, terutama bisa membungkam dan menghajar Loli dengan kenyataan manis.


Davina tak perlu berkata apa-apa, Loli tertampar dengan kenyataan.


Memang Tian duda, tapi siapa yang bisa menduga jika suaminya itu tidak terlihat seperti duda anak satu.


Dia hanya terlihat tampan dewasa dan matang.


Ibarat buah suaminya ranum membuat banyak hewan mendekatinya, hehehe


"Door prize nya kamu sayang.


Kamu kejutan terindah yang aku terima" ucap Davina dalam hati


"Aku kok merinding ya ngeliat kamu senyum-senyum sendiri begitu, Kamu gak lagi demam atau apa karena kamu keracunan makanan tadi??" tanya Tian memegang kening istrinya


"Ih sayang, kamu merusak suasana hatiku aja.


Aku lagi bahagia u know???" Ucap Davina bersendung masuk ke dalam mobil sendiri sebelum Tian sempat membukakan pintu mobil nya


Sebastian hanya mengangkat bahunya lalu meletakkan semua belanjaan Davina di bagasi mobil


"Kita makan malam dulu atau...."


"Sayang, kau lihat???


Perutku sudah penuh dengan makanan yang gak kau habiskan, apa kau mau membuatku seperti Teddy bear???"


"Itu boleh juga, lucu" ucap Davina cekikikan


"Enak aja, nanti gak ada cewek yang naksir lagi" ucap Tian keceplosan


"Maksudnya??????"


"Eh maksud aku, masa suamimu yang keren ini perutnya buncit, kan gak lucu" ralat Sebastian yang gugup mendapat pelototan istrinya


"Ah om william saja buncit tetap keren"


"Sayang, William kan sudah tua, udah gitu kerjanya nyetak anak, UPS" Sebastian kembali keceplosan


"Owh mas mau aku adukan ya???"


"Jangan sayang, ya Allah punya istri begini amat"


"Jadi mas menyesal menikah dengan aku???" Tanya Davina dengan muka sedih


"Ya Allah, salah lagi.

__ADS_1


Mas justru bersyukur punya istri bahenol bin montok kaya kamu.


Udah lah mas diem aja daripada salah" ucap Tian pada akhirnya


"Aku juga bersyukur punya suami mas.


ganteng, walau kadang nyebelin" ucap Davina mengecup pipi suaminya


"sayang, jangan memancing si Jhonny" ucap Tian lirih


"Siapa Jhonny yank??" tanya Davina polos, seringai licik terlihat di bibir Tian


"Kamu mau kenal???"


"Enggak juga sih, cuma penasaran aja.


Apa hubungannya dengan si Jhonny, Jhonny itu??" ucap Davina bingung


"Kamu udah kenal sih, cuma belum dekat aja"


"Masa sih???"tanya Davina berusaha mengingat teman-teman suaminya, nyatanya ia tak begitu mengenal dengan siapa saja Tian dekat, kecuali Panji.


"Kamu gak bakal nyesel kenal yank, malah kamu bakal suka sama dia" ucap Tian menahan tawa.


"Kok kamu senyum-senyum gitu sih?aku jadi curiga.


Kamu ngerjain aku ya???" cecar Davina memicingkan matanya menatap suaminya dengan curiga


"Terus aku gak boleh senyum gitu, suruh cemberut???


Aneh kamu tuh yank.


Masa suami tersenyum di curigai" sangkal Tian


"Dah lah ayo pulang, aku sudah lelah banget yank.


Besok penerbangan kita ke Spanyol"


"Ya udah deh, kesana dulu tuh ada yang mau aku beli baru kita pulang" ucap Davina memohon. akhirnya Sebastian hanya bisa mengangguk.


Ia tak ikut Davina melainkan menunggu di dalam mobil


"Aku pastikan kau mendapat hukuman nanti malam.


Masalah ke Spanyol urusan belakangan" ucap Tian terkekeh sambil pandangannya tak lepas dari Davina.


