
Daffa membawa satu orang anak buah bersamanya dan dua orang anak buah Davina, langsung masuk ke dalam kamar hotel dimana Bert tinggal, Daffa langsung meminta anak buahnya menggunakan peralatan canggihnya.
ia juga mencari CCTV yang mungkin saja di pasang di kamar tersebut.
Sementara anak buah Davina menggeledah kamar mencari barang bukti.
Setelah satu jam Daffa tersenyum puas, ia mendapatkan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Celengan dari kaleng, ia teringat dulu Davina saat kecil memilikinya, hadiah dari kakek buyut mereka.
Ini sangat janggal mengingat Bert terlihat sudah berusia sekitar dua puluh delapan sampai tiga puluh tahun, lebih tua dari Daffa.
di usianya sekarang itu sangat tidak lazim Bert masih menabung di celengan tersebut, kecuali ada dua hal.
Satu karena ia memang mengoleksi atau mungkin hadiah dari seseorang yang berati dalam hidupnya, atau dua, itu merupakan tempat rahasia ia menyimpan sesuatu.
Jika orang biasa tak akan berfikir terlalu jauh, namun Daffa adalah orang yang cerdik dan selalu berpikir luas.
jadi Daffa memutuskan membawa celengan tersebut.
Selain itu dengan alatnya ia melihat jejak penganiayaan di kamar tersebut, walau bekas darah sudah di bersihkan dan tak sidik jari selain milik Bert.
Ini terlalu bersih untuk di lakukan oleh orang awam.
Lawan mereka kali ini benar-benar ahli dalam hal pembunuhan.
Mungkin Bert adalah kesalahan mereka yang sudah berpikir Bert tamat, namun nyatanya Daffa pas lewat dan menolongnya.
"Tante kau sepertinya terlibat masalah besar" gumam Daffa menyeringai lebar.
Setelah keluar dari kamar hotel, Daffa langsung menuju perusahaanya, sementara kedua anak buah Davina menuju kantor Davina untuk melaporkan pekerjaan mereka.
Sementara di ruang kerja Davina
"Davina terlihat cemas, ia berjalan mondar mandir.
Setelah menyerahkan Bert di bawah pengawasan Lilly, ia kembali ke kantor untuk menunggu laporan dari anak buahnya dan juga Daffa.
"Sayang, bisakah kau relax???
Kau sudah berulang kali mondar mandir seperti gosokan, ingat kau sedang mengandung" ucap Sebastian mengikuti istrinya kesana-kemari
"Aku sedang tegang"
"Justru aku lebih tegang melihatmu" ucap Tian membuat langkah Davina terhenti dan melihat suaminya yang berkeringat walau ruang kerja Davina memakai penyejuk udara
"Apa kau habis maraton sayang?" tanya Davina bingung
"Bisa di katakan begitu, apa perlu kau pakai alat pengukur???" dengus Sebastian kesal
"Hehe maaf sayang, kau sebaiknya duduk manis saja"
"Hufh, itu untukmu nyonya muda.
Anakmu baru saja menempel di perutmu beberapa Minggu lalu dan dia masih belum kuat" ucap Sebastian lirih.
__ADS_1
Davina langsung terdiam, ia memegangi perutnya yang masih rata dengan wajah bersalah
"Astaga sayang, maafkan mamamu yang ceroboh ini ya" Davina langsung duduk dengan lemas
"Maafkan aku ya mas"
"Tolong lebih perhatikan anak kita sayang" ucap Sebastian mengelus puncak kepala istrinya, lalu Davina memeluk suaminya
"Aku tahu kau perduli dengan orang lain, aku bangga.
Tapi kau punya team dan teman serta saudara yang bisa membantu mu" ucap Sebastian lembut.
Davina hanya mengangguk.
Ia tak mau kehilangan anaknya lagi.
tok tok tok
"Bu ada Lala dan Lulu ingin bertemu" ucap sekertaris Davina
"Persilakan masuk" ucap Davina yang memang sedang menunggu kedua wanita kembar itu, ya merekalah si kembar yang di kirim Davina ke hotel tempat Bert menginap.
Kedua anak buahnya ini adalah ahli forensik, mereka di latih untuk menganalisis sebuah tempat kejadian.
"Sore Miss" sapa keduanya serentak
"Tak perlu form, silahkan "
"Jadi kami menemukan bahwa memang tempat itu terjadi penganiayaan, Hami menemukan rambut korban di sertai bercak darah yang tertinggal dan saya menemukan sesuatu yang menarik.