Satu jam kemudian Davina datang dengan dua plastik tengteng berisi makanan


"Let's go pulang" ucap Davina sepeti anak kecil.


Tian hanya bisa menggeleng dan mengelus kepala Davina karena gemas.


"Mas kenapa sih seneng banget ngelus kepala aku, jangan-jangan mas nyamain aku dengan kucing ya??? Atau Cleo???"


"Enggak dong sayang, kamu lebih special" ucap Tian membuat senyum Davina mengembang


Mobil mereka meninggalkan tempat itu, Davina langsung membuka makanan yang tadi ia beli.


Aroma sedap langsung tercium


"Apa tuh???"

__ADS_1


"Ayammmmm" ucap Davina semangat


ia langsung memasukkan ayam ukuran besar ke mulutnya, lalu tak lima menyuapi Tian juga


"Enak kan???" tanya Davina yang di balas anggukan Tian. Keduanya menikmati jajanan itu selama di perjalanan


Sesampainya di rumah mereka langsung mandi dan berganti pakaian lalu tertidur tanpa melakukan hal lain.


Namun Davina tak tahu jika Tian sedang merencanakan sesuatu.


Tengah malam Davina merasa terganggu, ia membuka matanya dan melihat suaminya sedang menciuminya


"Massssss, aku lelah" ucap Davina merengut


"Aku hanya menagih janjimu, ini pakai sudah ku cucikan untukmu" ucap sebastian dengan senyum nakal menyodorkan sesuatu yang Davina beli di toko yang membuat Tian gelisah


"Mas, kau menyebalkan" ucap Davina dengan malas dan mengantuk bangkit.


Ia menyesal memiliki ide gila ini, bagaimana bisa pikirnya ikutan konslet seperti kakek buyutnya


Tak lama kemudian Davina keluar dengan pakaian "Dinasnya.


Sebastian menelan Saliva nya dengan susah, ia tak berkedip menatap Davina.


"Sayang, kelinciku yang menggemaskan" ucap Tian langsung menerjang Davina, ia ******* bibir istrinya penuh nafsu.


Malam itu mereka menghabiskan malam dengan indah.


Keesokan harinya Sebastian bangun lebih awal, matahari sudah tinggi, namun Davina masih dalam bungkusan selimut tebal tanpa busana.


Sebastian membuat Davina begadang semalaman.


Mungkin saja pagi ini Davina akan kesulitan jalan.


Sebastian membuat sarapan untuk mereka lalu membangunkan Davina.


Penerbangan mereka pukul tiga sore, mereka harus bergegas atau mereka akan ketinggalan pesawat


"Sayang bangun sudah siang.


Kita harus mengejar pesawat siang ini"


"Uhmm aku ngantuk" gumam Davina malah malah makin mengeratkan pelukannya pada guling


"Bangun sayang, kita sarapan dulu"


Karena istrinya tak mau bangun akhirnya Tian menarikan selimut Davina dan menggendongnya,


rupanya Sebastian kembali terangsang dan mereka melakukanya lagi di kamar mandi.


Davina menggerutu karena ulah suaminya.


Tubuhnya serasa babak belur sakit di sekujur tubuhnya.


Dengan penuh kasih sayang Tian mengangkat istrinya memakainya pakaian lalu mengeringkan rambut Davina.


Davina hanya pasrah, ia tak punya tenaga lagi memberontak.


Setelah itu mengangkatnya ke meja makan, Sebastian pula yang menyuapi Davina makan, hari ini Davina seperti pesakitan, semua di bantu oleh Tian.


Siapa suruh membuatnya tak memiliki tenaga.

__ADS_1


Sebagian mengemas koper mereka, sebagian ia suruh anak buahnya bawa pulang, sementara ia dan Davina meneruskan perjalanan bukan madu mereka ke Spanyol, tanah kelahiran keluarga Benedito.


__ADS_2