"Katakan" ucap Davina tak sabaran
"Tisu yang terdapat bercak darah" ucap Lulu tersenyum lebar
"Darah siapa???"cecar Davina
"Tidak mungkin darah korban kan? sepertinya darah pelaku, melihat banyaknya sepertinya luka cakaran, kita Naya perlu memeriksa di kuku jari Bert dan mencocokan nya" Lala
"Bagus lakukan secepatnya.
Terima kasih atas kerja keras kalian."
"Sudah kewajiban kami, kamu permisi" ucap keduanya lalu berjalan menuju pintu keluar,. namun langkah Lulu terhenti
"Anu Miss, kakak miss Davina membawa sebuah benda dari kamar hotel, milik korban.
Mungkin kita akan mendapatkan sesuatu juga dari sana" ucap Lulu optimis
"Benda apa??"
"Sebuah celengan klasik" ucap Lulu.
terlihat Davina terdiam dan berfikir sejenak
"Baiklah, thank you" ucap Davina yang balas anggukan lalu keduanya pergi
__ADS_1
Sebastian yang berada di ruang sebelah keluar, ia memang sengaja tak mau berada disana demi kenyamanan anggota Davina.
"Kita pulang sekarang sayang??"
"Baik" ucap Davina patuh lalu keduanya pulang ke rumah.
Keesokan Harinya
Davina terbangun dengan kondisi lemas, semalaman ia mual muntah Sepanjang malam dan Sebatsian dengan sabar membantunya dan menemani.
Sebastian mondar-mandir mengambilkan air hangat sampai teh hangat dan membuatkan makanan untuk istrinya. I menjadi suami siaga untuk Davina.
Walau Davina mengusirnya untuk tidur di kamar sebelah, Tian bersikukuh mau menemani Davina..
Davina bangkit perlahan dari tempat tidur, ia tak mau membangunkan Sebastian yang tertidur pulas setelah semalaman begadang menemaninya.
bahkan Sebastian terus mengelus perut Davina sambil berbicara seolah anak dalam kandungan Davina mendengar sampai Davina tertidur pulas.
"Setelah mandi Davina turun ke dapur dan meminta asisten pembantunya menyiapkan sarapan dan diantar ke kamarnya, setelah itu ia kembali ke kamarnya.
Pagi ini rencananya ke kantor gagal.
Tian pasti melarangnya karena khawatir dan Davina tak mau membuat suaminya terus khawatir.
Sore harinya Daffa datang ke kediaman Sebastian denah sebuah barang bukti baru, ternyata dugaan Daffa benar, di salam celengan tersebut tersimpan barang bukti yang di kamuflase oleh Bert.
Sebuah barang bukti yang bert salin di sebuah USB yang di modif bentuk perhiasan.
Sekilas tak ada yang aneh, namun saat bagian tertentu di pindahkan atau di tekan makan muncullah sesuatu yang di sembunyikan itu.
"Kak, sebentar aku akan mengambil sesuatu" ucap Davina lalu berjalan menuju kamarnya, Sebastian Baru selesai mandi
"Sayang apa ada tamu???"
"Daffa membawa barang bukti baru" ucap Davina bersemangat
"Bagus, ayo kita lihat" ucapan Sebastian mengikuti istrinya menuju ruang tamu
"Hai bro, baru bangun??" ledek Daffa yang melihat muka bantal Sebastian
"Hahaha menikahlah kau akan tahu" ledek Tian membuat wajah Davina memerah karena malu
"Aku morning sick dan dia begadang, jangan berpikiran mesum" ucap Davina yang di balas Daffa dengan mengangkat kedua bahunya
Davina menyerahkan sebuah kalung milik Bert yang berbentuk unik sekaligus cantik, karena penasaran Davina membawanya, mungkin saja dalam kalung itu ada sesuatu yang penting, mengingat team dokter yang menangani mengatakan Bert menggenggamnya dengan erat walau ia sekarat.
Daffa terlihat mengotak Atik kalung yang di berikan davina, lalu beberapa saat kemudian terbuka.
Jika tiga barang bukti yang di bawa oleh Daffa adalah bukti kejahatan Denis dalam penggelapan uang perusahaan, mendirikan organisasi tersembunyi dan satu nya lagi adalah bukti kejahatan Dona, suara percakapan Dona dan Denis untuk melenyapkan orang-orang yang setia pada Bernard, dan menempatkan orang-orang mereka di dalam perusahaan tersebut. dengan suara latar perbincangan Dona dan Denis.
Sisanya dua lagi adalah bukti perselingkuhan Dona dengan dua orang kepercayaan Bernard. baik berupa foto maupun video tersembunyi.
Mereka semua menanti bukti apa yang akan mereka dapatkan pada flash disk ini
lalu terlihat beberapa folder, Davina mengklik salah satunya, itu rekaman percakapan Dona dengan denis
__ADS_1